
"Bang." Tita sedikit berseru dengan jemari yang saling meremas. Sesaat memandang suaminya takut - takut.
"Apa?" Kennan datar dengan menatap jalanan aspal yang cukup padat di depannya.
Sejenak Tita terdiam tanpa menyahut.
"Apa Dek?" Kennan menoleh sekilas lalu kembali beralih memandang jalanan di depannya yang dipenuhi kendaraan bermotor berjalan merayap sore ini.
"Emm ... Tita ..." Tita terlihat gugup dan tidak bisa meneruskan ucapannya dengan lancar.
"Apaan yang?" Kennan meraih jemari Tita lembut dan membawanya bertumpu pada paha kirinya.
Tita yang mendapati perlakuan lembut Kennan, sedikit terhenyak.
Terpesona? Atau terharukah Tita?
Bukan ... bukan karena hal itu, melainkan Tita semakin kesulitan untuk mengungkapkan kata - kata untuk meminta izin pada sang suami datarnya. Wajah datar nan dingin itu bisa saja berubah menjadi beruang kutub yang hendak memangsa jika berada pada mode angry.
Dan Tita yakin apa yang akan diungkapkannya saat ini pasti akan membuat wajah suaminya itu berubah mode angry on.
"Apaan sih Dek, susah banget ngomongnya? Lo pengen apa?" Kennan menatap Tita sekilas kemudian mencium punggung tangan isterinya lembut.
Ah jika saja kondisi saat ini tidak ada yang ingin Tita ungkapkan, sudah pasti dirinya akan bergelayut manja pada lengan kekar itu. Namun hal itu urung dilakukan mengingat tubuhnya semakin menegang karena takut reaksi Kennan.
"Bang ..."
"Iya sayang ..." Kennan tersenyum menggoda dengan nada manja. Ihh ... adem, gak perlu ac walau cuaca panas bikin gerah π
"Abang gak usah mesum gitu, lagi di jalan ini." Tita merona.
"Habisnya lo dari tadi ditungguin gak ngomong - ngomong, cuma panggil bang ... bang ... wae kek manggil abang bakso." Kennan terkekeh kecil.
Tita menghela nafas pendek.
Kenapa sesulit ini hanya untuk meminta izin saja, Tita membatin.
"Ngomong gih." Kennan menggoyang tangan Tita.
"Abang janji gak marah ya?" Tita mengucapkan syarat.
"Gimana gue janji, elo ngomong wae belum."
"Tita bakal ngomong, tapi abang jangan marah nanti. Janji ya Bang?" Tita memohon.
"Iya ... gak janji." lagi Kennan menggoda.
"Abang ih." Tita cemberut.
"Iya iya janji ... ngomong gih." Kennan terkekeh kecil. Rasanya menyenangkan menggoda Tita.
Tita sedikit menarik tubuhnya menyamping, untuk menghadap Kennan.
"Minggu depan, anak - anak osis mau ngadain acara pisah kenal." Tita berucap dengan tidak berhenti merapalkan doa dari dalam hatinya.
"Terus?" Kennan bertanya santai dengan masih menatap jalanan aspal di depannya yang sudah mulai merangkak lancar.
"Terus ... em Tita kan anggota osis tahun kemarin jadinya Tita juga wajib ikut Bang."
"Iya ... gue tau. Ikut wae, semua anak osis ikut kan?" Kennan bertanya balik. Sepertinya Kennan belum menyadari akan keberadaan Andra di acara itu nantinya.
"Iya" Tita mengangguk mengiyakan.
"Beneran abang ngizinin Tita buat ikut?" Tita kembali memastikan.
"Bener ... gak percaya amat seh." Kennan memandang Tita dengan tersenyum, kemudian mengusap surai hitam isterinya yang tertutupi jilbab seragam sekolah.
"Elo kan gak pernah seneng - seneng, cuma di rumah wae. Elo bosen kan Dek?!"
__ADS_1
Tita mengangguk dengan sedikit ragu. Dalam hati berfikir, tumben suami datarnya itu memberikan izin dengan mudah tanpa banyak bertanya.
Namun tetap saja dalam hati Tita mengucap syukur karena ternyata suami dinginnya itu memberikan izin tanpa bereaksi seperti yang dibayangkan sebelumnya.
"Tu kan bener ..." Kennan tersenyum melihat Tita mengangguk. "Yang penting elo gak ganjen sama cowok - cowok. Inget suami di rumah." lanjut Kennan.
"Iya Tita selalu inget kok."
"Jiahh ... selalu apaan, waktu kapan itu wae elo lupain gue. Mentang - mentang jalan bareng si ketos." Kennan mengingatkan dengan nada yang terdengar kesal.
"Eh Dek ..." Kennan seperti teringat sesuatu.
"Iya."
"Si ketos ikut dong?" tanya Kennan dengan wajah serius.
"Ya iyalah Bang, dia kan ketua osis tahun kemarin. Pastinya ikut."
"Kok lo gak ngomong dari awal seh?" Kennan terlihat kesal.
"Lah ... yang namanya acara osis, semua anggota osis baru maupun lama pasti ikutlah Bang. Termasuk Andra." jelas Tita sabar.
"Bisa nggak lo gak sebutin namanya!" ketus Kennan.
Tita menghela nafas pendek. Baru saja bersyukur dalam hati, ternyata ...
Reaksi Kennan berubah.
Raut wajahnya terlihat memerah, rahangnya mengeras.
"Terus gimana Bang? Tita boleh gak ikut acaranya?" Tita bertanya untuk memastikan.
Tidak ada sahutan dari Kennan suami kulkas dua pintunya tersebut. Wajah datar yang sempat tersenyum cerah itu terlihat menahan marah, sepertinya mode angrynya kembali on.
Lagi - lagi Tita harus menghela nafas saat pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban dari suaminya.
Tita pun mengalihkan pandangan ke arah jendela kaca mobilnya. Sepertinya percuma mengajak bicara Kennan jika mode kulkasnya sudah kembali.
Suasana pun menjadi hening, hanya suara deru ac mobil yang mendominasi dari dalam mobil yang dikendarai keduanya.
Hingga tanpa terasa kuda besi hitam milik Kennan pun sudah memasuki bassement apartemen.
Kennan yang dalam suasana hati yang tidak nyaman turun begitu saja tanpa bersuara sepatah katapun.
Tita yang telah ikut menginjakkan kaki pada pelataran bassemant apartemen pun hanya bisa memandang sendu punggung lebar yang telah berjalan mendahului di depannya tersebut.
"Bang ... Abang ...!" Tita berseru memanggil Kennan dengan berusaha menyusul langkah lebar suaminya.
Kennan terlihat mengabaikan tanpa sedikitpun menoleh untuk memenuhi panggilan isterinya.
"Abang kok diemin Tita sih, abang ngomong dong jangan diem wae. Tita kan udah tanya baek - baek. Kalau gak boleh gak papa, tapi jangan diem kek gini." Tita meraih lengan tangan kekar Kennan saat sudah berhasil mendekati tubuh kekar di depannya.
Namun tetap saja Kennan terlihat mengabaikannya, bahkan menghalau tangan Tita yang meraih lengan tangannya.
"Biarkan gue sendiri dulu!" dingin Kennan dengan berlalu memasuki apartemen.
Tita pun hanya bisa menghela nafas panjang.
Tu kan ... Dasar kulkas!!
...ππππ...
Kennan keluar dari kamar dengan wajah yang terlihat fresh setelah beberapa saat lalu mengurung diri di dalam kamar.
Kedua matanya memindai ruang apartemen untuk mencari sosok cantik isterinya.
Pandangan matanya tertuju pada televisi yang menyala namun tidak ada sosok cantik Tita terlihat di sana.
__ADS_1
Kennan berjalan mendekat sofa di depan televisi. Dan ternyata benar adanya, tubuh ramping itu sedang meringkuk dengan mata terpejam di atas sofa.
Kennan mendudukkan diri pada sofa, dimana tubuh ramping itu meringkuk di atasnya.
Perlahan tangannya terulur menenyibakkan anak rambut yang mengurai pada wajah cantik Tita.
Senyum tipis tersungging pada bibir Kennan, dalam hati merutuki kesalahannya karena telah mendiamkan gadis itu beberapa saat lalu.
Ada rasa bersalah di dalam hatinya karena dirinya bertindak egois dengan tetiba diam. Padahal Tita telah meminta izinnya tanpa memaksa. Bahkan gadis itu memilih tidak memasuki kamar untuk memberikan ruang waktu untuknya berfikir.
"Dek ... bangun." Kennan membelai lalu menepuk pelan pipi cabi isterinya.
Tidak ada pergerakan dari gadis yang meringkuk di atas sofa itu.
Kennan pun kembali menepuk pelan pipi cabinya.
"Sayang bangun." ucap Kennan dengan mendekatkan bibirnya pada daun telinga Tita.
Perlahan kedua bola mata itu mengerjap.
"Abang ..." suaranya terdengar serak khas bangun tidur.
Kennan menjauhkan wajahnya seraya menyunggingkan senyum pada wajah datarnya.
"Bangun. Entar badan lo sakit semua." titah Kennan dengan menangkup bahu Tita untuk membantunya duduk.
"Abang udah gak marah lagi?" tanya Tita hati - hati setelah tubuhnya duduk menyandar pada sofa. Meski nyawanya baru saja terkumpul namun rasanya sudah tidak sabar untuk mengetahui kondisi hati suaminya saat ini.
Kennan menggeleng dengan tersenyum tipis.
"Gue izinin lo buat ikut acara itu." ucap Kennan memandang Tita.
Tita menggigit bibir bawahnya, lalu memberanikan diri untuk berucap kata.
"Kalau abang keberatan, Tita gak papa kok gak ikut." sahutnya pelan dengan meremas jemarinya yang bertautan di pangkuannya.
"Gue gak keberatan, asal lo gak deket - deket sama si ketos." ucap Kennan dengan tekanan.
Tita membuka kedua matanya lebar.
"Abang beneran kasih Tita izin? Gak bohong kan Bang?"
"Iya. Gue enggak bohong ... yang pasti lo harus nurut apa kata gue. Dan elo harus pastiin bisa jaga jarak lo sama si ketos itu." sahut Kennan dengan raut wajah serius dan mengintimidasi.
"Abang apaan sih, wajahnya nyeremin kek gitu. Tita gak bakal deket - deket dia, Tita udah punya yang ganteng ini." Tita menangkup wajah Kennan lalu tetiba mengecup sekilas bibir tebal milik Kennan.
Kennan tersenyum.
"Elo ngerayu gue?"
Hehehehe ...
"Menurut abang?!"
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
__ADS_1
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ