
"Bang makan dulu jangan tidur, Tita beliin obat penurun panas ni....", Tita menggoyangkan badan kekar Kennan yang terlihat kembali meringkuk di atas ranjang dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya serta hanya menyisakan kepalanya saja, saat Tita baru saja datang dari membeli obat penurun panas untuk Kennan.
"Nanti aja, pusing banget Dek", sahut Kennan lirih dengan tanpa membuka matanya.
"Tita menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Kennan seraya berucap, "Jangan selimutan tebal kek gini".
Kembali Tita meletakkan punggung tangannya pada kening suaminya.
"Abaang... bangun kita ke dokter sekarang", Tita berseru saat mendapati suhu tubuh Kennan semakin panas hingga terasa membakar kulit punggung tangannya.
"Enggak....gue gak tahan, pengen tidur wae. Dingin Dek....", suara Kennan terdengar sangat lemah dengan berusaha menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Justru itu.... kita ke dokter sekarang!", tegas Tita sambil memaksa mendudukkan suaminya.
Setelah memakaikan hodie pada tubuh suaminya dan menyiapkan beberapa baju ganti untuk Kennan, Tita memapah Kennan berjalan sembari menyambar kunci mobil suaminya yang tergeletak di atas meja riasnya.
Dengan susah payah akhirnya Tita dapat mendudukkan Kennan pada kursi penumpang di mobil HRV hitam milik Kennan, kemudian Tita berjalan memutari mobil menuju kursi kemudi lalu mendudukkan diri di sana.
"Dek, yakin bisa bawa mobil?", tanya Kennan heran dengan menahan pusing di kepala dan perut yang terasa diremas - remas.
"Bisa, Abang gak usah kuatir", sahut Tita sambil memutar kunci untuk menyalakan mobil.
Kennan mencengkeram kuat pegangan pada pintu mobilnya saat Tita mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang pelan.
Entah kenapa nyalinya menciut saat Tita membawa mobil miliknya dengan kecepatan tinggi. Efek sakitnya mungkin atau efek ketidakpercayaan Kennan pada kemampuan Tita dalam mengemudikan kendaraan roda empat, secara Tita kan tidak dapat mengendarai kendaraan roda dua.
Beberapa kali Kennan terlihat memejamkan matanya saat mendapati Tita menyalip kendaraan di depannya dengan membunyikan klakson mobil berulang.
Seumur - umur Kennan belum pernah naik mobil disetiri oleh cewek, bahkan dengan kakak perempuannya saja dia belum pernah.
Kebayang dong gimana ekspresi Kennan saat ini, apalagi tempurung kepalanya diputari oleh ingatan tentang cara mengemudi perempuan yang tidak sesuai.
Bagaimana jika saat akan membelok ke kanan, Tita malah menyalakan lampu sein ke kiri ataupun sebaliknya. Kennan semakin merasakan kepalanya berdenyut mengingat banyaknya kecelakaan yang diakibatkan oleh kesalahan mengemudi para kaum hawa.
"Dek pelan - pelan", Kennan berucap dengan masih mencengkeram pegangan pintu dengan kuat, sesekali memincingkan sebelah matanya lalu memegangi dada dengan tangan kanannya. Kennan tidak menyangka seorang Tita yang selama ini diketahuinya tidak pernah neko - neko dan terlihat alim, mampu mengendarai roda empat dengan lihai.
"Keburu Bang... biar cepet ketemu sama dokter", sahut Tita tanpa mengalihkan pandangan mata dari jalanan di depannya. Namun tangan kirinya meraih jemari tangan kanan Kennan yang ternyata terasa basah oleh keringat dingin.
"Dek... lepasin, taruh kembali tanganmu ke kemudi...", ucap Kennan dengan mengibaskan tangan Tita.
"Abang takut?"
"Gue masih pengen hidup, gak mau mati muda", Kennan memegangi perutnya yang semula hanya sakit seperti di remas - remas sekarang menjadi tambah mual dan semakin bergejolak.
"Abang merem wae, daripada makin pusing", Ucap Tita malah menambah kecepatan pada kuda besi hitam milik Kennan.
Kennan pun menuruti ucapan Tita, memejamkan mata serta menahan nafas. Kennan pun tak henti merapalkan doa semoga saja masih bisa bertemu dengan hari esok.
...ππππ...
"Jadi harus opname ya Dok?", tanya Tita pada dokter muda yang menangani Kennan.
"Iya Dek... Kakaknya harus istirahat dulu, karena mengalami dehidrasi akibat perutnya yang mengalami diare yang kemungkinan besar disebabkan oleh salah mengkonsumsi makanan", sahut Dokter muda itu ramah dan tersenyum pada Tita.
__ADS_1
Tita menganggukkan kepala berulang tanda mengerti dan tak lupa memberikan senyum ramah juga.
Sedangkan Kennan yang berbaring di atas brankar tak jauh dari meja konsultasi dokter tersebut melirik kesal saat melihat dokter muda itu terlihat tersenyum ramah pada isterinya, apalagi Tita terlihat membalas senyuman tersebut.
"Ck... kenapa Tita gak bilang kalau gue suaminya sih, mentang - mentang dokternya masih muda mana ganteng juga. Jadi gak mau ngakuin kalo udah nikah", Kennan membatin dengan geram.
"Baiklah Dok, kalau begitu saya permisi dulu ya Dok...Terima kasih", Tita beranjak dari duduknya dan membungkukkan setengah badan dengan tersenyum sopan.
"Iya sama - sama Dek...", dokter muda itu tersenyum dengan tidak melepas pandangan dari Tita.
Tita kemudian melangkahkan kaki menuju brankar, tempat Kennan berbaring.
"Abang... kata dokter menginap dulu di sini ya, biar dikasih infus soalnya Abang kehilangan banyak cairan", Tita berucap dengan nada masih khawatir.
"Hemm", sahut Kennan dengan memalingkan wajahnya menghadap tembok karena kesal.
Tita mengerutkan dahi bingung melihat reaksi Kennan yang terlihat marah, namun Tita berusaha berfikir positif. Mungkin suaminya itu masih pusing dan lemas, mengingat menurut pengakuan Kennan sebelumnya yang puluhan kali bolak - balik ke kamar mandi saat memberi keterangan pada dokter.
...ππππ...
"Gak papa kan Bang dapet kamarnya kek gini...", tanya Tita hati - hati pada suaminya takut Kennan gak nyaman karena ruangan kamarnya kecil.
"Hem", sahut Kennan terdengar seperti bergumam dengan lirih.
Tita memang membawa Kennan pada sebuah klinik terdekat dari apartemen bukan ke rumah sakit, karena tidak tega jika harus membawa suaminya ke rumah sakit besar yang memakan waktu lebih lama.
Dan ternyata ruangan pada klinik tersebut telah penuh, jadi mau tak mau Tita menerima saja ruangan yang masih tersedia di sana.
Untuk penunggu pun disediakan sofabed yang muat untuk tubuh Tita beristirahat.
Tapi entah mengapa Kennan terlihat seperti marah atau kesal mungkin.
Tita pun memilih menaruh baju ganti Kennan pada almari kecil yang tersedia di kamar tersebut, mengeluarkan alat mandi dan menaruh di dalam kamar mandi sekalian Tita mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat isya' nya yang tertunda karena mengurusi Kennan dan membawanya ke dokter.
Setelah Tita menyelesaikan ibadah sholat dan merapikan mukenanya, Tita mendekati brankar Kennan.
"Bang...", Tita memanggil nama suaminya serta mengelus punggung tangan kiri Kennan yang terbebas dari infus.
"Hem", sahut Kennan lirih dengan mata tertutupi oleh tangan kanannya yang tertempel jarum infus.
"Abang gak nyaman sama kamarnya?", tanya Tita sehalus mungkin takut jika Kennan memang tidak merasa nyaman dan membuatnya semakin kesal.
"Biasa wae", ucap Kennan masih dengan menumpukan tangan kanannya di atas wajah.
Tita menghela nafas pendek.
"Kenapa Abang kek aneh gitu"
"Aneh gimana maksud lo?", Kennan belum mau mengalihkan lengan tangan dari wajahnya.
"Abang kek kesel gitu, gak mungkin kan kalau itu karena pusing doang...", Tita berucap selembut mungkin.
Kennan mengalihkan lengan tangan dari wajahnya, kemudian mendengus.
__ADS_1
"Kenapa lo gak bilang kalau gue suami lo?", tanya Kennan tanpa memandang Tita, malah memilih menolehkan wajahnya ke sisi kanan.
Tita mengernyit mendengar ucapan Kennan.
"Maksud Abang?", Tita tidak mengerti.
Kennan menghela nafas berat.
"Kenapa lo gak bilang kalau gue suami lo sama dokter itu..."
Hek
Tenggorokan Tita tercekat.
Sesaat setelahnya tersenyum kecil menyadari ucapan suaminya.
"Pak dokter gak nanya Abang suami Tita atau bukan, masak Tita harus woro - woro Abang suami Tita", Tita masih tersenyum kecil mendapati suaminya yang masih memilih memandang sisi kanannya dengan bibir mengerucut.
"Tapi kan elo bisa ngomong pas dokter mesum itu ngira gue kakak lo". Ucapan Kennan terdengar sangat kesal.
Tita membelalakkan mata lebar, bagaimana bisa suaminya itu mengatakan dokter muda yang menanganinya itu mesum. Padahal menurut Tita dokter muda itu memberikan pandangan biasa saja meskipun memang terlihat sangat ramah padanya.
Menurut Tita itu adalah hal wajar mengingat seorang dokter itu memang harus dapat memberikan pelayanan yang terbaik apalagi keramahan merupakan kunci utama pelayanan mereka selaku penjual jasa.
Bahkan Kennan suaminya itu jauh lebih mesum daripada sang dokter, menurutnyaπ π
Tita mendudukkan diri di tepi brankar Kennan kemudian meraih wajahnya untuk menoleh ke arahnya.
"Abang ngambek karena itu?", Tita bertanya sambil menatap manik mata sayu suaminya masih dengan tangan menahan wajah Kennan agar menghadap ke arahnya.
Tidak ada jawaban dari Kennan, namun tangan kirinya yang terbebas dari jarum infus berusaha menepis tangan Tita.
"Jawab dulu", Tita ganti menepis tangan Kennan.
Kennan mendesah, lalu mengangguk perlahan.
Tita pun kembali tersenyum tipis, "Gak usah ngambek... besok Tita klarifikasi deh sama pak dokter, Tita akan bilang kalau Abang adalah imam Tita".
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ
__ADS_1