
Di dalam kamar Kennan merebahkan dirinya di atas ranjang. Sesaat Kennan teringat akan pembicaraannya dengan Bik Marsih.
Flashback On.....
"Den Kennan", panggil Bik Marsih saat Kennan melangkahkan kaki keluar dari pintu pagar kayu panti asuhan.
Kennan menoleh. Mendapati wanita paruh baya itu berlari kecil menuju ke arahnya, Kennan membalikkan badannya kemudian menundukkan kepalanya.
"Maaf Kennan lupa pamit sama Bibik", Kennan canggung menyadari kesalahannya.
"Bisa bicara sebentar?", Bik Marsih.
Kennan menautkan kedua alisnya, bingung juga penasaran dengan perihal apa yang akan dibicarakan wanita paruh baya itu padanya.
"Bisa", sahut Kennan datar.
"Monggo masuk dulu Den", Bik Marsih menyilahkan Kennan agar kembali ke dalam rumah.
Kennan pun mengangguk dan memberi tanda pada Bik Marsih agar beliau masuk ke dalam panti asuhan lebih dahulu.
Saat ini Kennan dan Bik Marsih sudah duduk di dalam kursi ruang tamu panti asuhan.
"Sebelumnya Bibik minta maaf, bukan maksud Bibik untuk mencampuri urusan rumah tangga Aden dan Non Tita. Tapi....karena Bibik sudah menganggap Non Tita seperti anak sendiri, Bibik tidak ingin membuat Aden dan Non Tita terlalu lama bertengkar".
"Gak papa Bik. Bibik ngomong saja, justru saya senang dan berterima kasih jika Bibik bersikap seperti ini. Bibik sudah seperti orang tua bagi Tita, berarti juga sudah saya anggap seperti orang tua saya juga. Bibik gak usah sungkan".
Wanita paruh baya itu tersenyum mengangguk, kemudian terlihat mengambil nafas dalam sepertinya ingin mengungkapkan sesuatu yang sangat penting.
"Boleh Bibik bertanya hal pribadi dengan Aden?"
Sesaat Kennan terdiam, tak lama kemudian mengangguk perlahan.
"Apa Aden meminta hak pada Non Tita dengan memaksa?", Tanya Bik Marsih dengan hati hati.
Kennan mengernyit, "Maksud Bibik??"
" Hak bathin suami pada isterinya Den", Bik Marsih berucap tersirat.
Kennan termenung sesaat, kemudian mengangguk dengan menunduk malu menyadari apa maksud dari perkataan wanita paruh baya tersebut.
Bik Marsih tersenyum, "Tidak usah malu Den...Bibik paham kok. Sudah kewajiban Non Tita memberikannya pada Aden. Tapi.....". Bik Marsih menghentikan sesaat ucapannya dengan kembali menarik nafas dalam.
"Maaf ya Den, bukan maksud Bibik menyalahkan Aden"
Kennan mengernyit bingung mendengar ucapan Bik Marsih.
"Kalau Bibik boleh berpesan, jangan melakukannya dengan kasar karena Non Tita masih muda. Mungkin belum bisa mengimbangi Aden. Dia masih polos dan lagi...". Lagi lagi Bik Marsih terdiam dan mengambil nafas dalam.
"Non Tita memiliki trauma pelecehan waktu masih kecil", Bik Marsih berkata dengan mata yang memerah.
Kennan kaget, mengerutkan dahinya.
Sesaat Kennan mengingat pergumulannya dengan Tita beberapa hari lalu. Tidak ada yang salah, Tita masih perawan bahkan mungkin noda darah pada sprei ranjangnya masih membekas. Mana mungkin Tita mengalami pelecehan seksual seperti ucapan Bik Marsih.
"Tapi Bik..."
Bik Marsih memutus ucapan Kennan.
"Bukan pelecehan yang seperti Aden kira", Bik Marsih mengehembuskan nafasnya berat.
"Lalu....?!", Kennan seakan tidak sabar mendengarkan cerita dari wanita paruh baya tersebut.
"Dulu sewaktu Non Tita masih SD, mungkin kelas 4 waktu itu. Saat itu kedua orang tua Non Tita masih hidup dan Non Tita masih tinggal dengan kedua orang tuanya. Pernah seorang kolega dari papanya datang bertamu, orangnya masih muda. Pada saat itu mama Non Tita tidak ada sedangkan papa Non Tita meninggalkan tamunya ke ruang kerja untuk mengambil berkas. Non Tita sedang bermain sendirian di depan TV tak jauh dengan ruang tamu di mana kolega papanya duduk menunggu". Wanita paruh baya itu terlihat menhela nafas sebentar, seperti ada yang membuatnya sesak.
"Entah bagaimana ceritanya kolega papa Non Tita memeluk Non Tita erat dan menciumi wajah Non Tita hingga membuatnya berteriak ketakutan. Semenjak kejadian itu Non Tita tidak mau tinggal bersama orang tuanya bahkan ketakutan jika di ajak mengunjungi rumah orang tuanya", jelas Bik Marsih.
Kennan manggut manggut mengerti. "Wajar saja Bik dia masih kecil waktu itu, pasti takut sekali"
"Lalu Tita tinggal dengan siapa Bik??", Kennan bertanya.
"Sama neneknya Den, gantian kakak lelakinya. Kakaknya memang sejak kecil yang tinggal dengan neneknya, jadi mereka bertukar tempat", Bik Marsih.
"Ohh"
"Mungkin Non Tita ketakutan kemaren karena mengingat itu Den...."
"Saya juga salah Bik".
Flashback Off......
Tanpa sadar Kennan pun menutup matanya perlahan, lelah tubuh, serta lelah hatinya sudah tidak bisa ditahan lagi.
...ππππ...
"Kamu lagi marahan sama masmu nduk?", tanya Bunda Vida pada Tita. Saat ini mereka tengah duduk berdua di taman belakang rumah.
Tita mengangguk pelan, tidak mungkin dirinya berbohong secara mertuanya itu pasti mengetahui jika dirinya menginap di rumah keluarga Atmadja tanpa Kennan suaminya.
"Pertengkaran antara suami isteri itu pasti ada, besar atau kecil sebuah pernikahan pasti akan mengalami itu. Bagaimanapun sebuah pernikahan itu mempertemukan dua orang yang berbeda jadi ya harus saling menyesuaikan. Saling mengisi dan melengkapi kekurangan serta kelebihan pasangan. Menjalani bahtera rumah tangga itu tidak semudah kita membalikkan telapak tangan, semuanya butuh proses nduk", Bunda Vida menatap Tita dengan senyum, tak lupa punggun tangan kanan nya mengelus punggung Tita lembut. Memberikan efek menenangkan pada hati Tita yang sedang bergelut dengan gelisah.
__ADS_1
"Ada masalah apa to Nduk....bisa cerita sama bunda?", tanya bunda Vida lembut.
Tita tersenyum canggung. Tidak mungkin dirinya berkata jujur pada bunda mertuanya tentang masalah yang sedang dihadapinya.
Ehm sebenarnya bukan masalah sih, hanya saja Tita masih terlalu syok dengan pengambilan hak Kennan padanya yang tiba tiba dan kasar.
"Kenapa......ada gadis lain?"
Tita menngeleng.
"Masmu main tangan?"
Lagi Tita menggeleng.
"Dia gak peka...?"
Tita tersenyum tipis.
"Bukan masalah besar kok bun...Tita hanya butuh waktu saja buat tidak bertemu dengan abang sementara".
"Salah paham?", lagi bunda Vida berusaha menebak.
"Kurang lebih begitu bun", Tita menyahut menunduk dengan memilin jemarinya.
Bunda Vida menghela nafas pelan.
"Syukurlah kalau bukan masalah yang besar. Tapi nduk....pertengkaran antara suami istri jangan lama - lama, nggak baik. Segera perbaiki sebelum semuanya menjadi menumpuk dan menjadi semakin besar. Bukannya bunda bermaksud membela masmu, tapi lebih baik segera selesaikan. Kalau satu adalah api yang satu harus menjadi air untuk mematikan api tersebut", Bunda Vida tersenyum lembut kepada menantu kecilnya.
"Bunda sama Ayah juga dulu sering bertengkar pas waktu awal - awal berumah tangga, tapi untungnya kami bisa saling mengerti. Di saat Bunda lagi emosi Ayah yang menenangkan Bunda begitu sebaliknya jika Ayah sedang tidak bisa menahan emosinya, Bunda yang menenangkan. Akhirnya masalah diantara kami selesai tanpa harus berlarut larut". Ucap Bunda sambil tersenyum mengingat awal pernikahannya dulu.
"Bunda kok senyum - senyum?!", tanya Tita saat melihat mertuanya itu senyum - senyum sendiri.
"Bunda ingat zaman masih awal menikah sama Ayah, hehehehe....."
"Bunda juga sering bertengkar sama Ayah?"
"Iya, dulu....namanya juga masih muda. Masih labil", Bunda Vida.
"Tita janji Tita akan segera memperbaiki hubungan Tita sama abang secepatnya Bun", Tita berucap setelah mendudukkan diri di hadapan Bunda mertuanya.
Bunda Vida tersenyum, kemudian mengusap lembut pucuk kepala Tita.
"Gitu dong....biar mukanya senyum lagi gak lecek kek cucian Mbok Darmi".
Tita tersenyum, "Bunda bisa aja....Boleh Tita peluk Bunda....?"
"Boleh dong sayang", Bunda Vida melebarkan kedua tangannya kemudian merengkuh tubuh ramping Tita ke dalam pelukannya hingga menghilangkan segala resah yang berkecamuk dalam hatinya.
...ππππ...
Ponsel Tita yang berada di atas nakas bergetar sepertinya ada panggilan masuk melihat getarannya tak kunjung berhenti.
Tita yang sedang duduk menyender di atas ranjang sambil asyik membaca novel, menoleh mendapati layar ponselnya menyala.
Dengan sedikit menarik punggungnya dari kepala ranjang Tita meraih ponselnya dari nakas,kemudian menatap layar ponselnya yang tak berhenti bergetar.
kulkas2pintu calling.....
Sesaat Tita bingung, mematikan atau mengangkat panggilan dari suaminya. Tita memang sudah sedikit menerima perlakuan Kennan beberapa hari lalu, namun dirinya bingung untuk memulai percakapan.
Memang tadi siang dirinya sudah berjanji pada Bunda Vida untuk segera mengakhiri mode jaga jaraknya dengan Kennan, namun tidak malam ini dan tidak melalui ponsel. Tita ingin menyelesaikannya besok dengan bertemu langsung agar semuanya jelas tanpa ada kesalahpahaman lagi.
Setelah menimbang beberapa saat, Tita memutuskan mengangkat panggilan dari Kennan suaminya.
"Hallo....Assalamualaikum Ta...", suara Kennan dari seberang telepon terdengar pada gendang telinga Tita.
"Wa'alaikumsalam Bang....ngapain malem - malem telfon?!", tanya Tita canggung, hatinya berdetak dua kali lebih cepat sekarang.
Terdengar hembusan nafas panjang dari seberang telefon.
"Belum tidur Ta.....?!", Kennan memilih mengabaikan pertanyaan isterinya.
"Kebangun, gara - gara Abang", bohong Tita. Padahal dirinya tadi masih asyik menekuri novelnya.
"Oh....maaf, udah bikin lo kebangun", ucap Kennan dengan nada menyesal karena telah membangunkan Tita dari tidurnya.
"Hemm", Tita.
"Ta..."
Tidak ada sahutan dari Tita.
"Tita...", Kennan menjeda ucapannya untuk menunggu Tita bersuara.
Setelah menunggu beberapa detik tidak ada sahutan dari seberang telfon, "Elo masih ada kan, masih dengerin gue kan....?!", ucap Kennan dengan memandang ponselnya untuk memastikan bahwa dirinya masih terhubung dengan Tita.
"Masih bang....Tita masih dengerin", sahut Tita pelan. Entah mengapa Tita merasa canggung saat ini.
"Ohh....kirain lo udah putusin panggilan gue", ucap Kennan lega.
__ADS_1
Tita membiarkan saja ucapan Kennan tanpa ada niatan untuk menjawabnya.
"Ta....kok diem seh.....lo gak pengen ngomong sama gue gitu", Kennan bertanya sedikit sesak karena merasa terabaikan.
Lagi Tita tidak menyahuti Kennan.
Ternyata begini rasanya waktu gue mengabaikan lo Ta.....?! Kennan berucap dalam hati. Gue benci rasa ini Ta..... nyesek banget....., Kennan meremas dadanya yang tetiba terasa nyeri.
Tak berselang lama Kennan terkekeh kecil dengan dada yang menyesak.
"Kenapa abang ketawa....?", Tanya Tita setelah gendang telinganya menangkap kekehan Kennan.
"Heh", kaget Kennan saat menyadari Tita bersuara setelah mendengar kekehannya.
"Gak papa....liat film lucu", sahut Kennan asal. Padahal saat ini Kennan sedang tidak menonton apapun karena dirinya sedang duduk dan menyenderkan punggungnya pada kepala ranjang di apartemennya.
"Oh...abang lagi nonton film?"
"Ya", bohong Kennan.
"Abang gak ngantuk....?"
"Gak....elo ngantuk?" Kennan balik bertanya.
"Dikit". Tita tidak bohong, entah mengapa dirinya merasakan kelopak matanya memberat sekarang.
"Temenin gue ngobrol bentar....gue gak bisa tidur", pinta Kennan pada Tita.
Tita mendesah pelan, bukan karena Tita tidak suka ngobrol dengan Kennan, hanya saja dirinya merasa canggung dan juga bingung.
Sejujurnya dari dalam hatinya Tita merindukan suara cowok yang telah sah menjadi suaminya itu, namun Tita malu mengakuinya. Apalagi menurut Tita Kennan tidak mencintainya jadi Tita memilih memendam rasa itu sendiri.
"Kenapa....Elo gak mau nemenin gue ngobrol?!" Tanya Kennan lesu setelah mendengar Tita mendesah.
"Eh enggak....bukan begitu Bang. Hanya saja....Tita sedikit lelah, ngantuk juga". Tita menjawab sambil membaringkan tubuhnya pada ranjang. Tita memposisikan tubuhnya miring ke kanan dan meletakkan ponselnya di atas telinga.
"Begitu ya....". Kennan.
"Temenin gue....sampek lo tidur, jangan dimatiin HPnya", Titah Kennan pada isterinya.
"Hemm". Tita.
"Ta...."
"Hem"
"Gue....kangen", ucap Kennan pelan.
"Hmm"
"Kok cuma hem seh....elo gak kangen sama gue...?!", Kennan bertanya sambil mengganti posisinya rebahan di kasur empuknya.
"Ta....elo gak kangen sama gue?!", Kennan mengulang pertanyaannya.
"Hem"
"Ta..."
"Iya Bang...Tita juga", Sahut Tita dengan suara pelan tanpa menyadari ucapannya, karena matanya sudah sangat tidak bisa diajak kompromi.
"Beneran....?!", Kennan memastikan dirinya tidak salah dengar
"Iya", lirih Tita.
"Kalo gitu gue jemput ya...", Kennan berucap dengan semangat 45.
"Hem" Suara Tita terdengar semakin lirih namun masih terdengar oleh Kennan.
Spoiler next part :
"Aaaaaaa......", Teriakan Tita menggema di kamarnya.
π¨π¨π¨π¨
Like
Vote
Komen
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ
Ilustrasi Kennan n Tita yang saling bersua via udara.
__ADS_1