
"Syad...!!!!"
Kennan berseru dengan berlari kecil di koridor sekolah yang sepi saat melihat tubuh tegap Irsyad berjalan di depannya.
Mendapati namanya dipanggil, Irsyad menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.
"Apa?", tanya Irsyad datar saat Kennan sudah berada di depannya.
Kennan menetralkan deru nafasnya yang terengah.
"Apa maksud chat lo kemaren?", Kennan to the point.
"Gue pikir otak lo gak bego buat memahami kata - kata gue", Irsyad berucap dengan sinis.
"Syad...", Kennan berseru dengan mata terbuka lebar. Walau Kennan tahu bahwa Irsyad menyukai Tita namun dirinya tidak menyangka jika sahabatnya itu akan nekat.
"Apa...?! Lo pikir gue cuma gertak lo doang... Gue gak main - main sama ucapan gue Kenn...?!", ucap Irsyad terlihat bersungguh - sungguh.
"Lo beneran mau nikung gue....?!", Kennan mulai terpancing emosi.
Irsyad mendesah, "Mau gue buktiin sekarang??"
Sontak ucapan Irsyad membuat Kennan meradang, wajahnya memerah karena marah. Emosi Kennan memuncak dan dirinya sudah tidak dapat membendung emosinya.
Srekk...
Brekk....
Dengan kasar tangan kiri Kennan mencengkeram krah seragam sekolah Irsyad lalu mendorong tubuh tegapnya ke tembok sekolah. Tangan kanan Kennan sudah bersiap mengambang di depan wajah Irsyad hendak memberikan pukulan pada wajah mulusnya. Irsyad hanya pasrah mengikuti alur yang akan dibuat oleh kapten tim basketnya itu tanpa melawan.
Namun sesaat setelah punggung tegap Irsyad menghempas pada tembok sekolah, Irsyad membulatkan matanya.
"Titt...tta...", ucap Irsyad dengan lirih dan terbata.
"Heh.... Gak usah mencoba mengalihkan perhatian gue. Lo takut sama gue kan....?!", sinis Kennan.
"Titta....beneran Tita Kenn...", ucap Irsyad dengan menatap nanar pada belakang punggung Kennan.
Kennan pun menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa ucapan Irsyad adalah benar, dengan posisi yang masih tetap sama yaitu mencengkeram krah seragam dan satu tangan lainnya hendak memukul wajah Irsyad.
Dengan mata terbuka lebar dan mulut yang menganga Kennan mendapati Tita berdiri di belakang punggungnya dengan wajah datar tanpa sedikitpun senyum di wajahnya.
Kennan tahu betul wajah datar itu menyembunyikan kemarahan layaknya gunung merapi yang siap meletus. Kalau saja dapat terlihat mungkin asap wedhus gembel dari merapi itu sudah berpindah mengitari tempurung kepala Tita.
Kata - katamu lebay Thorπππ
__ADS_1
Hekk.
Kennan tercekat.
"Ta...ini nggak seperti yang elo pikir", Kennan membalikkan tubuhnya penuh ke hadapan Tita dan dengan otomatis melepaskan tangannya yang mencengkeram Irsyad.
Tidak ada sahutan dari Tita, dengan tatapan yang masih terlihat datar dirinya hanya diam membisu tak bergeming sedikit pun.
Irsyad yang sudah terbebas dari Kennan, segera beranjak dari dinding tembok sekolah. Dengan memasukkan kedua tangannya pada saku celana seragam, Irsyad berjalan santai melewati Kennan yang masih terdiam mematung.
"Urus suami lo.... dia lagi cemburu buta", Irsyad berucap lirih bahkan terlihat seperti berbisik saat berada di dekat Tita. Kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Tita dan Kennan yang sepertinya akan membutuhkan waktu bersama untuk menyelesaikan masalah di antara mereka berdua.
Tita terkejut.
"Suami....", ulang Tita lirih dengan mata membola. Tak urung membuatnya menoleh sesaat pada Irsyad yang sudah berjalan menjauh.
"Bagaimana Irsyad tau...", gumam Tita bingung.
"Ta...."
Suara Kennan yang memanggil namanya menyadarkan Tita dari keterkejutannya.
"Bukane kita udah bahas kemaren Bang...", Tita bersuara datar sesaat setelah mengalihkan pandangan dari Irsyad.
"Gue bisa jel_",
Belum selesai Kennan berucap, bel tanda pergantian pelajaran berbunyi.
"Nanti kita lanjut di rumah.... Abang harus jelasin ke Tita semuanya".
...ππππ...
Brekk
Tanpa diduga Kennan memeluk tubuh Tita dari belakang, saat Tita baru saja duduk di depan meja rias untuk memberikan sedikit perawatan pada wajahnya sebelum bersiap untuk pergi tidur.
Kennan mendusel leher belakang Tita yang sedikit tertutupi rambut hitamnya karena Tita menggelung rambut hitam itu dengan asal.
"Jangan tinggalin gue", ucap Kennan membuat Tita menghentikan tangannya yang hendak mengoleskan pelembab pada wajahnya.
"Siapa yang mau ninggalin Abang?!", Tita bertanya dengan pelan setelah sesaat terdiam mencerna ucapan Kennan. Hatinya berdesir lirih saat menatap bayangan Kennan yang menelusup di antara tengkuk dan bahu kanan Tita pada kaca meja rias.
"Gue takut.... lo ninggalin gue". Ucap Kennan sedikit serak masih di tengkuk leher Tita. Hembusan nafas hangat Kennan pada belakang lehernya serta suara serak yang tertangkap gendang telinga Tita semakin membuat jantung berdetak kencang semakin tak karuan. Menghasilkan sensasi gelenyer aneh yang membuat kedua pipi Tita merona merah.
Tita pun membalikkan tubuhnya menghadap Kennan, membuat posisinya berhadapan dengan perut rata Kennan. Karena saat Tita membalikkan tubuhnya mau tidak mau Kennan menegakkan tubuh tegapnya kembali.
__ADS_1
Tita mendongak hingga matanya bertubrukan dengan mata tajam Kennan yang kini terlihat sendu.
"Siapa yang mau ninggalin Abang....?", pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir pink Tita dengan lembut.
"Elo", sahut Kennan pendek menatap manik mata Tita masih dengan tatapan sendu, membuat Tita kembali menunduk. Tita tidak mau jantungnya berdisko ria jika menatap mata suaminya yang selalu membuatnya terpesona itu. Tita harus menjaga kesehatan jantungnya agar dapat menghirup oksigen lebih lama.
Tita tak mau mati muda....loh kok.... apa hubungannya Thorπ€£π€£
Set...
Tita meraih kedua tangan Kennan, membawa ke dalam genggaman tangannya.
"Tita di sini Bang... gak ke mana - mana, enggak ninggalin Abang", ucap Tita kembali mendongak.
Kennan mendudukkan diri di depan Tita hingga membuat tubuhnya sejajar dengan Tita yang duduk di atas kursi meja rias yang pendek.
Brukk.
Kennan kembali memeluk Tita, kali ini dari depan.
"Gue takut elo tinggalin gue...". Posisi tinggi mereka yang tidak sama membuat Kennan berucap dengan kepala yang mendusel pada perut rata Tita. Tak ayal membuat Tita harus menahan nafas, sedikit saja Kennan bergerak atau mendongak ke atas sudah dapat dipastikan jika wajah tampan Kennan akan menyentuh dua gunung kembar milik Tita.
Tita memutuskan menangkup wajah tampan suaminya mendorongnya perlahan untuk mendongak, biarlah Tita menatap wajah tampan itu walau akan membuat pipinya merona, daripada Tita harus merasakan wajah tampan Kennan yang menyentuh gunung kembarnya. Dijamin kemesuman Kennan akan kembali jika itu terjadi, dan akan membuat Tita pening, pusing tujuh kelilingπππ
"Tita gak akan ninggalin Abang.... asal Abang juga janji gak bakal ninggalin Tita", Tita berucap menatap Kennan yang mendongak menatapnya.
Wajah tampan dalam tangkupan tangan Tita itu melebarkan bibirnya, hingga membuat senyum yang mengembang. Tak ayal membuat Tita ikut mengembangkan senyum pada bibir pinknya.
Hilanglah tatapan mata sendu dari wajah tampan Kennan. Tatapan sendu memudar berganti dengan tatapan mesum yang disertai dengan senyum tipis yang menghanyutkan menurut Tita. Senyum tipis yang tercetak miring itu membuat tubuh Tita refleks, dengan sendirinya mundur hingga membentur pinggiran meja rias. Tatapan menghanyutkan dari suaminya tersebut memberi tanda pada tubuh Tita untuk waspada.
Cup.
Tuh kan bener....Tita harus waspada.....πππ
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ