
"Bang..."
"Apalagi?" Kennan dengan kedua mata yang tertutup.
"Abang gak pengen cerita kenapa waktu itu nggak dateng nemuin Tita di tempat kita janjian?" Tanya Tita dengan hati hati. Sungguh dalam hatinya masih sangat penasaran dengan kejadian saat mereka berdua akan bertemu di kebun binatang pada waktu itu.
Hek...
Kennan terdiam, tenggorokannya terasa kering. Mulutnya seakan terkunci, tidak mampu berkata kata.
Bimbang.
Itulah kata yang tepat untuk menunjukkan kondisi Kennan saat ini. Kennan bimbang akan memutuskan memberitahu atau menyembunyikan kebenarannya karena dia pun belum sepenuhnya memahami maksud dan tujuan Yuna membohonginya kemarin.
Kennan merasa masih harus memperjelas apa yang menjadi maksud dan tujuan Yuna.
"Abang..." Tita dengan memiringkan tubuhnya, seakan menuntut jawaban dari sang suami.
Sesaat Kennan menghirup nafas dalam, lalu membuangnya perlahan.
"Gue ketemu teman lama sampai lupa waktu." ucap Kennan dengan tersirat. Toh menurutnya hubungannya dengan Yuna memang benar hanya teman lama. Dan lagi belum waktunya Tita tahu yang sebenarnya. Kennan harus membongkar motif Yuna terlebih dahulu.
"Masak. Ketemu temen lama sampek nggak angkat telfon dari Tita?"
Lagi Kennan harus terjebak situasi, namun karena Kennan selama ini sudah sering bermain peran dan lagi wajah datar miliknya itu selalu dapat membantunya menutupi aksinya.
"Handphone gue taruh di mobil, dan gue keasyikan ngobrol di luar sambil nongkrong." Kali ini Kennan dengan membohongi Tita. Karena yang sebenarnya adalah ponsel pintarnya selalu dalam saku celananya. Bahkan di saat dirinya tahu Tita menelfon, Kennan hanya memandanginya tanpa ada niatan untuk menjawabnya.
"Seasyik apasih ngobrolnya sampek segitunya lupain janji abang sama Tita?" Tita dengan nada kesal.
"Sorry dek, gue beneran gak bermaksud lupain janji gue sama lo. Janji deh nggak bakal kek gitu lagi."
"Ck... asal abang inget wae kalau sampek keulang lagi Tita bakalan ngambek, nggak bakalan Tita mau maen kuda kudaan walaupun abang minta sampek nangis kejer." Tita dengan mengerucutkan bibirnya.
"Iya deh iya... gue janji." Kennan dengan terkekeh kecil melihat reaksi isteri polosnya yang menggemaskan menurutnya.
"Kalau ngambek ancemannya jangan kek gitu, yang lain wae. Minta jalan jalan, coklat atau minta apapun yang elo pengen tapi jangan yang itu. Gue nggak tahan, lagian malah nambah dosa, elo bakalan dilaknat Allah sampai pagi. Mau lo dapet dosa yang menggunung?!" Kennan dengan senyum yang menggoda.
"Abang mesti pinter deh ngelesnya...." Tita dengan raut wajah dibuat kesal.
__ADS_1
"Udah nggak usah manyun mulu, tambah jelek itu muka." Kennan dengan memeluk pinggang ramping sang isteri, mendekapnya erat.
"Bang...." Tita dengan menggerakkan jarinya seolah membuat pola abstrak pada dada bidang sang suami.
Hmm... Kennan dengan kedua mata terpejam.
"Tita minta ganti rugi sama abang."
"Ganti rugi...??!!" Sontak Kennan dengan membuka kedua bola matanya yang sempat terpejam. Sungguh dirinya terkejut mendengar ucapan sang isteri. Otaknya menerawang kemana mana, mencoba berfikir tentang apa yang membuatnya harus mengganti rugi sang isteri.
"Ganti rugi apaan dek? Emangnya gue ngapain lo...?!" tanya Kennan dengan hati was was.
"Ganti rugi buat kencan kita yang gagal karena abang gak dateng ke tempat janjian, akhirnya bikin Tita pulang sama Arga dan bikin abang marah sama Tita. Padahal kan seharusnya Tita yang marah sama abang. Karena sedari awal abang yang gak muncul dan bikin Tita memutuskan menerima tawaran Arga buat pulang bareng." Tita merepet dengan ucapan yang terdengar kesal. Sepertinya mengingat peristiwa itu membuat Tita kembali kesal.
"Oh itu, kirain ganti rugi apaan... Kalau itu gampang. Elo sebutin wae apa keinginan lo ntar gue turutin." Kennan dengan nafas lega.
"Abang mau penuhi keinginan Tita?"
"Iya."
"Yakin?" Tita berusaha memastikan.
"Apapun itu?"
"Apapun, selama gue bisa penuhi gue bakalan penuhi dek." Kennan mengangguk mantap. " Emangnya lo mau apa?"
"Kita pergi kencan lagi ya Bang..."
"Kencan?? Cuma itu doang?!"
"Iya. Cuma itu tok."
"Kalau cuma kencan doang mah gue siap penuhi. Mau siang malam nggak keluar kamar pun gue mau..." Kennan terkekeh dengan merengkuh tubuh Tita, kembali memeluknya erat.
"Abang... jangan peluk peluk mulu, Tita engab nih..." Tita menggeliat dengan mendorong tubuh Kennan agar sedikit menjauh darinya.
"Lah katanya pengen kencan? Kok malah dorong dorong seh dek..."
"Maksud Tita itu kencan di luar rumah abang... pergi kemana gitu, tempat yang asyik atau dinner romantis kek di drakor gitu... bukan mepet terus kek gini..."
__ADS_1
"Liburan maksud lo?"
Kennan yang sejatinya tidak pernah berkencsng bertanya bingung.
"Bukan. Emange abang gak pernah kencan sama cewek?"
Kennan menautkan kedua alis matanya sesaat kemudian menggeleng perlahan.
"Ah nggak mungkin... abang pasti bohong. Iya kan?!"
"Enggak... gue nggak bohong kok. Gue beneran nggak pernah kencan dek..." Kennan berusaha meyakinkan.
"Lah... masak, bukane abang pernah punya pacar? Emangnya pacar abang nggak pernah ngajakin jalan berdua gitu?" Tita dengan penasaran.
"Sok tau lo..." Kennan menekan kening Tita dengan ujung jari telunjuknya. "Siapa yang bilang gue pernah pacaran, orang gue nggak pernah pacaran kok."
Ah masa sih... bukane Naura waktu itu pernah cerita kalau abang pernah pacaran, dan lagi foto itu... tentu saja Tita hanya membatin sembari mengingat foto Kennan bersama seorang gadis yang pernah ditemukan olehnya di laci meja belajar milik Kennan.
"Mosok seh abang gak pernah pacaran? Abang kan cakep, emangnya gak ada yang suka sama abang?"
"Gue emang cakep, yang suka sama gue juga banyak, tapi bukan berarti gue pacaran sama mereka." Kennan dengan pede.
"Yakin abang nggak pernah sekalipun macarin salah satu dari mereka?" Tita menyelidik.Tita ingin bertanya tentang foto itu namun diurungkannya, takut akan membuat sang suami tersinggung karena dirinya telah berani menggeledah barang barang pribadi miliknya. Meski sebenarnya waktu itu Tita sengaja menemukannya.
"Enggak dek, gue nggak pernah pacaran sama siapapun. Gue cuma pacaran sama lo doang, itupun gue lakuin setelah gue nikah, apa itu bisa disebut pacaran?" Kennan berkata sejujurnya.
"Mungkin bisa wae dibilang pacaran setelah nikah, betul kan?!" Tita dengan menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Nah ntu lo tahu..." Kennan pun tak kalah dengan memberikan senyum untuk Tita.
"Berarti Tita yang pertama dong bang?"
"Dan yang terakhir. Elo satu satunya orang yang ada di sini." Kennan membawa telapak tangan Tita menyentuh dada bidangnya, membuat Tita tersentuh hingga kedua bola matanya mengembun.
Ucapan Kennan membuat hati Tita berbunga bunga, seolah kupu kupu beterbangan dalam perutnya. Bergerak menggelitik seakan sayapnya tak berhenti bergerak menghinggapi kelopak bunga warna warni yang bermekaran.
π¨π¨π¨π¨
Maaaaaapppppppp ken othor baru bisa kasih up, soalnya lagi sibuk PTS sama bocik bocik yang masih sibuk daring schoolππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
__ADS_1