
Maaf bila masih banyak typo yang bertebaran ππππ.
Selamat membaca π€π€π€.
πΊπΊπΊπΊ
"Mas."Ujar ku sembari Alvin masih terus menarik ku sampai ia mendudukkan ku di tepi ranjang dengan ia disamping ku.
"Bisakah kita seperti sepasang suami istri yang lainnya yang tidur dalam satu tempat tidur ?."
Aku terdiam. Pertanyaannya membuat ku tak bisa berkutik. Perasaan ku tak menentu, bahkan tubuhku merasa panas dingin. Aneh. Aku harus menjawab apa ? Bingung.
"Yasudah kalau kamu belum siap." Lalu berdiri.
Aku menggapai tangan Alvin. "Kalau itu mau mu, aku akan berusaha bisa, mas."
Alvin menoleh ke arahku. "Maksudnya, kamu mau satu kasur dengan ku ?."
"Iya." Sembari melepas tangan Alvin.
Tak apa. Tak ada salahnya aku mengiyakan kemauannya. Hanya sekedar satu ranjang, tidak lebih. Lagi pula aku mulai suka ketika ia memeluk ku saat tidur, rasanya damai. Mungkin itu efek dari Alvin yang sedang belajar mencintai ku.
Alvin masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dengan air hangat. Sedangkan aku kembali ke kamar untuk membersihkan diri juga. Setelah selesai membersihkan diri, aku kembali ke kamar Alvin untuk tidur disana. Ku putar knop pintu, ternyata Alvin sedang terduduk di atas ranjang dengan laptop yang berada di pangkuannya. Aku naik ke atas ranjang, duduk dengan kepala bersandar di kepala ranjang.
"Sibuk banget, mas." Ujar ku sembari melirik Alvin yang sedang mengetik.
"Lagi banyak banget kerjaan yang belum selesai." Sembari mengetik.
Menemani Alvin mengerjakan pekerjaan nya membuat ku lama kelamaan mengantuk. Sejak tadi saja aku sudah menguap terus. Rasanya mata ku tinggal 3 Watt.
"Tidur, Vi !."
Mendengar itu aku memutuskan untuk merebahkan tubuhku. Sepertinya aku mulai menyelami alam mimpi.
πHayooo pada kecewa ya Alvin ngak 'itu' πππ#Author
****
Perlahan ku buka mata ini, ku lihat wajah seseorang yang akhir akhir ini membuat hatiku tak menentu. Jarak wajah ku dan Alvin begitu dekat. Untuk kedua kalinya Alvin tertidur sambil memeluk ku. Settings keadaan seperti ini sudah menjadi candu baginya. Baru saja aku ingin turun dari kasur, tiba-tiba tangan ku ditarik. Akhirnya aku kembali tertidur, dengan posisi sebelumnya yaitu miring menghadap alvin.
"Mau kemana sih. Emang udah puas memandangi wajah saya ?." Ujarnya, lalu membuka mata.
Aku yang semula menatapnya, melihat kearah lain. Ya ampun, ini sudah kedua kalinya aku tertipu dengan tidurnya Alvin. Kalau dia sudah bangun kenapa masih menutup matanya π. Ucapannya sungguh membuat ku tersipu malu. Ini masih pagi, ia sudah berani menggodaku ? Perasaan dulu, Alvin tidak suka menggoda. Kenapa kepribadian lelaki itu berubah ? Entahlah.
__ADS_1
"Kenapa diam ? Malu ya ?."
"Apaan sih kamu, mas. Tidak jelas kamu."
"Cieee yang malu, teryata istri ku ini sangat pemalu ya kalau digodain."
"Sudah, mas. Aku mau membantu bibi memasak." Lalu pergi meninggalkan Alvin.
Selesai memasak masih menggunakan apron, ku tata beberapa piring yang berisi makanan diatas meja. Alvin datang sudah dengan pakaian kantor nya, lalu duduk. Aku duduk dihadapan Alvin.
"Kalau kamu mau makan, makan saja duluan, mas. Aku mau mandi dulu."
Alvin melihat jam tangannya. "Saya akan makan duluan."
"Yasudah. Aku tinggal."Lalu berlalu dari hadapan Alvin.
Selesai aku mandi, aku bergegas kebawah. Aku tersenyum ternyata Alvin sudah berangkat. Aku duduk untuk makan. Ketika aku sedang makan, handphone yang sedang diatas meja berdering.
"Hallo, mas."
"Kamu sedang makan ?."
"Iya, mas."
"Kamu sudah baca note yang saya buat ?."
"Ada dibawah piring ayam."
Belum sempat menjawab, panggilan berakhir. Ettdah kebiasaan banget ya, belum juga jawab dah main mati matiin aja.
Ku lihat kearah yang dimaksud Alvin. Ku lihat ada kertas berwarna pink,
Ku ambil.
"Terimakasih telah memasak untuk ku. Untuk mu istriku β€οΈβ€οΈ" aku tersenyum.
Hanya sebuah kalimat singkat, tapi mampu membuat hati ku tak menentu. Uhhh, manis sekali sih kamu, mas βΊοΈ. Aku menghargai inisiatif mu yang membuat ku bahagia diawal pagi hari ini.
Ketika aku sedang mengetik cerita di laptop sembari terduduk di kursi yang ada di balkon, aku mendengar ketukan pintu dan suara bibi yang memanggil ku. Ku letakkan laptop diatas meja kecil disamping kursi, lalu aku beranjak membuka pintu.
"Ada temen non dibawah, namanya Arxi."
"Tolong suruh kesini aja bi."
__ADS_1
"Baik, non."
Aku kembali terduduk di kursi yang berada di balkon, mengetik lagi ceritaku yang belum selesai.
"Hay, hay." Yang baru saja muncul, lalu duduk dikursi yang berada disampingku.
"Ada apa, tumben sekali kesini ?." Sembari mengetik.
"Tidak ada apa apa, hanya lagi ingin main saja."
"Ohhh."
"Suami mu kerja,Vi ?."
"Iya... Kamu kapan ?."
"Kapan kapan. sudahlah Vi, jangan bahas itu."
Maklum jika arxi malas jika ditanya hal seperti itu. Dulu, Waktu aku belum menikah sama dengan Arxi. Paling malas mendengar pertanyaan "Kapan Nikah" dan sejenisnya. Perasaan yang belum nikah bukan kita aja, author kita juga, tapi kenapa rasanya seperti hanya kita yang belum menikah. Hufttt.
Hey Vira author mu ini emang belum nikah, tapi jangan diungkit dong. ππ
Maaf Thor.βΊοΈβΊοΈβΊοΈ
"Vi." Ucap Arxi dengan suara lebih kecil tapi dalam.
Aku menoleh. Kenapa wajahnya jadi horor gitu.
"Kamu mau video cara bikin anak ngak ?." Sembari sedikit berbisik.
Mataku membulat sempurna, terkejut dengan ucapan arxi yang tidak ku sangka akan keluar dari mulut perempuan itu.
"Ya ampun, Xi. Bisa bisanya kamu nonton video seperti itu."
"Aku tidak menonton,Vi. Aku hanya memberi ide."
"Sudah, sudah. Ide mu tidak benar." Lalu kembali fokus mengetik.
Dikira membuat anak pakai terigu, dengan mudahnya ia berkata seperti itu. Kalau membuat pakai terigu, sudah ku tonton dari kemarin kemarin. Berarti arxi meminta ku menonton video yang seperti itu. Isshh, terkadang tuh anak bicara ngak pake dipikir. Walau aku sudah menikah, bukan berarti aku siap menonton hal seperti itu. Belum menonton saja, aku sudah merinding geli.
πΊπΊπΊπΊ
Terimakasih untuk para readers ku tersayang π yang telah setia menunggu author update.
__ADS_1
Terus dukung author dengan kalian like dan komen ya.
Sekali lagi maaf bila masih banyak typo yang bertebaran πππ.