
"Pegangan.....daripada jatuh, sakit entar", Titah Kennan saat Tita sudah menaiki motor.
"Ya", jawab Tita pendek.
"Jangan pegangan baju dek...", Kennan menoleh ke belakang.
"Abang pelan - pelan wae bawa motornya kek tadi".
"Iya gue bawanya pelan, tapi elo pegangannya jangan kek gini", Kennan memandang tangan Tita yang memegang ujung kemeja Kennan.
"Pegangan yang bener!", kali ini Kennan berkata sedikit keras dengan kembali menoleh ke belakang.
Tita pun akhirnya melingkarkan kedua tangannya pada pinggang suaminya.
"Nah gitu....baru bener", Kennan tersenyum sambil menatap Tita yang mencebik kesal dari kaca spion motor.
"Bilang aja Abang pengen Tita peluk, iya kan", Tita berkata dengan memajukan wajahnya dekat telinga Kennan.
"Emang iya. Kenapa....gak boleh kalo suami minta peluk isterinya...?!", Kennan sedikit menoleh pada isterinya hingga pipi mereka sempat bersentuhan.
"Tu kan...baru juga Tita ngomong", Tita membuang wajahnya untuk menyembunyikan rona merah pada pipinya. Jantungnya kembali berdetak kencang saat merasakan sentuhan pada pipinya.
Kennan kembali mengembangkan bibirnya, lalu menjalankan motornya untuk pulang.
Dengan tangan kiri yang ditumpukan pada paha Tita dan sedikit memiringkan wajahnya Kennan bertanya, "Gimana rasanya naik motor, enak kan?"
"Biasa aja", sahut Tita dengan berusaha menetralkan degub jantungnya, bagaimanapun Tita masih belum terbiasa bersentuhan dengan suaminya tersebut apalagi saat di luar rumah.
"Ck....kok biasa aja seh"
"Lalu....?!"
"Ya bilang seneng kek, biar gue juga seneng jadinya", Kennan kesal.
"Iyain aja deh....Tita seneng pakek banget udah diboncengin naek motor diajakin keliling kompleks....makasih ya Bang..."
"Gak ikhlas banget ngomongnya"
Tita mengerutkan dahinya, "Gak ikhlas gimana sih, Tita ikhlas kok ngomongnya"
"Kalo gitu duduknya jangan jauh -jauh", Kennan menggeser tangan kirinya pada pinggang Tita, membawa tubuh ramping tersebut semakin menempel pada punggungnya hingga tidak ada jarak pada keduanya.
"Abang apaan sih...malu Bang, banyak orang", Tita tersipu malu sambil menoleh kanan kiri takut diperhatikan banyak orang. Meski pemandangan seperti itu biasa dilakukan pada remaja jaman sekarang namun bagi dirinya hal itu masih membuatnya kurang nyaman.
"Berarti kalo gak ada orang gak malu kan....", goda Kennan pada Tita.
"Enggak gitu juga Bang....", Tita mengeram hingga membuat Kennan terkekeh.
"Abang sering boncengin cewek naik motor selain Tita?", pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Tita.
"Gak juga, gak pernah malah. Baru juga sama elo"
"Masak??"
"Iya....tapi kalo berduaan naik mobil sering"
Deg.
Ada rasa sesak pada dada Tita, kenapa dirinya merasa tidak ikhlas dengan jawaban Kennan yang mengatakan bahwa dia sering berduaan dengan cewek lain dalam mobil.
"Tapi masih enakan naik motor kek gini sama elo, bisa deketan. Kalau naik mobil gak mesra, gak bisa pelukan. Walaupun cewek yang gue bawa naik mobil sama cantiknya kek elo", Kennan tersenyum dengan wajah berbinar.
"Ck....Dasar cowok mesum, pikirannya mesum melulu", Tita mengerucutkan bibirnya dan itu tertangkap oleh Kennan melalui kaca spion.
"Tenang wae gak usah cemburu. Meski gue sering berduaan sama itu cewek di dalam mobil, gue gak ngapain - ngapain sama dia. Ngobrol aja jarang, orangnya jutek banyak diemnya... gak asyik. Dia lebih suka liatin jendela mobil gue daripada lihat wajah tampan gue....".
"Ck....kumat songongnya. Masih sering semobil berdua?", Tita menyelidik.
"Akhir - akhir ini enggak. Mungkin bentar lagi yaa.... sering semobil berdua", sahut Kennan enteng sambil melirik raut wajah Tita yang memerah menahan marah melalui kaca spion. Hal itu membuat Kennan menggembungkan pipinya karena menahan tawa.
"Lucu juga ekspresi wajahnya jika sedang marah", ucap Kennan dalam hati.
Tita membuang wajahnya lalu menghela nafas berat, hatinya sakit, hingga menyempitkan rongga saluran pernafasannya.
Setelah sampai di halaman rumah keluarga Atmadja.
"Elo kenapa?", tanya Kennan dengan memegang pergelangan tangan kanan isterinya karena saat turun dari motor Tita menekuk wajahnya.
"Gak kenapa - napa", sahut Tita tanpa memandang Kennan dengan wajah yang masih menekuk kesal.
"Elo marah?"
"Gak"
"Jujur Ta.."
"Enggak", sahut Tita dengan membuang muka untuk menutupi matanya yang mulai berselimut kabut.
"Gue tau elo marah"
"Kalau tau ngapain Abang nanya...". Tita masih membuang pandangan sambil menahan sesak.
"Hehehehe...biar yakin wae", Kennan tertawa kecil.
"Eh....malah ketawa, dasar kulkas dua pintu gak punya hati". Bathin Tita marah.
"Elo gak nanya siapa cewek jutek yang sering berdua semobil sama gue....", Kennan melongok di depan wajah Tita yang berkaca - kaca hingga membuat Kennan terkesiap, merasa bersalah karena telah kelewatan menggoda isterinya.
"Gak...Tita gak peduli", sahutnya jutek dengan mendorong wajah Kennan menjauh dari wajahnya.
Kennan menghembuskan nafas perlahan.
"Cewek yang sering semobil sama gue tapi lebih suka membuang pandangan dari muka ganteng gue itu elo, asal lo tau...!!"
__ADS_1
"Tita gak mau tau...Tita gak per_ ", Tita mendongak setelah tersadar.
"Whaatsss....", Tita menbelalakkan matanya.
Fyuhh....
Kennan meniup wajah Tita, hingga membuat mata lentik gadis itu mengerjap. Bahkan kerudung berbahan rawis yang menutupi tempurung kepala ikut bergerak oleh tiupan dari mulut Kennan.
"Mbaknya baru nyadar....", ucap Kennan meninggalkan Tita dengan membawa kantong bubur ayam menuju rumah.
"Abaaanngggg", teriak Tita.
Namun suaminya itu hanya tertawa terbahak tanpa menoleh ke belakang.
"Nyebelin...ihh....", Tita menghentakkan kakinya kesal.
"Cepetan masuk", seru Kennan saat dirinya sudah membuka pintu utama rumah keluarga Atmadja.
...ππππ...
"Bun...Adek mana?", tanya Kennan saat menuruni tangga berpapasan dengan Bunda Vida yang sedang berjalan menuju ruang keluarga.
Bunda Vida mendongak, karena tadi sedang menatap ponselnya.
"Tu....", Bunda Vida menunjuk kepala berkucir kuda yang sedang duduk di sofa sambil menatap layar televisi 75 inch tertawa renyah.
Kennan melongok.
"Ihhhh.....bukan yang itu Bunda", Kennan kesal.
"Lalu....", Bunda menautkan alis matanya bingung.
"Nyonya Atmadja...", sahut Kennan.
Bunda Vida mengarahkan jari telunjuk ke arahnya sendiri. "Ini...?!", Bunda Vida seakan bertanya ragu.
"Ck....Bunda....Yang junior Bun....", Kennan mengeram.
"Maksud Abang...?!"
"Isteri Kennan Bun....Tita...", jelas Kennan dengan masih sedikit kesal.
"Owalahhh....Abang nyari Tita....", Bunda tekekeh geli menyadari maksud anak lelakinya.
"Mosok harus dijelasin seh....", Kennan memberengut.
"Habisnya Abang nanya nya Nyonya Atmadja sih.... Bunda kepedean, merasa hanya dia Nyonya Atmadja disini...Iya kan Bun....?!", seru Naura sambil menoleh ke belakang di mana Kennan dan Bunda sedang berdiri berdekatan tak jauh dari tangga.
Bunda Vida tersenyum lalu menunjuk ke belakang Kennan. "Tuh....Nyonya Atmadja junior dateng".
Kennan menoleh ke belakang. Dan benar adanya, Tita baru datang dari arah dapur dengan membawa tiga gelas teh serta satu piring berisi kue di atas nampan.
Kennan melebarkan senyum untuk isterinya.
"Ngapain Abang senyum - senyum kek gitu?", tanya Tita saat melewati Kennan lalu diikuti oleh Kennan menuju ruang keluarga.
"Sok tau wae lo", Kennan mengusap wajah adeknya dengan telapak tangan kekarnya.
"Abaanng ihhhh...nyebelin", kesal Naura sambil menepis tangan kiri Kennan yang digunakan untuk mengusap wajah Naura.
"Tar gue umpetin tu Nyonya Atmadja junior, tau rasa lo...", lagi Naura berucap kesal .setelah Kennan menjauhkan tangannya dari wajah Naura.
"Awas aja kalo lo berani nyembunyiin Nyonya Atmadja gue...", sahut Kennan sambil mendudukkan diri bersebelahan dengan Tita.
"Siapa itu Nyonya Atmadja junior...??", tanya Tita bingung.
"Elo lah....siapa lagi yang bakalan jadi nyonya Atmadja di sini selain elo....", Kennan.
"Widihh....Abang kok ngegas sih. Lagian kan adek nanti juga bakalan jadi Nyonya Atmadja juga", Tita.
"Enggaklah Ta. Nou tar ngikut suaminya kek Kak Vina yang jadi Nyonya Sanjaya", Kennan.
"Ohh....gitu ya", Tita manggut - manggut.
"Emang lo gak pernah dengerin pelajaran tentang silsilah keluarga?", Kennan.
"Gak perhatiin...lupa...", jawab Tita enteng dengan nyengir kuda.
Pletak.
Kennan menyentil kening Tita pelan.
"Aduhhh....Abang apaan sih....", kesal Tita sambil mengusap keningnya perlahan.
"Makanya belajar yang bener, isi otak lo sama pelajaran bukan novel mulu", sahut Kennan sambil mencomot kue dari piring.
"Abang jangan gitu, sakit tu Titanya", tegur Bunda.
"Biarin Bun....", Kennan cuek.
"Ka_De_eR_Te itu Bang namanya, laporin ke kommas perempuan aja Mbak....", Naura.
"Ck.....sok tau lo", Kennan.
Sedangkan Tita hanya tersenyum tipis.
"Kapan ayah pulang Bun?", tanya Kennan para bundanya.
"Dua hari lagi Bang, kenapa?"
"Gak papa. Cuma nanya doang", jawab Kennan.
Kennan berganti menoleh pada isterinya yang masih asyik menonton drakor dengan adeknya, "Tidur yuk dek....ngantuk banget gue"
__ADS_1
"Bentar Bang, nanggung nih", jawab Tita tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.
"Tidur sendiri napa Bang.....mata gak barengan jugak. Lagian yang ngantuk kan Abang, bukan Mbak Tita", Naura menyahut tanpa peduli pada Kennan yang mendelik padanya.
"Adeekkk", Bunda.
Naura nyengir kuda.
Tita pun beranjak dari duduknya setelah mendapati tatapan tajam dari Kennan.
"Tita ke atas ya Bun...Dek....", pamit Tita.
Bunda mengangguk dengan tersenyum.
"Mbak Tita tega ninggalin Rara nonton sendirian?!"
"Ada Bunda Dek....", Tita kemudian mengikuti Kennan yang sudah berjalan lebih dulu.
"Bunda gak asyik, gak dong sama ceritanya", dumel Naura yang masih terdengar di gendang telinga Tita.
...ππππ...
"Nyonya Atmadja...."
Tita diam saja mendengar Kennan menyebut Nyonya Atmadja.
Saat Kennan tiba - tiba memanggilnya sayang, dek ataupun sebutan semaunya Tita sudah biasa. Namun Nyonya Atmadja....sebutan itu masih asing di telinganya, bahkan yang tergambar di benak Tita adalah Kennan memanggil Bunda Vida saat dirinya mendengar dua kata itu keluar dari mulut Kennan.
"Hey.....Nyonya Atmadja...", ucap Kennan sambil menunjuk - nunjuk punggung Tita yang berbaring membelakanginya dengan jari telunjuk.
"Apaan sih Bang, cepetan tidur....katanya ngantuk", jawab Tita tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
"Masak gue dipunggungin seh", ucap Kennan dengan nada kesal.
"Terus maunya abang gimana....di_ dada_in gitu...?". Tita tetep saja tidak mau menoleh ke belakang, malah memilih mendekap gulingnya dengan erat.
Tita sadar gak sih kalau ucapannya itu ambigu, othor pening iniπππ
Kennan terdiam sesaat, menelaah perkataan Tita.
"Iya....maunya Abang di_ dada_ in, cepetan gih", ucap Kennan dengan menahan senyum geli.
"Nih....udah". Tita dengan santai melambaikan telapak tanganya masih dengan memunggungi Kennan, dan itu tidak seperti perkiraan Kennan.
"Itu mah di_tangan_nin Ta.... bukan di_dada_in....", Kennan mengeram.
"Iya.....sengaja. Tita tahu di otak Abang udah berfikir mesum kan....", ucap Tita dengan menyembunyikan senyum geli.
"Ck....tega lo! Ngadep sini cepet", Kennan sengaja meninggikan suaranya.
"Gak mau"
"Ngadep sini Ta....atau gue paksa...", ancam Kennan.
"Gak takut"
"Beneran...."
"Bener.....gak takut!!", Tita.
Kennan pun mendekatkan tubuhnya dengan memeluk erat Tita.
"Ngadep gue....atau gue ulangin lagi yang kemaren", ancam Kennan dengan bibir menempel di telinga Tita.
"Abang apaan sih.....katanya janji gak ngulangin lagi", Kesal Tita dengan mau tak mau membalikkan tubuhnya menghadap Kennan.
"Nah...gitu dong. Mosok cowok cakep kek gue dipunggungin seh", ucap Kennan dengan senyum kemenangan.
"Abang ngeselin", Tita memberengut.
"Dosa lho gak ngikutin omongan suami", ucap Kennan masih dengan tersenyum.
"Habisnya yang ada di pikiran Abang mesum mulu sih".
"Otak lo yang omes...orang gue cuma pengen tidur sambil meluk isteri kok, masak gak boleh....", Kennan merentangkan tangan kirinya.
Tita pun meletakkan kepalanya pada tangan Kennan, karena sudah memahami maksud suaminya.
Mulai kemarin memang mereka tidur saling memeluk dengan satu bantal serta Tita yang menggunakan lengan tangan Kennan sebagai tumpuan kepalanya.
Jantung Tita berdegub dengan kencang, selalu saja kinerja jantungnya berdetak lebih kencang jika dirinya harus berdekatan dengan Kennan. Dan itu yang membuatnya lebih memilih tidur dengan memunggungi Kennan, namun apa daya sifat pemaksa Kennan selalu saja mengalahkannya.
"Mbaknya habis olahraga ya...debaran jantungnya kenceng banget", Kennan menggoda Tita.
"Idihh....kek yang ngomong enggak wae. Sama sesama gak usah membully deh". Tita menyerukkan kepala ke dada bidang Kennan yang juga berdetak dengan kencang untuk menyembunyikan rona malunya. Biarlah Kennan merasakan debaran jantungnya, toh dia juga sama seperti dirinya.
Kennan terkekeh sambil mengeratkan pelukannya, "Besok pulang apartemen ya...hari Senin sudah masuk sekolah".
Tita mengangguk mengiyakan.
π¨π¨π¨π¨
Omes : Otak Mesum
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ