Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
161. Berat


__ADS_3

Mentari pagi telah menampakkan senyum malu - malu di balik gunung, hingga sorotnya mulai menerobos masuk pada tirai tipis yang menggantung pada jendela kamar Kennan dan Tita.


Cahaya hangat yang menerobos masuk hingga menerpa wajah tampan yang masih bergelung dalam selimut itu seakan tidak mampu mengusik kelelapan mata yang masih saja tertutup rapat tersebut.


Hingga, sebuah jemari lentik meraba pipi sang pangeran tampan keluarga Atmadja itu dengan lembut.


"Bang ... abang bangun." suara merdu dan usapan lembut jemari Tita membuat kedua mata Kennan perlahan mengerjap.


Ahh ... emm ... hoam ...


Nada khas bangun tidur itu terdengar mengiringi tubuh Kennan yang menggeliat.


Bibir Kennan melengkung hingga membentuk busur 180 derajat saat menemukan wajah cantik di depannya.


"Sorry gue ketiduran habis sholat shubuh tadi."


"Iya Tita tau. Abang pasti capek." sahut Tita pun dengan bibir yang tersenyum melengkung sempurna.


Semalam Kennan memang terlihat sibuk berkutat di depan laptopnya. Entah apa yang dikerjakannya, yang pasti jawaban yang di dapat Tita adalah, lelaki tampan suaminya itu sedang menyelesaikan tugasnya.


Entah sampai jam berapa suaminya itu memutus jemarinya dari mengetik keyboard laptopnya, yang jelas di saat Tita terbangun jam 2 dini hari suami tampannya itu masih berkutat dengan laptop dengan wajah yang terlihat serius. Jelas sekali kalau dia sedang mengerjakan sesuatu, bukan sekedar bermain game.


Bukannya Tita tidak ingin menemani ataupun membantu menyelesaikan tugas Kennan melainkan dirinya harus cukup tidur karena hari ini adalah harinya untuk melakukan kegiatan pisah kenal anggota osisnya.


Alhasil Tita pun harus tidur cepat agar tubuhnya fit untuk melakukan perjalanan. Sebenarnya tempat tujuannya tidak terlalu jauh, masih di wilayah Jogjakarta. Hanya saja kegiatannya yang pasti akan diisi dengan acara outbond dan games itu membutuhkan tubuh yang fit untuk mengikutinya.


Dan lagi sudah dapat dipastikan jika Kennan akan melarangnya untuk ikut begadang menemaninya.


"Abang mandi gih, mau sarapan bareng gak? Tita mau berangkat nih."


Kennan menautkan kedua alis matanya.


"Jam berapa ini Dek?"


"Setengah tujuh Bang."


Kennan pun gegas menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya lalu mendudukkan tubuhnya.



"Elo berangkat jam berapa Dek?"


"Jam 8." sahut Tita dengan memperhatikan jam tangan berwarna hitam yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.


"Lo udah mandi?"


"Udah lah Bang, udah wangi ini. Gak kecium po wangi sabun mandinya Tita?"


"Enggak." Kennan menggeleng.


"Masak sih, Tita beneran udah mandi nih." Tita berusaha membau lengan tangan serta bagian tubuh yang mampu dicium oleh indera penciumannya.


Harum!


Itu hasil dari penciuman hidungnya.


"Abang beneran gak bisa nyium bau wanginya po?" tanya Tita masih dengan gerakan mencium wangi tubuhnya.


"Enggak " lagi Kennan menggeleng.


"Coba sini lebih deket, jangan - jangan hidung gue bermasalah ini." Kennan terlihat cemas, dan itu pun membuat Tita ikut khawatir.


Tita pun menggeser pantatnya yang duduk di ranjang, semakin mendekati Kennan hingga tubuh itu hanya menyisakan jarak beberapa inchi saja.


Kennan terlihat berusaha menghirup aroma tubuh Tita kuat, seakan hidungnya memang tidak berfungsi secara normal.


"Abang mau flu keknya? Hidungnya buntet gak bisa membau?" Tita bertanya semakin khawatir.


Mungkin dirinya harus membatalkan keikutsertaanya dalam acara osis hari ini.


"Tau nih. Coba lebih deket lagi Dek." pinta Kennan pada Tita dengan tidak berhenti berusaha menghirup wangi tubuh Tita kuat.


Tita pun semakin memajukan tubuhnya, hingga akhirnya ...


Cup ...


Kennan mendaratkan bibirnya pada bibir pink isterinya, kemudian meraup rakus benda kenyal itu dengan tangan yang mendorong belakang leher isterinya untuk memudahkannya memperkuat ciuman serta mengeksplor setiap inci rongga mulut milik Tita.


Merasa tidak ada penolakan dari istetinya, Kennan melesakkan lidahnya masuk dalam rongga mulut Tita dengan sesekali membelit lidah yang menjadi penghuni di dalamnya.


Meskipun Tita tidak menolak, namun dirinya yang tidak siap dan tidak menyangka akan mendapatkan serangan rakus mulut Kennan terlihat tersengal seakan kesulitan untuk bernafas.


Kennan semakin memperdalam lidahnya dalam mengeksplor mulut Tita hingga membuat keduanya saling bertukar saliva.


Perlahan tangan kekar itu menyusup ke dalam sweater yang dipakai oleh Tita, hingga menumpu pada pucuk gunung kembar mirip squisy tersebut. Jemari kekar itu mengusap dan memilin pucuknya hingga membuat empunya tidak mampu menahan desahan.


Suara cecapan yang saling bersahutan serta desahan kecil lolos begitu saja dari mulut keduanya hingga menggema memenuhi ruangan kamar apartemen.


Tita mengalungkan kedua tangannya pada leher Kennan, dirinya sudah mulai berani menunjukkan rasa serta keinginannya untuk menikmati ciuman dari Kennan.


Kedua pasang remaja itu saling menangkup benda kenyal itu dengan silih berganti memiringkan wajahnya seakan ingin menikmati gairah yang juga ikut memanas.


Heh ... heh ...

__ADS_1


Deru nafas keduanya terengah setelah beberapa saat lalu saling melepaskan tautan bibir mereka.


"Abang mandi gih." ucap Tita disela deru nafasnya yang masih memburu.


"Dikit lagi Dek, kurang."


"Ntar wae, kalau tita udah pulang. Ntar kesiangan, bisa - bisa Tita ketinggalan rombongan." tolak Tita halus dengan merona malu.


Kennan mengeram, merasa kurang puas dalam menyalurkan hasratnya. Namun dirinya harus menahannya.


Kennan pun beranjak turun dari ranjang diikuti dengan Tita yang mulai merapikan ranjang tidur mereka.


Saat Tita berdiri di sisi ranjang hendak melipat selimut tiba - tiba saja,


Set.


Kedua tangan kekar Kennan memeluk tubuhnya dari belakang.


"Abang. Udah ihh ... mandi sana." Tita menghentikan kegiatan melipat selimut seraya memiringkan wajahnya pada Kennan yang menumpukan kepalanya pada bahu kanan isterinya.


"Bentar Dek, belum puas peluknya."


"Ntar malem lanjut lagi, sepuasnya. Udah siang nih, Tita ntar terlambat. Atau Tita berangkat dewe wae, abang gak usah nganter?!" Tita sedikit mengancam.


Kennan membalikkan tubuh ramping di depannya hingga saling berhadapan.


"Elo udah makin berani ya sama gue." Kennan dengan bibir tersenyum melengkapi wajah tampannya.


"Iya." Tita menyahut lalu mengecup kecil bibir Kennan.


Kennan semakin mengeratkan pelukannya lalu membalas memberikan kecupan kecil pada seluruh wajah Tita hingga empunya kegelian. Kemudian mengakhiri dengan mendaratkan bibirnya pada bibir basah Tita, menikmatinya sekejap.


"Gue berat lepasinnya, gue pasti kangen banget nanti." Kennan dengan memandang wajah merona merah di bawahnya intens.


"Kek Tita pergi lama wae." Tita tersenyum mendongak.


Sedetik kemudian.


"Udah mandi sana." usir Tita dengan melepaskan tangan Kennan dari tubuhnya. Kalau tidak segera diusir, adegan ini gak bakal berhenti. Bisa - bisa dirinya terlambat untuk pergi.


Dengan berat hati Kennan pun menurut lalu beranjak memasuki kamar mandi.


...🍭🍭🍭🍭...


"Bang lepasin tangannya, ntar nyetirnya susah." Tita berusaha melepaskan tangan Kennan yang menggenggamnya erat.


Kennan mengelaknya. "Jangan dilepas, biarin aja." Kennan tetap ngeyel, malah semakin mengeratkan dan membawanya menumpu pada paha kirinya.


"Bang ... bahaya nyetir pakek satu tangan." Tita mengingatkan.


"Abang kek mau ditinggal lama wae."


"Emang lo bakal lama kan, sampai sore bukan? Nyampe rumah pasti malem." Bibir Kennan mengerucut.


"Gak ada 24 jam Bang." Tita tersenyum kecil.


"Semenit tanpa lo, berasa setahun Dek."


"Heleh ... gombal." Tita mencebik.


"Beneran yang."


"Anggep wae sekolah, kita sekolah juga gak barengan mulu kan?! Pagi sampai sore jugak."


"Beda Dek ... di sekolah gue masih bisa curi kesempatan buat liat lo. Lha ini ... gue bakal dewean seharian nanti." Kennan terdengar menggerutu.


"Kumpul sama temen - temen abang wae, biar gak bosen." saran Tita.


"Lihat nanti." Kennan mendesah lalu fokus pada jalanan aspal di depannya.


Setelah beberapa saat mereka pun sampai di depan sekolah. Kennan sengaja menghentikan HRV hitamnya agak jauh, sesuai permintaan Tita.


"Bang lepasin tangan Tita, biar Tita turun."


"Ntar aja turunnya, kalau udah siap berangkat." sahut Kennan sambil memandang bus besar yang terparkir beberapa meter di depannya. Sepertinya bus besar yang masih tampak baru di depannya itu yang akan membawa rombongan Tita dan anggota osis lainnya.


Tampak segelintir siswa mendekati bus untuk menaruh tas ataupun dengan sengaja memilih tempat duduk yang diinginkan.


"Elo duduk sama siapa Dek?" tanya Kennan masih memandang bus di depannya dengan tidak berhenti mengusap jemari Tita yang menumpu pada paha kirinya.


"Sama Sinta, dia sekertaris dua dulunya. Tita udah pesen kok sama dia, buat duduk barengan." jelas Tita.


"Oh." Kennan mengangguk mengerti. Dalam hatinya lega karena Tita sudah mempersiapkan dirinya buat duduk dengan teman perempuannya. Itu berarti si ketos tidak bakal ada kesempatan buat duduk bareng isterinya.


"Bang ... Tita turun ya?"


"Enggak. Entar wae belum semua datang jugak."


Tita menghela nafas pendek, memilih menurut pada suaminya daripada suami kulkas dua pintunya itu tetiba membatalkan kepergiannya. Semua bisa kacau, nanti.


"Di sana jangan deket - deket sama cowok siapapun apalagi dia." ucapan Kennan terdengar memerintah.


"Iya." sahut Tita pendek, dirinya mulai paham dengan sifat posesif Kennan. Dan dirinya juga memahami yang dimaksud dia oleh Kennan adalah si ketos Andra.

__ADS_1


"Abang gak usah kuatir, Tita gak bakalan deket sama dia." lanjut Tita dengan halus.


"Jangan bohongin gue, kalau ada apa - apa segera kabari gue. Kalau ada kesempatan luang hubungi gue." perintah Kennan tegas.


"Iyaa abaang ... cerewet banget sih." Tita gemas dibuatnya.


"Cuma ngingetin, lagian cerewet itu tanda sayang tau nggak." Kennan masih dengan nada tegas.


"Iya - iya abang. Udah ya Tita turun, udah rame tuh." tunjuk Tita pada para siswa yang banyak berdatangan dan memasuki bus besar di depannya.


Masih dengan menggenggam tangan Tita Kennan mendekatkan tubuhnya pada tubuh Tita.


Mencium pucuk kepala yang tertutupi jilbab itu, lalu beralih pada kening Tita. Perlahan bibirnya turun kemudian mengecup pucuk hidung mbangir milik istrinya.


Kennan sedikit menjauhkan wajahnya, menelisik wajah cantik Tita yang ternyata sedang memejamkan matanya. Mungkin efek menikmati ciuman darinya.


Kennan kemudian menangkup bibir pink Tita yang sedikit basah akibat polesan lipbalm. Rasa strawberry yang segar membuat Kennan semakin memperdalam ciumannya.


Sungguh rasanya tak ingin melepas gadis itu untuk pergi meski hanya beberapa jam ke depan. Namun dirinya tidak boleh egois, dia sudah mengizinkannya. Tak mungkin untuk menarik ucapannya kembali.


Apalagi saat melihat binar bahagia pada kedua mata lentik Tita, saat gadis itu mendapatkan persetujuan darinya.


Kennan melepaskan tangkupan bibirnya saat merasakan nafas Tita tersengal. Tangannya menyibak jilbab milik isterinya kemudian membuka kancing baju bagian yang dipakai oleh Tita.


"Bang ..."


"Dikit lagi Dek." sahut Kennan dengan mendekatkan wajahnya pada ceruk dada Tita yang telah tersibak dari jilbab rawisnya.


Tita mendesah pasrah. Bagaimana bisa suaminya itu belum terpuaskan setelah tadi pagi mereka melakukan ciuman yang cukup lama.


Bibir Kennan mengusap ceruk dada Tita kemudian memberikan beberapa tanda jejak di sana hingga membuat empunya tidak berhenti mendesah.


"Sorry." Kennan memandang isterinya yang masih terpejam dengan nafas menderu setelah menghentikan aksi mesumnya pada ceruk dadanya. Tangannya kembali mengancingkan baju atas milik isterinya.


Perlahan Tita membuka matanya, dengan bibir yang mengerut. Menegakkan tubuhnya kemudian merapikan jilbabnya yang sedikit kusut akibat perbuatan Kennan.


"Bibirnya biasa wae, daripada ..."


"Abang!" Tita mendelik tajam.


Kennan terkekeh.


"Sorry deh Dek, nanti lagi ... hehehe ..."


Tita mencubit pinggang Kennan hingga membuat empunya meringis.


"Aduh ... dduhh. Udah Dek gak lagi deh."


"Abang mesumnya lepas kendali." kesal Tita lalu mematut jilbabnya pada kaca spion di dalam mobil.


"Sama isteri sendiri, boleh kan?"


"Gak tahu sikon." Tita masih kesal.


Kennan tertawa kecil. "Udah gak usah manyun gitu ntar cantiknya ilang."


"Tita pamit dulu." ucap Tita dengan mengangsurkan tangan pada Kennan.


Kennan pun menyambutnya kemudian Tita mencium punggung tangan dang suami.


"Gak ada ciuman selamat tinggal nih?" Kennan.


"Enggak! Udah ... ntar Tita gak jadi berangkat." sahut Tita sembari melepaskan tautan tangan mereka.


Kennan kembali terkekeh. "Hati - hati, jangan lupa sering telfon gue."


Hem.


Tita membuka pintu mobil dengan tak lupa mengucapkan salam.


Tita pun berlalu meninggalkan Kennan setelah mendapat balasan ucapan salam dari suaminya.


Sepeningggal Tita Kennan masih tetap di sana, memandang tubuh ramping Tita yang berjalan semakin menjauh hingga memasuki bus yang akan membawanya pergi.


Lalu menutup mata sesaat kemudian mendesah pelan, entah mengapa rasanya begitu berat melepas gadis yang berstatus isterinya itu pergi. Apalagi saat mengingat foto Tita dengan si ketos beberapa hari lalu.


🍨🍨🍨🍨


Akhirnya bisa up juga ...


Partnya lumayan panjang, semoga puas bacanya yak ....


Yang kangen Bang Kenn sama Neng Tita like, vote dung biar semangat othor nulisnya, Tengyu😘😘😘😘😘


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen

__ADS_1


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘


__ADS_2