
Mohon maaf bila masih banyak typo bertebaran πππ
Selamat membaca π€π€π€
πΊπΊπΊπΊ
Ku buka pagar, lalu melangkah masuk ke dalam mobil.
"Seharusnya tadi kita bertemu langsung di restaurant nya langsung, mas. Jadi mas tidak perlu repot-repot menjemput ku." Lalu menoleh kearah nya.
"Tak apa." Sembari mengemudi.
******
Ketika aku sedang makan tiba-tiba Alvin menyentuh bibir ku lembut. Aku tertegun, dengan perasaan senang. Mendapat sentuhan seperti itu entah kenapa membuat ku merinding.
"Ada sisa makanan." Sembari menunjukkan sisa makanan yang ada di jarinya, pada ku.
Aku tersenyum kikuk, mungkin lebih tepatnya sih salah tingkah. Ku, ambil tisu yang berada di atas meja, lalu membersihkan bibir. Alvin hanya menatap ku datar. Dasar, lelaki itu. Sudah membuat ku malu seperti ini, ia masih bisa menunjukkan wajah datarnya.
"Nanti aku pulang sendiri saja, mas."
Lalu memasukkan sesendok makanan ke mulut ku.
"Saya antar saja !."
"Tidak usah."
"Yasudah."
Dalam perjalanan pulang di taxi, aku terus memikirkan kejadian indah tadi. Entah kejadian indah atau memalukan. Tapi aku suka. Rasanya kalau sudah seperti ini, aku ingin terus merasakan hal indah lainnya. Aku mulai ingin berada didekat Alvin terus, aneh. Aku menggelengkan kepala, aku harus terkontrol. Alvin itu masih proses belajar, Bakan sudah mencintai ku. Jadi aku jangan terlalu dalam dengan perasaan ini. Yang ada cintaku tak terbalas, bertepuk sebelah tangan.
Handphone yang berada di tas selempang ku berdering, ku angkat benda persegi panjang itu, dan ternyata panggilan masuk dari nenek.
__ADS_1
"Hallo, nek."
"Kamu lagi dimana ?."
"Jalan. Kenapa nek."
"Bisa mampir ke rumah nenek ?."
"Bisa nek."
"Nenek tunggu."
"Iya, nek."
Panggilan pun berakhir.
Sesampainya dirumah nek Salma, terlihat lebih sepi. Sesampainya aku di ruang keluarga yang ada hanya nek Salma yang sedang terduduk. Ku hampiri nek Salma.
"Nek." Ujar ku sembari berjalan.
"Mama, papa, dan Kayla kemana nek ?." Tanya ku yang sudah terduduk disamping nenek Salma, sembari menatap ke nenek Salma dari samping.
"Ke Korea."
Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala.
"Nenek menyuruh mu kesini karena nenek ingin ada temannya. Dulu, kalau mama dan papa nya Alvin sedang pergi pasti nenek akan minta ditemani Alvin atau Kayla. karena Kayla kali ini ikut, dan Alvin sudah mempunyai istri, jadi nenek minta ditemani kamu. Tidak apa kan ?." sambil menatap ku.
"Tidak apa-apa, nek. Justru Vira senang." Seraya tersenyum.
"Udah makan, nek ?."
"Sudah."
__ADS_1
"Hmmm. Nenek mau Vira buatin cake tidak ?."
"Boleh tuh. Kan nenek belum pernah makan cake buatan kamu."
Aku yang awalnya bingung mau berbuat apa, pada akhirnya aku menawarkan
nenek Salma untuk ku buatkan cake. Di temani nek salma, aku mulai membuat tiramisu cake. Kenapa aku membuat tiramisu ? Karena itu adalah cake kesukaan ku. Aku bahagia. Nek Salma sudah seperti nenek ku sendiri. Sesekali nek Salma menanyakan takaran bahannya harus seberapa saja, dengan senang hati aku menjelaskan nya.
Setelah cake sudah matang, aku dan nenek menyantapnya di meja. Ditemani secangkir coklat hangat. Sesekali aku kami tertawa atas sebuah cerita yang nenek ceritakan. Sungguh, aku bahagia bisa sedekat ini dengan nek salma. Aku dapat merasakan kehadiran seorang nenek.
"Terima kasih, nek." Ucapku,lalu tersenyum.
"Untuk apa ?."
"Sudah menerima Vira. Karena nenek Salma, Vira jadi bisa merasakan kehadiran seorang nenek." Yang duduk dikursi depan nenek Salma.
Nenek Salma menggapai kedua tangan ku yang berada diatas meja. "Nenek akan selalu menjadi nenek ku " Seraya tersenyum.
Tak terasa waktu sudah malam, mungkin aku terlalu senang menghabiskan waktu bersama nenek Salma. Ketika aku kembali ke ruang keluarga sehabis dari kamar mandi, aku sedikit terkejut melihat Alvin tengah terduduk disamping nek Salma. Alvin berjalan ke arahku, lalu ia memeluk ku. Pelukan nya cukup lama. Aku heran dengan sikapnya, yang tiba-tiba seperti ini. Ada apa ?.
"Kenapa tidak menjawab telfon atau chat saya satu pun ?." Sembari melepaskan pelukannya.
"Maaf, mas. Terlalu asyik dengan nenek, aku jadi tidak melihat lihat handphone sejak baru datang."
"Alvin sangat cemas. Bahkan ia takut kalau kamu tiba-tiba pergi dari hidupnya." Ucap nenek, sembari terduduk dengan tatapan mata ke tv.
Karena malam yang belum terlalu larut, Alvin memutuskan membawaku pulang. Dalam perjalanan, sunyi. Alvin terus terdiam. Apa aku membuat nya begitu cemas ? Sehingga ia mendiamkan ku seperti ini. Terus aku harus bagaimana ? Aku kan benar-benar lupa melihat handphone. Lagi pula aku tidak akan pergi, sebelum waktunya. Aku kan ingat perjanjian itu. Yaa, kecuali keadaannya benar-benar mendesak. Baru, mau tidak mau aku harus pergi.
Sampainya di rumah kami saling diam. Ketika sedang menaiki tangga, sebenarnya aku ingin berbicara tapi tidak jadi. Takut. Aku terus memperhatikannya yang berjalan didepan ku, Sampai didepan kamarnya ia terdiam. Entah kenapa aku juga jadi ikut terdiam. Ia menoleh kearah ku sembari menggapai tanganku. Ia membuka pintu kamarnya, lalu membawa ku masuk ke kamarnya.
πΊπΊπΊ
Ayo apa yang mau Alvin lakukan ?? ππ
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya readers ku tersayang ππ.