
Heh..heh...hehhh....
Deru nafas terengah memenuhi ruangan kamar Kennan dan Tita setelah keduanya mencapai puncak aktivitas panasnya beberapa saat lalu.
"Maaf telah membuatmu lelah sayang." Kennan menyibak beberapa helai anak rambut yang menghambur di wajah sang isteri.
Tita yang masih terengah dengan kedua mata terpejam pun perlahan membuka kedua matanya.
"Walau lelah, aku menyukainya mas. Ini menyenangkan." Tita dengan tersenyum lembut, seolah rasa lelah akibat percintaannya beberapa saat lalu tiada bekasnya.
Kennan melebarkan kedua mata terkejut saat mendengar pengakuan sang isteri. Kennan tahu tubuh polos yang hanya terbalut selimut tebal itu pasti remuk redam saat ini. Karena Kennan melakukannya berulang kali hingga tubuhnya tak mampu untuk melakukannya lagi, karena seluruh tenaganya terkuras habis. Dan berakhir ambruk di atas tubuh Tita setelah melakukan pelepasan entah untuk yang kesekian kalinya.
"Benarkah?" Kennan tidak menyangka isterinya sekarang berani mengungkapkan rasa di hatinya. Berbeda dengan sosok Tita dahulu yang polos, lugu dan hanya mengungkapkan rasanya dengan tersenyum malu.
Tita mengangguk tanpa menyurutkan senyum pada wajah lelahnya yang tetap saja terlihat cantik. Meski tetes peluh di wajah sang isteri masih jelas terlihat.
Kennan yang semula pada posisi terlentang dengan wajah ke arah sang isteri, segera merubah posisinya miring. Membuat keduanya saling bertatap mata.
"Aku juga menyukainya. Semakin menyukainya. Kamu selalu saja membuatku menginginkannya tanpa bisa berhenti dek." Kennan dengan membelai wajah sang isteri.
"Benarkah?"
Kennan mengangguk.
"Kamu tak tahu bagaimana tersiksanya diriku setelah tanpamu." Kennan dengan menelan ludah kelat saat mengingat kembali kondisinya setelah kepergian Tita.
"Maafkan aku mas." Tita menyendu.
"Bukan salahmu dek. Berhentilah meminta maaf, aku nggak suka mendengarnya. Aku tau kamu melakukan semua itu karena keegoisanku."
Kennan pun mendesah. Lalu mengecup kening Tita cukup lama untuk meluapkan berbagai rasa sesal yang masih sedikit berkecamuk di dalam hatinya.
"Mulai saat ini, aku akan selalu menjagamu. Tak akan kubiarkan sejengkal pun kamu menjauh dariku sayang." Kennan merengkuh bahu polis Tita, merapatkan tubuh keduanya yang masih sama sama polos.
"Nggak mungkinlah mas." Tita tertawa kecil seolah meremehkan.
"Bagaimana itu tidak mungkin dek? Aku nggak mau kehilangan kamu lagi." Kennan dengan nada yang meninggi karena ucapan Tita terdengar meremehkan janjinya.
"Iya aku tau. Tapi kan ada anak anak mas, nggak mungkin dong kalau kamu tidak membiarkan aku menjauh darimu walau sejengkal." Tita ternyata hanya menggoda Kennan.
__ADS_1
"Apalagi Keanu masih seperti itu."
"Maksud aku bukan begitu dek." Kennan telah menurunkan intonasinya.
"Iya, aku tahu kok mas. Aku cuma godain mas." aku Tita tersenyum.
"Berani ya sekarang." Kennan menjepit hidung mancung Tita dengan gemas.
Auww...
"Sakit mas." Tita sengau.
"Itu akibatnya, berani sama suami." Kennan melepaskan jepitan tangannya pada hidung mancung sang isteri. Lalu mendaratkan bibirnya pada pucuk hidung Tita yang memerah secara singkat.
"Sudah nggak sakit lagi kan?" tanya Kennan yang mendapatkan anggukan dari Tita.
"Dek."
"Apa mas?" Tanya Tita dengan mendongak.
Keduanya masih dalam posisi berpelukan saat ini. Dengan wajah Tita yang tepat di hadapan dada bidang dang suami.
Sesaat Tita hanya diam seraya menelisik wajah sang suami.
"Mas pengen punya anak lagi?" tanya Tita beberapa detik kemudian.
Kennan mengangguk mengiyakan. "Bukan maksudku membuat kamu repot, tapi..."
Belum selesai Kennan berucap kata, Tita memotongnya.
"Nggak papa. Kalau nanti benih ini tumbuh di rahimku, aku ikhlas menerimanya. Toh itu juga dari kamu mas, suami aku."
Kennan menatap Tita haru.
"Makasih sayang. Aku mau punya banyak anak, buat bikin tim sepak bola nanti." Kennan dengan menarik tubuh Tita ke dalam pelukannya.
"Laki laki semua dong mas?" Tita dengan menahan dada bidang Kennan seraya mendongak.
"Gak papa kan... Ceweknya udah ada Kenina sama kamu bundanya. Masih kurang?"
__ADS_1
"Kan nggak adil. Mas banyak temennya, aku cuma sama kakak doang." Tita dengan wajah cemberut.
"Nggak papa sayang. Biar anak laki laki kita nanti aku didik mereka supaya mau membantu pekerjaan rumah tangga, agar bundanya nggak lelah. Lagian biar kalian berdua menjadi ratu di rumah ini. Kami para lelaki bakal menjadi pengawal serta pelayan buat kalian berdua." Kennan merayu.
"Asal jangan cuma janji doang." Tita remeh.
"Enggak sayang. Aku bakal lakuin. Bahkan 24 jam aku bakal standby buat kamu, promise." Kennan mengangkat dua jari membentuk V.
"Aku bakalan tagih, kalau mas lupa."
"Okey. Siapa takut." Kennan mengecup dalam kening Tita seraya memeluk erat tubuh isteri tercinta. Membuat kedua tubuh polos itu saling berhimpit di balik selimut. Menghadirkan sengatan listrik yang memunculkan gairah kembali.
"Dek, lagi ya..." Kennan dengan serak, rasanya ada sesuatu yang mendorong tubuhnya untuk meminta jatah kembali.
"Mas gak capek apa?" Tita dengan membola saat mendengar permintaan Kennan.
"Kalau untuk itu, nggak ada capeknya dek. Malah bikin nagih." Kennan tersenyum lalu memberikan kecupan pada sudut bibir sang istri lumayan lama.
Tita pun menerima kecupan itu seraya mengimbangi ciuman Kennan yang kembali menyusur rongga mulutnya yang telah terbuka.
Kennan yang selalu candu dengan setiap inchi tubuh sang isteri bergerak merangkak menaiki tubuh polos istrinya dengan menyibak kasar selimut yang membalut tubuh keduanya.
Deru nafas memburu yang diiringi dengan d3sah@n keduanya mulai menggema memenuhi ruangan kamar.
Dengan lincah mulut dan tangan Kennan bergerak bersamaan seolah sudah menguasai wilayah masing masing.
"Mmass...." Tita m3ndes@h dengan tubuh yang tak berhenti bergerak menggelinjang. Sentuhan jemari kekar Kennan pada titik titik sensitif miliknya membuatnya tak kuasa menahan diri.
Belum lagi gesekan kulit polos keduanya, yang terasa dirambati oleh aliran listrik bertegangan tinggi. Membuat permukaan kulit Tita meremang hangat.
"Mass... ishh..."
Bibir Tita kembali berdesis seraya memejamkan kedua matanya saat bibir basah Kennan menyusuri leher jenjangnya. Dengan sesekali memberikan hisapan kecil yang pastinya bakal meninggalkan jejak merah di permukaan leher Tita yang putih bersih.
"Panggil namaku dengan bibirmu dek." Kennan dengan berkabut hasrat yang menggebu.
Sungguh tak kuat rasanya menahan gejolak hasrat yang telah membuat tuas panjangnya menegang dengan sempurna.
Baru saja Kennan menempatkan tuas panjang miliknya di palung laut sang isteri, tiba tiba terdengar ketukan keras pada pintu kamar mereka.
__ADS_1
π¨π¨π¨π¨