Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Tidak penting


__ADS_3

Selamat membaca πŸ€—πŸ€—πŸ€—.


Mohon maaf bila masih banyak typo πŸ™πŸ™πŸ™.


🌺🌺🌺🌺


Hari semakin sore, sejak kejadian tadi di restoran Alvin belum juga kembali. Mungkin saja dia marah atas sikap ku. Biarkan saja, yang terpenting apa yang ku ucapkan benar. Aku yang sedang terduduk di teras balkon, mendengar ketukan pintu. Aku berjalan untuk membuka pintu.


"Apa kamu berkata seperti itu karena kamu sudah mempunyai seseorang yang kamu cinta ? Dan pada dasarnya, kamu juga ingin cepat cepat berpisah dengan ku agar kamu dapat menikah dengan lelaki itu... kamu senang aku membuat perjanjian itu."


Aku menatap nya tajam. "Jadi, kamu berpikiran seperti itu ?."


"Iya."


Aku tersenyum tipis. "Terserah kamu mau berpikir seperti apa, Vin. Juga nggak ada bedanya."


"Bukan itu yang aku ingin dengar dari kamu."


"Lalu apa ? Kamu ingin mendengar jika apa yang kamu pikirkan itu benar ? Atau.... kamu ingin mendengar aku mengatakan aku mencintaimu ?." Alvin hanya terdiam.


"Kamu tidak mencintaiku, untuk apa semua itu menjadi penting."


Dengan wajah yang sulit diartikan, alvin pergi begitu saja. Ku tutup kembali pintu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengannya ? Kenapa ia menanyakan hal yang tidak penting seperti itu ? Waktu terus berjalan. Jika ia tidak mencintaiku atau setidaknya belajar mencintaiku, ia tidak perlu tau hal hal semacam itu. Ia tidak usah masuk terlalu dalam dalam hidupku.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Kini aku sedang berkeliling rumah sembari menjelaskan setiap peraturan atau detail rumah pada asisten rumah tangga. Sebelum Alvin pergi berkerja, ia bilang pada ku akan ada asisten rumah tangga yang sudah lolos seleksi nya. Asisten rumah tangga itu terlihat baik. Usianya lebih tua dari ibu ku.


Aku sedang bekerja menyelesaikan tulisanku, terduduk di atas ranjang. Aku tersenyum, miris mengingat wajah terkejut sih bibi saat ia tau jika kamar ku dan Alvin pisah. Kami memang suami istri tapi serasa orang lain. Suami, istri yang hanya terikat ijab kabul. Sah Dimata agama dan hukum. Bukan terikat karena cinta dan sah menjadi suami istri di hati masing-masing.


Ketika aku sedang terduduk di ruang keluarga sembari menonton TV, datanglah bibi yang membawakan ku segelas jus jeruk dengan es yang ia letakkan di atas meja. Bibi tiba tiba terduduk di lantai samping ku, aku langsung menyuruh nya untuk duduk di sofa. Awalnya bibi enggan, takut tidak sopan tapi karena aku terus meyakinkan tidak apa-apa, akhirnya bibi terduduk di samping ku.


"Pasti non tersakiti akan keadaan." ujar bibi.


Aku menoleh. Tidak banyak yang ku ceritakan pada bibi tentang pernikahan ini., tapi dari sorot matanya terlihat bahwa ia mengerti akan perasaan ku.


Aku tersenyum sendu. "Mau bagaimana lagi, bi. Ini sudah menjadi takdir ku."


"Bibi yakin, suatu hari nanti non pasti akan mendapat kebahagiaan atas pengorbanan rasa yang menyakitkan ini."


"Semoga saja, bi." Lalu tersenyum, tipis.


"Tunggu aku, kita makan bersama." Sembari berdiri, menatapku. Lalu pergi.


Tak butuh waktu lama, alvin muncul. Kami pun makan bersama. Ternyata masakan bibi lebih enak dari masakan ku.


"Kamu masih marah ?." Tanya Alvin yang berada di hadapan ku.


"Marah, kenapa ?." Lalu memasukkan sesendok nasi beserta lauk nya kedalam mulut.


"Masalah kemarin."

__ADS_1


"Aku sudah melupakan nya, Vin." Sembari sedikit mengunyah.


"Maaf, kalau aku berpikiran yang tidak tidak."


"Tak apa."


"Kamu selalu mengerti diriku, tapi aku tidak pernah mengerti kamu."


"Makanya, belajarlah untuk mengerti." Lalu berdiri, berjalan menuju wastafel untuk mencuci piring.


Ketika sedang mencuci piring, ingin menaruh piring di tempatnya. Piring itu terlepas dari tangan ku, menggelinding dan jatuh ke lantai. Aku mencoba membersihkan dengan langsung memungut pecahan piring.


"Arghh." Ujar ku, merasa kaget dan perih merasakan jari telunjuk ku tergores pecahan beling. Darah perlahan sedikit menetes, ke lantai. Lumayan banyak yang keluar.


Tiba-tiba ada seseorang yang menggapai tanganku yang sedang terluka. Alvin, lelaki itu sedang memandang jariku yang masih mengeluarkan darah. Alvin membawa ku ke depan wastafel, lalu ia taruh jariku dibawah air yang mengalir dari kran.


Ia membawa ku duduk ke kursi meja makan, lalu ia pergi dan kembali membawa kotak P3K. Ia duduk di samping ku, lalu mulai mengobati luka ku dengan lembut. Aku memperhatikan nya. Melihat Alvin seperti ini membuatku jadi takut kalau kalau hatiku luluh, dan berakhir jatuh cinta.


Aku bahagia, melihat sikapnya yang seperti ini tapi aku juga takut jika ini semua hanya awal. Tak ada yang tau isi hatinya. Semua kemungkinan dapat terjadi. 2 tahun masih lama, masih banyak kemungkinan terburuk terjadi atau..... kemungkinan yang indah terjadi. Aku tidak tau. Aku hanya dapat menyerahkan ini semua pada Tuhan. Perihal hati dan keputusan Alvin.


🌺🌺🌺🌺🌺


Terimakasih atas dukungannya.


Terus dukung author dengan kalian like dan komen. πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


Komen yang membangkitkan semangat membuat author semangat dalam menulis πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2