Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
216. Resah


__ADS_3

Kennan duduk termenung di balik meja belajarnya dengan dagu yang menopang pada kedua tangannya yang bertautan. Resah gelisah mendera hatinya.


Merasa otaknya ruwet memikirkan bagaimana cara memberitahu Tita jika dirinya berteman baik dengan kakak lelakinya yaitu Satya.


Kennan bingung untuk memulai kata, memberitahu Tita jika dia dan Satya adalah teman dalam geng motor yang sama. Kennan takut jika dia mengungkapkannya, Tita pasti akan menginterogasinya lebih dalam.


Meskipun Tita selama ini tidak pernah berani untuk marah yang berlebihan kepadanya dan selalu menurut kepadanya, nyatanya saat ini ketakutan melanda hati Kennan.


Kennan takut jika Tita mengetahui kebenarannya, gadis polos dan penurut itu akan kembali mendiamkannya. Kennan tidak ingin hal itu terjadi lagi, apalagi baru saja semalam mereka kembali dekat setelah seminggu yang lalu Kennan mengabaikan gadis itu.


Sedetik pun tanpa menyentuh gadis itu membuat Kennan harus mengerang menahan frustrasi. Sungguh Kennan berjuang sangat keras untuk melalui harinya tanpa bersentuhan dan berinteraksi dengan gadis polos bergelar isterinya tersebut.


Bahkan seujung kuku pun Kennan tidak pernah berani membayangkan jika dirinya hidup tanpa Tita, pastinya Kennan tidak akan pernah sanggup menjalani harinya.


Kennan menghembuskan nafas berat, memijit pelipisnya kemudian berganti mengacak belakang rambutnya dengan mengerang frustrasi saat bayangan wajah Tita kemudian Satya silih berhenti berkelebat di pelupuk mata Kennan.


Kennan menghirup oksigen dalam lalu membuangnya perlahan. Kemudian mengulurkan tangan membuka laci meja belajarnya yang paling atas dan merogohnya lebih dalam.


Kennan meraih sebuah buku yang telah disimpannya sangat lama lalu menaruhnya di atas meja. Sesaat hanya memandangi buku tulis yang memiliki cover tokoh kartun doraemon tersebut cukup lama.


Buku itu memang biasa saja, bahkan tidak memiliki arti bagi Kennan. Namun di dalam sana diantara lembaran buku yang tak memiliki arti tersebut, Kennan menyimpan beberapa lembar foto kebersamaannya dengan Satya sahabatnya.


Dengan sedikit rasa ragu yang menyelimuti hatinya, jemari Kennan perlahan membuka buku tersebut dan meraih lembaran foto masa lalunya bersama kakak lelaki Tita.


Lagi Kennan menghirup oksigen dalam setiap kali mengulik lembaran foto di tangannya tersebut. Rasa kehilangan akan sahabat baiknya membuat Kennan harus menjeda aksinya dalam membuka lembaran lembaran foto tersebut.


Kennan menggembungkan kedua pipinya untuk menahan sesak yang tiba tiba memenuhi rongga dadanya ketika rasa bersalah menyergap ruang hatinya.


"Sorry Sat... karena gue, adek lo harus tinggal di panti asuhan." gumam Kennan menunduk dengan jemari mengusap gambar pada salah satu foto yang dipegangnya.


"Gue janji bakalan jagain dia dengan segenap jiwa raga gue..." Jemari Kennan dengan tidak berhenti mengusap pada gambar Satya.


"Bang..."


Tanpa Kennan sadari Tita telah berdiri selangkah di dekatnya, membuat nya tergagap dan dengan segera memasukkan lembaran foto yang dipegangnya ke dalam lipatan buku di atas meja.


"Ngagetin wae sih dek..." Kennan gugup dengan mendongakkan kepalanya, menoleh ke arah Tita yang berdiri di sampingnya.


"Hehehe... maaf. Sebenernya Tita udah manggil abang pas masuk kamar, tapi abang kek lagi asyik liatin itu foto. Makanya abang nggak menyadari kedatangan Tita." Tita menggerakkan manik hitamnya, menunjuk buku yang ditindih Kennan dengan tangannya. Seolah Kennan ingin menutupinya dari Tita.


Kennan terhenyak.

__ADS_1


"Elo liat foto yang gue pegang tadi?" Kennan bertanya khawatir. Takut jika Tita mengenali jika gambar di dalam foto ada gambar dirinya dan kakak lelakinya.


"Sedikit." Tita tersenyum.


Kennan menghembuskan nafas lega, berarti kemungkinan Tita mengenali gambar dalam foto tersebut sangat kecil.


Semoga saja dia nggak lihat dengan benar... batin Kennan menutupi ketakutannya.


"Bang..."


"Apa?"


"Ngapain fotonya diumpetin sih?"


"Ah... enggak siapa yang ngumpetin." Kennan kembali gugup, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.


"Tita liat kok waktu abang buru buru masukin foto itu ke dalam buku tadi."


Hek.


Kennan menekan salivanya kelat. Dalam hati merutuki kecerobohannya.


"Eng_ggak ggue umpetin dekk... emang tempatnya di situ kok." Kennan memberi alasan dengan tanpa menggeser kedua tangannya yang berada di atas buku, perasaan gugup dan cemas melanda hatinya kini.


"Lagian nggak mungkin kan kalau Tita cemburu suami berfoto liburan sama kakak Tita sendiri." Tita dengan melirik sekilas ke arah sang suami.


Kennan memperlebar kedua bola matanya setelah mendengar penuturan sang isteri. Bagaimana gadis itu tahu jika foto itu ada dirinya dan kakak lelaki isterinya.


"Dek bukane lo tadi bilang...." Kennan menggantung ucapannya. Otaknya mencoba menerka kemungkinan kalau isterinya mengetahui gambar dalam foto.


"Iya tadi cuma lihat dikit, tapi Tita udah pernah lihat sepenuhnya pas beresin meja belajar abang." Tita seolah mengerti akan maksud sang suami.


Kedua mata Kennan pun membulat sempurna dengan mulut yang menganga.


"Kapan?"


"Udah lama. Keknya pas waktu awal awal Tita pindah ke sini deh..." ucap Tita seolah mengingat.


"Jadi elo..."


Tita mengangguk.

__ADS_1


Set...


Brek.


Kennan segera menarik pergelangan tangan Tita, hingga gadis itu terduduk di atas pangkuannya.


"Jelasin sama gue..." Kennan dengan tatapan menuntut pada sang isterinya.


"Jjelasin apa..." Tita bingung bercampur gugup.


"Kenapa lo selama ini diem wae gak pernah nyinggung soal Satya sama gue..." Kennan dengan melingkarkan kedua tangan pada pinggangnya ramping sang isteri.


"Kata siapa Tita diem... Tita sering kok nyinggung, abang aja yang gak mau terbuka sama Tita."


"Kapan lo ngomong?" Kennan terlihat mengerutkan kening.


"Sering. Abang inget inget deh." Tita dengan bibir dimajukan, terlihat kesal.


"Nggak ada,gue nggak pernah ngerasa." Kennan tetap saja tidak pernah merasa isterinya itu menyinggung tentang Satya.


"Sering bang... Tita sering nyinggung soal balapan motor, juga soal Kak Satya yang kecelakaan karena balapan liar tapi abang nggak pernah cerita lebih sama Tita. Abang selalu berhenti kalau Tita ngomongin itu."


"Sorry...." Kennan menyahut dengan cepat.


"Gue gak tau kalau kakak lo yang lo ceritain itu temen gue. Tiap kali lo cerita tentang itu, gue juga inget kecelakaan itu. Lagian gue nggak mau lo marah sama gue kalau gue jujur gue pernah ikut dalam geng motor." Kennan dengan menunduk.


"Tita cuma nggak ingin kalau abang memiliki nasib kek kakak Tita, Tita nggak mau kehilangan lagi. Sendiri itu nggak enak bang... sakit." Tita dengan nada sendu dengan meletakkan telapak tangan di dada kirinya.


Deg.


Jantung Kennan kembali berdetak kencang saat mendengarnya. Gadis di pangkuannya itu pasti kembali merasakan sesaknya hidup sendiri Karena ditinggalkan oleh keluarganya.


Lantas bagaimana reaksi Tita jika dirinya menyampaikan kebenaran tentang kejadian kecelakaan itu pada sang isteri.


Jika dirinya mengungkapkan kebenarannya sekarang, apakah isterinya akan menyalahkannya? Apakah dia akan memaafkannya ataukah memilih meninggalkannya?


✍🏻✍🏻✍🏻✍🏻


Bonus pict... Bang Kenn lagi resah gelisah....


❀❀❀❀

__ADS_1



__ADS_2