
Drrtt.... drrtt...
Ponsel Kennan di atas meja bergetar, menandakan adanya panggilan masuk.
Kennan meraih ponselnya dengan kening mengerut karena hanya ada nomor tanpa nama tertera pada layar ponsel pintarnya.
Nomor itu cukup mudah dihafal, tidak mungkin jika hanya panggilan iseng saja menurut Kennan.
Sedikit ragu Kennan mengeser tombol panggilan untuk menerima lalu mendekatkan pada telinga kirinya.
"Hallo."
Sapaan suara yang masih Kennan ingat terdengar dari seberang telepon. Ternyata Alex yang menghubungi dirinya.
Kennan pun menyahut membalas sapaan tersebut dengan rasa lega. Baru saja beberapa saat lalu dirinya memikirkan sang sahabat. Seperti memiliki telepati ternyata Alex menghubunginya.
"Dari mana lo tau nomor gue?" tanya Kennan kemudian.
"Gue nggak sengaja ketemu temen gue yang pake jasa konstruksi lo. Pas dia cerita kalau pake jasa Atmadja Konstruksi gue langsung nyuruh dia nyari nomor lo. Ternyata sulit juga buat dapetin nomor orang sombong kek elo." Alex memang memerlukan waktu untuk mendapatkan nomor Kennan.
"Sorry gue nggak mau terganggu aja."
"Cih... dasar bapak rumah tangga, lo takut bini lo marah..." ledek Alex tanpa tahu kehidupan Kennan sekarang.
"Yaa... gitu deh." Kennan menutupi kehidupan rumah tangganya yang memiliki status tidak jelas saat ini.
"Jangan jangan susah juga nih buat ngajakin suami takut istri ini nongkrong?" Alex bertanya dengan masih meledek sahabatnya.
"Enggak juga. Gue bebas pergi kok." Elak Kennan.
Bagaimana tidak bebas, wong Kennan saat ini hidup sendiri meski bertatus menikah.
"Beneran bebas?"
"Beneran." Kennan meyakinkan.
"Kalau gitu kita ketemuan ntar sore, habis ngantor oke?!"
"Siip. Dimana? Gue nggak ada ide nih, gak tau tempat yang enak buat nongkrong."
Kennan memang belum terlalu paham tempat tempat nongkrong yang baru di Jogja, maklum setelah pulang Indonesia Kennan menyibukkan diri pada pekerjaannya. Ingin menawarkan kafe miliknya Kennan bosan. Lagian Kennan masih belum siap menginjakkan kaki di tempat yang penuh kenangan dengan Tita sang istri. Sedari awal datang, Kennan belum sekalipun menginjakkan kaki ke kafe K&Y.
"Gue aja yang pilihin tempat."
"Tapi jangan club ya. Gue nggak mau." Kennan mewanti wanti.
"Siip... gue nggak bakal ngajakin susis nongkrong di tempat penuh dosa." Terdengar Alex terkekeh di akhir kalimatnya.
"Sialan lo. Ngeledek mulu."
"Beneran kok. Tempat ini aman, bebas dari dosa. Lo boleh bawa anak bini lo kalau nggak percaya. Gue aja sambil momong." terang Alex.
"Sambil momong?" Kennan dengan mengerutkan kening heran.
"Iya. Gue bawa anak anak." Alex seakan tahu jika Kennan bertanya keheranan.
"Kenina?"
"Yoi."
Entah mengapa jawaban Alex membuat Kennan menyunggingkan senyum pada wajah lelahnya.
__ADS_1
"Woke... gue tunggu sharelock lo." Kennan tanpa sadar tersenyum senang. Rasa hatinya tak sabar ingin bertemu gadis kecil yang tetiba dirindukan olehnya itu. Ah... padahal bukan mau bertemu istrinya.
"Siip. Gue tutup telfonnya."
"Eh Lex, tunggu!" Kennan menginterupsi saat Alex hendak mengakhiri panggilannya.
"Apalagi?"
"Kenina suka boneka?" tanya Kennan tiba tiba.
"Dolphin. Dia suka semua yang berhubungan dengan itu, apalagi kalau berbentuk boneka yang bisa dia bawa tidur." jelas Alex.
"Sip. Tanks." Kennan pun mematikan panggilan Alex.
"Boneka dolphin." Gumam Kennan kemudian menekan interkom dan memberi perintah sekertarisnya untuk mencarikan boneka yang dimaksud.
πππ
Tap... tap... tap...
Kennan bergegas memasuki Kenita's Cake and Bakery tempatnya untuk bertemu Alex dengan membopong sebuah boneka dolphin sebesar guling di tangan kanannya.
Alex memang mengajaknya bertemu di sana, dan Kennan langsung mengiyakan tanpa banyak tanya karena beberapa hari lalu pernah datang bersama Naura. Jadi Kennan sudah jelas tahu tempatnya.
Senyum berbinar menghiasi wajah tampan Kennan. Dengan langkah tegap bak CEO muda, Kennan membopong boneka dolphin yang hanya dibungkus dengan pembungkus transparan tersebut tanpa sedikitpun rasa malu. Entah mengapa senang rasa hati Kennan saat menenteng boneka tersebut, meski banyak pasang mata melihatnya.
Apa yang dilalukan oleh kennan saat ini seperti seorang ayah yang tak sabar ingin bertemu dan memberi hadiah pada putri kecilnya.
Bibir Kennan melengkung sempurna saat mendapati tangan melambai ke arahnya, di sudut ruangan toko kue yang ternyata memiliki tempat makan seperti kafe. Siapa lagi pemilik tangan tersebut jika bukan Alex sahabatnya.
Kennan segera mempercepat ayunan langkah kakinya.
"Niat banget lo nyarinya, lo beli sendiri?" tanya Alex dengan tawa senang. Padahal Alex hanya iseng memberi tahu Kennan meski boneka dolphin adalah benar kesukaan Kenina.
"Gue nggak nyangka lo beneran bawain. Betewe thanks Dab..." Alex mengeratkan tangannya saat menjabat tangan Kennan. Sebagai tanda ucapan terima kasih karena telah perhatian pada Kenina.
Coba aja lo beneran bapaknya... anak itu pasti sangat senang. Alex dalam hati.
"Dari mana lo tau tempat ini Lex?" Kennan menarik kursi lalu mendudukkan diri di hadapan Alex.
"Tempat ini punya saudara gue."
"Oh." Kennan manggut manggut.
"Mau apa lo?" Alex memberi tanda pada salah satu karyawan untuk mendekat.
"Espresso sama em..." Kennan memandangi daftar menu yang telah diberikan karyawan toko.
Kennan mencari rupa cake yang kemarin dibeli oleh Naura adeknya dengan membolak balik daftar menu itu berulangkali.
"Elo nyari apaan sih? Bingung banget keknya." Alex yang sedari tadi melihat Kennan seperti bingung memilih, bertanya heran. Tidak biasanya sahabatnya itu ribet.
"Gue nyari kue yang kemarin dibeliin nongnong."
"Kek apa kuenya?"
"Cake jadul sih, cuma rasanya gue suka." Kennan masih saja belum menemukan kue yang dia maksud.
"Maksud bapak yang ini?" karyawan tokonya sedari tadi berdiri memperhatikan Kennan menunjuk kue dari daftar menu yang dipegangnya.
"Oh iya." Kennan dengan berbinar. "Dua potong ya." Kennan seraya menyerahkan daftar menu pada karyawan tersebut.
__ADS_1
"Seenak apa sih?" Alex penasaran.
Meski sebenarnya Alex mengakui rasa yang dibuat di toko kue saudaranya itu, namun Alex tidak menyangka jika Kennan sangat menginginkannya. Biasanya Kennan tidak peduli.
"Rasanya mengingatkan gue sama bini gue." Kennan menyendu.
Alex pun mengerutkan kening mendengarnya.
"Isteri gue... huh..." Kennan menjeda ucapannya lalu membuang nafas kasar.
"Kenapa isteri lo?" Alex semakin penasaran.
"Dia ninggalin gue."
Hah!
Alex terkejut dengan kedua mata membulat sempurna.
"Demi apa?" tanya Alex beberapa saat setelahnya.
"Ada sedikit salah paham." Kennan dengan suara yang terdengar bergetar.
"Kalau cuma sedikit salah paham kenapa dia ninggalin lo? Elo kali yang belum bisa menerima dia." Alex menebak karena merasa tahu latar belakang pernikahan sang sahabat.
Kennan menggeleng lemah. "Gue udah nerima pernikahan gue kok. Ternyata cewek yang gue nikahin itu..."
"Omyayah!"
Sebuah seruan seorang gadis kecil dengan diiringi bunyi tapak sepatu berlari kecil membuat Kennan menghentikan kalimatnya.
"Sayang." Kennan denagn merentangkan kedua tangannya.
Bugh.
Kenina menubruk Kennan dengan lumayan keras, layaknya seorang gadis kecil yang merindukan ayahnya.
Auw... Kennan berpura pura kesakitan.
Kenina pun memgendurkan tubuhnya, memberi jarak.
"Maaf... Eyina kanen banget." gadis kecil itu dengan puppy eyesnya, membuat Kennan semakin gemas.
"Omyayah pula pula sakitnya." Kenina kembali memeluk Kennan erat.
"Lucu banget sih Lex, pengen gue bawa pulang ini anak." Kennan dengan menoel pucuk hidung Kenina.
"Bawa aja. Sekalian sama emaknya juga boleh." Alex dengan tawa kecil.
"Ngomong apaan sih lo. Ngaco." Kennan mencebik malas pada guyonan Alex yang menurutnya tidak lucu sama sekali.
"Gue ngomong bener. Elo pasti mau banget kalau lo tau siapa emak anak itu." Alex dengan senyum penuh arti.
"Lex... jangan sembarangan kalo ngomong. Anak lo bisa denger." Kennan melotot sembari menutupi kedua telinga Kenina. Kennan takut gadis kecil itu mendengar dan paham akan omongan Alex.
"Eyina! Jangan peluk oyang gak dikenal sembayangan!" Teriak nyaring suara anak kecil laki laki.
Pandangan Kennan yang semula pada Alex pun sontak berpaling ke arah suara.
Set.
Kedua mata Kennan melebar sempurna saat menemukan anak kecil laki laki berkacak pinggang menatap sengit ke arahnya.
__ADS_1
Namun bukan hanya itu yang membuat Kennan sangat terkejut. Melainkan sosok wanita cantik berkerudung yang berdiri di sisi anak lelaki kecil seumuran Kenina yang membuat Kennan lebih terkejut lagi.
π¨π¨π¨π¨