
"Harusnya kamu gak perlu melapor ke sekolah Ndra." Tita berucap sendu.
Andra menghembuskan nafas pelan.
"Itu salah gue, sudah seharusnya gue bertanggungjawab Ta." sahut Andra tak kalah sendu.
Sesaat kemudian keduanya saling diam, bingung untuk memulai percakapan lagi.
"Kenapa kamu gak jujur ke aku Ta?" tanya Andra lirih, setelah beberapa saat lalu terlihat bingung untuk memulai pembicaraan.
Siapapun yang mendengar ucapan Andra saat ini pasti akan merasakan nada yang sangat kecewa saat Andra bertanya pada Tita.
Saat ini Tita dan Andra duduk berdampingan pada bangku taman di belakang sekolah yang terbuat dari beton. Meskipun mereka berdua duduk berdampingan namun keduanya tetap berjarak. Tita duduk di ujung bangku sedangkan Andra juga duduk di ujung bangku sisi yang lainnya.
"Maaf... Tita gak bisa memberikan pembelaan untuk itu." jawab Tita pelan karena berusaha menjaga perasaan anak lelaki yang pernah menjadi sahabatnya itu.
Bukan sekedar sahabat, sejujurnya diantara keduanya pernah memiliki rasa. Namun kini dalam hati Tita rasa itu telah tergantikan oleh sosok Kennan suaminya sedangkan Andra, cowok jangkung itu masih menyimpannya hingga sekarang. Bahkan banyak waktu yang telah mereka berdua lewati saat menjadi murid baru di sekolah yang saat ini menjadi tempat keduanya menimba ilmu tersebut.
"Waktu itu semuanya serba tiba tiba, bahkan Tita juga masih bingung seperti linglung karena harus banyak penyesuaian yang harus Tita lakukan." Tita menjeda ucapannya sesaat.
"Usia kita yang masih muda, labil bahkan masih sekolah, membuat kami harus menyesuaikan duri dengan status pernikahan kami." Tita memilih untuk mengatakan yang sebenarnya pada Andra.
Terdengar helaan nafas berat dari Andra.
"Jadi kalian berdua benar benar sudah menikah?" Andra seolah berharap jika pernikahan antara Tita dan Kennan hanyalah karangan Kennan agar dirinya tidak mengganggu hubungan keduanya.
Namun harapannya tersebut tinggalah harapan kosong karena Tita mengangguk mengiyakan.
"Kami berdua menikah saat liburan semester 1 kelas sebelas kemarin."
Hah...
Andra terkejut, kedua boal matanya terbuka lebar saat mendengar jawaban Tita.
"Berarti kalian...?!"
"Iya... kurang lebih sudah setahun kami menikah." jujur Tita dan itu membuat Andra terdiam cukup lama seolah berfikir keras, mengingat sesuatu yang telah terjadi beberapa waktu lampau.
"Berarti waktu itu..." Andra menjeda ucapannya.
"Berarti waktu aku nembak di perpustakaan itu, kamu...?" Andra yang masih membuka lebar kedua matanya, menoleh ke arah Tita saat menyadari kejadian beberapa bulan lalu tersebut.
"Iya... Tita sama abang udah nikah saat itu."
Bahu Andra meluruh, sekujur tubuhnya seketika melemas.
"Kenapa kamu enggak jujur waktu itu Ta?" Andra terdengar kecewa.
"Tita gak mau menyakiti perasaan kamu Ndra, waktu itu Tita juga masih bingung dengan kondisi pernikahan Tita yang serba tiba tiba." jawab Tita bukan bermaksud membela diri namun memang begitulah kenyataannya.
Sesaat keduanya terdiam, memandang riuh anak anak yang sedang memperebutkan bola bundar di tanah lapang.
"Aku pikir kamu juga memiliki rasa yang sama untukku, ternyata aku salah." ucap Andra terdengar seperti gumaman.
Tita menelan salivanya kelat, dalam hati menyesali ketidakjujurannya pada Andra. "Dulu... dulu banget Tita juga memiliki rasa itu Ndra. Tapi sekarang...." kata kata itu hanya mampu Tita ucapkan di dalam hati.
"Maaf... karena Tita baru berani jujur sekarang." Tita mengucapkan maaf sembari menunduk serta meremas jemarinya.
Andra terlihat menghirup nafas dengan kuat lalu setelahnya melepaskan perlahan.
Ada sesuatu yang terasa dipaksa untuk terlepas dari hatinya, yaitu rasa cinta dan sayangnya untuk gadis yang sedang duduk di sebelahnya.
Ah... mungkin ini memang takdir Tuhan yang harus dijalani olehnya, pikir Andra dalam hati dengan menahan nyeri di dadanya.
"Udah curhatnya?!" suara bass Kennan tetiba terdengar datar namun sangat dingin menginterupsi dari belakang hingga membuat Tita dan Andra serempak menoleh ke belakang.
"Abang... bikin kaget aja." ucap Tita dengan mengusap dadanya.
Kennan tidak ambil pusing dengan reaksi Tita.
"Udah selesai kan??" Kennan bertanya masih dengan nada dingin kepada Andra.
__ADS_1
Posisi Kennan yang berdiri tegap dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana seragam sekolahnya, serta sorot mata dingin yang seolah menghunus membuat suasana tegang antara dirinya dan Andra.
Dilihat dari sudut manapun terlihat jelas kebencian Kennan pada mantan ketua osis di depannya. Hal itu membuat Tita segera beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati suaminya.
Tita memberikan senyum pada Kennan untuk mengurangi pancaran laser kedua matanya terhadap Andra.
Lalu dengan lembut Tita mengalungkan kedua tangannya pada salah satu tangan Kennan, menggelayut manja.
"Udah selesai kok, abang jangan marah kek gitu entar cakepnya ilang." bujuk Tita pada sang suami.
Melihat dan mendengar bujukan Tita kepada Kennan, sekali lagi membuat dada Andra berdenyut nyeri. Apalagi suara merdu Tita yang terdengar manja pada Kennan membuat hati Andra terasa teriris sembilu.
"Ini yang terakhir, jangan pernah sekalipun elo berani deketin Tita lagi!" Ucap Kennan tegas dan penuh penekanan.
Andra hanya mampu menghirup oksigen dalam tanpa mampu berucap kata.
"Bang udah." Tita mengusap lembut lengan kokoh Kennan yang masih saja setia di dalam kantong celana hingga membuatnya terlihat seperti berkacak pinggang.
Tita mengalihkan pandangan ke arah Andra. "Maaf ya Ndra, abang emang orangnya kaku kek gini."
Andra mengangguk perlahan, dengan senyum getir menghiasi wajahnya. Harapan untuk memiliki Tita benar benar pupus sekarang.
"Kita duluan ya Ndra." pamit Tita dengan menarik lengan Kennan paksa.
"Ngapain pakek pamit segala sih dek." Kennan terpaksa beranjak mengikuti Tita lalu meraih pinggang ramping Tita untuk merapat pada tubuh kekarnya.
Tita sedikit meremas lengan Kennan, agar suaminya itu menjaga perasaan Andra. Namun apa daya, sepertinya ucapan Kennan tersebut terdengar oleh Andra.
"Aku ikhlas asal elo bahagia Ta..." gumam Andra lirih dengan tidak berhenti memandangi punggung pasangan remaja yang semakin menjauh tersebut.
...ππππ...
"Bang... maafin Tita ya."
Kennan menautkan kedua alis matanya. "Buat?"
"Tadi Tita sempat kesel dan nuduh abang yang melaporkan kejadian itu ke pihak sekolah."
"Oh itu." sahut kennan pendek dengan masih fokus pada jalanan aspal di depannya.
"Yah... mosok gitu wae gak mau maafin Tita seh." Tita manyun.
Kennan melirik bibir Tita yang manyun, tetiba ide melintas pada otak mesumnya. "Ya wes gue maafin tapi ada syaratnya."
"Ck... pakek syarat segala seh."
"Kalau gak mau ya udah, gue juga gak mau maafin." Kennan sok jual mahal.
"Ya wes... ya wes... apa syaratnya coba, jangan macem macem." ancam Tita.
"Belum juga ngomong, udah maen ngancem wae." Kennan tertawa kecil.
"Udah cepatan sebutin syaratnya Abang."
"Cium gue sekarang!" titah Kennan seenaknya.
"Loh kok pakek cium segala." Kedua alis mata Tita bertautan.
"Enggak usah pakek cium cium segala, abang sebutin aja syaratnya sekarang." Tita sepertinya belum paham maksud suaminya.
"Cium gue, di sini." Kennan mengetuk bibirnya dengan telunjuknya.
"Abang... gak pakek cium cium segala kenapa seh, cepetan sebutin aja syaratnya." Tita terlihat kesal.
"Syaratnya ya itu Dek... cium gue di sini." Kennan menunjuk bibirnya.
Hek...
Tita melebarkan kedua bola matanya.
"Abaaangg... mesum mulu!"
__ADS_1
"Mesum sama istri sendiri sah wae Dek." Kennan terkekeh melihat wajah Tita yang cemberut.
"Cepet cium gih, bibir gue udah gak sabar nih..." Kennan memajukan bibirnya hingga terlihat monyong.
"Enggak... Tita nggak mau kalau sekarang. Malu." ucap Tita dengan memalingkan wajahnya menghindar dari tatapan Kennan.
"Terus maunya kapan?" Kennan terdengar merajuk.
"Nanti di rumah!" sahut Tita cepat.
"Yah masih lama dong... padahal bibir gue udah kering dek..."
"Enggak abaaang... lagi di jalan ini, diliatin banyak orang tuh." tunjuk Tita pada sekeliling di luar mobil mereka.
Saat ini memang keduanya tengah menunggu giliran berjalan pada lampu merah yang mengular.
"Dek..."
"Apa?"
"Mulai sekarang gak usah deket deket sama si ketos lagi, tadi yang terakhir." ucap Fabian dengan penuh penekanan.
"Iya... Tita usahain."
"Jangan cuma diusahain, tapi dilakuin."
"Iyaa abang, Tita lakuin..." Tita tersenyum ke arah Kennan.
"Dek elo tau enggak bedanya elo sama melati?!"
Tita mengerutkan dahi.
Emmm... Tita berfikir keras.
"Tita cewek, melati bunga." tebak Tita.
"Bukan."
"Sama sama putih." tebak Tita lagi.
"Bedanya dek..."
"Tau ah... Tita nyerah."
Kennan tersenyum sembari menelusupkan jemari kekarnya pada jemari lentik isterinya.
"Melati itu jasmine, kalau lo just mine." ucap Kennan tersenyum manis, semanis gula... eaaa...
Blusshhh...
"Abang makin pinter ngegombal." Pipi cubi Tita pun merona merah, rasa hangat menjalar pada seluruh tubuhnya.
"Beneran... gue gak gombal dek..." ucap Kennan lalu membawa jemari itu untuk dikecupnya lama.
π¨π¨π¨π¨
Tetap semangat πͺπ»πͺπ»πͺπ»πͺπ»
Jangan lupa bahagia, biar si corona kabur
β€πβ€πβ€πβ€πβ€π
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ