Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
159. Bingung


__ADS_3

Bingung mau kasih judul ... jadinya kasih judul aja bingung daripada nungguin judul gak dapet - dapet entar malah gak bisa up,πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


🌺🌺🌺🌺


"Ken ... tungguin gue!" Aldi berseru dengan setengah berlari menyusul Kennan yang baru saja keluar dari area tempat parkir sekolah.


Kennan pun menoleh dengan menghentikan langkah kakinya di pinggir koridor sekolah untuk menunggu Aldi sahabatnya.


"Bini lo gak bareng?" tanya Aldi saat dirinya sudah dekat dengan Kennan, tentu saja dengan suara yang dibuat pelan.


"Dia gak mau, takut kena bully fans gue katanya." sahut Kennan datar.


"Terus gimana dia ke sekolah?" Aldi bertanya dengan kening mengerut.


"Bareng sama gue sampek depan minimarket ujung jalan itu, trus dia memilih jalan ke sininya." jelas Kennan pada Aldi.


"Kenapa lo bolehin, lo gak kasihan Kenn?"


"Gue udah paksa dia buat turun diparkiran sekolah, bahkan gue udah usul buat berangkat pagi terus pulang akhir sama dia. Dianya kekeh gak mau Al ... ya udah gue turutin wae daripada tiap hari bersitegang terus gue dicuekin, gak kuat Dab ..."


"Gak kuat kenapa?" Kondisi masih pagi sepertinya membuat Aldi gagal paham.


"Gak kuat kalau tidur dapetnya punggung, gak bisa nyelem." sahut Kennan tanpa dosa.


Pletak.


Aldi memukul kepala Kennan dengan topi yang semula bertengger di kepalanya, Aldi tau pasti bahwa yang dimaksud gak bisa nyelem itu adalah timun laut sahabatnya.


"Anj*ng lo Kenn ... pagi - pagi udah bikin jagoan gue ngiri." Aldi kesal, bisa - bisanya kapten tim basketnya itu mengotori otak perawannya dengan hal mesum.


"Shiit!! Lo pikir gak sakit apa ..." Kennan mengumpat sembari mengusap kepala yang terkena pukulan topi Aldi.


"Kalau gue gegar otak terus amnesia gimana coba?!" lanjut Kennan kesal.


"Gue bersyukur banget. Gue siap nampung bini lo." jawab Aldi santai.


Kennan melotot mendengar jawaban sahabatnya.


"Gue babat habis jagoan lo, kalau perlu gue kebiri. Biar gak berfungsi sekalian." Kennan sinis.


"Aish ... abang sadis." Aldi berlagak ketakutan mengolok Kennan.


Keduanya pun tergelak bersama sambil melangkahkan kaki menuju kelas.


"Bahagia bener ini duo jeruk pagi - pagi." Tetiba Arya merangkul pundak Kennan dan Aldi dari belakang. "Lagi ngomongin apa seh, kepo nih gue."


"Anak kecil gak boleh tau, iya kan kapt?!" Aldi tersenyum tengil.


"Gue udah gede kali." Arya tak terima.


"Gak usah ikutan, tar lo nyesel dengernya." lagi Aldi menolak bercerita.


"Mama mana?" Kennan bertanya untuk mengalihkan perdebatan kedua sahabatnya.


"Udah ngendon di kelas keknya, dia ngambek sama gue. Gue ditinggalin." jelas Arya.


"Kenapa?" tanya Aldi kepo.


"Gue gagalin acara kencannya kemaren, eh ngambek tu bocah."

__ADS_1


"Elo sih, ngiri wae ... akuin wae kalo lo kalah laku dari die." Aldi terlihat mengejek.


"Enak aja, gue bukan gak laku tapi pemilih. Inget itu!" Arya membela diri.


"Ck masih gak mau ngaku." Aldi masih saja mengejek.


"Elo tu Al ...." Arya kesal.


"Udah ... gue yang paling laku di sini." Kennan dengan pede membanggakan dirinya.


Njjiiiirrrr ... kumat!


Arya dan Aldi mencebik bersamaan.


"Bener kan?!" Kennan dengan terkekeh berlalu melangkahkan kaki di depan kedua sahabatnya.


Namun saat sudah mendekati pintu kelas ada Sisil yang menghadang Kennan di pintu.


"Pagi ayaang Kenn ..." sapa Sisil dengan senyum dibuat manis dan kedua mata yang berbinar.


Kennan memasang wajah datar nan dingin seraya menepis tangan Sisil yang hendak menyentuhnya. "Minggir lo!" sentak Kennan karena Sisil tidak berkeinginan menggeser tubuhnya yang menghalangi jalan masuk kelas.


"Kalau gue gak mau?" tanya Sisil mengibaskan surai panjangnya yang diberi warna ombre, seakan menggoda Kennan agar tertarik kepadanya.


"Kita yang bakal seret lo!!" seru Aldi dan Arya berbarengan seraya menarik kedua tangan Sisil yang memegang daun pintu agar menjauh.


Mendapatkan jalan untuk masuk, Kennan pun segera memasuki kelas dengan tidak peduli pada yang akan terjadi pada Sisil yang ditarik oleh kedua sahabatnya.


"Apaan sih pegang - pegang gue!" seru Sisil dengan menepis tangan Arya dan Aldi dengan kasar.


"Lo bisa gak pagi - pagi diem anteng, nggak kek cacing kepanasan gitu?" tanya Aldi ketus.


"Enggak bisa!" sahut Sisil angkuh dengan kedua tangan dilipat di depan dadanya.


"Enak aja, lo ngatain gue bego?!" Sisil memasang wajah marah.


"Iya ... kenapa? Gak terima lo?" Aldi tetap saja sinis.


Sisil menghentakkan kaki dengan kesal, lalu


berjalan ke arah bangku Kennan.


"Ayaang ... Aldi ngatain gue bego tu." Sisil melapor pada Kennan seolah cowok tampan berwajah datar nan dingin itu adalah kekasihnya.


Kennan yang sudah duduk anteng di bangkunya tidak bereaksi. Kapten tim basket yang terkenal berwajah datar nan dingin tersebut asyik dengan ponsel pintarnya, tanpa mau peduli dengan tingkah polah Sisil yang seperti cacing kepanasan menurut Aldi.


"Yaang ... ayang kok diem aja sih, Aldi tu resek." Sisil mulai berani meraih salah satu lengan tangan Kennan.


"Elo apaan seh, tangan lo jangan ngelunjak ya!" ketus Kennan dengan menepis tangan Sisil kasar.


"Al ... bawa pergi jauh si Lenong dari hadapan gue!" Kennan berseru tegas.


Aldi, Arya bahkan Bima serempak turun tangan menarik serta mendorong tubuh Sisil menjauh dari bangku Kennan.


Sisil pun meronta tidak terima, berusaha memaku tubuhnya untuk tetap berada di sana namun apa daya tenaganya tidak sebanding dengan tenaga ketiga cowok ganteng sahabat Kennan.


Dengan kesusahan Sisil akhirnya berhasil digiring ke tempat duduknya sendiri.


"Elo tu gak tau malu ya, jadi cewek jual mahal dikit napa ... udah tahu Kennan tu gak suka sama lo, masih aja nempel kek lintah!" Arya berucap ketus.

__ADS_1


"Cari dinding sono, yang bisa lo tempelin sampek puas!" Aldi menimpali.


"Kalian gak usah ikut campur urusan orang lain, apalagi urusan gue! Lagian lo pikir gue tokek apa suruh nempel dinding.


"Yeeee ... ngaku tokek die!!" seru Aldi, Arya dan Bima bersamaan dengan tertawa terpingkal sambil menjauh dari bangku Sisil.


"Sinting kalian!!" seru Sisil tidak terima dengan wajah yang tertekuk kesal.


"Eh sinting teriak sinting!!" lagi Arya berteriak mengejek.


...🍭🍭🍭🍭...


Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Para murid pun bergegas keluar kelas untuk segera membebaskan duri dari penatnya duduk di bangku sekolah.


Pun demikian dengan Tita dan teman sekelasnya. Namun Tita terlihat berjalan lambat seolah memikirkan sesuatu saat keluar dari kelasnya.


"Kenapa lo Ta, kek mikir berat banget. Ada masalah sama Kennan?" tetiba Irsyad bertanya dengan mensejajari langkahnya.


"Eh ... Irsyad bikin kaget wae. Nggak kok, gak ada." jawab Tita pasti namun terdengar lemah.


"Wajah lo gak bisa bohong Ta."


"Ah, masa iya sih?!" Tita seakan tak percaya.


"Iya. Elo ada sesuatu kan? Mulut lo bisa bohong tapi wajah lo gak bisa bohongin gue." Irsyad.


Tita tersenyum kecil.


"Irsyad bisa ae, orang Tita beneran gak ada masalah sama abang kok. Sumpah, cuma ...." Tita menggantung ucapannya.


"Cuma apa?" tanya Irsyad cepat.


"Itu ... em ..." Tita menghentikan langkahnya.


"Apa?"


"Minggu depan osis ada acara pisah kenal seperti taun - taun sebelumnya. Cuma Tita bingung bilangnya ke abang, soalnya pasti Andra ikut. Dia kan mantan ketua osisnya." jelas Tita.


"Irsyad tau kan gimana abang, apalagi kalau ada Andra nantinya. Tita kan gak mungkin gak ikut, orang itu acaranya anak - anak osis." ujar Tita bingung.


Irsyad menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Lo cari waktu yang tepat wae waktu minta izin, dia pasti ngizinin kok. Percaya sama gue." Irsyad tersenyum memberi semangat dengan mengepalkan tangannya.


Tita pun membalas senyum Irsyad. "Semoga saja."


🍨🍨🍨🍨


Kennan kasih izin gak ya????


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen

__ADS_1


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘


__ADS_2