
Tok... tok...
Kennan mengetuk pintu kamar mandi dengan membawa paper bag coklat di tangannya.
"Dek udah selesai belum mandinya?"
"Udah." terdengar sahutan Tita dari dalam kamar mandi.
"Kalau udah buka pintunya." Kennan dengan sedikit berteriak.
"Tita pakek baju bentar." sahut Tita dari balik pintu kamar mandi.
"Jangan pakek baju itu, ini gue bawain yang lain buat lo pakek."
Sedetik kemudian Tita menyembulkan wajahnya dari balik pintu kamar mandi yang dibukanya sedikit. Bagian tubuhnya yang lain Tita sembunyikan di balik pintu.
"Buka yang lebar dek, nggak usah malu. Gue udah lihat semuanya berkali kali." Kennan dengan mendorong pintu kamar mandi dengan ujung kaki kanannya.
Tita pun mau tak mau membuka pintu kamar mandi dengan lebar hingga menampakkan seluruh tubuhnya yang hanya dibalut dengan handuk mandi dari dada hingga lututnya.
"Nah gitu, biar gue juga enak masuknya." Kennan segera menerobos ke dalam kamar mandi.
Dengan santai Kennan duduk di atas kloset sembari menyerahkan paper bag yang sadari tadi dipegangnya ke tangan Tita. Kloset di dalam kamar mandi tersebut adalah closet duduk yang posisi sebelumya telah ditutup pada bagian atasnya.
"Ini apa bang?" tanya Tita dengan salah satu tangan meraih pemberian Kennan dan satu tangannya yang lain memegangi handuk di depan dadanya.
"Baju buat lo pakek."
"Dipakek sekarang?"
"Iyalah dek mosok taun depan." Kennan santai dengan masih duduk di atas kloset.
Tita membuka paper bag tersebut dan mengeluarkan isinya dari sana.
"Wow... bagus banget bang." kedua mata Tita berbinar saat mendapati sweater maroon dengan rok berwarna coklat susu serta pasmina yang senada dengan roknya.
"Abang beli buat Tita?"
"Iya." Kennan dengan anggukan kepala.
"Kapan?"
"Tadi." sahut Kennan cepat.
"Nggak mungkin." Tita dengan tidak percaya pada ucapan Kennan. Tita tidak percaya karena baru saja dirinya masuk ke kamar mandi meninggalkan Kennan di ruang kerjanya. Paling juga nggak sampai setengah jam dirinya mandi, bagaimana bisa Kennan pergi secepat itu.
"Gue nyuruh Doni buat beli, di butik seberang jalan." Kennan pun memberikan keterangan.
"Oh, pantes kalau gitu." Tita manggut manggut.
"Selera kak Putra bagus ya Bang, pinter lho dia milih model warnanya juga cocok buat Tita." Tita terdengar memuji pemilihan baju dari Doni untuknya.
"Sepertinya ukurannya juga pas buat Tita. Kak Putra memang the best deh." Tita tersenyum senang dengan membolak balikkan baju di tangan dengan mengepasnya di depan tubuhnya.
__ADS_1
Telinga Kennan memerah panas saat mendengar sang isteri memuji pilihan sepupunya. Kennan pun beranjak dari duduknya, segera melangkahkan kaki mendekati Tita.
Sret...
Kennan merebut paksa baju di tangan Tita dengan kasar lalu melempar ke lantai kamar mandi begitu saja.
"Abang!" pekik Tita terkaget dengan mata yang terbuka lebar serta mulut yang menganga.
"Kenapa dilempar sih?!" Tita gegas menunduk setelah tersadar dari kekagetannya. Dengan satu tangan memegang ujung handuk mandi dan satu tangannya yang lain meraih baju yang dilempar asal ke lantai kamar mandi.
"Basah kan..." Tita mengibaskan baju yang baru saja diraihnya.
"Udah nggak usah dipakek." Lagi Kennan mengambil baju tersebut dari tangan Tita. Lalu memasukkannya ke dalam mesin cuci portable yang berada di dalam kamar mandi.
"Abang gimana sih, katanya baju itu buat Tita pakek...malah dimasukkin mesin cuci." Tita dengan memberengut.
"Pakek ini wae." Kennan menyodorkan pakaian bekas Tita yang tadi digantung Tita di dalam kamar mandi.
"Abang aneh. Ngapain tadi nyuruh Kak Putra beli baju buat Tita segala kalau ujung ujungnya nggak Tita pakek malah dikotorin." Ucap Tita disertai dengan gerakan bibir yang dibuat sebal olehnya.
"Udah nggak usah cerewet, pakek bajunya sekarang biar kita bisa cepet berangkat." Kennan kembali duduk di atas closet.
"Kenapa abang balik duduk di situ lagi?" tanya Tita heran. Bukannya Kennan tadi menyuruhnya segera ganti baju, tapi kenapa dia tidak keluar malah memilih tetap di dalam kamar mandi
"Emangnya nggak boleh?" Kennan dengan bersidekap dada.
"Kan abang nyuruh Tita pakek baju, kalau abang masih di sini gimana Tita pakek bajunya abaang?" Tita mengeram.
Tita mendelik mendengar ucapan sang suami.
"Maksud abang Tita pakek baju di depan abang gitu..."
"Ya iyalah, kenapa emangnya? Elo malu dek? Gak usah malu, elah... orang gue yang liat wae nggak malu kok." Kennan tetap saja berbicara dengan nada datar dan menunjukkan wajah santainya.
"Abaang..." Tita memperlebar kedua matanya kesal. Lalu berjalan mendekati sang suami lalu memukul bahu Kennan lumayan kencang.
"Kenapa lo malah pukul gue sih dek?" Kennan menahan tangan Tita yang hendak memukul bahu Kennan kembali.
"Habisnya abang kalau ngomong suka asal." Tita dengan mengerucutkan bibirnya.
"Asal gimana? Orang yang gue omongan bener kok." Kennan tetap saja tidak mengerti maksud sang isteri yang kesal terhadap ucapannya.
"Ya gak mungkinlah Tita pakek baju di depan abang, emangnya Tita penari striptis apa..."
"Dari mana lo dapet kosakata striptis kek gitu? Emangnya lo tahu artinya?" Kennan dengan mengerutkan kening heran. Pasalnya setahu Kennan isterinya tersebut sangat polos. Bagaimana bisa dia menyebutkan kata tersebut.
"Tau lah, di novel yang Tita baca ada. Striptis itu kan sebutan buat penari yang naked di tempat tempat hiburan malam kek gitu. Kalau Tita pakek baju di depan abang, jadi sama kek penari striptis. Iya kan Bang...?" Tita dengan polosnya.
Ganti Kennan yang mendelik, setelah mendengar jawaban dari mulut Tita.
"Kalau seorang isteri naked di depan suaminya itu boleh dek, nggak sama dengan penari striptis yang elo sebutin." Kennan menyentil pelan kening sang isteri.
"Sama wae lah bang, sama sama naked juga kan..."
__ADS_1
"Beda dek."
"Sama." Tita ngeyel. "Abang keluar gih, Tita mau pakek baju nih." Tita mengusir Kennan.
"Gue di sini wae."
"Nggak! Abang keluar, Tita malu."
Kennan terkekeh kecil.
"Yaudah kasih cium dulu, baru gue keluar." Kennan meminta imbalan.
"Ck... abang mesti."
"Mau gue keluar enggak?"
"Iya deh iya..."
Cup.
Tita memberikan ciuman singkat pada salah satu pipi Kennan.
"Ck... ciuman apa itu, nggak berasa dek."
"Ya udah, pipinya yang satu lagi sini." Tita memalingkan pipi Kennan yang sebelah untuk diciumnya lagi.
"Bukan di pipi dek, ciuman tu di sini." Kennan mengetuk bibirnya mengerucut.
"Nggak!" Tolak Tita tegas. "Jadinya pasti lama, nggak cuman ciuman doang." Tita menjauhkan tubuhnya. Namun dengan sigap Kennan menahan salah satu pergelangan tangan Tita agar tidak menjauh darinya.
"Abang!" Tita memandang Kennan sengit.
"Cium dulu." Kennan dengan sorot mata yang memaksa.
"Enggak." Tita tetap menolak.
Kennan pun beranjak berdiri lalu menarik tubuh Tita hingga menubruk dada bidangnya.
"Gue nggak suka penolakan dek." Kennan mendekap tubuh ramping tersebut dengan kedua tangan besarnya.
Dengan segera menautkan bibir tebalnya untuk mencecap manis bibir ranum sang isteri yang telah menjadi candunya.
"Abb... emmpttffpp...." bibir Tita pun terbungkam.
Kennan mendorong tubuh ramping itu hingga menempel pada dinding kamar mandi hingga tanpa Kennan ketahui jika punggung setengah terbuka tersebut menubruk tombol air shower.
Byuurrrr....
Shower yang berada tepat di atas keduanya pun menyala, membasahi tubuh kedua pasangan remaja tersebut.
Sepertinya Tita harus terjebak di kamar mandi bersama Kennan.
βπ»βπ»βπ»βπ»
__ADS_1