
Mohon maaf kalau masih banyak typo πππ.
Selamat membaca π€π€π€π€.
πΊπΊπΊπΊ
Pagi ini aku sudah sibuk membuat sarapan untuk ku dan Alvin. Aku hanya memasak nasi goreng dan telur mata sapi. Pas sekali nasi goreng ku siap, Alvin muncul. Kami pun makan bersama. Alvin bertanya rencana ku hari ini, ku bilang tidak ada.
Aku hanya ingin menyiram tanaman. Aku tidak bermimpi Alvin akan mengajak ku pergi ke suatu tempat, mumpung ia sedang libur. Aku sadar diri, siapa lah aku.
Aku mulai menyiram tanaman dengan selang. Ku perhatikan bunga bunga yang cantik ini. Pasti nenek Salma yang telah menanam bunga ini. Tiba tiba ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangku, sontak aku langsung membalikkan tubuh kearah orang itu dengan selang yang siap menjadi senjata ku. Ku semprot orang itu.
"Ampun, ampun." Ujar Alvin.
Ku arahkan selang itu kebawah.
"Ya ampun Vin, kukira orang jahat."
Lagi sih iseng sekali. Mana aku tau kalau itu Alvin. Ia kan tidak biasanya melakukan itu, jadi ini bukan salah ku. Aku kan hanya melindungi diri takut takut orang jahat. Tapi lucu juga melihat ia basah seperti itu. Aku terkekeh kecil.
Sampai tiba-tiba Alvin mengambil semprotan itu dari ku, dan mengarahkan nya kepadaku hingga aku basah.
"Alvin.....kamu apaan sih !." Dengan tangan yang berusaha menghalangi air.
"Lagian kamu duluan."
__ADS_1
"Aku kan tidak sengaja." Akhirnya Alvin menyudahinya, dengan aku yang sudah basah semua.
Aku berjalan ingin masuk, tapi tiba-tiba Alvin menggapai tanganku.
Masih dengan tangan yang memegang tanganku, ia menatap ku lalu ku perhatikan tatapannya mulai turun kearah bawah. Apa apaan, Alvin menatap sesuatu yang berbahaya. Aku langsung menepis tangannya, lalu sedikit berlari masuk.
Apa yang berada dalam pikirannya ? Ia menatap yang seharusnya tidak boleh. Ehhh, sebenarnya boleh sih. Aghhhh, tidak tau lah.
Lagi juga salah ku sendiri sih, ngapain juga pake baju tipis. Tapi kalau tidak basah kan tidak terlalu kelihatan. Mana ku tau kalau bakal jadi seperti ini. Aku kan jadi malu malu ngeri gitu. Kalau seperti ini rasanya ingin menghilang, tidak mau bertemu Alvin. Bagaimana pun juga ia itu lelaki dan terlebih ia itu suamiku. Lama lama berpikir seperti itu, merinding.ππ£
Selesai berganti baju, aku turun kebawah untuk membuat susu coklat hangat. Aku berpapasan dengan Alvin ditangga, untuk kedua kalinya Alvin menatap bagian dada ku. Aku langsung menyilang kan kedua tangan ku tepat di bagian dadaku, sembari menatap nya kesal. Ngeselin banget sih. Aku tidak suka situasi seperti ini. Gimana kalau ku tenggelam kan saja Alvin ? Biar tidak dapat muncul lagi di hadapanku. Tapi... ngak boleh kalau Alvin tiada, jadi janda muda dong π«π«.
Ketika aku sedang menikmati susu hangat sembari terduduk di kursi meja makan, datanglah Alvin yang langsung duduk di kursi hadapan ku.
"Kenapa tatapan kamu tadi seperti itu ?." Lalu meletakkan handphone nya diatas meja.
"Ngeselin gimana ? Saya kan suami kamu, bukannya sah sah saja."
Mau menjawab tapi tidak bisa. Kalau membicarakan hal itu, pasti aku mati kutu. Karena yang dibicarakan Alvin benar. Alvin itu suamiku jadi tidak apa apa mau menatapku seperti apa juga, kami kan sudah sah menjadi suami istri. Tapi kan aku belum siap, seakan aku terhina atau direndahkan lewat tatapan Alvin. Ya beginilah kalau menikah tanpa cinta. Ada saja yang salah. Hal biasa terkadang dibesar besarkan.
Tanpa kata aku bangkit. Berjalan melewati Alvin, tapi aku terhenti gara gara Alvin menggapai tanganku.
"Mulai terbiasa lah akan hal seperti itu." Ujarnya.
Aku melepaskan tangannya, lalu berlalu menuju kamar. Aku berjalan menuju balkon kamar, sejenak menghirup udara agar pikiran ku lebih tenang.
__ADS_1
Kalau saja kamu mencintai ku, dan aku mencintaimu hal seperti itu akan menjadi hal biasa, untuk ku Vin. Aku bahkan akan sewaktu waktu merona. Malu sekaligus suka dengan sikapmu, yang jahil. Justru hal itu malah membuat ku kesal. Aku memang istrimu, tapi aku bukan wanita yang kamu cinta. Bisa bisanya kamu melayangkan tatapan seperti itu padaku. Aku tidak suka. Aku takut, kalau kamu akan berbuat sesuatu yang nantinya akan kamu sesali. Aku ingin kamu melakukan hal hal yang seharusnya memang kamu lakukan, karena cinta bukan karena nafsu atau hal yang lainnya.
Sebuah ketukan pintu terdengar, baru saja ingin melangkah membuka pintu. Pintu terbuka menampakkan sosok Alvin. Alvin masuk, melangkah menghampiri ku.
"Maaf."
"Untuk apa ?." tanya ku
"Melihat hal yang seharusnya tidak saya lihat. Seharusnya saya minta maaf, bukan berkata seperti tadi."
"Tidak apa. Aku mengerti, Vin." Lalu tersenyum tipis.
"Kamu sekarang pasti membenci saya."
"Untuk apa aku membenci mu ? Kamu adalah suamiku, tak apa melakukan hal itu. Walau hal itu tak Ku suka."
"Bertahanlah, Vira. Sampai saatnya kita memang sudah waktunya kembali ke kehidupan masing-masing."
"Iya, Vin." Lalu Alvin pergi.
Β πΊπΊπΊπΊ
Terimakasih dukungannya ππ€π€
Terus dukung author dengan like and comennya ya.ππ
__ADS_1
Β