
"Bang..." Tita mendongakkan wajah sembari memanggil suaminya.
"Hem..." Kennan masih terlihat memandang lautan yang membentang luas di depannya.
"Abaang." masih dengan mendongakkan kepala, kembali Tita memanggil suaminya sembari menggesekkan dagunya ke dada bidang Kennan manja.
Melihat reaksi Kennan yang hanya bergumam tanpa membalas pandangannya, Tita memberikan cubitan kecil pada perut Kennan.
Kennan pun menunduk, memandang wajah di bawahnya dengan lembut.
"Apa sih yang... pakek cubit cubit segala...." Kennan memberikan senyuman tipis yang menawan untuk gadis di bawahnya. Cubitan kecil Tita pada perutnya diabaikan begitu saja.
"Tita laper...." ucapnya manja.
"Oh cuma laper... kirain apaan." Kennan santai, sengaja membuat Tita kesal.
Tita pun mengerucutkan bibirnya. "Kok cuma sih bang, memangnya abang enggak laper po?"
"Laper gue ilang kalau udah dapet pelukan kek gini." Kennan mengerlingkan sebelah mata dengan tersenyum menggoda, bahan Kennan semakin mengetatkan kedua tangannya memeluk tubuh ramping isterinya.
Tita mengerucutkan bibir kesal, masih dengan mendongakkan kepala memandang wajah Kennan yang menunduk kepadanya.
Cup...
Kennan mendaratkan bibirnya pada bibir Tita singkat.
"Susah banget diomongin ya... jaga bibirnya jangan suka manyun sembarang tempat." ucapan Kennan yang diikuti senyum tipis yang menawan membuat Tita mengerjapkan mata.
Cupp...
Lagi Kennan mencium bibir Tita, kali ini dengan menekan tengkuknya agar dirinya dapat menikmati bibir pink Tita yang sudah menjadi candu baginya.
Sesaat Tita terbuai dan menikmati ciuman serta l*m*t*n lembut dari bibir sang suami, bahkan tanpa sadar kakinya berjinjit untuk memudahkan Kennan mengeksplor bibir pink ranumnya.
Beruntung kondisi pantai yang sepi tidak menampakkan batang hidung seorang pun sehingga pasangan muda mudi yang sedang dimabuk asmara itu terlihat leluasa tanpa peduli ada yang memergokinya.
Penampilan keduanya yang terlihat masih remaja meskipun sudah berstatus suami isteri dan juga Tita yang berhijab pasti akan membuat orang memandang rendah keduanya jika melihat aksi mesum keduanya.
Orang orang pasti akan menilai kedua pasangan remaja itu tidak memiliki moral yang baik.
Setelah puas menikmati bibir kenyal nan lembut isterinya, Kennan melepaskan tautan bibirnya perlahan. Apalagi dirinya sudah merasakan jika Tita mulai kesusahan bernafas.
Kennan tersenyum puas memandang bibir tipis Tita yang terlihat memerah dan membengkak. Apalagi bibir basah di bawahnya itu terlihat semakin seksi menurutnya.
Tita yang mulai membuka matanya merona malu akhirnya memilih menundukkan kepala agar Kennan tidak menggodanya.
"Mau makan sekarang?" tawar Kennan dengan meraih dagu Tita untuk kembali mendongak menatapnya.
"Iya. Tita laper banget." sahutnya dengan memaksakan wajahnya untuk kembali menunduk.
Kennan tersenyum kecil.
Melihat wajah Tita yang tersipu malu dengan rona pipi yang memerah semerah tobat ceri membuatnya senang, hatinya menghangat.
Sekali lagi Kennan mengeratkan pelukannya pada tubuh ramping Tita lalu mencium pucuk kepalanya cukup lama.
Sesaat kemudian Kennan merenggangkan tubuh keduanya lalu menautkan jemarinya pada jemari lentik milik Tita dan menuntunnya berjalan untuk mencari kedai di sekitar pantai yang menyediakan makanan.
Entah apa penyebabnya, ternyata setelah menyusuri sekitar pantai, Kennan dan Tita tidak menemukan satu pun kedai yang buka untuk menjajakan makanan.
Bahkan tidak seorang pun mereka temui di sekitar pantai tersebut.
"Kita kek lagi bulan madu di pulau tak berpenghuni ya dek." ucap Kennan di sela langkah kaki keduanya menuju home stay.
Setelah Kennan dan Tita menyusuri sekitar pantai tidak menemukan orang yang berjalan, akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali ke tempat menginap mereka.
"Iya... kemana semua orang ya bang?" tanya Tita dengan mengedarkan pandangan ke sekitarnya.
"Padahal udah jam 9 loh, masak gak ada yang keluar rumah sih?"
__ADS_1
Kennan menggedikkan bahu dengan tersenyum kecil. "Mungkin semesta mendukung bulan madu kita biar gak ada yang gangguin."
"Abang bisa wae." Tita memukul pelan bahu suaminya. "Abang tau pantai ini darimana?"
"Dulu gue suka adventure bareng temen geng gue, sampai kita menemukan tempat ini." jelas Kennan pada isterinya.
"Temen geng apaan?" tanya Tita khawatir saat mendengar kata geng yang disebutkan oleh Kennan. Dalam pikirannya membayangkan geng yang negatif seperti teman - teman kakak lelakinya.
"Bukan geng aneh aneh kan Bang?" Tita menghentikan langkah kakinya.
"Geng aneh aneh gimana maksud lo?" Kennan pun menghentikan langkahnya dan memandang Tita dengan dahi berkerut.
"Kumpulan anak anak yang suka minum minuman keras atau balap liar gitu?"
"Ohh... enggak kok. Cuma geng SMP gue dulu." Kennan menyembunyikan kebenarannya, tidak ingin membuat Tita khawatir. Apalagi Kennan tahu jika kakak lelaki Tita meninggal saat mengikuti balap motor liar. Toh meskipun dirinya pernah ikut dalam geng seperti yang disangkakan oleh Tita, dirinya tidak pernah menyentuh barang haram itu. Dan kini dirinya sudah tidak pernah melakukan balapan liar lagi.
"Masih SMP abang udah maen sampai sini?"
"Gue cowok dek, wajar kalau maen gue udah jauh."
"Tapi kan ini jauh banget Bang. Memangnya Ayah Bunda gak tau abang maen sejauh ini?" Tita melangkahkan kaki kembali dengan bergelayut pada lengan tangan Kennan.
"Tanpa sepengetahuan mereka lah! Kalau ketahuan paling cuma dikurung di rumah seminggu, habis sekolah gak dibolehin ke mana mana." Kennan terkekeh kecil saat mengingat kenakalannya dulu.
"Abang dulu bandel?"
"Bandelnya gue untuk ukuran cowok masih normal dek." Kennan membela diri.
Ck... Tita berdecak.
"Yang namanya bandel tetep wae bandel bang. Eh besok Tita tanya bunda aja gimana abang dulu."
"Gak usah korek masa lalu gue, semua udah berlalu. Yang penting sekarang kita menatap masa depan, gak usah nengok ke belakang."
"Abang takut ya jeleknya ketahuan..." Tita tersenyum menyelidik sembari menunjuk hidung mancung Kennan.
Kennan menepis jari telunjuk Tita dari wajahnya. "Gue gak ada jeleknya. Tetep tampan bin ganteng sedari orok sampai sekarang."
"Gak ada, bandel gue gak ada yang berlebihan." Kennan mengetatkan tangannya pada pinggang ramping Tita seraya mempercepat langkahnya menuju homestay karena cacing perutnya yang sudah meronta ingin diberi makan.
"Eh den Kennan, dari jalan - jalan ya?" sapa pemilik homestay yang ditempati oleh Kennan dan Tita dengan tersenyum ramah. Mereka berpapasan di luar pagar rumah.
Kennan pun membalas tersenyum ramah.
"Iya nih pak udah capek, laper lagi." jawab Kennan dengan menepuk perutnya.
"Emm... pak, kenapa hari ini gak ada yang jualan ya?" tanya Kennan heran karena dulu saat dirinya sering ke pantai ini dari pagi sudah banyak yang berjualan menjajakan menu hasil laut.
"Oh iya Den, hari ini ada hajatan di rumah ujung sana. Para warga di sini kalau ada salah satu tetangganya hajatan pasti berkumpul ke sana untuk membantu, jadi mereka tidak melakukan aktivitas berjualan." jelas pemilik homestay yang sudah sangat mengenal Kennan.
"Oh gitu ya pak." Kennan mengangguk tanda mengerti lalu menoleh ke arah Tita.
"Kita gak bisa makan nih." membuat kedua mata Tita membola.
"Sorry ya dek, elo gak bisa menikmatinya sekarang." sesal Kennan.
"Gak papa bang, kita makan yang lain aja."
Melihat itu pemilik homestay menawari pasangan muda itu untuk makan di rumahnya, namun Kennan menolak. Sejatinya mereka berdua ingin menikmati menu seafood segar yang biasanya dijual di lapak pedagang pinggir pantai dan itu sangat mengunggah selera.
"Kalau aden mau, bapak ada ikan sama cumi segar juga udang hasil tangkapan tadi pagi. Biar bapak ambilkan, tapi aden sama enon masak sendiri ya soalnya bapak juga mau pergi ke tempat hajatan tetangga. Isteri bapak juga sudah di sana."
Kennan tersenyum senang lalu menoleh ke arah Tita. "Gimana dek? Barbeque mau?"
"Terserah abang, Tita ngikut wae."
Akhirnya keduanya pun menerima tawaran pemilik homestay.
Kennan pun mulai menyiapkan alat untuk membakar seafood di teras rumah dengan menghadap pantai, sedangkan Tita membersihkan ikan, cumi dan udang yang telah diberikan oleh pemilik homestay.
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya menikmati makan paginya di teras homestay sembari menikmati keindahan pantai yang hari ini sangat cerah.
...ππππ...
"Nih buat lo." Kennan menyerahkan paper bag berukuran sedang dengan logo sebuah counter ponsel apel tergigit di luarnya.
Tita menerima pemberian Kennan dengan mengernyit bingung. "Ini apa Bang?"
"Buka aja." Kennan mendudukkan diri di samping Tita yang sedang duduk di tepi ranjang.
Setelah menyelesaikan makan pagi mereka, keduanya kembali ke homestay dan sekarang sedang berada di dalam kamar.
Tita pun membuka paper bag pemberian Kennan dan mendapat kotak ponsel apel tergigit keluaran terbaru dengan harga yang pastinya cukup mahal.
"Buat Tita?" tanya Tita menatap suaminya seakan tidak percaya.
Kennan mengangguk dengan tersenyum.
"Ngapain abang beli ini segala, pasti mahal kan? Ponsel Tita masih bisa dipakek Bang."
"Buat hadiah ulang tahun lo Dek..." ada rasa sedikit sesal dalam hati Kennan karena tidak mengetahui kalau kemarin adalah hari ulang tahun isterinya.
Kennan lalu meraih kedua tangan Tita, mengusap telapak tangan itu dengan lembut. "Sorry kalau gue ucapin ulang tahun lo terlambat. Gue gak tau hadiah apa yang elo pengen."
"Tita gak pengen apa apa Bang. Gak perlu beli hadiah buat Tita. Cukup abang nerima Tita, sayang sama Tita, Tita udah bersyukur banget " ucap Tita dengan menunduk tersipu.
Kennan tersenyum tipis, rasanya sedikit lega saat melihat Tita tidak marah padanya karena tidak tau hari ulang tahunnya.
Beruntung Kennan kemarin membeli ponsel baru untuk Tita, meskipun niat awalnya bukan untuk hadiah ulang tahun Tita. Namun saat dirinya mengingat saat menjemput Tita, dirinya melihat kejutan ulang tahun Andra untuk isterinya terbersit ide untuk memberikan ponsel baru itu sebagai ulang tahun Tita.
"Yang namanya ulang tahun tetep wae harusnya gue kasih hadiah buat lo dek, apalagi elo kan isteri gue. Atau... paling gak bikin momen istimewa buat lo." Kennan sedikit menerawang.
"Emm... gimana kalau ntar malem kita dinner di tempat yang romantis gitu?" tawar Kennan pada Tita.
"Enggak usah bang, ini udah cukup." Tita mengacungkan kotak ponsel yang belum dibuka di depan Kennan.
"Tapi kan..."
"Gak usah bang, semalem abang juga udah kasih Tita momen yang romantis. Bahkan spesial banget." ucap Tita tersipu malu lalu menundukkan kepalanya karena malu mengingat apa yang telah terjadi semalam.
Kennan tersenyum nakal.
"Yakin yang semalem udah bikin lo spesial?"
Tita menganggukkan kepala dengan masih menunduk malu.
Kennan meraih dagu Tita agar mendongak.
"Mau lagi?" tanya Kennan dengan senyum mesum menghias wajah tampannya.
Tita menelan salivanya kelat, tak mampu berucap kata saat kedua matanya saling menatap dengan mata Kennan yang seolah ingin menerkamnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Tita, Kennan langsung mendorong tubuh Tita dan menindihnya.
Kenikmatan surga dunia yang semalam, kembali dirasakan oleh pasangan remaja yang telah sah oleh ikatan pernikahan tersebut.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
__ADS_1
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ