
"Tita!" panggil salah seorang karyawan kafe K&Y dengan tergopoh gopoh mendekatinya.
Tita yang saat ini sedang keluar dari ruang ganti baju kafe pun menoleh.
"Ada apa?" Tita dengan kening mengerut.
"Anu... em... sama pak manajer kamu diminta jangan pulang dulu bisa nggak?"
Tita tahu pak manajer yang dimaksud tersebut adalah Putra. Karena memang semua karyawan di sana memanggilnya bapak. Meskipun Putra masih muda namun para karyawan lebih memilih memanggilnya bapak, karena statusnya sebagai manajer kafe yang membawahi mereka.
Meskipun Tita dan Kennan sedang melakukan aksi perang dingin, namun Tita tetap saja profesional melakukan pekerjaannya sebagai pegawai kafe K&Y. Tita tetap datang sesuai jadwalnya tanpa membuka jati dirinya sebagai isteri pemilik kafe K&Y, sekalipun itu dengan Putra. Tita tidak ingin membuat kehebohan dan menimbulkan rasa tidak nyaman pada rekan kerjanya.
Dan lagi hari ini adalah hari sabtu, dimana di hari sabtu dirinya dan Kennan libur karena sekolah mereka hanya sampai hari jumat.
Tita yang masih kesal dengan Kennan karena menganggap suaminya itu tidak peka dan tidak romantis seperti layaknya cowok cowok di drakor dan novel yang selalu dibacanya memilih berangkat kerja ke kafe. Karena seharian di apartemen dengan Kennan hanya akan membuatnya canggung serta tidak nyaman karena kebekuan diantara keduanya.
Sesungguhnya Tita sudah tidak marah dengan ketidakjujuran Kennan tentang kafe K&Y, hanya saja dirinya enggan untuk memulai berbaikan dengan suaminya. Tita ingin melihat bagaimana perjuangan Kennan dengan bayangan romantis meminta berbaikan dengannya. Namun nyatanya sampai hari ini kulkas dua pintu berwajah datar itu tetap saja tidak peka. Dan itu membuat Tita sangat kesal.
Untuk memulai berbaikan lebih dulu, Tita merasa gengsi karena selama beberapa hari ini dirinya selalu saja ketus dan mengabaikan sang suami. Dan sekarang sepertinya Kennan juga memilih mengabaikannya. Mungkin suami kulkas Tita yang tidak punya rasa peka itu juga merasa lelah karena tidak dapat membujuk dan meluluhkan hati sang isteri.
"Kenapa?" Tita bertanya lagi.
"Kamu disuruh ngisi lagu buat ntar malem."
"Kok bisa... ada apa emangnya?"
"Penyanyinya gak bisa dateng. Ini kan malem minggu, kalau gak ada yang nyanyi cuma band doang pasti pengunjung kecewa." pegawai tersebut menjelaskan.
"Gimana ya..." Tita terlihat berfikir.
"Ayolah Ta... mau ya...?! Suara kamu kan bagus.Banyak kok yang suka sama suara kamu, kamu ingat kan antusiasnya pengunjung saat kamu pernah nyanyi dulu." Pegawai tersebut membujuk Tita sembari memegang tangan Tita memohon tidak lupa mengingatkan jika para pengunjung kafe sangat senang saat melihat perform Tita saat itu.
"Siapa tau aja ntar kamu bisa jadi artis dan ngeluarin album terus terkenal ke seluruh negeri gitu... atau malah sampek keluar negeri. Iya kan, nasib orang siapa tau..." sekali lagi pegawai tersebut membujuk Tita.
Tita terlihat masih bimbang. Kalau dirinya mengisi lagu di kafe berarti dirinya harus pulang malem, belum lagi meminta izin pada Kennan suaminya. Padahal kan mereka berdua sedang dalam mode beku.
Tita tidak mungkin menelfon dan meminta izin pada Kennan. Suami kulkasnya itu bisa jadi besar kepala dan menganggap itu sebagai perdamaian antara mereka berdua. Tita tidak ingin mengalah.
Tapi jika dirinya tidak mau mengisi suara malam ini, pasti pengunjung nanti akan sangat kecewa. Karena memang malam minggu adalah malam yang paling ramai pengunjung di dalam kafe. Mereka ingin mendengarkan musik dan lagu yang mengiringi malam panjang para muda mudi pengunjung kafe.
Bagaimanapun kafe ini milik Kennan suaminya, Tita tidak ingin membiarkan pengunjung kafe kecewa dan tidak akan berkunjung lagi. Jikalau pengunjung kafe sepi pasti akan berimbas pada Kennan sebagai suaminya. Dapat dipastikan jika pendapatan kafe akan menurun. Lalu bagaimana dengan gaji para karyawan kafe K&Y, belum lagi nafkah dirinya.
Haishh... Tita jadi mikir panjang udah kayak bu bos wae ea.... π€£π€£π€£
"Ta gimana? Mau ya..."
__ADS_1
Titapun tersentak kaget tersadar dari lamunannya.
"Eh... iya... okey." Putus Tita dengan membingkai senyum pada wajah cantiknya.
Pegawai kafe tersebut pun membalas senyuman pada Tita.
"Kalau gitu aku bilang sama Pak Manajer dulu ya, kalau kamu setuju buat perform."
"Siipp... okey..." Tita dengan mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Kalau gitu Tita istirahat dulu ya, bentar. Soalnya capek banget."
"Istirahatlah... kalau perlu tidur dulu aja. Ntar aku bangunin." Pegawai tersebut tersenyum dan berlalu meninggalkan Tita.
Titapun kembali ke dalam ruang ganti yang sempat ditinggalkannya beberapa saat lalu untuk mengistirahatkan tubuhnya sesaat.
Di sisi lain.
Dimana saat ini Kennan sedang berada di apartemen dengan duduk di depan layar datar dan tidak menghentikan tangannya memencet tombol remote karena merasa tidak ada tayangan yang menarik untuk dilihat olehnya, serta terlihat tidak berhenti menggerutu kesal.
Drrtt... drrtt...
Tiba tiba saja ponsel pintarnya bergetar di atas meja. Dengan malas Kennan sedikit menegakkan tubuhnya.
Keningnya mengernyit saat mendapati kontak Doni di sana sedang memanggilnya.
"Hallo Assalamualaikum..." Kennan.
"Waalaikumsalam... Kenn lo ke kafe sekarang." Doni terdengar grusa grusu.
"Ngapain?" sahut Kennan dengan malas.
"Bantuin band google."
Google band adalah nama band indie yang sering perform di kafe K&Y.
Google band adalah kepanjangan dari golongan orang single, band tersebut sangat digandrungi oleh kaum muda mudi zaman now. Apalagi para remaja putri yang seusia dengan Kennan, semua mengetahui satu persatu personil band tersebut. Karena band google terkenal memiliki personil yang sangat tampan.
"Kenapa emangnya sama itu band?" Kennan masih terdengar malas.
"Drumernya masuk rumah sakit." Doni memberitahu dari seberang. Doni meminta Kennan menggantikan drumer band tersebut karena Doni tahu kepiawaian Kennan memainkan alat musik pukul tersebut. Lagian anak band tersebut juga seumuran dengan Kennan, bahkan mereka sudah saling mengenal akrab.
"Ck... gak ada band lain po?"
"Gak ada... gue udah terlanjur keep mereka. Inikan malem minggu, susah nyari penggantinya kalau mendadak kek gini..." Doni.
__ADS_1
"Haishh... gangguin malem minggu gue wae sih Don..." Kennan masih saja malas untuk mengikuti permintaan Doni.
"Kenn... elo gimana seh, ini kafe punya lo. Lo mau pelanggan kafe bubar karena kecewa ntar malem gak ada band yang tampil. Lagian wajah lo lumayan ganteng kok, gak jauh beda sama anak anak google." Doni berusaha membujuk, bahkan nada bicaranya terdengar ketus saat ini.
"Iya.. iya... gue gantiin. Tapi jangan bilang gue sama anak google sama, gue gak suka." Kennan pun akhirnya mengalah.
"Kenapa lo gak suka?" Doni.
"Karena gue sama mereka beda." Kennan ketus.
"Beda apanya... lo sama mereka sama sama ganteng kok." Doni tidak mengerti maksud Kennan.
"Soal ganteng mah pastinya gantengan gue, tapi gue bukan single Don..."
"Hilih... sok kecakepan lo. Tapi kalau status mah emang lo laku duluan." Doni dengan tertawa, terdengar mengejek.
"Gue emang lebih cakep dari mereka, buktinya gue laku duluan kan..." Kennan ngeyil.
"Iya... iya... lo lebih cakep bin tamvan bang... sekomplek kelurahan lo tapi.... hakhakhakkk" Doni dengan tawa keras.
"Sialan lo, udah tutup. Gue mandi dulu."
"Okey... cepetan, gue tunggu!" Titah Doni dengan segera menutup manggilnya setelah mengucapkan salam.
Kennan pun meletakkan ponsel pintarnya setelah menjawab salam dari Doni, lalu bergegas memasuki kamar untuk membersihkan tubuhnya.
π¨π¨π¨π¨
Bonus pict bang Kenn... othor lagi kangen sana dia nihππππ
Anggep wae bang Kenn lagi gabut di apartemen karena gak ditemani neng Titaππππ
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
__ADS_1
Tengyu for reading tulisan receh othorπππ