
Hempppftt...
Bima dengan segera membungkam mulut Kennan sembari menoleh ke kanan dan ke kiri, siapa tau saja ada yang mendengar ucapan frontal dari kapten tim basketnya tersebut.
"Mulut lo lecek banget sih Kenn... lo mau bikin Tita makin marah sama lo." Bima menghardik dengan masih membekap mulut Kennan.
Kennan meronta, berusaha melepas tangan Bima dari mulutnya.
"Kalau lo mengunci mulut lo, gue lepasin kalau gak bisa jangan harap..." Bima mengancam.
Kennan menganggukkan kepala dengan kesusahan karena masih berada dalam bekapan Bima.
Karena Kennan telah berjanji, Bima pun dengan segera melepaskan tangannya dari mulut Kennan.
Sedangkan Tita yang merasa tidak nyaman dengan ucapan Kennan kembali melajukan langkah kakinya menjauh.
"Dek..."
Kennan dengan segera berlari menyusul Tita.
"Dasar bucin." Bima menepuk dahinya saat melihat Kennan terlihat tidak sabar, berlari menyusul Tita.
"Kek nonton drama rumah tangga live ya Ma..." Irsyad dengan tidak berhenti menggelengkan kepala memandang sosok Kennan yang semakin mengecil.
"Jeritan hati suami..." Bima terkekeh lalu merangkul pundak Irsyad untuk berjalan bersama.
"Dek... elo bohongin gue..." Kennan dengan mencekal pergelangan tangan Tita setelah berhasil menyusul gadis yang bergeral isterinya tersebut.
"Enggak." Tita datar tanpa memandang Kennan.
"Iya, tadi kan elo janji kita pulang bareng." Kennan mengingatkan dengan mengimbangi langkah kaki Tita yang melangkahkan kakinya dengan lebar.
"Bohong Tita dimana?" Tita terdengar tanpa rasa bersalah.
"Lha ini elo ninggalin gue..."
"Kapan Tita ninggalin abang?" Tita menghentikan langkah kakinya.
"Sekarang."
"Tita gak ninggalin abang."
"Buktinya tadi gue susul lo ke kelas udah gak ada."
"Tita janji buat pulang bareng kan... ngapain abang ke kelas nyusulin Tita..." kembali Tita melajukan kakinya.
Kennan yang masih memegang pergelangan tangan Tita pun, mengikuti langkah kaki isterinya.
"Buat pulang bareng elo lah... nyatanya elo pulang duluan kan?!"
"Tita gak pulang duluan."
"Masih aja ngeles." Kennan menggumam.
Brek...
Tita menghempaskan tangan Kennan dengan kasar.
"Tita gak pulang duluan, buktinya Tita masih di sini sama abang." Tita dengan nada bicara yang meninggi.
"Karena gue susulin elo, makanya kita masih di sini barengan." Kennan ngeyel tanpa memperhatikan raut wajah Tita yang semakin tertekuk kesal.
"Bang... Tita bukan anak TK yang ke parkiran aja mesti nunggu dijemput sama abang. Buka pintunya!!" Tita terdengar sudah tidak dapat lagi membendung emosinya.
Hek!
Kennan baru menyadari jika mereka berdua telah berdiri di samping mobil Kennan.
Kennan nyengir dengan merogoh kunci kontak dari saku celananya.
Klek....
__ADS_1
Kennan membuka kunci pintu, lalu membukakannya untuk Tita.
Dengan tidak sabar Tita segera menerobos masuk, bahkan menggeser tubuh Kennan cukup keras.
Kennan pun hanya bisa menghembuskan nafas berat.
Sepertinya gue bakal susah untuk membujuknya... ucap Kennan dalam hati sembari menutup pintu mobilnya.
"Kenn... semangat dab!!" Teriak Irsyad sembari membentuk corong tangan pada mulutnya.
"Oppa sarangheo..." Bima tak kalah berseru membentuk hati dengan kedua tangan di atas kepala.
Jangan lupakan senyum kedua sahabat Kennan yang terkesan mengejek tersebut.
Kennan hanya melambaikan tangan tanpa berucap kata, lalu berjalan memutari mobil untuk masuk dari sisi kemudi.
"Dek... ngomong dong jangan diem wae." Kennan menoleh ke arah Tita yang memalingkan wajah ke arah luar jendela.
Tak ada jawaban dari Tita. Gadis itu masih saja diam membisu tanpa mau berucap kata.
"Dek..."
"Abang diem atau turunin Tita di sini." Tita dengan sengit.
Huhh....
Kennan pun hanya mampu diam lalu memilih fokus pada kemudinya karena menganggu singa betina yang lagi marah hanya akan membuat singa tersebut semakin bertaring.
Brak.
Tita menutup pintu mobil dengan kencang saat sampai di area parkir apartemen mereka.
"Ck... bakalan panjang keknya." Kennan menggumam lalu turun dari mobil dan menyusul Tita yang sudah lumayan jauh berjalan di depannya.
Dug.
Kennan mengganjal pintu kamarnya dengan kaki saat Tita hendak menutup pintu kamarnya.
Tita pun mendesah, lalu meninggalkan pintu yang tidak bisa di tutupnya. Tita meletakkan tas di atas meja belajarnya lalu melepas kerudung dan berlalu memasuki kamar mandi.
Kennan mengetuk pintu kamar mandi karena sudah satu jam isterinya tersebut berada di dalam kamar mandi.
"Dek... elo gak ketiduran kan? Udah satu jam elo di kamar mandi, keluar gih entar sakit..." Kennan dengan berteriak.
Beberapa saat kemudian Tita membuka pintu kamar mandi dengan menggunakan dress rumahan, wajahnya terlihat lebih segar.
"Gak usah teriak teriak kenapa sih Bang... ganggu wae." Tita keluar dari dalam kamar mandi.
"Gue kan khawatir sama lo dek... elo terlalu lama di dalem." Kennan dengan mengikuti langkah kaki Tita.
"Gak usah sok peduli deh bang..."
"Gue bukan sok peduli, tapi beneran peduli sama lo dek."
Heh... Tita tersengih.
"Peduli abang bilang... peduli dengan membiarkan Tita kerja di kafe tanpa tahu kalau kafe itu milik abang. Bahkan abang selalu meminta uang saku sama Tita... itu yang abang sebut peduli sama Tita, iya...?" Tita menmbalikkan badannya ke arah Kennan dengan sorot mata yang berapi api.
Hek.
Kennan tercekat.
Baru kali ini dirinya melihat Tita semarah ini kepadanya.
"Dek... denger dulu penjelasan gue, bukan maksud gue..."
"Penjelasan apa lagi... semuanya sudah jelas. Abang membodohi Tita dengan tidak memberitahu kalau kafe itu milik abang." Tita dengan nada meninggi.
"Abang gak tau rasanya jadi Tita! Gimana Tita berusaha mengumpulkan uang untuk memenuhi kebutuhan kita setiap hari. Tita bekerja untuk memenuhi semua itu, Tita kerja di kafe yang ternyata itu milik suami Tita sendiri. Dan abang... meminta uang saku dari Tita padahal abang lebih dari mampu untuk memenuhi kebutuhan abang juga Tita."
"Abang gak tau rasanya bang..." Tita dengan mulai terisak.
__ADS_1
"Dek gue beneran minta maaf untuk itu. Dulu memang gue benci sama lo sama pernikahan kita, sampek gue ngelakuin itu buat menyiksa lo. Tapi itu dulu dek, sekarang udah enggak..." Kennan meraih tangan Tita yang menangkup wajahnya karena menangis.
"Kenapa abang gak jujur setelahnya..." Tita masih dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena menangis.
"Gue udah mencoba, tapi gak ada kesempatan. Lo ingat waktu temen lo datang kemaren, waktu itu gue mau ngomong sama lo tapi keburu teman lo dateng." Kennan mengungkapkan kebenarannya namun menurut Tita terdengar seperti Kennan membela diri.
"Abang mau bilang kalau Tita yang bikin abang gak ngomong jujur soal kafe?" Tita dengan memandang Kennan marah dengan wajah sembabnya.
"Emang gitu kenyataanya dek, bahkan lo gak pernah mau kan saat gue suruh berhenti kerja..."
"Jadi abang nyalahin Tita?"
"Gak gitu tapi...." Kennan bingung harus memberi penjelasan untuk Tita, dirinya memang tidak pandai membujuk.
"Tapi Tita yang salah, iya kan...?!" Tita semakin marah pada Kennan.
"Nggak... bukan..." Kennan kehabisan kata kata.
"Abang egois." Tita dengan segera menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, menarik selimut hingga menutupi dadanya.
"Dek... bukan gitu, gue..." Kennan segera menyusul Tita ke atas ranjang.
"Gak usah sok peduli sama Tita!" Tita ketus dengan menarik selimut hingga kepala dan memunggungi sang suami.
Kennan pun menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Ingin rasanya mendekap dan memeluk tubuh yang bergetar di balik selimut tersebut, namun apa daya Kennan tak sanggup melakukannya. Dirinya tidak ingin memperkeruh suasana hati isterinya, Kennan hanya mampu memandang tanpa bisa menyentuhnya.
Beberapa saat menunggu, sepertinya isak tangis Tita sudah mulai reda. Perlahan Kennan membaringkan tubuhnya menghadap punggung Tita.
"Dek elo udah tidur?" Kennan bertanya dengan nada selembut mungkin.
Tidak ada sahutan dari Tita.
Kennan pun memberanikan diri mendekatkan tubuhnya dengan tangan menelusup pada pinggang sang isteri.
"Gak usah deket deket." Tita memperingati dengan ketus, masih dengan suara serak sisa tangisan.
"Dek elo belum tidur?" Kennan mengabaikan peringatan Tita.
"Gak usah deket deket, tangannya juga..." Tita dengan menggeser tubuhnya menjauh dari Kennan hingga membuat tubuhnya berada di pinggir ranjang.
"Dek gue gak bisa tidur kalau gak peluk elo..." Kennan terdengar mengiba.
"Gak usah peluk peluk!" Tita semakin ketus.
"Dek ayolah maafin gue..."
"Enak aja... gak semudah itu." Tita menghempaskan tangan Kennan yang kembali menumpu pada pinggangnya.
"Dek..." Kennan menegakkan kepalanya.
"Jaga jarak atau tidur di luar..." Tita dengan menaruh guling diantara dirinya dengan Kennan sebagai pembatas.
"Gue gak bisa tidur nyenyak kalau gak peluk lo..."
"Abang atau Tita yang tidur di luar..." Tita meninggi dengan memandang Kennan sengit.
Kennan menghembuskannya nafas berat.
"Baiklah... jaga jarak..." Kennan pun memilih menuruti ucapan sang isteri yang berada dalam mode angry.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorπππ