Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
153. Sedihnya Tita


__ADS_3

Kennan membuka pintu kamarnya perlahan, lalu menutupnya dengan hati - hati seakan tidak ingin menimbulkan suara yang dapat mengganggu isterinya.


Dengan perlahan pula Kennan mendekati ranjang, di mana Tita isterinya sedang bergelung dengan selimut memunggunginya.


Perlahan Kennan menaiki ranjang lalu menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Kennan mendesah, sembari melirik punggung Tita yang sedikit bergetar karena menangisi hubungan dengan sahabatnya yang terancam retak.


Kennan memiringkan tubuhnya, kemudian perlahan mengusap bahu Tita. "Dek ... bangun dulu, elo belum makan malam."


Tidak ada sahutan dari pemilik tubuh yang bergelung di dalam selimut tersebut. Kennan pun kembali mendesah, resah.


Semenjak pulang dari sekolah sore tadi, Tita tidak bersuara sepatah katapun. Bahkan pada saat Kennan bertanya hanya sesekali Tita menjawabnya, moodnya telah hilang. Hanya ada rasa sedih yang menghiasi wajah sendunya.


Tak patah arang, Kennan kembali mengusap bahu Tita dengan lembut. Kali ini dengan membungkukkan setengah badannya serta mendekatkan bibirnya pada telinga Tita.


"Dek ... makan dulu, ntar lo sakit. Gue bawain ke kamar ya?!"


Tita menggeleng. "Enggak ... Tita gak laper Bang." ucap Tita dengan suara serak khas orang menangis dengan terisak.


"Ntar lo sakit ... lo harus makan biar tubuh lo kuat. Biar besok punya tenaga buat nyelesain masalah lo sama si nces ngeces temen lo itu." bujuk Kennan.


Tita menolehkan wajah sembabnya pada Kennan, suaminya.


"Incess Abaang ... bukan nces ngeces." ralat Tita dengan sedikit cemberut dan masih dengan suara serak, setelah mendengar sebutan Kennan pada sahabat baiknya.


"Sama wae lah ... ada ngecesnya juga kan?" Kennan ngeyel.


Tita membalikkan tubuhnya menghadap Kennan.


"Incess Abaang bukan ngecess ... Abang jahat! Temen Tita cantik gak ada ngecesnya!" Tita berucap kesal, sedikit melupakan kesedihannya.


Kennan terkekeh.


"Masih cantikan elo Dek, jauh ... kek Sabang Merauke." jawab Kennan masih terkekeh sambil menggoda isterinya.


Tita mendongak. "Maksud Abang temen Tita ...?"


"Iya" sahut Kennan pendek karena dia paham akan maksud perkataan isterinya.


Tita mencebik dengan sedikit terisak.


"Abang jahat, ngatain temen Tita." ucap Tita sembari memukul pelan tubuh suaminya.


"Gue ngomong kenyataan, lagian mosok gue ngomong kalau lo kalah cantik dari temen lo." Kennan berucap kata sembari mengusap lembut pipi Tita yang basah dengan jempol tangannya.


"Yang ada lo bakal ngambek sama gue kan?!" lanjut Kennan.


Tita cemberut.


"Incess gak jelek Bang." Tita kekeh membela sahabatnya.


"Iya deh, temen lo cantik ... tapi gak secantik isteri gue, iya kan?!"


Tita menunduk, meski hatinya sedang sedih namun rona merah tetap menjalar pada pipi cabinya. Bahkan hatinya menghangat saat mendengar pujian dari mulut suaminya. "Abang apaan seh ..."


Kennan tersenyum saat melihat reaksi Tita yang menunduk malu - malu. Berharap isterinya itu dapat melupakan sasaat tentang kesedihannya.


Sejenak suasana menjadi hening.

__ADS_1


Kennan pun mengulurkan tangan lalu membawa tubuh Tita untuk duduk bersandar pada kepala ranjang. Tita pun beringsut, menurut dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang serta kepala yang menyandar pada bahu suaminya.


"Elo gak pengen cerita sama gue?" tanya Kennan sembari mengusap jemari Tita lembut.


Sesaat Tita mengambil nafas dalam lalu membuangnya perlahan. Dirinya bingung harus memulai dari mana untuk memberitahu pada Kennan.


"Mungkin temen lo hanya kecewa karena lo gak jujur sama dia. Seperti reaksi temen - temen gue kemarin. Tapi setelah gue cerita kondisi awal pernikahan kita, mereka menyadari kok. Apalagi status kita yang masih sekolah adalah salah satu alasan kita buat nutupin status pernikahan kita, mereka pun akhirnya ngerti. Temen lo pasti juga mau ngertiin itu Dek ..." Kennan berucap kata masih dengan mengusap lembut jemari Tita dengan lembut.


Tita mendongak, memandang wajah tampan suaminya yang memberikan tatapan teduh padanya.


"Situasi kita beda Bang ..." Tita berucap dengan sendu.


"Apanya yang beda Dek?!"


Lagi - lagi Tita harus menghela nafas panjang, lalu setelahnya menelan salivanya dengan kelat.


Tita menatap manik hitam suaminya yang memberikan tatapan menuntut jawaban darinya.


Ragu mendera hati Tita saat akan mengungkapkan alasannya.


"Dek ..." Kennan menatap Tita teduh sembari menggoyangkan telapak tangannya yang bertautan dengan jemari tangan mungil isterinya.


Bibir Tita tetap saja bungkam, hanya memberikan pandangan yang sulit untuk diartikan.


"Dek ngomong ... atau gue paksa nih ..." Kennan memajukan wajahnya ke depan wajah isterinya.


Tita pun gelagapan, sedikit memundurkan wajahnya untuk menghindari Kennan yang sudah dapat dipastikan akan mendaratkan ciuman pada bibirnya.


"Incess ... eh emm ... Hani ... suka sama abang." ucap Tita lirih lalu menundukkan kepalanya.


Sesaat terdiam, bingung harus berkata apa pada Tita isterinya.


Tak berapa lama kemudian.


"Terus hubungannya sama pertengkaran lo sama dia, apa?!" Kennan masih belum memahami korelasi antara sahabat Tita dengan dirinya.


"Adalah Bang ... temen Tita itu suka banget sama abang. Terus Tita malah nikung, nikah sama abang. Padahal jelas - jelas temen Tita itu tiap hari liatin abang, cerita soal abang. Abang tau gak gimana rasanya tiba - tiba orang yang abang sukai nikah sama sahabatnya sendiri?!"


Kennan menggelengkan kepala perlahan.


"Gak tau ... dan tak nak tau." ucap Kennan asal.


"Isshh ... abang gak punya hati." Tita mencebik sembari memukul pelan dada suaminya.


"Udahlah gak papa, lo gak nikung. Lo gak usah peduli sama rasa dia ke gue. Toh gue juga gak ada rasa sama dia, kenal wae enggak. Yang penting lo ngomong jujur sama dia, tentang hubungan kita. Terserah reaksi dia mau gimana, yang penting lo ngomong apa adanya. Lama - lama dia bakal nerima kenyataannya."


"Tapi ... Tita takut Bang. Sahabat Tita cuma dia. Hani bilang gak mau berteman sama Tita lagi. Padahal hanya dia temen Tita yang paling deket dan juga ngertiin Tita selama ini. Gimana kalau dia bener - bener memutus persahabatan di antara kami, hiks ..." Tita kembali terisak.


"Udah gak usah nangis, coba aja dulu." Kennan menenangkan dengan mengusap lembut pucuk kepala isterinya.


"Kalau Hani marah dan tetap gak mau maafin Tita?" Tita mendongak, memandang Kennan dengan wajah basahnya.


"Yang penting elo udah ngejelasin sama dia, gak usah mikir hasilnya. Yang penting dicoba dulu Dek."


Lagi Tita terisak, punggungnya kembali bergetar.


Kennan memeluk tubuh Tita dan mendekap dalam pelukannya, mengusap surai hitamnya dengan lembut dan sesekali mencium pucuk kepala isterinya.

__ADS_1


...🍭🍭🍭...


Pagi telah tiba.


Sinar mentari menyorot mengganti kedudukan sang rembulan.


Tita yang masih dalam kondisi sedih menapaki jalan menuju sekolah dengan lunglai. Seolah kakinya berjalan dengan tidak ada tenaga untuk menyangga tubuh rampingnya.


Selama perjalanan Tita hanya menunduk dan tidak berhenti mendesah resah. Di dalam hatinya terasa nyeri, sakit seakan tertusuk sembilu saat mengingat wajah marah Hani.


Ternyata rasa sedih bertengkar dengan sahabat sangatlah menyakitkan.


Dirinya memang salah telah menyembunyikan fakta tentang status pernikahannya dengan Kennan, hingga membuat kesalahpahaman antara dirinya dengan sahabat baiknya.


Namun, tidak adakah kesempatan dirinya untuk membenahi semuanya. Tita tidak siap jika harus kehilangan sahabat terbaik yang selalu menemani suka dukanya selama ini.


Huft ...


Tita membuang nafas sesak. Kemudian bertekad dalam hati untuk menemui sahabatnya. Apapun yang akan terjadi nanti akan diterima olehnya dengan lapang dada. Setidaknya dirinya harus mencoba, seperti yang dikatakan oleh Kennan suaminya.


Tita mempercepat langkahnya untuk menuju kelas Hani sahabatnya, bahkan sesekali kaki jenjangnya tersebut berlari kecil agar cepat sampai tujuan. Semoga saja gadis yang selalu mengucir surai hitamnya itu dengan kucir kuda sudah hadir di kelasnya.


Brukk.


Saat akan membelok di ujung koridor sekolah tubuh Tita menabrak dengan seseorang.


"Maaf" Tita berucap maaf dengan masih menunduk.


Sesaat setelahnya mendongakkan wajahnya.


Kedua bola matanya terbuka lebar saat menyadari bahwa dirinya bertabrakan dengan Hani sahabatnya.


"Incess ..." Bibir Tita bergetar saat memanggil sahabatnya.


Refleks Tita memegang pergelangan tangan Hani, namun Hani menepisnya dengan kasar.


Hani menatap Tita sinis kemudian berlalu meninggalkan Tita yang mulai meluruhkan cairan bening pada wajah sendunya.


"Incess ..." Tita menyebut sahabatnya dengan getir.


Dan itu tak lepas dari tatapan mata Kennan yang memandangnya dari kejauhan.


🍨🍨🍨🍨


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2