Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Nempel nempel terus


__ADS_3

Mohon maaf bila masih banyak typo yang bertebaran πŸ™ πŸ™πŸ™πŸ™.


Selamat membaca πŸ€—πŸ€—πŸ€—.


🌺🌺🌺🌺


Aku sedang memasak makan malam dibantu bibi, tiba-tiba sebuah tangan melingkar tepat di pinggang ku. Aku menghela nafas panjang. Aku yang sedang menggoreng lumpia isi tahu, hanya diam membiarkan Alvin seperti itu. Entah ada apa dengannya, sedari tadi nempel nempel terus. Seakan akan aku akan pergi jika ia lepaskan.


"Mas. Sebaiknya kamu duduk dikursi saja. Tidak enak dilihat bibi." Ujar ku.


"Tidak mau." Suaranya seperti anak kecil.


"Tidak apa, non. Bibi maklumi." ucap bibi


Mendengar perkataan bibi, jatuh nya aku malu.


"Sedikit lagi aku sudah mau selesai, mas bisa kemeja makan duluan." Akhirnya alvin menurut.


Ketika sedang makan, aku sesekali melihat kearah alvin yang terus menatapku. Ada sebuah pertanyaan yang menyarang dibenak ku sedari tadi, ingin sekali aku tanyakan.


"Mas."


"Iya."


"Ada apa ? Apa ada masalah ? Sejak tadi kamu terus memeluk ku."


"Tidak ada apa-apa. Hanya saja saya ingin bermanja dengan istri saya."


"Sungguh ?."


"Iya."


Sebelum tidur saja ketika kami sedang menonton TV diruang keluarga, ia tiduran di sofa dengan kepala yang diletakan di atas pangkuanku. Aku merasa ada hal yang sedang ia pikirkan, tapi ia enggan menceritakannya. Entah apa yang ia pikirkan, sepertinya ada sangkut pautnya dengan ku. Melihatnya seperti ini, membuat ku khawatir.


🌺🌺🌺


Seperti biasa aku sedang terduduk di kursi teras balkon. Mengerjakan cerita ku, sembari mengingat hal tadi pagi. Kali pertamanya Alvin mencium kening ku sebelum ia berangkat kerja. Kemajuan yang luar biasa. Sekarang, aku merasa seperti seorang istri. Sesosok suami yang aku harapkan telah muncul. Memang benar jika mau melewati masa masa sulit itu kuncinya cuma satu, yaitu ikhlas. Aku tidak pernah menyangka jika Alvin akan belajar mencintai ku dan bersikap layaknya suami yang mencintai istrinya. Mungkin inilah yang Tuhan beri atas luka ku selama ini.


Handphone yang berada di atas meja, berdering. Panggilan masuk dari Arxi.


"Hallo, Xi."

__ADS_1


"Sibuk tidak ?."


"Maaf, Xi. Lagi kejar deadline nih."


"Ohh."


"Oh ya, ada hal yang mau ku ceritakan sedikit."


"Iya."


"Mas Alvin tadi pagi sebelum berangkat kerja, mencium kening ku."


"Bagus dong."


"Iya. Sampai sekarang aku masih tidak menyangka."


"Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Itulah hasil dari bertahan mu selama ini. Tuhan itu adil, Vi."


"Iya." Lalu menghela nafas panjang.


***


disaku celana berdering. Ku ambil, ternyata panggilan masuk dari Alvin.


"Iya, mas."


"Kamu lagi dimana ? Banyak suara kendaraan gitu."


Baru saja ingin menjawab, seketika handphone sudah tidak ada ditangan ku lagi. Seseorang mengambil handphone ku.


"Pencuri." Teriak ku, lalu mengejar seseorang yang seperti nya laki-laki. memakai celana dan jaket hitam.


Pencuri itu semakin jauh, sampai ku rasakan kakiku lemas. Akhirnya aku menyerah, menyerahkan handphone ku satu satunya. Aku melimpir sejenak ke trotoar, terduduk mengistirahatkan kaki ku. Sudah merasa lebih baik, aku berdiri melanjutkan jalan. Baru beberapa langkah, tiba-tiba ada seseorang yang memeluk ku erat. Aku yang merasa terkejut dan takut, meronta melepaskan diri.


"Syukurlah, kamu baik-baik saja." Sembari melepaskan pelukan itu.


"Mas Alvin !." Dengan wajah tidak menyangka, jika lelaki yang sedang berada di hadapan ku itu adalah suamiku.


Kini kami sudah didalam mobil, dengan Alvin sedari terus menatap ku sembari menggenggam kedua tangan ku. Wajahnya tadi terlihat panik. Katanya ia bisa ada disana karena ia begitu khawatir ketika tiba-tiba panggilan ku terputus, pas tadi kami sedang menelepon. Sudah gitu ia mendengar seorang perempuan berteriak pencuri, ia jadi panik takut terjadi sesuatu dengan ku. Mencoba menghubungi ku kembali tapi nomer ku tidak aktif, akhirnya ia menghubungi bibi dan bibi bilang kalau aku pergi ke minimarket.


"Lain kali kalau mau kemana-mana, minta temani bibi."

__ADS_1


"Aku tidak mau merepotkan bibi, mas."


"Tapi saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi."


"Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan lebih berhati-hati."


"Sebaiknya kamu balik lagi ke kantor, aku bisa pulang sendiri."


"Tidak. Saya akan mengantarkan pulang." Lalu menghidupkan mesin mobil.


Kalau sudah seperti ini aku hanya bisa menyetujui. Aku tidak ingin mengecewakan Alvin. Sudah cukup dia dibuat panik oleh ku. Biarkan aku membuatnya lebih tenang.


Sesampainya dirumah aku melihat bibi sedang menyapu.


"Non, sudah pulang." Lalu berhenti menyapu.


"Iya, bi."


"Tadi mas alvin nelfon, nanyain non Vira."


"Iya, aku sudah ketemu mas Alvin."


"Memangnya ada apa non ? Tadi suara mas Alvin seperti orang panik gitu."


"Handphone ku dicuri orang bi, pas tadi aku lagi telponan sama mas Alvin."


"Astaghfirullah. Tapi non tidak apa-apa kan ?."


"Alhamdulillah, baik-baik saja." Lalu tersenyum.


Kejadian hari ini memberi ku pelajaran, dimana pun kita berada kita harus berhati-hati. Jangan memicu hal yang akan membahayakan diri sendiri. Bermain handphone dijalan itu, sebenarnya berbahaya. Menjadi kan pemicu sebuah kejahatan. Jangan anggap biasa saja. Awalnya aku menganggap itu biasa saja, karena aku sering melakukannya itu. Memainkan handphone dijalanan dan ditempat ramai. Kejahatan itu tidak tau tempat. Hal yang awalnya kita anggap remeh dan biasa aja, biasanya akan menjadi boomerang.


Selepasnya kehilangan handphone, aku bersyukur atas teguran yang Tuhan beri. Dari situ aku jadi tersadar untuk lebih berhati-hati lagi dimana pun aku berada.


🌺🌺🌺🌺


Maaf ya readers 😁 author baru sempat nulis. bila banyak typo yang bertebaran mohon maaf πŸ™πŸ™πŸ™.


Terus dukung author dengan kalian like dan komen. Karena komen komen kalian menjadi semangat buat author melanjutkan cerita ini.


Salam sayang author ΰ€—ΰ€Ήΰ€¨ΰ€Ύ 😘😘

__ADS_1


__ADS_2