
"Bang... martabak itu keknya enak ya...", ucap Tita saat dirinya tiba - tiba menghentikan langkah kakinya ketika berjalan menuju parkiran mobil yang tak jauh dari kedai nasi gandul.
Kennan pun menolehkan kepalanya ke arah pandang isterinya.
"Elo mau...?". Tanya Kennan lembut setelah mendapati sebuah kedai penjual martabak telur dan martabak manis yang berada tak jauh dari mereka berdiri.
Tita megangguk perlahan.
"Tapi.... antriannya banyak Bang...", Tita terlihat mengerucutkan bibirnya.
"Gak papa orang cuma ngantri wae kok. Gue beliin kalau mau, tapi....", Kennan menjeda ucapannya sejenak mengingat ucapan Tita yang tadi mengatakan bahwa gadis itu kenyang ditambah tadi dirinya memaksa gadis itu makan nasi gandul beberapa suap lagi.
Tita menatap Kennan yang terilihat ragu seraya bertanya, "Tapi apa Bang?"
Kennan melirik perut Tita.
"Yakin perut lo muat....?", tanya Kennan dengan nada khawatir.
"Muat... Tita pengen Bang, dikit aja", ucap Tita terlihat sangat menginginkannya karena pandangannya tak lepas pada penjual martabak saat mengatakannya.
"Ayok", Kennan menggenggam jemari Tita menuju kedai martabak yang hanya beberapa langkah di depannya.
"Lo duduk sini aja, biar gue pesenin"
Tita pun mendudukkan dirinya pada bangku panjang yang berada di luar kedai martabak.
"Mau apa.... martabak telor apa manis?", tanya Kennan dengan masih berdiri di hadapan Tita.
Tita terlihat berpikir dengan mengetukkan jari telunjuk pada bibirnya dan memandang kedai martabak.
"Jangan kek gitu....", Kennan menarik pergelangan tangan Tita dari bibirnya.
Tita mengerutkan keningnya lalu mendongak pada Kennan yang menatapnya sedikit menunduk.
"Kenapa seh Bang....?!"
"Kalau elo kek gitu, bikin gue pengin makan bibir lo. Elo mau gue makan habis bibir lo di sini....", Kennan berucap berbisik pada telinga Tita dengan membungkukkan setengah badannya.
"Abaang....dibilangin jangan mesum di sembarang tempat jugak, ngeyel wae sih", sahut Tita lirih dengan menahan rasa malu.
Tita pun berusaha mendorong tubuh suaminya agar kembali tegak dan menjauh, namun ternyata dorongannya tak cukup kuat. Hanya membuat Kennan sedikit terhuyung namun tidak berpindah tempat.
"Makanya elo jangan suka mancing gue di sembarang tempat". Kennan berucap masih di dekat telinga Tita, kemudian menegakkan tubuhnya dengan terkekeh geli.
"Ck.... siapa juga yang mancing, Abang aja yang tingkat mesumnya ketinggian", Tita berdecak sedikit kesal.
"Hehehe... mau apa, keburu yang antri tambah banyak tuh", tanya Kennan lalu menunjuk antrian yang semakin mengular.
"Martabak telor, rasa jamur campur daging sapi ya Bang", putus Tita dengan tersenyum.
"Makan sini apa bungkus?"
__ADS_1
"Bungkus wae"
"Hem"
Kennan pun berjalan mendekati penjual martabak dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Hal itu membuat cowok jangkung, suami dari Tita Andriana tersebut terlihat cool. Meski hanya memakai kaos oblong berwarna hitam polos dan celana chinos berwarna brown namun tidak menutupi ketampanannya.
Hal itu dapat terlihat dari banyaknya pasang mata yang memandang Kennan, bahkan terlihat beberapa cewek memandang Kennan dengan mata terbuka lebar dan mulut yang menganga.
Ada rasa tidak rela pada diri Tita saat melihat banyak pasang mata yang menatap suaminya dengan tatapan memuja, hingga membuat dirinya tidak melepas pandangan dari tubuh jangkung yang menjauhi dirinya tersebut.
"Hish, cuma pesen wae lama banget seh", Tita berdecih dengan kesal sambil melihat suaminya yang masih berdiri di jejeran para pembeli martabak.
Setelah beberapa saat Kennan pun kembali menghampiri Tita yang duduk di bangku panjang, terlihat memandang Kennan dengan wajah cemberut.
"Kenapa?", tanya Kennan pada isterinya sambil mendudukkan diri di sebelah Tita.
"Abang sengaja kan lama - lama pesennya biar bisa puas lihat cewek - cewek cantik". Ucap Tita dengan bibir mengerucut.
Kennan mengernyit heran sambil menoleh ke arah isterinya. "Kenapa ini anak... kek sebel banget, cemburu apa ya. Gak biasanya dia kek gini. Jangan - jangan bener nih apa yang dibilang Irsyad kemarin", Tanya Kennan dalam hati.
"Maksud kamu apaan seh Dek..."
"Sengaja kan di sana lama - lama karena banyak ceweknya...", Tita berucap dengan mengerucutkan bibirnya.
Kennan menoleh pada antrian yang cukup banyak di depan kedai martabak. Di sana memang banyak yang mengantri tak terkecuali makhluk Tuhan yang berjenis kelamin perempuan. Cantik - cantik sih, secara cewek zaman sekarang banyak polesan dan pandai merawat diri ke salon. Bahkan terlihat masih ada yang memperhatikan Kennan dari sana.
Kennan tersenyum tipis sambil menoleh pada Tita yang sedikit menunduk dengan bibir yang terlihat masih mengerucut kesal.
Kennan melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Tita yang ramping hingga menelusup pada perut Tita di bawah sweater berwarna pink yang saat ini dikenakan oleh isterinya.
"Udah gak usah ngambek.... gue gak tertarik sama mereka. Mereka kek ondel - ondel. Gue cuma tertarik sama cewek jelek di samping gue ini....". ucap Kennan dengan memiringkan kepalanya pada Tita, tidak lupa senyum simpul tercetak pada bibirnya.
Tita menoleh pada sisi kanannya, diapun tersenyum dengan tersipu malu. "Ah... Abang pasti mikir Tita cemburu ini....", ucapnya dalam hati.
"Gombalan Abang gak mempan sama Tita", ucap Tita pelan dengan menunduk, menyembunyikan raut malu pada wajahnya dari Kennan.
"Gak mempan kok malu", Kennan menggoda dengan tangan kanannya mengangkat dagu Tita agar mendogakkan wajahnya.
"Tita malu bukan karena gombalan Abang", kedua tangan Tita tidak berhenti memilin ujung jilbab segi empatnya yang berbahan rawis. Meski sebenarnya ucapan Kennan membuatnya tersipu, namun ada hal lain yang membuatnya tidak bisa menahan diri untuk menundukkan wajahnya.
"Terus karna apa coba?", tanya Kennan dengan menaikkan kedua alisnya.
Tita menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, lalu berucap dengan sedikit berbisik. "Tita malu karena kita duduknya dempet banget...."
"Heh.... ngapain malu, kan udah gue bilang berkali - kali kalau kita itu udah sah Dek..."
"Iya Tita tau, tapi kan tetep aja mereka gak tahu kalau kita udah nikah Bang. Yang mereka lihat sekarang kita kek anak sekolah yang lagi pacaran", Tita tidak berhenti memilin ujung jilbabnya.
"Kenapa sih Abang gak ngerti sama maksud Tita", lanjut Tita sedikit kesal.
"Udah... gak usah peduli sama pikiran orang, toh mereka gak ngomong kan. Elo aja yang sensitif", Kennan berusaha menenangkan.
__ADS_1
"Coba Abang lihat mas sama embaknya yang duduk di atas motor itu", Tita menunjuk pada seorang cowok yang duduk berdua dengan cewek yang bergelayut manja di lengan cowok tersebut. Bahkan cowoknya terlihat berkali - kali mengendus di antara bahu dan leher sang cewek, terlihat tidak malu ataupun risih diperhatikan beberapa orang di sekitarnya.
Kennan pun menolehkan kepalanya ke arah yang ditunjuk isterinya.
"Menurut Abang mereka pacaran atau pasangan yang udah nikah....?", tanya Tita pada Kennan.
"Pacaran", jawab Kennan cepat dengan memalingkan wajahnya dari pasangan yang masih saja mesra - mesraan di atas motor tersebut.
"Apa yang buat Abang nebak mereka pacaran?", Tita memiringkan wajahnya pada suaminya.
"Wajahnya kek masih anak kuliahan", Kennan pun menolehkan wajah pada isterinya.
"Tuh kan... Abang aja nebak mereka pacaran. Padahal belum tentu juga kan.... bisa saja mereka pengantin baru, meskipun wajahnya kek anak kuliahan. Kita aja yang masih sekolah bisa nikah apalagi mereka yang udah kuliah".
"Terus maksud elo apa?", Kennan masih menatap isterinya yang terlihat mengerutkan bibirnya.
"Maksud Tita.... meskipun kita udah nikah tapi lihat mereka mesra - mesraan di sembarang tempat, Abang mikirnya mereka pacaran kan, padahal belum tentu kan Bang...?! Siapa tau aja mereka juga udah nikah kek kita. Makanya Abang jangan mesum sembarang tempat, biar orang - orang juga gak ngira kalau kita anak sekolah pacaran berlebihan, gitu maksud Tita".
"Gue nebaknya pakek feeling Dek bukan asal nebak, lagian mereka kelihatan banget gak bisa menyalurkan kemesumannya di rumah. Makanya mereka ambil kesempatan di sembarang tempat".
"Ck... emang Abang gak mau kalah, ada wae alesannya. Terus apa bedanya kita yang nempel kek perangko sama amplopnya", Tita cemberut.
"Udah ah ngapain peduli pikiran orang seh, yang penting kita udah sah. Kalaupun gue mau cium lo di sini juga sah - sah wae. Lagian gue mesumnya juga sembunyi - sembunyi, gak ada yang menyadari jugak. Dan lagi mesum gue itu beda, gue gak seperti mereka yang gak tau malu. Gue ini jagain milik gue", jelas Kennan.
"Tapi kan pikiran orang siapa tau Bang...."
"Gue kasih tau ya... orang itu mikirnya gue kakak yang lagi ngelindungin adeknya, tau", Kennan menoel pucuk hidung mbangir milik Tita dengan tersenyum.
"Abang mah pinter kalo ngeles....", Tita menyingkirkan tangan kanan Kennan yang hendak menoel pucuk hidungnya kembali.
"Udah... nih gue pinjemin hape buat baca novel daripada mikir suudzon", Kennan menyerahkan ponsel pada Tita dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya kembali mengusap perut rata isterinya.
"Abang geli.... di bilangin jangan mesum di luar rumah jugak, tahan dikit napa.....", Tita menahan tangan kekar Kennan yang tidak berhenti mengusap perut dari balik sweaternya.
"Gak ada yang tau...", Kennan santai dan tetap menggerakkan telapak tangan kekarnya.
"Tapi geli banget tauk....", Tita menggerakkan tubuhnya tidak nyaman.
Kennan terkekeh, kemudian menghentikan gerakan tangannya meskipun tangan kekar itu masih saja nyaman di atas perut rata Tita.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ