Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
ijinkan mas membahagiakanmu


__ADS_3

Dita menggengam erat tangan Azka dan menatap wajah Azka yang terlihat pucat. sesekali ia mencium pungung tangan suaminya yang masih setia terpejam.


Dita bisa bernafas lega karena tu su kan yang di terima Azka tidak terlalu dalam,dan hanya membutuhkan beberapa jahitan.


meskipun luka Azka tidak terlalu serius,tetapi Dita tak lantas tak bisa tak khawatir.meski kakek dan Abi selalu menenangkannya dan menyuruhnya untuk istirahat tetapi Dita menolaknya,dia hanya ingin di samping suaminya sampai suaminya itu sadar dari pingsanya.


untuk masalah Stella,Abi tak bisa menangkap wanita itu karena ternyata ada seseorang yang membantu Stella untuk kabur dari mereka. Abi hanya menebak kalau yang menolong Stella adalah salah satu brondong Stella yang sudah di bayar Stella untuk mengikutinya dan berjaga-jaga kalau hal ini terjadi. memang sepertinya Stella sudah merencanakan semua ini dengan sangat baik,buktinya dia bisa kabur dengan sangat mudah.


ceklek....


suara pintu terbuka menampilkan sosok lelaki tampan yang tengah tersenyum manis ke arah Dita,dia membawa kantong plastik yang berisikan nasi Padang pesanan Dita.


"dek makan dulu,dan ingat kamu juga harus banyak istirahat ingat Rafa juga membutuhkanmu." ucap Abi merayu sang adik bahkan ia memaksa Dita untuk mau di belikan makanan apa,karena tak mau mendengar kakaknya berisik dengan asal dia menginginkan nasi Padang. Abi langsung membelikannya untuk adik tercintanya itu.


"Rafa dimana mas?" tanya Dita sambil mengambil kantong plastik yang di sodorkan Abi dan mulai mengambilnya lalu menyuapnya. meskipun Dita tak bernafsu tetapi dia harus tetap menjaga kesehatannya dan harus memberi Rafa ASI.


"Rafa sedang bersama kakek,lebih baik kamu pulang dulu karena Rafa mencarimu." ucap Abi.


"tapi...."


"kakak tak menerima bantahan,pulang atau kakak melarangmu untuk menjaganya." tegas Abi,ia terpaksa bersikap tegas,karena adiknya ini sangat keras kepala.


Dita berdecak sebal,kakanya ini jika sudah berkata memang tak dapat di bantah,mau tak mau Dita menuruti perkataan kakaknya.


Dita keluar kamar rawat Azka untuk pulang,bahkan sekarang kemanapun ia pergi di jaga oleh dua orang bodyguard untuk berjaga-jaga,tidak menutup kemungkinan Stella akan datang dan mencelakai Dita.

__ADS_1


dan tanpa Dita sadari ada seorang wanita yang memakai kaca mata hitam tengah mengamati ruangan Azka,siapa lagi kalau bukan Stella.


"aku bersyukur kamu baik-baik saja Azka,maaf aku tak bermaksud mencelakaimu seharusnya kamu tak menghalangiku maka ini takkan terjadi." gumam Lidia,setelah memastikan ke adaan Azka baik-baik saja dia langsung meninggalkan rumah sakit itu,dan ia harus merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan Dita dari kehidupan Azka.


🌷🌷🌷


Azka membuka matanya,ia melihat sekeliling tetapi ia tak mendapati satu orang pun di ruanganya.ia melihat ada segelas air lalu perlahan meraihnya dan meminumnya,sungguh tenggorokannya terasa sangat kering dan Azka meminumnya hingga tandas.


Azka mencari ponselnya,ia ingin menghubungi istrinya terlebih dahulu,meskipun sedikit kecewa karena ia tak mendapati sang istri dengan cepat ia tepis rasa kecewanya itu saat mengingat sosok mungil yang juga memerlukan perhatian dari istrinya itu.


"Azka,sayang kamu sudah bangun?" tanya Irina yang baru saj datang membawa beberapa barang keperluan Azka.


"ma,Dita mana?apa Dita tidak datang bersama mam?" tanya Azka saat melihat sang mama berjalan menghampirinya.


"Dita baru saja pulang,katanya Rafa agak rewel jadi Dita menelpon mama untuk menemanimu. Abi tadinya juga ingin menunggumu tetapi dia ada urusan yang harus segera ia selesaikan." ucap sang mama ,dan Azka yang mendengar itu bernafas lega ternyata Dita tidak di larang lagi oleh kakeknya untuk menemuinya.


mama tersenyum sangat manis mendengar pertanyaan yang mengandung kekhawatiran itu.


"kamu tenang saja sayang,kakek memang tidak mengatakan apapun tetapi melihat Dita seharian menggumu disini itu menandakan kalau kakek merestui hubungan kalian,dan jika tadi Rafa tidak rewel pasti istri kamu masih disini." ucap mama menenangkan anak semata wayangnya itu.


Azka bernafas lega,meski kakek tidak mengatakan apapun tapi paling tidak Dita di ijinkan untuk menungguinya,ia yakin kalau kakeknya itu sudah memberikan restu kepadanya untuk kembali dengan istri dan anaknya.


"lali bagaimana dengan Stella,Azka tidak bisa tenang jika Stella masih berkeliaran di luar,jika dia masih belum tertangkap tak menutup kemungkinan dia akan kembali menyakiti Dita."


"Stella belum tertangkap,tapi kamu jangan kawatir kami semua sudah menyuruh orang untuk mencari wanita licik itu,mama sungguh menyesal karena sempat menginginkanya sebagai menantu,dan mama berharap dia cepat tertangkap agar kalian bisa hidup tenang tanpa harus ada bayang-bayang Stella." ucap mama geram.

__ADS_1


Azka hanya mengangguk menanggapi sang mama,jika kondisinya sudah pulih dia berjanji untuk segera mencari dan menangkap Stella, sepertinya menangkap Stella memerlukan strategi dan Azka sudah mendapatkan sebuah ide untuk menangkap wanita itu,tetapi dia harus meminta bantuan kepada kakak iparnya untuk meluruskan rencananya.


tepat pukul tiga sore Dita datang untuk menemui Azka,yang kabarnya sudah sadar sejak tadi pagi,ia ingin sekali segera menemui suaminya itu,tetapi Rafa sama sekali tak bisa di tinggalkanya,dan sekarang baru bisa di tinggal ia menitipkan ya kepada kakeknya dan segera menemui suaminya itu.


Dita sebenarnya ingin membawa Rafa,tetapi kakeknya melarang karena tidak baik bagi bayi jika memasuki rumah sakit,dan Dita menuruti kakek untuk tidak membawa anaknya menemui ayahnya.


"mas...." panggil Dita saat sudah membuka pintu ruangan Azka.


Azka yang sedang duduk bersandar langsung menoleh saat mendengar ada yang memanggilnya,ia tersenyum saat melihat Dita datang dan berlari ingin segera memeluk suaminya itu.


"dek,jangan lari ingat jahitanmu belum kering." teriak Azka namun tak di hiraukan oleh Dita.


Dita yang terlalu khawatir sekaligus lega melihat Azka yang sudah sadar langsung menghambur memeluk sang suami.


"mas..." ucap Dita terputus tak dapat melanjutkan ucapanya karena sudah terisak,sungguh ia sangat lega karena sang suami sudah sadar dan terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.


"sudah dek jangan sedih,mas baik-baik aja kok." ucap Azka menenangkan istrinya yang terisak.


"seharusnya mas gak perlu mengahadapi Stella,biarin pisau itu kena aku dari pada..."


dengan cepat Azka menutup mulut Dita dengan jari telunjuknya.


"mas labih sakit jika terjadi sesuatu denganmu,lebih baik mas yang merasakan sakit ini. karena sudah cukup kesakitan yang mas kasih ke kamu,kini giliran mas ingin memberimu kebahagiaan,jadi ijinkan mas untuk membahagiakan kamu dan Rafa." Azka berucap lembut lalu menyatukan kening mereka,perlahan Azka mencium bibir Dita dengan lembut.


"astaga...apa kalian tidak bisa menahanya sebentar saja,ingat ini di rumah sakit." ucap Abi histeris saat melihat keduanya tengah bermesraan.

__ADS_1


Dita langsung menunduk tak berani menatap sang kakak,sementara Azka kesal karena kegiatanya di ganggu oleh kakak iparnya yang terlewat jahil itu.


__ADS_2