Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
#70


__ADS_3

Dita membuka matanya secara perlahan menyesuaikan cahaya yang menyapanya.


dia meraba perutnya,ada rasa nyeri disana dan dia teringat dengan bayinya.


"bayiku..." Dita bangun dari tidurnya,dia panik saat melihat perutnya tak sebesar sebelumnya,dan dia tidak mendapati bayinya berada disampingnya.


"bayiku mana..." Dita histeris mengabaikan perutnya yang terasa nyeri.


Azka yang baru saja masuk melihat istrinya histeris mencari bayinya,dia langsung mendekat dan memeluk istrinya untuk menenangkannya,dan memencet tombol darurat.


"dek...tenang,ingat kondisimu." ucap Azka memeluk istrinya yang masih berontak untuk dia peluk.


"anakku mana mas..." Dita menangis mencari anaknya.


"kamu tenang dek,anak selamat dia sehat sekarang dalam perawatan karena dia terlahir prematur." Azka menjelaskan.


Dita langsung berhenti berontak,ia mendongak menatap Azka.


"benar mas?tapi kandunganku baru berusia tujuh bulan." ucap Dita pelan sambil terus menatap suaminya yang juga tengah menatapnya.


"kamu kotraksi dek,karena kamu terlalu banyak pikiran dan berpengaruh pada kehamilan kamu,jika tidak di operasi maka kita akan kehilangan anak kita." jelas Azka.


Dita sudah mulai tenang mendengar penjelasan dari Azka,


"dek...perutmu berdarah,ini pasti karena kamu banyak gerak tadi." ucap Azka panik dan membaringkan istrinya lagi.


saat ingin keluar,dokter dan suster sudah datang,dengan cepat Azka menyuruh dokter untuk memeriksa istrinya karena mungkin jahitanya terbuka akibat Dita yang banyak bergerak.


Azka menunggu di luar saat dokter tengah memeriksa Dita.


"Azka bagaimana keadaan menantu dan cucu mama?" tanya Irina pada Azka .


Azka tadi menelpon keluarganya kalau Dita mengalami kotraksi dan harus di oprasi,ia juga tak lupa mengabarkan hal ini kepada kakek dan Abi.

__ADS_1


"Dita tadi histeris ma,dan sekarang sedang di periksa oleh dokter." ucap Azka.


"sebenarnya apa yang terjadi kenapa bisa Dita melahirkan lebih awal bahkan ini masih jauh dari perhitungan." tanya sang papa


"sebenarnya apa yang kau lakukan dengan cucuku?apa kau memang berniat untuk menyakitinya lagi?" ucap kakek dengan tajam,ada kemarahan di raut wajah kakek.


dan kakek sangat tahu pasti alasan Dita bisa seperti ini karena pasti ada hubungannya dengan Stella.


"maaf kek,bukan maksudku melukai Dita lagi semuanya terjadi di luar kendaliku."


"jika kau mengabaikan cucuku maka aku takkan segan mengambilnya darimu." ancam kakek.


"lebih baik kita jangan ikut campur urusan mereka tuan Basir." ucap Andreas membela sang putra.


"cih...kau mengajarkan anakmu untuk menjadi seorang pengecut seperti mu."


"ini tidak ada sangkut pautnya tentang hal itu,aku hanya tidak ingin anda mencampuri urusan mereka."


"kenapa kau tidak bilang kepada istrimu waktu itu?sekarang malah sok menasehatiku. apa memang kalian sengaja untuk membuat cucuku menderita karena kau masih memendam dendam terhadapku?" sarkas kakek.


"dengar Andreas,jika kau menuduhku mengambil semua aset milik ayahmu dan membuat kalian menderita kamu salah besar. ayahmu itu mempunyai hutang terhadapku dengan jaminan perusahaan kalian,dan aku memberikannya. awalnya aku tak ingin menagihnya tetapi ayahmu menyalah gunakan uang yang aku berikan kepadanya,bukanya memajukan perusahaanya yang hampir bangkrut ayahmu malah berfoya-foya menghamburkan uang hasil dia meminjam. ibumu yang mempunyai serangan jantung tak kuat dengan ulah ayahmu hingga ia meninggal akibat ke salahan ayahmu. dan ayahmu malah mencuci otakmu dan memutar balikan fakta bahkan membuatmu benci terhadapku dan seluruh keluargaku." jelas kakek panjang lebar.


Andreas yang mendengar itu menggeleng tak percaya dengan ucapan kakek Basir,


"itulah kenyataanya Andreas,terserah kamu percaya atau tidak. tapi yang jelas jika kalian berani menyakiti cucu saya maka saya tidak akan tinggal diam." ucapnya berlalu meninggalkan tiga orang yang masih berdiri mematung mendengar cerita dari kakek Basir.


"apa yang sudah aku lakukan?" ucap Andreas frustasi.


"sudahlah mas...semuanya sudah berlalu kita perbaiki ini semua masih belum terlambat. memang kita bersalah dengan Nadia dan Alvero tetapi kita bisa menebusnya dengan cara menyayangi Dita dan Abi anak mereka." ucap Irina.


"yah...kau benar sayang,kita masih punya Dita dan Abi,dan aku takkan membiarkan Azka kehilangan Dita untuk kedua kalinya."


Azka hanya diam melihat kedua orang tuanya yang saling menguatkan bahkan mereka akan membantunya agar ia tak kehilangan Dita untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


🌷🌷🌷


sudah dua hari ini Dita di rawat di rumah sakit dan selama itu juga Azka dan keluarganya di larang untuk menemuinya maupun anak mereka.


"minggir saya mau masuk,saya suaminya." ini yang kesekian kalinya Azka mencoba untuk masuk ke ruang perawatan Dita,ia tak pernah lelah untuk tetap ingin menemui sang istri meski selalu berakhir dirinya di usir.


"maaf tuan,anda tidak boleh masuk ini perintah tuan Basir." ucap lelaki yang di tugaskan untuk menjaga Dita.


"kek...kenapa kakek tak mengijinkan mas Azka dan keluarganya untuk menemui Dita?" tanya Dita pada sang kakek. kakek menghela nafas dalam,meletakkan piring di atas nakas samping ranjang. kakek sedang menyuapi Dita karena cucunya ini tak mau makan,karena dia ingin bertemu dengan Azka tapi sang kakek melarangnya. terpaksa kakek mengancam Dita jika tak mau makan jangan harap bisa bertemu dengan Rafa anaknya. mendengar hal itu Dita langsung membuka mulutnya lebar,ia tak ingin di pisahkan dengan anaknya.


"kakek sudah tahu semuanya,dan kakek tidak ingin mereka menyakitimu untuk kedua kalinya." ucap kakek.


"kek...kenapa kita tak mendengar penjelasan mas Azka dulu,Dita yakin dia memiliki alasan yang masuk akal tentang kejadian kemarin."


"kalau kau begitu dengan mudahnya mempercayainya kenapa kau malah kontraksi lebih awal karena kebanyakan pikiran."


ucapan sang kakek langsung membuat Dita bungkam tak dapat mengelak ucapan sang kakek.


"sudahlah tak perlu kau pikirkan,sekarang kau harus memikirkan kesehatanmu dan segera keluar dari rumah sakit membawa Rafa,apa kau tak ingin membawanya keluar dari sini?" tanya sang kakek.


"tentu saja aku ingin segera bisa bermain dengan Rafa kek,dan segera keluar dari rumah sakit ini." ucap Dita antusias sungguh ia tak sabar ingin menggendong anaknya yang menggemaskan itu.


sementara itu di luar, "apa kamu tidak bosan kesini dan berakhir di usir?aku saja bosan melihatnya." ucap Abi saat melihat Azka yang masih kekeh untuk bisa masuk melihat adiknya.


"aku takkan pernah bosan untuk itu,Abi tak bisakah kau membantuku?" ucap Azka sambil memperlihatkan pupy eyesnya dan di buat se imut mungkin.


"jijik tau nggak Azka,..." Abi bergidik melihat tingkah Azka.


"makanya kau harus membantuku untuk aku bisa bertemu dengan Dita,kau percaya denganku kan?" ucap Azka.


memang setelah mendengar kabar tentang Dita,Abi langsung mengambil penerbangan lebih awal untuk menuju ke tanah air.


Abi datang langsung memberikan Bogeman terhadap Azka. dan Azka membiarkan Abi meluapkan amarahnya. setelah Abi meluapkan amarahnya Azka langsung menjelaskan semuanya. dan dia meminta bantuan Abi untuk menjauhkan Angeline darinya,dan untungnya Abi mau membantunya karena Abi tahu kalau Azka adalah pria yang baik,tapi untuk menyakinkan kakeknya akan sangat sulit sepertinya.

__ADS_1


# TERIMA KASIH KEPADA SEMUANYA KARENA SUDAH MAU MAMPIR DI CERITANYA MAS AZKA,JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK YA...πŸ€—πŸ€—


__ADS_2