Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
215. Galau


__ADS_3

Kennan menghentikan langkahnya saat telah mendekati makam sang sahabat mendapati seorang gadis yang duduk bersimpuh di dekat pusara.


Posisi gadis itu membelakanginya.


Dilihat dari pakaiannya, gadis itu adalah anak SMU seperti dirinya.


Dari sekian kali Kennan berkunjung ke makam sahabatnya, baru kali ini dirinya bertemu dengan seseorang yang juga mengunjungi makam Satya sahabatnya.


Terbersit pertanyaan dalam benak Kennan.


Siapa gadis itu?


Tanya hati Kennan penasaran.


Dengan sedikit ragu Kennan kembali melangkahkan kaki mendekat perlahan, berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan suara.


Kennan mengernyit saat mengenali tas punggung sosok yang membelakanginya.


Bukane itu tas kek punya Tita... ngapain dia di sini?


Ah nggak mungkin....


Kennan menghalau isi pikirannya, berusaha meyakinkan diri jika sosok itu bukanlah Tita, isterinya. Meskipun jika diperhatikan dengan seksama ciri ciri sosok itu hampir sama.


Kennan melangkahkan kaki dengan sangat hati hati.


Deg... dada Kennan berdentum kencang saat indera pendengarnya menangkap isakan lirih yang terdengar meyayat hati. Kennan memastikan pendengarannya ketika melihat punggung gadis itu bergetar. Kennan tahu itu artinya apa.


Gadis itu benar benar menangis.


Melihat hal itu Kennan tidak mengurungkan niatnya untuk mengetahui siapa sosok gadis itu.


Pada saat dirinya telah semakin dekat, tiba tiba saja....


Krekk...


Kaki Kennan tanpa sengaja menginjak ranting kering, hingga membuat gadis berkerudung yang menunduk itu terlihat tersentak.


Membuat Tita kembali mengusap wajahnya karena bunyi itu dibarengi dengan kehadiran seseorang di dekatnya.


Tita menengadahkan kepala.


Hek....


Tita tersentak kaget saat manik hitamnya mendapati sosok tinggi menjulang di dekatnya.


"Abang..." Tita dengan mengunci pandangan pada sang suami.


"Abang ngapain ke sini?" Tita dengan suara serak khas selesai menangis. Kedua matanya masih terlihat sembab.


Seketika tubuh Kennan membeku. Tubuh jangkung itu hanya berdiri mematung di hadapan Tita. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya.


Kennan tidak menyangka jika gadis yang duduk bersimpuh di hadapannya tersebut adalah Tita isterinya.


Otak dan pikiran Kennan kembali melayang pada cerita Yuna beberapa hari lalu yang menyebutkan jika Tita adalah sosok yang membuat Satya memutuskan Yuna.


Apakah benar Tita mengenal sahabatnya dan menjadi sosok yang menghancurkan hubungan Satya dan Yuna?


Pertanyaan itu kembali muncul di bekal Kennan.


"Abang... sini duduk..." Tita meraih dan menarik tangan Kennan untuk semakin mendekat tanpa memperdulikan jika pertanyaan yang dilontarkan olehnya tidak mendapatkan sahutan dari Kennan.


Bahkan Tita seolah tidak peduli dengan alasan Kennan tentang keberadaannya di makam tersebut.


Mau tak mau Kennan pun mendekatkan tubuhnya, menipiskan jarak keduanya lalu duduk berjongkok di sisi Tita dengan masih bertanya tanya tentang keberadaan sang isteri di makam sahabatnya.

__ADS_1


Tita memandangi batu nisan di hadapannya dengan masih mengenggam telapak tangan Kennan.


"Bang... kenalin ini suami Tita..."


Deg....


Lagi lagi dada Kennan berdentum dengan kencang saat mendengar ucapan Tita saat ini.


Tita memanggil Satya dengan panggilan Bang... apa arti semua ini.... Kennan bertanya dalam hati dengan posisi tubuh yang semakin menegang diiringi dengan dada yang berdegub kencang tak beraturan.


"Maaf Tita baru bisa ngenalin suami Tita ke abang..." Tita dengan tidak memutus pandangan dari pusara Satya.


"Abang sekarang nggak perlu kuatir sama Tita, Tita udah ada yang ngejagain. Abang bisa tenang di sana sama mama, papa juga nenek. Hiks..." Tita menjeda ucapannya karena isakan tangisnya yang lolos begitu saja dari mulutnya.


Kennan hanya bisa membeku, seluruh tubuhnya mendingin. Bahkan telapak tangan besarnya yang masih berada dalam genggaman Tita pun mulai basah oleh keringat dingin.


Otaknya semakin bingung mencerna hubungan mereka.


"Abang jangan diem wae, kenalin ini makam kakak Tita." Tita dengan menoleh ke arah Kennan dengan wajah sendunya.



Hek...


"Kka_kkak?" Kennan terbata.


Bukan mantan kekasihnya.... lanjut Kennan dalam hati.


Tita mengangguk perlahan.


"Iya. Karena dia Tita trauma naek motor. Dia yang Tita bilang kecelakaan sewaktu balapan liar."


Mendengar kenyataan itu, Kennan seolah mendapatkan hantaman batu besar pada dadanya.


Bagaimana bisa dirinya tidak tahu jika Satya dan Tita memiliki hubungan darah.


Kenapa Yuna harus melakukan itu, kenapa dia membuat cerita bohong kepadanya. Apa sebenarnya maksud Yuna?


Bagaimana hubungan Yuna dengan Satya sebenarnya?


Kenapa selama ini Satya tidak pernah bercerita sedikitpun tentang Tita adiknya ataupun hubungannya dengan Yuna....


Pertanyaan pertanyaan itu memutari tempurung kepala Kennan saat ini.


Bahkan ucapan Arga saat itu kembali terngiang di telinganya.


Gue tau hubungan lo dengan isteri lo lagi tidak baik baik saja. Gue juga tau alasan yang sebenarnya adalah bukan karena dia pulang bareng gue kemarin. Akan tetapi elo gamang karena Yuna kan?!


Asal lo tau Kenn... Yuna nggak sepolos yang elo pikir, dia itu uler....


Kita emang musuh dab... tapi bukan soal cewek....


Arga kemudian berlalu sembari menepuk bahu Kennan, kemudian pergi begitu saja saat mereka berdua bertemu di pintu masuk apartemen.


...🍭🍭🍭🍭...


"Abang kenapa dari tadi diem wae?" tanya Tita dengan hati hati.


Saat ini keduanya telah berada dalam mobil Kennan yang telah bergerak membelah jalanan padat menuju pusat kota.


Tidak ada sahutan dari Kennan yang terlihat menatap lurus ke depan dengan pikiran yang bercabang kemana mana.


"Bang..." Tita menepuk pelan bahu Kennan, hingga membuat suaminya itu tersentak kaget.


"Abang mikirin apa?"

__ADS_1


"Hah... gue... enggak.... gue enggak mikir apa apa." Kennan menutupi kegalauan hatinya.


"Dari tadi Tita ajakin ngomong nggak nyahut, Tita perhatikan abang kek lagi mikir berat gitu. Abang lagi nyetir, jalanan ramai. Tita takut abang nggak fokus, Tita nggak mau kenapa napa."


Kennan menghembuskan nafas dalam.


"Sorry... gue cuma lelah kok." Kennan menelusupkan jemari kekarnya pada jemari Tita, menautkan erat lalu membawanya pangkuannya.


Gue cuma takut... kalau lo tau kebenarannya.... Kennan membatin dengan mencoba memfokuskan pandangan pada jalanan aspal di depannya.


...🍭🍭🍭🍭...


Kennan melempar jaket yang membalut tubuhnya dengan asal, lalu merebahkan tubuhnya pada sofa. Menumpukan tangan salah satu tangan menutupi kedua matanya yang dipaksanya memejam.


Berbagai pikiran berkecamuk dalam hatinya. Rasa bersalah menyelumuti hatinya karena telah mendiamkan Tita selama seminggu ini tanpa gadis itu tahu alasannya.


Seolah sulit untuk bernafas saat Kennan kembali mengingat bagaimana dirinya membiarkan gadis bergelar isterinya itu menunggunya hingga kehujanan dan berakhir pulang bersama Arga.


Kennan sudah tahu ke jadian yang sebenarnya dari Arga, sejak beberapa hari lalu. Musuhnya dalam lintasan balap itu telah mrnceritakan kejadian bagaimana mereka bertemu dan berakhir pulang bersama.


Namun karena hati Kennan masih tertutupi oleh ucapan Yuna yang memutarbalikkan fakta, Kennan masih saja menjaga jarak dengan Tita. Hingga dirinya bertemy dengan Tita di kompleks pemajan tadi membuat Kennan diselimuti oleh rasa bersalah yang mendalam.


"Bang..." Tita menyentuh pelan pipi suaminya.


Hem... Kennan.


"Abang mandi dulu, baju abang kotor. Lagian kita baru pulang dari makam." Tita dengan membungkukkan setengah tubuhnya di depan Kennan.


"Iya"


Kennan menarik tangannya lalu mendudukkan tubuhnya.


Rasa bersalah kembali hadir saat Kennan mendapati wajah cantik isterinya di depannya.


Kennan mengunci pandangan pada wajah Tita yang terlihat lebih segar setelah mandi.


"Udah cepetan mandi, Tita udah bikinan cap cay kuah buat makan malem." Tita tersenyum hangat. Rasa marahnya untuk Kennan telah menguap sejak Kennan menggenggam jemarinya selama perjalanan pulang tadi.


***


Tita memasuki kamar setelah membereskan bekas makan makannya dengan sang suami.


Tita berjalan mendekati ranjang lalu naik ke atasnya dengan hati hati, takut membuat Kennan terbangun.


Sepertinya Kennan memang benar lelah, hal itu dapat Tita lihat dari kedua mata suaminya yang sudah tertutup rapat.


Tita memandangi wajah Kennan yang memang terlihat lelah, entah apa yang terjadi pada suami dinginnya itu hingga wajah itu terlihat memikirkan sesuatu yang berat.


Jika itu hanya karena cemburu dengan Arga, itu tidak mungkin.


Tita pun menghembuskan nafas dalam kemudian memutuskan untuk membalik tubuhnya membelakangi sang suami.


Namun belum juga Tita membalik tubuhnya, tangan kekar Kennan menahannya.


"Gue nggak mau ngadep punggung." Kennan dengan kedua mata yang tetap terpejam.


"Abang belum tidur?" Tita tersentak kaget.


Hemm...


Kennan segera menarik tubuh Tita kuat hingga tubuh keduanya saling menghimpit.


"Bang..." Tita sedikit menahan dada Kennan.


"Biar kek gini aja, gue nggak bakal minta lebih kok." Kennan dengan menelusupkan wajah pada ceruk leher Tita, mencari kenyamanan yang telah seminggu ini ditahannya.

__ADS_1


🍨🍨🍨🍨


__ADS_2