
" Rani ayo masuk." Maya melambai saat melihat Rani yang tengah berdiri sambil memainkan ponselnya menunggu dirinya datang.
Rani mendongak dan tersenyum,dan bergegas menghampiri sahabatnya itu.
"dah lama nunggunya?" Rani menggeleng dan tersenyum,
"gak lama kok baru juga setengah jam." Rani mengerucutkan bibirnya, dan Dita hanya tertawa lalu meminta sopir untuk segera berangkat.
selama perjalan mereka bercengkrama mengenai banyak hal,
"oh ya Dit,kamu gak nglanjutin kuliah?" Dita yang mendengar pertanyaan dari Rani, langsung mengangguk.
"kata mas Azka aku boleh nglanjutin tapi di rumah,sambil ngawasin si Rafa kamu tahu sendiri kan kalau Rafa masih butuh aku,jadi aku putuskan buat kuliah di rumah."
"duh enak ya,punya duit banyak,apapun bisa di lakuin." Dita hanya tersenyum menanggapi ucapan Rani
"eh...Rani,tau gak?kak Abi akhir-akhir ini suka uring-uringan gak tau kenapa?" mendengar nama Abi di sebut seketika Rani menegang,dia tahu pasti kenapa kakak sahabatnya ini uring-uringan pasti ini ada sangkut pautnya tentang kejadian kemarin.
melihat raut wajah Rani yang berubah,Dita langsung melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat Rani terkejut dan gugup.
"atau jangan-jangan ini ada sangkut pautnya sama kamu ya?"
"ng-gak kamu ngomong apa sih Dit,mana aku tahu mas Abi kenapa?"
melihat Rani yang gugup dan salah tingkah membuat Dita langsung curiga,Dita menggengam tangan Rani dan mencoba berbicara dengan sahabatnya itu
"Rani aku tahu pasti terjadi sesuatu dengan kalian,tapi jika kamu belum siap untuk bercerita aku akan menunggu kamu sampai kamu siap."
Rani menghela nafasnya pelan,ia membalas tatapan Dita "sebenarnya kemarin mas Abi cuman salah paham aja,dan mengira kalau aku ada hubungan dengan lelaki lain." cerit Rani membuat Dita terheran.
"memang kamu dan mas Abi udah pacaran ya?kok mas Abi terkesan posesif gitu?"
Rani menghembuskan nafas kasar, "itulah aku juga bingung,saat aku tanya kenapa mesti marah bukankah kita tak ada hubungan?eh...kak Abi malah diam dan pergi gitu aja."
Dita terheran saat mendengar cerita dari Rani,pasalnya kakaknya itu tipe cuek,tapi dengan orang yang dia sayang pasti Abi bakalan perhatian dan posesif.
"dahlah,jangan di bahas bikin mood ilang aja." ucap Rani kesal saat mengingat kejadian kemarin.
__ADS_1
memang kemarin saat Rani pulang di antar oleh teman satu kelasnya,Abi terlihat marah.ketika Rani bertanya kenapa mesti marah?bukanya menjawab Abi malah uring-uringan.
mendengar ucapan sahabatnya Dita langsung diam tak melanjutkan pertanyaan yang masih mengganjal. seketika hening mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing. hingga satu jam kemudian mereka baru sampai di butik yang cukup terkenal di ibu kota,dan juga butik ini adalah langganan tetap keluarga mahespatih.
"mama,kok ada disini?" Dita bertanya kala melihat Irina tersenyum menyambut kedatanganya.
"Azka bilang kalau kamu akan kesini,jadi mama sengaja datang dan nunggu kamu. mama cuman pengen mereka melayanimu dengan baik." ucap Irina.
mereka mulai memilih gaun pengantin yang akan di kenakan oleh Dita nanti. Irina juga menawarkan gaun untuk di pakai sahabatnya ini.
"ngomong-ngomong Rani udah punya pasangan belum?" Irina bertanya kepada Rani
"belum Tante,Rani masih pengin fokus kuliah." jawab Rani sopan.
"bagus,Tante setuju dengan pemikiran kamu,tapi kamu ngambil jurusan apa?"tanya Irina yang mulai penasaran. entah kenapa Irina menyukai keponakan temanya ini,malah ia berpikir ingin menjodohkannya dengan Ahsan.
"Irina ngambil jurusan kedokteran Tante,kebetulan cita-cita Dita dan Rani sama,pengen jadi dokter." Rani tersenyum.
banyak hal yang mereka ceritakan dan obrolkan ,hingga ponsel Rani tiba-tiba berdering.
"kamu dimana?" tanya Abi di seberang sana.
"aku sedang bersama Dita,di butik Quenza. kenapa?" tanya Rani agak jutek,pasalnya Rani masih kesal dengan Abi yang tiba-tiba marah tanpa sebab.
"aku akan menjemputmu sekarang." tanpa mendengar jawaban dari Rani Abi langsung mematikan telpon secara sepihak.
"his...dasar aneh." gerutunya,tak ingin ambil pusing Rani kembali ke tempat diman Irina sedang menunggu Dita yang tengah mencoba gaun yang ia pilihkan.
"mama,Rani..." panggil Dita saat sudah selesai mengenakan gaun
"wah...cantik banget kamu Dita,iya kan Tan?"
"iya cantik sekali menantu mama,mama yakin Azka pasti akan terpesona nanti saat acara nanti." sanjung Irina.
memang benar Dita terlihat cantik dengan gaun pengantin bewarna putih, memang pilihan Rani selalu cocok dengan Dita.
"dek kamu cantik sekali." mendengar suara bariton sontak membuat ketiga wanita itu menoleh ke asal suara,mereka terkejut kala melihat Abi ada disini.
__ADS_1
"kak Abi,kok ada disini?" tanya Dita heran.
"kakak ada urusan dengan Rani,bolehkan pinjam sebentar?" ucapan Abi sontak membuat kedua mata Rani melotot,sementara Dita tersenyum penuh arti. Dita bisa mencium bau-bau orang kasmaran.
"ambil aja kak,Dita doain cepat jadian." Irina yang mendengar ucapan Dita sedikit merasa kecewa karena dirinya kalah cepat dengan Abi,gagal sudah menjadikan Rani sebagai keluarganya tapi tak masalah jika Rani menikah dengan Abi bukankah Rani juga akan menjadi bagian keluarganya?
sementara Dita melirik Rani yang tertunduk,Dita bisa melihat bagaimana wajah Rani yang memerah membuat Dita semakin yakin kalau memang kakak dan sahabatnya ini memang memiliki perasaan yang sama,cuman mereka masih gengsi untuk mengakuinya.
"Tante Abi bawa Rani dulu ya,titip Dita." entah sejak kapan Abi sudah berada di samping Rani dan bersiap menggandengnya,setelah mendapat anggukan dari Irina Abi segera membawa Rani pergi dari situ.
sementara Dita dan Irina tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
"ma,gimana menurut mama cocok gak?"
"cocok sayang,mudah-mudahan jadi." mereka terkekeh mendengar ucapan Irina yang terdengar ambigu.
"aduh sayang mama pulang duluan ya,mama lupa kalau mama ada janji sama temen mama.kamu gak apa-apa kan kalau pulang sendirian?"
Dita menatap sang mama tersenyum, "gak apa-apa mas,Dita kan udah sama supir jadi mama gak perlu kawatir." Dita mencoba menenangkan ibu mertuanya itu.
"kamu yakin?" Dita mengangguk yakin,
"lagi pula Dita juga mau langsung pulang,udah kangen sama Rafa ma."
Irina mengangguk dan berpamitan dengan Dita lalu setelah itu pergi meninggalkan Dita sendirian.
"sebaiknya aku juga harus pulang." molognya Dita segera melepas gaun dan memesanya,setelah selesai Dita keluar memasuki mobilnya..perlahan mobilnya berjalan menembus jalanan yang agak lenggang.
"kenapa pak?kok berhenti?" tanya Dita heran saat mobil mendadak berhenti.
"hai...akhirnya kita ketemu." ucap Reyhan sambil tersenyum.
"s-siapa kamu?" tanya Dita ketakutan pasalnya supirnya sudah berubah menjadi orang lain,firasat Dita menjadi tidak enak.
tanpa menjawab pertanyaan Dita,Reyhan langsung membekap mulut Dita tak lama setelah itu Dita tak sadarkan diri.
"the plan starts" Reyhan tertawa jahat dan segera membawa Dita pergi ke tempat yang sudah ia siapkan.
__ADS_1