
Tita duduk termenung dengan tak berhenti mengaduk soto dalam mangkuk di hadapannya.
Selera makannya beberapa hari ini menghilang setelah perang dinginnya dengan Kennan kembali on.
Sudah hampir satu minggu Tita diabaikan oleh Kennan, suami dinginnya itu kembali berbicara seperlunya kepada dirinya. Tak jarang kembali meninggalkan sendiri di apartemen saat menjelang tidur malam hari.
Tita merasa jiwanya kosong, meskipun tubuh Kennan masih berada di sisinya namun tidak ada lagi perhatian yang ditujukan kepadanya. Hanya sikap acuh dan tatapan dingin yang kembali diperlihatkan padanya.
Kalau saja Tita boleh memilih, lebih baik suaminya itu melampiaskan amarah dan menghakimi kesalahannya daripada harus mendiamkannya seperti ini.
Tita merasa melewati harinya sangat panjang saat tidak ada sekecap komunikasi antara dirinya dan Kennan.
Berkali - kali Tita mendesah sambil mengaduk soto dihadapannya tanpa ada niatan untuk memasukkan ke dalam mulut.
"Kenn ... bini lo tu ...." Aldi berbisik pada Kennan saat memasuki kantin dan melihat Tita sedang makan
sendiri dengan menunduk.
Kennan melotot pada Aldi dan berlalu begitu saja menuju bangku pojok kantin yang sudah menjadi spot favorit Kennan and the gengknya.
"Elo bisa ya ngelakuin sikap yang berbanding terbalik 180 derajat kek gitu ke bini lo Kenn ... kalau gue mah gak tahan. Mending gue kekep terus di manapun biar gak ilang." Arya terkekeh setelah berucap kata.
Arya berprasangka seperti itu karena pernah melihat bagaimana sikap Kennan saat dengan Tita di luar sekolah. Tanpa Arya tahu jika saat ini pasangan muda itu sedang berada pada mode perang dingin. Arya hanya berfikir jika Kennan dan Tita memang menjaga jarak jika diluar rumah.
"Bacot lo Ar ... Bisa diem gak." Kennan menghardik sambil melotot pada Arya.
"Ck ... gue ngomong pelan, gak ada yang bakal denger elah ...." Arya.
Kennan membuang nafas pelan setelah menghardik sahabatnya, Arya. Pandangan matanya terarah pada punggung Tita yang membelakanginya. Kennan tahu jika beberapa hari ini Tita terlihat tidak memiliki semangat hidup layaknya dirinya.
Namun entah mengapa Kennan masih merasa berat untuk memaafkan gadis yang difikirnya telah membohonginya tersebut.
"Elo gak pengen nyamperin dia Kenn?" Aldi bertanya lirih.
Kennan menggeleng.
"Gak, ntar dia marah" Kennan terpaksa membohongi sahabatnya. Kalau saja posisi mereka sedang baik - baik saja Kennan pasti sudah mengambil duduk di depan Tita, tidak peduli jika itu membuat gadis itu marah.
"Kenapa bisa?" Aldi bertanya dengan kening berkerut.
"Takut kena bully." jawab Kennan tanpa mengalihkan pandangan dari punggung Tita yang masih saja menunduk, sepertinya tidak menyadari jika Kennan ada di dalam kantin.
"Elo kan suaminya, masak gak bisa buat melindungi bini lo. Cemen lo Kenn ...." Aldi mengejek.
"Gue gak mau hubungan gue sama dia bermasalah Al." Kennan menjawab dengan datar.
"Elo gak lagi ada masalah sama dia kan Kenn?!" Bima berbisik lirih tepat ditelinga Kennan.
"Gak" Kennan mendorong bahu Bima yang tidak berjarak dengannya dengan pelan.
Bima menarik tubuhnya dengan tatapan janggal, keningnya mengerut. Mulut lo bisa bohongongin gue Kenn ... tapi wajah lo enggak. Elo pasti lagi ada masalah sama bini lo, Bima membatin dengan memandang Kennan dan Tita silih berganti.
Meskipun Tita hanya nampak punggung, namun gesturnya menandakan jika gadi itu tidak sedang baik - baik saja. Apalagi pandangan mata Kennan pada Tita seakan menyembunyikan sesuatu.
"Hai embaann ...!" Hani berseru sambil mendudukkan diri di depan Tita saat datang ke kantin melihat Tita sedang duduk seorang diri.
Tita mendongak saat mendengar suara sahabat karibnya menyerukan namanya.
__ADS_1
Tita tersenyum tipis. "Hai incess" sahut Tita dengan tanpa semangat.
"Sendirian?? Irsyad mana??" Hani bertanya sembari mendudukkan diri di depan Tita.
Tita mengangguk. "Iya ... Irsyad gak masuk ada izin ada acara keluarga katanya."
"Oh ... pantesan emban sendirian." Hani berucap lesu.
"Soto emban masih banyak, emban baru di kantin?" Hani bertanya sambil memandang pada mangkuk soto Tita yang masih terlihat penuh.
"Enggak ... lagi gak enak makan."
"Kenapa? Emban sakit?" nada bicara Hani terdengar khawatir lalu meraba kening Tita.
Tita menepis tangan Hani dengan pelan. " Emban gak sakit Incess ... cuma gak enak makan wae."
"Beneran??" Hani masih belum mempercayai ucapan Tita.
Interaksi kedua gadis itu tak lepas dari pandangan Bima, bahkan dirinya menangkap ucapan Tita yang memang sedang tidak baik - baik saja.
Sedangkan Kennan terlihat menghentikan pandangan matanya dari Tita dengan mulai membuka ponsel pintarnya. Membuka aplikasi game tentunya, untuk membuang banyaknya pikiran yang berputar pad tempurung kepalanya.
"Andra ...!! Sini ...!!" Hani melambaikan tangan ke udara dengan menyebutkan nama sang ketua osis.
Mendengar nama tersebut Tita pun mendongak kaget.
Pun halnya dengan Kennan.
Kennan yang semula menunduk menatap ponsel pintarnya, mendongakkan kepalanya. Dan mendapati Andra berjalan mendekati meja Tita dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Bima melirik pada sahabat sekaligus kapten timnya tersebut, ada kilatan emosi pada tatapan mata Kennan untuk Tita.
Bima pun mengikuti arah pandangan Kennan pada Tita.
Pada saat Andra berdiri di depan meja Tita, Tita terlihat beranjak dari duduknya lalu meninggalkan mejanya keluar kantin.
"Embaann ...!!" teriak Hani sembari berlari kecil mengikuti Tita keluar dari kantin sekolah.
Andra masih berdiri terbengong melihat Tita yang tetiba berjalan meninggalkan tempat duduknya.
Meskipun Tita sempat memberikan senyum tipis padanya namun tetap saja Andra merasa heran dengan sikap Tita.
Beberapa saat setelahnya, Kennan pun keluar kantin dengan langkah kaki lebar.
Andra semakin mengernyit bingung. Mungkinkah Kennan benar - benar memiliki hubungan dengan Tita? tanya Andra dalam hati.
...ππππ...
"Embaaann ... tunggu!!" Hani berteriak memanggil sahabatnya.
Tita yang sudah berada jauh di depan berhenti menoleh ke belakang.
"Kok pergi gitu aja sih ... emban marah sama incess?" Hani bertanya dengan berusaha mendekat pada Tita.
Tita menggeleng lemah, tak ada senyum di bibirnya. Hanya wajah datar yang ditunjukkan pada sahabatnya tersebut.
"Terus ... kenapa pergi gitu aja?" Hani kembali bertanya dengan perasaan bingung melihat sikap sahabat baiknya yang seolah menjauhinya.
__ADS_1
"Gak papa ... emban cuma pengen balik kelas aja." ucap Tita datar.
"Bukan karena menghindar dari gue kan?!" Hani.
"Enggak incess ... ngapain menghindar dari incess?!" Tita mengerutkan keningnya, karena memang dirinya tidak sedang menghindar dari sahabatnya tersebut.
"Kenapa pergi gitu aja? Apa karena Andra?" Hani bertanya.
Pertanyaan tersebut sontak membuat Tita tersentak kaget, hingga membuatnya menghela nafas pelan.
"Incess ... stop buat bikin emban dekat sama Andra, emban gak ada rasa apa - apa sama dia." Tita berucap dengan nada sehalus mungkin karena tidak ingin menyakiti perasaan Hani.
"Bukane emban suka sama Andra dan sebaliknya?" Hani seolah mengingatkan.
Tita menggeleng lemah dengan sedikit menunduk.
"Emban udah gak ada rasa sama dia, rasa itu sudah hilang incess ...."
"Benarkah? Secepat itu ... tanpa ada sedikit pun rasa yang masih tertinggal?" Hani mengernyitkan dahinya.
Tita mengangguk mengiyakan.
"Gimana bisa?"
Tita kembali menghela nafas pelan, lalu mendongkkan kepalanya.
Set ...
Dan ternyata pandangan matanya mendapati tubuh Kennan yang berdiri mematung dengan jarak beberapa langkah di belakang Hani.
Seketika itu dadanya menyesak melihat tatapan datar nan dingin Kennan untuknya.
"Maaf ... sekarang ada hati yang harus emban jaga. Emban gak bisa sembarangan dekat sama cowok lain." jawab Tita kemudian membalikkan tubuhnya meninggalkan Hani yang masih termenung bingung, mencerna ucapannya.
Tita pun melangkahkan kakinya dengan lebar karena tidak mampu menahan bulir bening yang membendung di pelupuk matanya.
...ππππ...
"Abaang ...." lirih Tita seakan hanya terdengar sebagai gumaman saat melihat suaminya sedang berhadapan dengan seorang gadis yang tangannya terlihat membelai surai hitam suaminya.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ
__ADS_1