Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
117. Morning Sick or Masuk Angin??


__ADS_3

Masih dengan mata terpejam Kennan menggerakkan tangannya untuk meraba ranjang di sisinya, namun dirinya tidak menemukan tubuh isterinya di sana.


Perlahan kennan mengerjapkan mata, berusaha untuk membuka mata secara sempurna. Dengan mata yang masih sedikit memincing Kennan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 05.00 pagi.


"Kok Tita gak bangunin gue sih", gumam Kennan lirih masih dengan posisi tidur di ranjang.


Sesaat Kennan menunggu nyawanya terkumpul dengan sempurna untuk segera bangun dan melakukan rutinitas paginya.


Hoek.... hoek....hoek....


Suara orang sedang muntah terdengar di telinga Kennan, dan sudah dapat dipastikan itu adalah suara Tita isterinya.


Siapa lagi penghuni apartment Kennan kalau bukan dirinya dan Tita, gak mungkin mbak kunti nginep kan....


Kennan sedikit menegakkan tubuhnya untuk memastikan pendengarannya.



Setelah merasa yakin bahwa apa yang didengarkan olehnya tidak salah, kennan dengan gegas beranjak menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


Tanpa mengetuk pintu Kennan langsung membuka pintu kamar mandi, dan mendapati Tita sedang berdiri menunduk di depan wastafel. Terlihat berusaha mengeluarkan cairan dari dalam mulutnya.


"Kenapa Dek??", Kennan bertanya dengan khawatir sambil berjalan mendekati Tita.


Tita mengibaskan tangan kiri memberi tanda pada Kennan agar tidak mendekat padanya, namun hal itu diabaikan oleh Kennan.


Kennan tetap mendekat lalu mengulurkan tangan untuk memberikan pijatan pelan pada belakang leher Tita seperti yang Mbok Darmi lakukan pada Tita saat mengalami muntah di kediaman keluarga Atmadja beberapa waktu lalu.


"Udah... Abang keluar aja, bau ini....", Tita menegakkan tubuhnya dengan mengibaskan telapak tangan di depan wajahnya.


Tak ada sahutan dari mulut Kennan, suami dari Tita Andriana itu masih memberikan pijitan dengan sesekali mengelus belakang leher Tita sambil memandang penuh khawatir pada isterinya yang sesekali masih terlihat tercekat seperti menahan pahit dan mual dalam perutnya.


Tita membuka keran air pada wastafel untuk berkumur .


Kennan menghentikan pijatan pada belakang leher Tita, beralih mengusap ujung bibir bahkan mulut Tita yang menyisakan bekas muntahan, kemudian meraih handuk kecil yang berada di kamar mandi.


Dengan lembut Kennan mengusapkan handuk kecil tersebut pada sekitar mulut Tita, kemudian membersihkan kedua tangan Tita yang masih basah.


Tubuh Tita mematung mendapat perlakuan lembut itu dari suaminya, dirinya tidak menyangka Kennan akan memberikan perhatian yang begitu lembut padanya. Apalagi Kennan melakukannya tanpa merasa jijik dengan bekas muntahan isterinya.


Hap


Kennan membopong tubuh Tita keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan isterinya dan melempar handuk kecilnya asal.


Dengan hati - hati Kennan merebahkan tubuh isterinya di atas ranjang, dengan menempatkan dua bantal yang ditumpuk pada belakang kepala Tita. Dan Kennan pun mendudukkan diri pada tepi ranjang.


"Kenapa gak bangunin gue...?", Kennan bertanya dengan menatap Tita lembut tak lupa dirinya menyibak helaian anak rambut setengah basah akibat keringat yang membasahi saat muntah tadi dengan tangan kanannya. Sedang tangan kirinya mengenggam erat telapak tangan Tita.


"Tita gak papa kok Bang"


"Gak papa gimana, orang muntah sampek pucet gini masih bilang gak papa". Raut wajah Kennan yang semula lembut berubah geram, karena Tita mengabaikan kesehatan tubuhnya sendiri.


"Kalau sampek pingsan di kamar mandi gimana.... Lain kali kalau ngerasa sakit, apapun itu, gatel sekalipun bilang sama gue...", tegas Kennan pada Tita.


Tita pun tersenyum geli saat mendengar kata gatel sekalipun.


"Emang kalau gatel.... Abang mau garukin gitu"


"Iyalah", Kennan.


"Ck.... Abang lebay, kek Tita gak punya tangan wae"


"Dekk...", Kennan berucap penuh dengan penekanan.


"Iya... iya... besok lagi Tita ngomong sama Abang", masih dengan tersenyum geli.


"Kenapa bisa kek gini...", tanya Kennan dengan jempol tangan mengusap punggung tangan Tita perlahan.


"Gak tau, tadi habis sholat shubuh tiba - tiba perut Tita mual terus muntah", jelas Tita.


"Ada salah makan kah?"


Tita mengerutkan dahi mengingat sesuatu, kemudian menggeleng.


"Keknya enggak. Tita juga gak tau kenapa, palingan masuk angin...", jawab Tita meski dirinya tidak sepenuhnya yakin.

__ADS_1


"Masih berasa mual?"


"Dikit"


"Gue bikinan teh hangat ya..."


Tita mengangguk mengiyakan.


Beberapa saat setelahnya.


"Nih minum, biar mualnya ilang", Kennan menyodorkan secangkir teh hangat pada isterinya.


Titapun mengulurkan tangan untuk menerima cangkir teh hangat dari Kennan.


"Lepasin Bang... biar Tita minum dewe", ucap Tita pada Kennan karena tangan suaminya itu masih ikut memegang cangkirnya.


"Biar gue bantuin pegang gelasnya, elo tinggal minum wae"


"Tita bisa sendiri Bang"


"Minum aja, gue yang pegangin", keukeuh Kennan.


"Abang isshh"


"Udah minum"


Mau tak mau Tita pun meminum teh hangatnya dengan Kennan yang memegang gelas tersebut.


"Udah kek nenek - nenek jompo wae", omel Tita setelah selesai minum teh hangatnya.


"Dikasih perhatian, malah ngomel wae sih Dek..."


"Abang berlebihan...", Tita mengerucutkan bibirnya.


Kennan terkekeh.


"Masih pagi jangan bikin gue makan elo", Kennan menguncup bibir isterinya, hingga membuat Tita menepis tangan Kennan sedikit kesal.


Tak tahu apa perhatian Abang itu bikin jantung Tita gak berhenti disko ini.... Tita membatin.


Kennan beranjak dari ranjang setelah mendapat anggukan dari Tita.


Setelah Kennan menyelesaikan aktivitas paginya, Kennan kembali mendekati Tita yang terlihat sedang memejamkan matanya dengan tangan kanan menumpu pada dahinya.


Kennan menyentuh tangan Tita pelan, "Dek


"Hem", sahut Tita masih dengan mata terpejam.


"Buka mata bentar"


"Apa?", Tanya Tita dengan menggeser lengan tangan kanannya dari dahi.


"Gue mau beli sarapan, elo mau apa?"


Tita mengerutkan dahi untuk berfikir.


"Nasi gandul anget - anget enak keknya ya Bang..."


"Pagi gak ada lah Dek, adanya malem itu"


Bibir Tita mengerucut, "Tapi Tita pengen itu Bang..."


"Gak ada Dek"


"Kalau Tita maunya itu gimana?", ucap Tita dengan kesal.


"Ntar malem, gue janji ajakin lo beli. Sekarang yang lain ya sayang....", Kennan berucap dengan membelai pipi Tita.


Tita menghela nafas pendek.


"Ya udah....gudeg wae tapi pakek bubur aja jangan pakek nasi, terus kuah ayamnya dibanyakin ya Bang. Bilang sama Bu Nani kalau itu pesenan Tita, beliau sudah hapal selera Tita"


(Bu Nani adalah penjual gudeg di sekitar apartemen, beliau berjualan setiap pagi hari)


"Good girl, gue tinggal bentar ya...."

__ADS_1


"Iya"


"Bang.... uangnya...", seru Tita saat Kennan hampir keluar dari pintu kamar.


"Gue masih ada", sahutnya setelah sedikit menoleh kemudian beranjak meninggalkan kamar.


...🍭🍭🍭🍭...


"Loh Dek... kok pakek seragam??", tanya Kennan dengan dahi berkerut saat Kennan memanggil Tita di kamar, hendak mengajaknya makan pagi.


Tita yang sedang memasukkan buku - buku ke dalam tas punggung menoleh ke arah Kennan yang sudah berdiri di dekatnya.


"Emang jadwal sekolah kan Bang, gak libur ini", Tita menutup resleting tas punggungnya.


"Tapikan elo sakit"


"Udah baikan Bang, lagian hari ini Tita ada ulangan"


"Izin aja Dek.... ulangannya nyusul"


"Gak papa Abaang.... Tita udah baik - baik aja. Bener!", Tita memastikan saat Kennan masih memandangnya tak percaya.


"Ya udah sarapan gih, sini gue bawain tas nya", Kennan akhirnya mengalah kemudian meraih tas sekolah Tita dan membawa tas miliknya sekalian.


...🍭🍭🍭🍭...


Heh....


Bekali - kali Kennan mendesah saat mengikuti mata pelajaran kimia hari ini. Berulang kali Kennan melihat jam pada pergelangan tangan kirinya, seakan hari ini berjalan sangat lambat menurutnya.


Kennan gelisah, tidak bisa tenang memikirkan kondisi Tita isterinya yang kekeh untuk masuk sekolah, meski wajahnya masih terlihat pucat menurut Kennan.


Bahkan seperti biasa... pagi tadipun Tita kekeh untuk diturunkan di perempatan, tempat biasa dimana isteri Kennan itu turun. Padahal Kennan sudah berusaha memaksanya untuk turun bareng di parkiran sekolah.


Tita lebih memilih memberikan ciuman bibir pada suaminya, saat Kennan memberikan pilihan untuk ikut masuk bareng ke sekolah dan turun di parkiran atau memberikan ciuman pada Kennan.


Bahkan isteri polos yang baru semalam diberi les privat untuk membalas ciumannnya itu, pagi tadi sudah mampu membalas dan mengimbangi ciuman Kennan yang membuat Kennan harus mengumpat di dalam hati akibat juniornya yang memberontak di bawah sana.


"Lo kenapa seh Ken", Bima berbisik di dekat telinga Kennan karena merasa teman sebangkunya itu tidak berhenti bergerak, terlihat gelisah menurutnya.


"Gak papa", Kennan berucap sedatar mungkin agar tidak membuat Bima curiga.


"Gerak mulu, kek gelisah lo... ada yang lo pikirin?"


Kennan menggeleng, tidak mungkin dirinya bercerita tentang kekhawatirannya pada Tita.


Ting


Bunyi notifikasi dari ponsel Kennan berbunyi.


Buru - buru Kennan meraih benda pipih itu dari saku seragam lalu membuka aplikasi chatnya.


Pak Ustad


Tita pingsan, dia di UKS sekarang


"Gue ke toilet", pamit Kennan pada Bima dengan tergesa setelah guru mata pelajaran kimia keluar dari kelasnya.


🍨🍨🍨🍨


Nasi gandul atau sego gandul adalah masakan khas dari Pati Jawa Tengah, sepintas mirip demur daging dan gulai.


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2