Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Part 226


__ADS_3

"Tita boleh pilih yang lain gak?" Tita takut takut.


Wajah Kennan yang semula datar berubah mengerut setelah mendengar ucapan Tita.


"Elo gak mau dinner?" Kennan bertanya setelah menghembuskan nafas dalam.


"Iyy...yyaa." Tita menganggukkan kepala perlahan dengan menunduk. Kedua jemarinya saling meremas, takut Kennan marah kepadanya.


"Kenapa? Kasih gue alesan yang tepat?" Kennan berucap dengan selembut mungkin, meski dalam hatinya menahan emosi karena gadis yang dicintai itu menolak ajakannya dan meminta memilih yang lain. Padahal Kennan sudah mempersiapkan semua rencananya.


"Emm... Tita... em... Tita..." Tita masih saja ragu mengungkapkan keinginannya.


"Dek..." Kennan menangkup kedua bahu Tita, mendekatkan tubuhnya lalu menatap isterinya intens.


"Katakan apa yang elo pengen gak usah takut. Gue nggak bakal gigit kok."


Tita mendongak. Lalu berucap dengan pelan, takut membuat Kennan tersinggung."Em... Tita pengennya jalan jalan bang. Menikmati suasana luar, bukan hanya duduk di dalam ruangan wae. Kalau makan malam berdua kan di rumah juga bisa, nggak perlu di restoran segala."


Kennan mengarahkan pandangan ke sisi yang lain, membuang nafas kasar. Dirinya berusaha memahami keinginan isterinya meskipun dalam hatinya cukup kecewa dengan keinginan sang isteri.


Beberapa saat setelah menetralkan gemuruh dalam dadanya. Kennan pun kembali memandang Tita.


"Gimana kalau hari ini kita dinner dulu, soalnya gue udah reservasi restonya. Lagian nanggung kita juga udah pakek baju kek gini. Udah hampir malem juga..." Kennan dengan pandangan mata menyapu tubuhnya dan Tita.


Tita terdiam. Berfikir sesaat.


Mendapati Tita yang hanya diam tanpa berucap kata Kennan pun kembali berucap kata.


"Besok pas ada hari libur lagi kita luangkan waktu buat jalan jalan sepuas lo dek, gimana?" Kennan dengan memberikan tatapan hangat untuk meluluhkan hati Tita.


"Nanti abang lupa lagi..." Tita terdengar lirih dengan kepala menunduk dan kedua jemari yang memilin gaun yang dikenakannya.


"Gue gak bakal lupa. Kalau gue lupa elo ingetin gue. Kalau perlu elo tarik gue sampai kita berdua berangkat."


"Abang janji ya..." Tita memandang lurus wajah Kennan.


Kennan mengangguk pasti. "Iya gue janji."


"Senyum dong dek..." Kennan dengan mengembangkan senyum di bibirnya.


Tita pun perlahan menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum manis pada wajah cantiknya.


"Kalau gitu gue ke luar dulu ya. Selesain pakek bajunya, nggak usah pakek make up berlebihan." Kennan mengecup kening Tita setelah berucap kata kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangan ganti.


Sepeninggal Kennan, pramuniaga mendekati Tita dengan membawa pasmina berwarna senada dengan gaun malam yang dikenakan oleh Tita.


"Maaf mbak untuk ucapan saya yang tadi." Pramuniaga tersebut berucap kata dengan sungkan.

__ADS_1


Dahi Tita mengerut mendengarnya.


"Ucapan yang mana mbak?"


"Tadi... saat saya sebut embak adiknya mas Kennan."


"Oh itu. Gak papa kok, namanya juga nggak tau." Tita membingkai senyum pada bibir pinknya.


"Pasminanya saya ganti dengan yang ini ya mbak?"


"Iya." sahut Tita diiringi dengan anggukan.


"Duduk di sini dulu biar saya rias wajahnya lebih dahulu." pramuniaga menepuk kursi di depan meja rias. Tita pun menurutinya.


"Mas Kennan sekarang sudah berubah ya mbak, nggak seperti dulu." pramuniaga tersebut mulai berbincang sembari memoleskan kapas untuk membersihkan wajah Tita.


"Maksud embak?" Tita tidak mengerti arah pembicaraan pramuniaga tersebut.


"Dulu mas Kennan itu gak banyak omong, orangnya diem terkesan angkuh. Tapi sekarang sudah banyak ngomong wajahnya juga sudah kelihatan murah senyum." jelas sang pramuniaga.


Tita mengernyit, berusaha memahami penjelasan sang pramuniaga.


"Embak udah kenal sama abang, eh maksud saya mas Kennan." tanya Tita.


"Kenal banget sih enggak, tapi saya sudah hafal sama mas Kennan. Soalnya ceweknya yang dulu pelanggan di butik sini mbak."


"Ceweknya pelanggan di sini..." gumamaman lirih keluar dari mulut Tita dan itu terdengar oleh sang pramuniaga karena mereka berada dalam jarak yang sangat dekat.


"Iya memang cantik." gumam Tita sembari mengingat foto yang pernah Tita temukan saat dulu membersihkan apartemen sang suami pertama kali.


"Eh... tapi enggak secantik embak kok." pramuniaga tersebut membungkam mulutnya dengan telapak tangan saat dirinya menyadari jika telah mengucapkan kata yang bisa membuat salah paham.


"Enggak papa kok. Memang dia cantik kok." Tita dengan tersenyum saat menyadari pramuniaga tersebut merasa bersalah dengan ucapannya.


"Maaf... bukan maksud saya..."


"Nggak papa mbak, nggak usah takut. Saya nggak papa kok. Lagian itu kan sudah masa lalu." Tita berusaha tetap menyunggingkan senyum.


***


Dengan percaya diri Kennan menggenggam telapak tangan Tita dengan erat memasuki sebuah restoran mewah, seolah ingin menunjukkan bahwa gadis di sebelahnya tersebut adalah miliknya.


Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, menunjukkan jika dirinya sangat bahagia saat ini. Siapapun yang melihat Kennan saat ini pasti bisa menebak jika wajah tampan itu sedang sangat bahagia.


Berbeda dengan Tita yang terlihat kikuk karena banyak pasang mata yang memandang keduanya saat berjalan memasuki restoran. Dirinya tidak nyaman mendapati banyaknya pasang mata yang tertuju kepadanya.


Tita semakin mengeratkan tangannya bahkan memerpendek jarak tubuhnya dengan Kennan.

__ADS_1


"Bang, jalannya pelan - pelan... Tita nggak bisa ngimbangi langkah abang." Tita dengan berbisik.


Kennan pun menghentikan langkah kaki jenjangnya sembari melepaskan tangannya dari gengaman tangan Tita, beralih memeluk pinggang ramping Tita kemudian berjalan kembali dengan langkah kaki yang lebih pendek.


"Loh kita kemana bang?" tanya Tita bingung saat Kennan membawanya memasuki sebuah lift dan membawanya naik ke atas. Tita sempat melirik dengan ekor matanya jika Kennan memencet angka tertinggi pada tombol di dalam lift.


"Entar elo juga tau dek." Kennan sesaat menoleh ke arah Tita dengan senyum penuh rahasia. Kemudian kembali mengarahkan pandangan lurus ke depan tanpa melepaskan tangan kirinya yang memeluk pinggang ramping gadis di sisinya.


Ting... Pintu lift terbuka.


Kennan pun membawa Tita untuk keluar.


"Wow...." Tita terperangah dengan kedua mata yang terbuka lebar serta mulut yang ternganga saat melihat pemandangan terbuka dari rooftop restoran yang menunjukkan keindahan langit malam yang dipenuhi dengan bintang.


Kerlap kerlipnya menyatu dengan pemandangan suasana lampu kota yang terlihat dari rooftop.


"Cakep kan?" Kennan dengan mengarahkan pandangan ke arah Tita.


"Banget...." Tita dengan senyum sumringah. Tita terlihat tidak dapat menutupi rasa senangnya saat ini. Tanpa sadar membalik tubuhnya ke samping dengan kedua tangan memeluk tubuh kekar Kennan.


"Seneng banget keknya." Kennan tersenyum, menunduk menatap Tita dengan mengeratkan pelukannya pada tubuh sang isteri.


Tita menganggukkan kepala yang bersandar pada dada bidang Kennan.


"Nggak nyesel kan meskipun nggak jalan - jalan?"


Tita menggelengkan kepalanya mendongak, tak lupa senyum bahagia dia berikan untuk Kennan.


Cup...


Kennan pun mencium bibir di bawahnya dengan gemas.


🍨🍨🍨🍨


**Hai.... hai... my beloved readers....


Jumpa lagi nih sama othor yang ngeselin bin ngangenin heheheπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰


Maap... maap nih ya othor baru bisa up lagi...


Ada sedikit musibah yang membuat othor harus bedrest and kagak bisa menyapa kalian semua


Ini ada part yang sempat othor tulis sebelum othor mengalami musibah kemarin, semoga dapat menjadi obat kangen kalian sama othor... eh salah... sama neng Tita n bang Kennan yak😘😘😘


Bismillah....


Perlahan jemari lentik othor akan kembali menyapa hari hari indah ke depan bersama neng Tita dan bang Kennan....

__ADS_1


Mohon dimaafken yak😍😍😍😍


πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»**


__ADS_2