
Hai ... Hai ... Hellowww ...
Othor come back nih, up dikit n masih selow update yakk ...ππ»ππ»ππ»
π»π»π»
"Emban lo kemarin kemana?" tanya Hani dengan wajah dibuat sedatar mungkin saat mereka bertemu di depan toilet sekolah.
Wajah Tita terlihat kaget, namun buru - buru dirinya menormalkannya kembali.
"Nggak kemana - mana, emban kerja. Kenapa emangnya?" tanya Tita senormal mungkin dengan menutupi kegugupan yang melanda dirinya.
"Yakin lo kerja?" Hani bertanya penuh selidik dengan bersidekap dada.
"I_iyalah yakin incess ..." Tita meyakinkan dengan memberikan senyum manisnya.
"Elo gak bohongin gue kan?!" Hani menatap Tita dengan pandangan yang sulit diartikan.
Tita menggeleng sedikit ragu. "Enggaklah ... ngapain emban bohong, gak guna juga kan."
Hani mengambil nafas panjang dengan memejamkan mata sesaat. Dirinya tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabat yang selama ini dikenalnya selalu jujur itu, tega membohonginya.
Iya ... Hani kemarin memergoki Tita sedang jalan berdua dengan Kennan, bahkan interaksi keduanya terlihat sangat intim. Hani pun sempat mengabadikan kedekatan mereka dengan memfoto melalui ponsel pintarnya.
"Ta ..." Hani menyebut nama sahabatnya, tidak lagi menyebutnya emban sebagaimana biasanya.
Tita mendongak. "Iya"
"Elo gak pengen ngomong jujur sama gue?!" Hani berusaha memberikan sahabatnya kesempatan untuk jujur.
Tita menautkan kedua alis matanya. "Maksud Incess ... jujur tentang apa?"
Lagi Hani menghirup oksigen banyak - banyak untuk menghilangkan sesak di hatinya, saat melihat Tita tidak berkeinginan untuk berbicara jujur padanya.
"Elo kemarin pergi ke mana?" Hani memandang Tita intens.
Hek.
Tenggorokan Tita tercekat. Di dalam hati bertanya, apakah Hani sahabatnya mengetahui jika dirinya kemarin jalan - jalan di mall bareng Kennan suaminya. Tapi itu tidak mungkin ... jika Hani melihatnya, pasti sahabatnya itu langsung menemuinya. Tidak mungkin hanya memendam rasa penasarannya.
"Tita kerja incess ... gak kemana - mana." Tita memilih melanjutkan kebohongannya dengan berusaha memberikan jawaban yang meyakinkan kepada sahabatnya tersebut.
"Yakin lo kerja ... gak ngemall?" Hani tersengih dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya.
Tita mengangguk ragu, lalu setelahnya menundukkan kepala untuk menutupi kebohongannya.
Ada rasa bersalah bersarang pada relung hatinya karena telah membohongi sahabat baiknya tersebut.
Mau bagaimana lagi ... Tita tidak ingin persahabatannya dengan Hani berakhir jika dirinya harus mengakui bahwa Kennan yang notabene disukai oleh sahabatnya itu telah menjadi suaminya.
"Ta ... gue udah kasih elo kesempatan buat ngomong jujur ke gue, tapi ...," Hani menjeda sejenak ucapannya untuk menghirup oksigen. "Nyatanya elo lebih memilih untuk bohong sama gue. Gue gak nyangka demi seorang cowok elo tidak menghargai persahabatan kita."
Tita mendongakkan kepala, terkejut mendengar ucapan sahabatnya. "Makksudd incess apa?"
__ADS_1
"Elo kemarin gak kerja kan?! Elo bohongin gue ... elo jalan bareng sama Kennan kan kemarin ....!!"
Glek.
Kedua bola mata Tita terbuka lebar. Kedua telapak tangannya bahkan menyatu menutupi mulutnya yang terbuka setelah mendengar ucapan Hani, sahabatnya.
"Gue udah kasih elo kesempatan buat lo ngomong jujur ke gue, nyatanya elo memilih bohongin gue!" Hani berucap kata dengan nafas yang menderu.
"Incess ... bukkan mak ksud emban ...." Tita tergagap sembari mengibaskan kedua telapak tangannya.
Hani merogoh ponsel pintarnya dari saku seragam, kemudian membuka album galeri dan menunjukkannya pada Tita.
Tita semakin membuka lebar kedua matanya, raut wajahnya memucat saat mendapati gambar Kennan sedang merangkulnya dengan mesra bahkan ada gambar yang menunjukkan saat suaminya itu mencubit hidung mbangirnya.
"Incess ... emban bisa jelaskan semuanya."
"Gue udah kasih kesempatan buat lo menjelaskan, nyatanya ... elo lebih memilih bohongin gue." Hani berucap dengan mata yang memerah menahan marah.
Tita hanya mampu menutup mulutnya dengan menggelengkan kepalanya berulang, berharap jika ini bukanlah kenyataan.
"Kek gini lo bilang gak kenal sama Kennan, Munafik lo Ta!!" Hani berucap sinis sembari menggoyangkan ponsel pintarnya di depan wajah Tita.
"Incess ... emban bisa jelasin semuanya." Ucap Tita dengan terisak.
"Gue udah gak butuh penjelasan dari lo. Mulai sekarang kita gak perlu berteman lagi!" Putus Hani lalu meninggalkan Tita.
"Incess ... tunggu!" Tita berseru dengan terisak serta air mata yang mulai meluruh membasahi kedua pipi cabinya.
"Kenapa semua harus berakhir seperti ini?!" lirih Tita dengan sesenggukan.
...πππ...
"Dek ... elo kenapa?!" Kennan berseru, namun gadis yang telah sah menjadi isterinya itu mengabaikannya.
Tita terlihat mempercepat langkahnya dengan berlari kecil hingga semakin menjauh dari pandangan mata Kennan.
"Udah susul sono, dia pasti butuh lo buat cerita. Paling gak butuh lo buat sandaran." Bima mendorong pelan bahu Kennan agar segera menyusul isterinya.
Kennan membalas menepuk bahu sahabatnya pelan. "Tank's Dab ... gue tinggal dulu." ucap Kennan berlari kecil setelah mendapat anggukan dari Bima.
Kennan mempercepat larinya untuk segera menyusul Tita, dirinya sudah tidak sabar untuk mengetahui ada apa gerangan dengan wajahnya yang sembab sepertinya bekas menangis.
Berbagai pertanyaan tercetus di benaknya, dirinya merasa tidak membuat kesalahan ataupun membuat masalah dengan gadis itu.
Pagi tadi pun mereka berdua berangkat sekolah seperti biasa dengan saling ejek dan bercanda, bahkan ciuman pagi pun tidak terlewatkan saat gadis yang bergelar isterinya itu turun di tempat biasa.
"Dek ... tunggu ...." Kennan berseru saat tubuh gadis itu berada hanya beberapa langkah di depannya. Namun sang pemilik nama seakan tidak peduli dengan seruannya, masih terlihat menundukkan kepala tanpa menoleh padanya.
Grep ...
Kennan meraih salah satu lengan tangan Tita dan menariknya menjauh dari koridor sekolah.
Setelah sampai di belakang gedung sekolah yang sepi, Kennan memeluk tubuh ramping Tita yang bergetar terlihat menumpahkan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
__ADS_1
Tidak ada kata maupun tanya dari bibir Kennan. Tubuh kekarnya menangkup tubuh ramping Tita yang terlihat ringkih saat gadis itu menangis terisak dengan sesak. Tangan kirinya mendorong bahu Tita agar membenamkan wajah mungilnya pada dada bidang Kennan. Sedangkan telapak tangan kekar satunya perlahan mengusap punggung yang bergetar itu dengan lembut, seolah memberikan ketenangan pada isterinya.
"Menagislah sepuas lo kalau itu bisa bikin elo lega." ucap Kennan sembari tetap mengusap punggung Tita.
Tita semakin terisak, menempelkan wajah pada dada bidang suaminya berusaha menahan suara tangisnya agar tidak keluar. Kedua tangannya mencengkeram atasan seragam sekolah Kennan untuk menahan suara tangisnya.
Bahkan kini bulir bening yang membasahi pipi Tita ikut membasahi seragam sekolah Kennan.
Setelah beberapa saat tangisnya terpuaskan, Tita mendongak pada Kennan suaminya.
"Ma_af bajju Abbang bassahh." ucap Tita tersendat di sela isak tangisnya.
Kennan menunduk menatap wajah sembab Tita yang masih dibasahi oleh air mata. Kedua ibu jarinya mengusap lembut jejak bulir bening pada wajah isterinya, lalu tersenyum tipis.
"Udah puas nangisnya?" Kennan bertanya dengan lembut.
Tidak ada jawaban dari mulut mungil Tita, melainkan isakan lirih kembali terdengar oleh gendang telinga Kennan.
Kennan pun kembali merengkuh tubuh isterinya, membawa ke dalam dekapan dada bidangnya.
"Dek ... kalau ada masalah ngomong, sebanyak apapun lo nangis gak bakal dapat menyelesaikan masalah. Lo bisa cerita sama gue, siapa tahu gue bisa bantu ... setidaknya dengan lo bercerita, beban di hati lo bakal berkurang." Kennan berucap kata dengan mengelus surai hitam yang tertutup jilbab itu dengan lembut.
"Incess tahu kita kemaren jalan di mall, dia marah sama Tita Bang ...." ucap Tita sesenggukan.
Kening Kennan mengerut.
Incess ... siapa pula itu ..., Kennan bertanya dalam hati.
"Incess ... sahabat Tita satu - satunya marah sama Tita Bang." Tita menjelaskan, seakan - akan ketidakmengertian Kennan.
Oh ... Apakah gadis yang selalu menemaninya itu, terus kenapa marah ... Apakah dia kecewa karena merasa dibohongi?! lagi Kennan bertanya - tanya bingung.
"Mungkin dia kecewa karena lo gak jujur sama dia Dek, biarkan saja dulu. Ntar dia juga bakal nerima alesan lo kok," Kennan menenangkan dengan tak berhenti mengusap punggung Tita, bahkan sesekali Kennan mencium pucuk kepala isterinya.
Tidak semudah itu incess memaafkan Tita Bang, incess suka sama Abang, ucap Tita dalam hati dengan tetap terisak dan membenamkan wajahnya ke dalam dekapan dada bidang suaminya.
Kennan pun tak berhenti mengusap lembut punggung ramping Tita, kali ini membiarkan gadis itu menumpahkan isak tangisnya agar rasa sesak di dadanya mereda.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ
__ADS_1