
Tita pun segera membuka aplikasi chat berwarna hijau saat benda pipih pintar itu berada di dalam genggaman tangannya.
Kemudian menunjukkan du depan wajah Kennan saat telah membuka chatnya dengan Kennan.
Chat itu menunjukkan obrolan terakhir mereka saat malam kemarin. Tidak ada tanda tanda obrolan baru untuk hari ini.
Kening Kennan kembali mengerut, seolah mengingat sesuatu saat kedua matanya melihat ruang obrolan itu tidak meninggalkan jejak untuk hari ini.
"Abang juga nggak telfon Tita sama sekali."
Tita dengan menggeser layar pada riwayat panggilan mereka. Di sana pun tidak ada jejak panggilan darinya.
"Gue emang nggak telfon dek, tapi perasaan gue..." Kennan menjeda ucapannya sesaat, berusaha mengingat kejadian siang tadi.
"Gue beneran nulis deh..." Kennan dengan segera menegakkan tubuh, membenahi duduknya dengan merogoh saku celananya. Dimana ponsel pintarnya berada.
Lalu Kennan mengusap layar ponsel pintarnya. Membuka chatnya dengan sang isteri.
Sedetik kemudian Kennan menyunggingkan senyum pada bibir tebalnya.
"Ngapain senyum gak jelas gitu?" Tita menyelidik dengan masih menunjukkan raut wajah kesalnya.
Kennan tak bergeming, masih tetap dengan ekspresinya dan tanpa memutus pandangan dari layar ponsel pintarnya.
"Bang..."
Sentak Tita pelan, namun tetap membuat Kennan mendongak.
Hehehe....
Kennan dengan kekeh kecil menunjukkan layar ponsel pintarnya ke depan wajah sang isteri.
"Sepertinya paket data gue habis."
Tita memandang lurus pada layar ponsel pintar sang suami.
Di sana memang menunjukkan deretan chat yang dikirimkan sang suami pada untuknya dan masih menunjukkan keterangan bahwa obrolan itu belum terkirim.
Beberapa saat keduanya sama sama terdiam, lalu...
"Masih marah sama gue?" Kennan dengan nada menggoda Tita.
Tita pun menunduk malu, lalu meremas ujung bajunya untuk menghindari godaan sang suami.
"Masih marah nggak?" Kennan dengan memajukan wajah tepat di bawah wajah Tita.
Tita menggigit bibir bawahnya, semburat merah merebak pada kekarena malu memenuhi wajahnya saat ini.
"Hey... jawab dong dek." Kennan semakin mengikis jarak wajahnya. Menggoda Tita adalah kesenangan baginya.
"Abang iih..." Tita menjauhkan wajahnya, menghindar.
Membuat Kennan semakin gencar menggoda dan merapatkan jarak keduanya.
Hingga akhirnya tubuh Tita pun ambruk ke atas ranjang karena Kennan semakin mendesak tubuh Tita kuat.
Heh... heh...
Tita terlentang dengan terengah di atas ranjang, disertai dengan tawa geli karena Kennan menindih dan menggelitik tubuhnya.
"Abbaangg... udah." Tita berusaha mendorong tubuh Kennan dengan kedua tangannya.
Tubuh kekar itu tidak bergeming, malah semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh ramping di bawahnya dengan tidak berhenti menggoda dan menggelitik sang isteri.
"Bang geli."
__ADS_1
"Makanya jawab... masih marah nggak sama gue?!"
"Iya... iya... enggak..." Tita masih dengan menggelinjang kegelian.
"Iya enggak gimana sih dek..."
"Enggak... Tita udah enggak marah sama abang..." Tita berseru.
"Nah gitu dong. Kalau ngomong yang pasti pasti aja, jangan ngambang."
Kennan pun segera menghentikan aksinya menggelitiki tubuh sang isteri. Namun tubuh kekarnya masih setia di atas sana.
"Abang turun..." Tita dengan terengah.
"Nggak mau." sahut Kennan cepat.
"Berat ini..." Tita berusaha menyingkap tubuh kekar yang menindihnya.
"Biasanya juga enggak..." Kennan dengan seenaknya, membuat bibir mungil Tita mengerucut.
"Udah dibilangin jangan kek gini jugak masih aja kebiasaan..." Kennan dengan menjepit bibir monyong Tita dengan jemarinya.
"Ee... sakit bang..." rengek Tita setelah berhasil melepaskan jepitan jemari Kennan dari bibirnya.
Cup...
Kennan mencium bibir Tita hingga sekuat detik, kemudian melepaskannya sembari tersenyum.
"Hilang kan sakitnya..."
"Selalu saja nyuri kesempatan..." Tita pura pura kesal.
"Gue nggak nyuri kesempatan tapi bikin peluang."
Seketika kening Tita mengerut.
"Bikin peluang buat bikin dedek bayi..." Kennan dengan berbisik tepat di daun telinga Tita. Diiringi dengan bibir tebalnya yang segera merayap dan mencecapnya.
Dengan bibir yang tetap merapat, bergeser perlahan menyusuri leher serta wajah cantik Tita untuk menikmati malam panjang mereka.
"Bang... Tita capek." lirih Tita,dengan berusaha menahan gairah yang mulai merayapi tubuhnya.
Kennan pun sedikit merenggangkan wajahnya.
"Banget?" tanyanya penuh perhatian.
Tita memberi isyarat dengan menganggukkan kepalanya.
Kennan pun mendesah, menelisik wajah di bawahnya sembari menyibak helaian anak rambut yang mengurai di wajah Tita.
"Beneran capek atau masih kesel?"
"Capek bang."
"Nggak bohong?" Kennan seperti tidak yakin dengan jawaban Tita.
"Enggak." Tita dengan gelengan kepala.
"Tita beneran capek pakek banget." yakin Tita.
Kennan menurunkan tubuhnya dari menindih tubuh ramping sang istri. Memposisikan berbaring di sisi Tita dengan menyamping, tetap merengkuhnya.
Tangan kirinya menopang kepala.
"Emangnya tadi ngapain aja?" tanya Kennan lembut dengan tangan kanan yang mengusap punggung sang isteri serta sorot mata yang mengunci.
__ADS_1
"Nggak ngapa ngapain."
"Terus yang bikin lo capek?"
"Nggak tau." Tita menggedikkan bahu.
Tita memang merasakan tubuhnya sangat lelah hari ini padahal dia tidak melakukan aktivitas fisik. Selama di sekolah pun sebenarnya tidak ada aktivitas olahraga maupun yang lainnya. Hanya mengikuti pelajaran yang sedikit membosankan. Tapi entah mengapa rasa lelah seolah menumpuk di pundaknya.
Kennan menghembuskan nafas pendek. Tangan kanannya bergerak, berpindah menyibak surai hitam yang terurai ke wajah sang isteri lalu menyisipkannya ke belakang telinga.
"Elo lelah karena mikirin gue yang nggak tau pergi kemana kali dek..." Pandangan Kennan dengan mengunci wajah Tita.
Tita yang semula memandang lurus ke pun sedikit menoleh ke arah sang suami.
Sesaat Tita terpaku pada mata elang yang menatapnya teduh tersebut.
"Mungkin." aku Tita dengan sedikit kelat.
Kennan menyunggingkan senyum pada bibir tebalnya.
"Elo takut gue ngapain, balap motor?"
"Enggak." Tita dengan gelengan kepala.
"Terus??" Kennan dengan tatapan wajah menyelidik.
"Entahlah... takut aja. Takut abang ngapa ngapain gitu."
Kennan sedikit memundurkan wajahnya dengan kening yang mengerut.
"Ngapa ngapain gimana sih dek..."
"Entahlah... Tita nggak tau bilangnya." Tita memilih menutupi pemikiran negatifnya pada sang suami.
Sedetik kemudian.
"Gue tau sekarang." Kennan.
"Apa?"
"Elo takut kan kalau gue..." Kennan sengaja menggantung kalimatnya.
"Apa?" Tita.
"Takut kalau gue kencan sama cewek lain kan..." Kennan dengan nada menggoda.
"Enggak!" Tita cepat.
Meski dalam hati Tita membenarkan tebakan Kennan namun Tita tidak ingin mengungkapkannya.
"Halah ngaku aja." Kennan dengan kekeh menggoda.
"Enggak, Tita nggak bakal cem..."
Belum selesai Tita mengucap kalimatnya, Kennan segera menyambar bibir sang isteri.
Sesaat keduanya saling menikmati, tenggelam dalam rasa dan gairah.
"Bang..." Tita segera melepas ciuman Kennan serta menahan tangan kekar sang suami yang menyusup di balik dres rumahan yang dipakainya.
"Baiklah... peluk aja." Kennan seolah mengerti arti ungkapan sang isteri.
"Tita beneran capek." ucap Tita selembut mungkin.
"Iya." Kennan segera merengkuh tubuh Tita memeluknya erat. Membawa tempurung kepala Tita tepat menempel dadanya.
__ADS_1
Tita pun membalas memeluk tubuh sang suami, menyingkirkan segala prasangka negatif di hatinya untuk Kennan.
ππππ