Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Hal sederhana tapi indah


__ADS_3

Mohon maaf bila masih banyak typo yang bertebaran πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™.


Selamat membaca πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—.


🌺🌺🌺


Malam telah datang, menyapaku yang tengah berdiri di balkon.


"Sedang apa ?."


Aku menoleh, ternyata Alvin yang sudah pulang.


"Menikmati udara malam." sembari menoleh kearah langit lagi.


Alvin berdiri di samping ku. "Jangan terlalu banyak menikmati udara malam, itu tidak bagus."


"Iya."


"Lebih baik menikmati wajah tampan suamimu ini."


Aku terkekeh.


"Kenapa ketawa ?."


Aku menoleh, menatapnya yang sedang menatapku tajam. "Kamu tuh kepedean banget sih, mas."


"Loh. Bukannya saya memang tampan."


"Iya, tampan. Kalau dilihat dari ujung sedotan." Lalu terkekeh kecil


Tiba-tiba Alvin mencubit pipi ku, aku meringis kesakitan. akhirnya ia melepaskan dengan sebuah senyuman yang menghiasi bibirnya.


"Ternyata kamu itu orangnya lebih asyik dari yang saya duga." Sembari menatap kearah bawah.


"Iyalah." Sembari menatap kearah bawah juga.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu mandi, mas !." Sembari menatap kearah nya.


Alvin berbalik, berjalan kearah dalam kamar mandi. Aku bahagia, bisa bicara panjang lebar dengannya tanpa rasa canggung. Ia juga tidak sedingin biasanya. Malam ini jadi terasa lebih indah. Seindah bintang yang bertebaran di langit malam. Bintang nya terlihat lebih banyak dan indah dari malam biasanya. Merasakan hal ini jadi membuatku ingin merasakan terus. Mengobrol panjang lebar dan santai dengan Alvin.


🌺🌺🌺


Aku yang sudah selesai memasak, menuju kamar Alvin untuk membangunkan nya. Mentang mentang ini hari libur ia belum bangun juga. Menikmati hari libur dengan tidur seharian. Maklum sajalah yah, mungkin Alvin lelah berkerja. Ia kan. seorang CEO yang tugasnya banyak. Tapi aku tidak bisa membiarkan nya seperti ini.


Ku goyangkan tubuh Alvin perlahan, sembari memanggil namanya. Ia masih tak bergeming. Ku goyangkan tubuh nya lebih kencang.


"Iya, iya, iya saya bangun." Khas suara orang bangun tidur, lalu ia duduk masih dengan muka bantal.


"Jangan tidur lagi !." Ucapku, lalu berlalu keluar menuju ke kamar ku untuk mandi.


Selesai mandi, sudah cantik plus wangi. Aku menuju kamar Alvin. Ku putar knop pintu, masuk. Tak ada Alvin, kemana lelaki itu ?. Ketika aku menoleh kearah kamar mandi, pas sekali pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Alvin dengan celana panjang hitam tanpa memakai baju dan handuk yang sedang ia gunakan untuk mengeringkan rambut yang basah. Aku melongo melihat Alvin dalam keadaan seperti itu, sampai sebuah suara mengintrupsi.


"Vi !."


Aku tersadar, dan langsung membalikkan tubuh. "Hmmm. aku cuma mau memanggil mu untuk sarapan."


"Tidak usah malu gitu, Vi."


"Apaan sih, mas." Sembari melepaskan tangan Alvin, lalu keluar.


Pagi pagi sudah menggoda saja. Ternyata sikap alvin seperti itu. Tidak dingin malah alay. Hahahaha


Awalnya dimeja makan sepi yang ada hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu diatas piring, tapi aku berusaha mencairkan suasana.


"Mas, nanti sibuk ngak ?."


"Tidak. Kenapa ?."


"Tidak apa-apa." Sembari mengunyah.


"Kamu mau jalan-jalan ?."

__ADS_1


Aku tersenyum miris. " Mana mungkin mas Alvin mau."


"Selama ini pasti saya terlalu dingin dengan kamu, sampai kamu bisa berpikir seperti itu."


"Bukan. Tidak seperti itu, mas." Dengan wajah tidak enak.


Pasti aku telah membuatnya sedih. Wajahnya jadi terlihat lebih sendu. Sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu. Lagi pula kenapa aku harus berkata seperti itu sih. Aku kan jadi tidak enak, pasti ia salah paham.


"Aku minta maaf, mas. Sungguh, aku tidak ada maksud lain." Sembari menundukkan kepala, tidak berani menatap nya.


Kudengar Alvin berdiri dari kursi dan sepertinya berjalan kearah ku. Alvin terduduk di kursi sampingku. Sebuah tangan memegang kedua pipiku, mengangkat kepalaku sampai kedua mataku bertemu dengan mata Alvin.


"Saya mengerti. Kamu tidak usah merasa bersalah, selama ini saya memang salah." Lalu tersenyum tipis.


"Mas Alvin tidak marah kan dengan ku ?."


Alvin melepaskan pipiku. "Tidak." Lalu secepat kilat Alvin mencium pipi ku.


Aku tertegun, mungkin dengan wajah yang sudah tidak jelas. Degup jantungku tak menentu, seperti sedang lari maraton. Ini kali pertama aku dicium oleh seorang lelaki, ternyata rasanya seperti ini. Tidak baik untuk kesehatan jantung, bahkan bisa-bisa jantungku copot.


"Vi !."


"Iya.." Dengan sedikit gelagapan.


Aku terdiam melihat Alvin terkekeh. Ini bukan pertama kalinya aku melihatnya seperti itu. Wajah dinginnya kini sudah entah kemana. Aku bahagia kini Alvin bukan seperti Alvin sang biang es lagi, saking dingin nya. Wajahnya yang sekarang penuh dengan ekspresi membuat ku menyukainya. Teruslah seperti itu, mas.


"Mas, kenapa tertawa seperti itu ?."


"Wajah kamu lucu banget, Vi."


🌺🌺🌺🌺🌺


Terimakasih atas dukungannya πŸ™‚πŸ™πŸ™


Terus dukung author dengan kalian like dan komen. ☺️☺️

__ADS_1


Maaf bila masih banyak typo yang bertebaran πŸ™πŸ™πŸ™.


__ADS_2