
"Turun Dek! Udah sampai ini." Kennan menoleh ke arah Tita yang duduk di kursi penumpang.
Tidak ada pergerakan dari tubuh ramping gadis berkerudung dengan seragam sekolahnya yang tak lain adalah Tita itu.
Tita masih berdiam dengan meremas selempang tasnya kuat, kedua bola matanya tidak berhenti bergerak memindai kondisi parkiran sekolahnya.
Saat ini memang Tita dan Kennan tengah berada di area parkir sekolah, setelah sebelumnya Kennan memaksa Tita untuk tidak turun di depan minimarket dekat sekolah lagi.
Kennan memang memutuskan untuk memproklamirkan hubungannya dengan Tita di sekolah, meskipun itu dengan kedok mereka berdua adalah pasangan remaja yang sedang menjalin hubungan pacaran.
Kennan tidak ingin lagi kejadian yang menimpa isterinya beberapa hari lalu terjadi lagi. Dirinya tidak ingin ada yang mengganggu ataupun menyatakan rasanya pada sang isteri.
Sungguh hatinya tidak bisa menerima jika ada yang berusaha menyatakan perasaannya pada sang isteri tercinta.
Meskipun Tita tidak setuju dengan keputusan Kennan yang sepihak, namun Kennan tetap dengan pendiriannya.
"Dek...." Kennan bersuara hingga membuat Tita menoleh ke arahnya.
"Ayok turun!"
"Tapi Bang, Tita belum siap. Gimana kalo fans abang..." belum selesai Tita berucap kata .
Brak.
Kennan keluar dari mobil lalu menuju pintu sisi penumpang. Lalu membuka pintu dimana Tita duduk.
"Gak usah mikir yang enggak - enggak. Ayok turun!" Kennan meraih pergelangan tangan Tita dan menariknya untuk segera keluar dari mobil HRVnya.
Mau tak mau, Tita pun menuruti kehendak suaminya.
"Biar Tita jalan dewe, gak usah pakek gandeng tangan segala." Tatapan tita memohon pada Kennan, namun Kennan mengabaikan keinginan sang kekasih yang tak lain adalah isteri sahnya.
Kennan melangkahkan kaki dengan satu tangan masuk ke dalam saku celana seragamnya sedangkan satu tangan lainnya menggenggam jemari lentik milik Tita dengan erat.
Kennan tidak peduli dengan banyaknya pandangan mata yang memandangnya heran saat melihat aksinya bergandengan tangan erat dengan Tita.
Banyak tatapan penasaran melihat Kennan yang biasanya selalu berjalan sendiri atau sesekali berbarengan dengan geng basketnya, kali ini datang ke sekolah dengan menggandeng Tita gadis yang tidak populer bahkan penampilannya yang terlihat tidak biasa karena berkerudung.
Tatapan sinis para siswi yang merupakan fans berat Kennan seolah mengejek dan tidak terima melihat kebersamaan sang kapten basket yang terkenal tampan dan dingin itu menggenggam erat tangan Tita.
Bahkan banyak pasang mata dengan wajah sinis, mencemooh serta mencibir pada Tita secara terang terangan. Apalagi para siswi yang merupakan fans berat sang kapten tim basket di sekolah, seolah tidak terima dengan pemandangan yang mereka lihat.
__ADS_1
Tita hanya menunduk takut dan tidak nyaman untuk memandang sekelilingnya, dirinya berjalan dengan hanya memandangi langkah kakinya. Tanpa sadar tangannya semakin mempererat tautannya dengan tangan sang suami.
Seolah memahami kondisi Tita yang tidak nyaman, Kennan membalas tautan jemarinya tak kalah erat. Dengan tatapan cuek namun tetap saja aura dingin terpancar dari wajah tampannya Kennan memperlambat langkah kakinya agar Tita dapat berjalan beriringan dan dekat dengannya. Seolah Kennan ingin menunjukkan pada seluruh sekolah, bahwa gadis di sisinya itu adalah miliknya.
"Udah Bang, sampek sini wae." Tita menghentikan langkah kakinya dengan berusaha melepaskan tangannya dari Kennan.
"Tanggung. Tinggal selangkah doang." Kennan dengan cuek menarik tangan Tita memasuki kelas sang isteri hingga ke sisi bangkunya.
"Belajar yang rajin, jangan baca novel mulu." ucap Kennan lembut saat Tita mendudukkan diri pada bangkunnya.
Irsyad yang sejatinya sudah berada di dalam kelas terlebih dahulu, memandang heran dengan kelakuan Kennan. Meskipun dirinya tau bagaimana posesifnya sang kapten tim basketnya terhadap Tita namun hari ini dirinya merasa aneh dengan perlakuan Kennan yang seolah show up tentang hubungannya dengan Tita. Padahal selama ini terlihat sembunyi sembunyi saat melakukannya.
Sedangkan beberapa murid lainnya saling berbisik dengan pandangan yang beraneka ragam ekspresi. Ada yang memandang sinis, ada yang biasa saja, juga ada yang mulai mengghibah.
"Udah... abang keluar aja." bisik Tita dengan sedikit mendorong tubuh Kennan, kedua matanya melirik ke kanan kiri tidak nyaman. Dirinya menyadari jika banyak teman sekelasnya yang menggunjing kedekatannya dengan Kennan.
"Iya... iya... gak usah dorong dorong napa." sahut Kennan sedikit terhuyung namun tetap memberikan senyum yang menawan untuk isteri tercintanya. Kennan tau jika Tita merasa risih dan tak nyaman dengan perlakuan lembutnya.
"Gue tinggal ya, baek -baek... jangan lirak lirik cowok apalagi sama pak ustadz." Kennan dengan sedikit membungkukkan badan berucap kata sembari mengusap pucuk kepala Tita yang tertutupi oleh kerudung. Lalu setelahnya Kennan melirikkan matanya pada Irsyad yang memandangnya kesal.
Irsyad yang bangkunya dekat dengan Tita pun mencebik kesal karena ucapan Kennan. "Ngapain gue dibawa bawa, dasar bucin! Berasa kek nonton syuting drakor gue." Irsyad menggerutu dengan masih memandang Kennan kesal.
Banyak siswa siswi di kelas Tita yang memandang aksi Kennan dengan heran, pasalnya kapten tim basket sekolahnya yang terkenal berwajah datar, dingin dan beku itu bersikap seratus delapan puluh derajat dari biasanya.
Bukan hanya perhatian dengan Tita si gadis berkerudung melainkan senyum yang tidak berhenti menghiasi wajah tampannya yang biasa datar, membuat seluruh siswa di kelas Tita terheran.
Masih dengan berdiri di depan Tita.
"Pak Ustadz... jagain milik gue, jangan sampai lecet." titah Kennan pada Irsyad seenaknya dengan tidak melepas pandangan matanya dari Tita.
"Cih... emangnya gue bodyguard apa, seenak udel wae nyuruh nyuruh." Irsyad masih saja menggerutu kesal.
"Mulai sekarang lo bodyguardnya. Elo yang harus bertanggungjawab kalau terjadi apa apa sama cewek gue." ucap Kennan terdengar seperti perintah lalu melenggang pergi dengan seenaknya tanpa mendengar persetujuan dari sahabatnya.
"Ck... enak wae. Bayaran gue mahal, berani bayar berapa lo sama gue?!" tantang Kennan tanpa menyadari jika tubuh kekar Kennan sudah menghilang dari kelasnya. Irsyad tidak menyadari kepergian Kennan karena tiba tiba ponselnya berbunyi dengan nyaring dan membuat pandangannya beralih ke ponsel pintarnya.
"Orangnya udah gak ada Syad." Tita setengah berbisik tanpa mengarahkan pandangan pada Irsyad.
Irsyad mendongak setelah mematikan bunyi ponselnya yang ternyata hanya alarm.
Sialan lo Kenn... umpat Kennan dalam hati.
__ADS_1
"Gue tau! Sengaja... biar elo juga denger." ucap Irsyad untuk menutupi kekesalannya pada kapten tim basketnya yang laknat.
"Lah... kok jadi kesel sama Tita sih, emang Tita ngapain?!" Tita menoleh ke arah Irsyad cengo.
"Karena elo bin... "
Pluk. Irsyad segera menutup mulutnya, tidak melanjutkan ucapannya. Hampir saja mulutnya keceplosan mengatakan Tita adalah bini Irsyad.
Irsyad menoleh ke kepala ke kanan dan ke kiri, beruntung tiidak ada yang memperhatikannya.
Kedua mata Tita membola, menatap Irsyad dengan dada yang berdegub kencang. Takut jika Irsyad membocorkan statusnya dengan Kennan.
Menyadari kesalahannya, Irsyad mengacungkan dua jari ke arah Tita. "Sorry."
Bersamaan dengan itu bel sekolah tanda masuk pun berbunyi.
Beberapa saat setelahnya, seorang guru tata usaha sekolah datang memasuki kelas Tita. Para siswa terlihat bingung dengan kedatangan sang guru.
"Tita Andriana."
Merasa namanya dipanggil, Tita pun mendongak.
"Iya Pak... saya." Tita mengangkat telapak tangannya.
"Ikut saya ke ruang kepala sekolah, sekarang!"
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ
__ADS_1