Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
128. Bang_Kenn Atit


__ADS_3

"Huh.... sampai juga", Tita berucap lega saat sudah berada di depan pintu apartemen.


Sore ini Tita pulang sekolah sendiri karena ada rapat osis di sekolah dan Tita sudah memberitahu Kennan agar pulang terlebih dahulu.


Setelah membuka pintu dan memasuki apartemen Tita melepas sepatu dan menaruh pada rak sepatu yang berada di dekat pintu masuk.


Tita mengernyit saat melihat apartemen tampak sunyi seperti tanda - tanda tidak berpenghuni.


"Apa Abang belum pulang ya...", tanya Tita bergumam pelan sambil menuju pantry untuk mengambil air minum. Rasanya sore ini sangat letih dan lelah bagi tubuh Tita, mungkin efek banyaknya kegiatan osis yang harus dikerjakan olehnya hari ini.


Glek.... glek... glek...


Tita meminum air mineral di gelas hingga tandas setelah mendudukkan diri di kursi pantry.


Setelah melepas dahaga Tita pun beranjak dari duduk dan melangkahkan kaki menuju kamarnya.


Perlahan Tita membuka pintu kamar.


Kedua bola mata Tita terbuka lebar saat mendapati Kennan meringkuk di atas ranjang tidurnya dengan masih memakai seragam sekolah.


Bergegas Tita mendekati ranjang dan menaruh asal tas punggungnya di samping ranjang.


"Bang... Abang...", Tita berucap pelan.


Tidak ada sahutan dari badan kekar yang meringkuk, telihat sambil memegangi perutnya tersebut.


Tita pun menaiki ranjang lalu menaruh punggung tangannya pada kening Kennan.


"Astagfirullahaladzimi... Abang, panas banget...", kaget Tita beristighfar saat mendapati kening Kennan yang terasa panas.


"Bang... Abang..." Tita menggoyangkan bahu badan kekar itu perlahan.


Hem.... terdengar gumaman lirih dari mulut Kennan namun dengan mata yang masih terpejam.


"Abang panas banget...", Tita kembali mengguncang bahu suaminya agar membuka mata.


Perlahan Kennan membuka mata, terlihat kesulitan. "Sayaang udah pulang", Kennan bersuara lemah dan terlihat pucat pada bibirnya.


"Kenapa gak telfon Tita kalau Abang sakit...", Tita bertanya dengan mata yang memanas, merasa bersalah karena membiarkan suaminya sendirian di saat sedang sakit.


"Gak papa cuma capek wae, ntar juga sembuh", ucap Kennan dengan menyunggingkan senyum tipis di bibir pucatnya.


"Abang bilang cuma.... orang panas banget gini. Kita ke dokter ya Bang?", tanya Tita dengan pandangan mata yang mulai berkabut. Ada sedikit sesak saat Kennan tidak mau membagi rasa sakitnya pada dirinya.


"Enggak papa Dek... dipakek tidur juga sembuh", keukeuh Kennan masih dengan tersenyum tipis meski terlihat lemah.


"Tita telfon Bunda!", Tita hendak beranjak namun Kennan buru - buru menahannya dengan menggelengkan kepalanya dengan sedikit mendongak.


"Bang..."


"Jangan.... Bunda lagi nemenin Ayah ke Jepang, ntar riweh..", jelas Kennan dengan nada lemah, berusaha mendudukkan diri.


"Kalau gitu kita ke dokter ya...", putus Tita dan tanpa dapat dicegah bulir bening lolos membasahi pipinya sambil memegangi Kennan yang berusaha duduk.


Kennan mengusap buliran bening itu dengan ujung jemarinya setelah berhasil bersandar pada kepala ranjang. "Ngapain nangis... yang sakit gue kenapa elo yang nangis"


"Maaf Tita ninggalin Abang sendirian pas sakit....", ucap Tita sendu.


"Ck segitu khawatirnya sama gue... jadi makin sayang deh...", senyum Kennan sembari merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.


"Abang ke dokter ya?", Tita sedikit terisak di dada bidang Kennan.


"Enggak di rumah wae, elo peluk juga sembuh", Kennan mengeratkan pelukannya pada Tita sambil menciumi pucuk kepalanya.

__ADS_1


"Kalo gitu ganti baju ya?", tanya Tita dengan mendongak pada suaminya.


"Gantiin ya", rengek Kennan menelusup ceruk leher Tita.


"Ck... lagi sakit juga, mesumnya ngikut wae", Tita tersenyum kelat di sela isakannya.


"Kan mesumnya cuma sama elo", Kennan masih saja menggoda Tita dan mengabaikan rasa sakitnya.


Tita mendengus. Perlahan melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Abang ganti baju doang apa mandi sekalian?"


"Mandi Dek... lengket, gak enak", sahut Kennan dengan menggerakkan kerah seragam atasnya.


"Tita siapin air hangat dulu ya...", ucap Tita beranjak dari ranjang tanpa menunggu jawaban dari Kennan.


Setelah selesai menyiapkan air hangat untuk mandi Kennan, Tita pun keluar dari kamar mandi.


"Bang airnya udah siap", ucap Tita mendekati ranjang.


"Hem", Kennan yang terlihat kembali meringkuk di atas ranjang mengerjapkan mata kemudian mendudukkan diri di tepi ranjang setelah membuka matanya dengan sempurna.


"Tita bantu jalan?", tawar Tita pada suaminya.


Tidak ada sahutan dari bibir Kennan namun lengan tangan kanannya langsung merangkul pundak isterinya.


Dengan hati - hati Tita memapah tubuh kekar Kennan untuk berjalan ke kamar mandi.


Kennan mendudukkan diri pada lantai bathup yang tinggi seraya berkata, "Mandiin ya Dek..."


Tita melotot.


"Enggak... kek dedek bayi wae minta dimandiin. Abang mandi sendiri", ucap Tita dengan kedua pipi yang bersemu merah.


"Kepala gue pusing banget Dek", ucap Kennan dengan memegangi kepalanya.


"Kalau gitu gak usah mandi, ganti baju wae", Tita menunduk memandang suaminya yang duduk, sehingga tinggi mereka tidak sejajar.


Sebenarnya ada rasa sedih menyelimuti kalbu Tita saat mendengar Kennan mengeluh pusing sambil memegangi kepalanya. Tapi mau gimana lagi Tita belum sanggup jika harus memandikan bayi panda yang tampan bin ganteng di depannya.


Memandang wajah tampan Kennan saja masih sering membuatnya malu apalagi kalau harus melihat seluruh tubuh suaminya tanpa busana dan lagi dalam kondisi sama - sama sadar seperti saat ini.


"Bantuin buka baju kalo gitu", ucap manja Kennan dengan mendongak dan menunjukkan puppy eyesnya pada Tita.


Tita membuang nafas pelan. Berdecak, namun tetap saja menuruti keinginan suaminya.


Tita sedikit menunduk mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi suaminya yang sedang duduk.


Satu persatu, Tita membuka kancing baju seragam suaminya dengan perlahan. Tita membuka kancing seragam Kennan dengan tangan yang sedikit bergetar sambil menahan nafas, gugup.


"Gak usah gugup... gue pake daleman", ucap Kennan lirih saat menyadari jemari tangan Tita yang terasa bergetar dan agak kesulitan membuka kancing baju miliknya.


"Celananya juga Dek...", ucap Kennan saat Tita sudah menyelesaikan membuka kancing seragamnya.


Sontak ucapan Kennan membuat Tita memandang tajam ke arah Kennan.


Ada rasa sedikit kesal pada diri Tita saat Kennan menyuruhnya membuka celana seragamnya juga.


"Gue pakek boxer sayang..", Kennan seakan tahu maksud tatapan tajam isterinya.


Akhirnya Tita pun mendudukkan diri di hadapan suaminya dan melepaskan celana panjang itu satu persatu dari kaki jerapah Kennan dengan mengigit bibir bawahnya untuk menahan diri dari patung bernyawa yang memiliki pahatan sempurna tersebut.


"Ini juga sekalian", Kennan mengangkat kedua tangannya ke atas, agar tita dapat dengan mudah melepaskan kaos oblong putih polos yang masih melekat pada tubuh kekarnya.

__ADS_1


"Ck... manja banget sih Bang", ucap Tita dengan tetap mengulurkan kedua tangannya untuk melepas kaos polos itu dari tubuh suaminya.


"Kan lagi sakit...", rengek Kennan dengan manja.


"Tapi kan gak segitunya Bang", Tita mengerutkan bibirnya.


Kennan terkekeh lirih, "Gak tiap hari kan Dek"


"Abang mau sakit tiap hari?!", Tita masih sedikit kesal.


"Gue beneran pusing ini", Kennan mengurut pelipisnya pelan.


"Asal gak bohong wae", ucap Tita sambil memunguti baju seragam Kennan yang masih tergeletak di lantai kamar mandi.


Kennan hanya tersenyum kecil. Menggoda Tita ternyata sangat menyenangkan, hingga dirinya sedikit mengabaikan rasa pening di kepalanya yang seakan mau pecah.


Tita pun kembali berdiri di hadapan Kennan, tangan kanannya terulur mengecek suhu air pada bathup.


"Udah ya Bang... mandi sendiri. Handuknya udah Tita siapin... tuh di sana... Tita keluar dulu", ucapnya hendak beranjak pergi dari kamar mandi.


Namun....


Greep...


Tubuh ramping Tita dipeluk Kennan.


"Yakin gak mau mandiin gue?!", ucap Kennan mendongak ke wajah Tita tepat di perut rata isterinya.


"Bang.... tahan dulu mesumnya. Buruan mandi... tar kalau sembuh balikin tu mode mesumnya", Tita membelai rambut Kennan dengan menggelengkan kepala perlahan. Seakan tidak percaya jika suaminya ini sedang sakit jika saja dirinya tidak merasakan suhu tubuh Kennan yang panas.


"Beneran ya kalau udah sembuh mode mesumnya on ya", Kennan tersenyum tipis menggoda Tita.


Sudah dapat dipastikan kedua pipi Tita saat ini bersemu merah meski sedang mencebik.


"Abang yakin mau mandi", ucap Tita kembali sendu, membiarkan rona merah pipinya terlihat oleh Kennan.


Kennan mengangguk lalu melepaskan pelukannya pada tubuh Tita.


"Tita keluar", ucapnya terburu - buru, bisa - bisa dirinya nanti ikut nyebur ke bathup jika tidak segera keluar dari kamar mandi.


🍨🍨🍨🍨


Othor lagi blank nih... buat bikin part cerita mendadak nikahnya Bang_Kenn sama neng Tita...


Coba nulis cerita baru dengan tema yang masih sama namun isinya beda yakkk....


ceki - ceki dung...πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜πŸ˜



Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2