
"Mas."
Tita menahan kepala Kennan yang tak berhenti bergerak menyusup dalam perutnya.
Hnm...
Gumam Kennan tanpa menghentikan aksinya.
"Hentikan geli."
"Kamu nggak kangen sama aku dek?" Kennan mendongak dengan tatapan dalam. Jelas tersirat kerinduan yang membuncah dalam sorot manik hitamnya.
Sejenak tersenyum, menatap manik legam milik Kennan.
"Kangen. Kangen banget malah." Tita dengan menangkup kedua pipi Kennan dengan sedikit menunduk hingga jarak wajah keduanya tinggal beberapa senti saja.
"Bagian mana yang bikin kamu kangen dek?" Kennan sengaja menggoda dengan mengikis jarak. Membuat pucuk mancung keduanya hampir bersentuhan.
Sontak Tita menjauhkan wajah dengan menahan degub jantung yang berdetak rancak akibat hembusan nafas hangat yang menggebu sang suami.
Mengerutkan kening pura pura berfikir sejenak, lalu menyapu wajah Kennan dengan menopang dagu menggunakan tangan kirinya.
"Kangen sama ini" Tita menunjuk pucuk hidung sang suami. "Juga ini." telunjuk lentik itu menoel pipi Kennan silih berganti. "Ini juga." Tita menyentuh mata lalu berganti mengusap alis mata Kennan yang hitam tebal.
"Yang ini enggak?" Kennan membawa telunjuk kanan Tita pada bibirnya karena Tita berhenti di bagian alis cukup lama.
Tita terkesiap akan ulah Kennan. Dalam hati mengiyakan tanya sang suami. Namun tenggorokannya terasa kelat untuk berucap kata.
Sesaat keduanya hanya terdiam saling menatap. Menyelami dalamnya mata yang sama sama menyiratkan kerinduan.
Cup.
Kennan menggeser telunjuk Tita dengan cepat lalu menyambar bibir sang isteri yang tampak merah merekah, menggoda sisi lelaki dewasanya.
Menetap lama di sana lalu bergerak meluma@t lembut bibir bawah sang isteri untuk menyalurkan betapa dirinya sangat merindukan pagutan intim antara mereka berdua.
Perlahan Tita pun mengikuti irama, membalas lembut sesapan bibir Kennan dengan melakukan gerakan yang sama. Perlahan mengatupkan kelopak mata karenai rasa canggung yang mendera di hatinya.
Kennan menegakkan tubuh tanpa melepaskan tautan bibir keduanya. Tita pun mengimbangi dengan mendongakkan kepala karena wajah Kennan semakin meninggi. Kedua tangan Tita menumpu pada ranjang saat merasa tubuh kekar itu mendorong semakin kuat.
Hingga akhirnya Tita tak kuat menahan bobot tubuh sang suami yang semakin kuat memagut seraya mendorong tubuhnya merebah di atas ranjang.
Dengan kaki yang menjuntai kedua tubuh itu saling menindih.
__ADS_1
Kennan memperdalam ciuman, melesakkan lidah hingga ke rongga mulut sang istri. Menyusuri setiap inchi manis yang telah lama tidak Kennan cicipi.
"Akh-kh... mass..." Lenguh Tita dengan ******* saat bibir Kennan bergeser mencium seraya memberikan gigitan kecil pada daun telinganya. Tangan Kennan pun tak kalah lincah meraba dan meremas gundukan kembar sang istri di balik piyama tidur yang dikenakan Tita dengan agresif.
Hawa tubuh keduanya semakin memanas. Tita tidak berhenti menggelinjang saat tangan Kennan menerobos masuk kedalam, meremas dan memilin kuat pucuk gunung kembarnya dengan gairah yang membara.
Tita menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan d3saha@n agar tak lolos karena ulah tangan nakal Kennan.
"Jangan ditahan dek, aku suka mendengarnya." Kennan dengan suara serak tanpa menghentikan aksinya menyusupkan bibir, menyusuri permukaan licin wajah Tita. Membuat basah permukaan licin bak pualam tersebut.
Hek.
Nafas Tita seakan tercekat, tubuhnya sedikit menegang saat tangan nakal Kennan telah berpindah mengusap lembut inti tubuhnya yang masih terbalut piyama tidur.
Kennan menyadari itu.
Memindahkan bibirnya kembali ke bibir sang isteri yang telah membengkak akibat ulahnya. Tangannya pun berpindah tempat.
Tita menggeliat akan ulah Kennan yang berganti menekan dan menggesekkan inti tubuhnya dengan miliknya. Berusaha menggeser tubuh bagian bawahnya. Kedua tangannya pun seakan menahan Kennan untuk melanjutkan aksinya.
Sungguh Tita bukan ingin menolak sentuhan tangan nakal Kennan maupun gesekan inti tubuh Kennan yang mengeras menggesek miliknya, bagaimanapun mereka berdua masih sah sebagai suami isteri.
Hanya saja pertemuan mereka yang baru saja terjadi setelah sekian lama membuat Tita merasa kaku dan canggung untuk menikmati maupun membalas sentuhan itu.
"Kenapa? Kamu tidak menginginkanku?" Tanya Kennan dengan berkabut hasrat saat merasakan gerakan tubuh Tita yang seolah tak inginkan dirinya.
"Bukan begitu." lirih Tita takut takut.
Kennan menegakkan wajah, menatap sang isteri penuh tanya.
"Aku... aku..." Tita hanya mampu mengigit bibir bawahnya tanpa mampu melanjutkan kata.
"Kenapa dek? Jangan gigit seperti itu nanti luka." Dengan jemarinya Kennan melepaskan bibir bawah Tita dari giginya.
Tita hanya mampu terdiam, menatap sang suami sekilas, lalu memilih memalingkan wajah ke arah lain.
Tita tak kuasa jika harus menatap wajah tampan suaminya terlalu lama. Dorongan dalam tubuhnya menginginkan sentuhan lembut itu namun rasa di hatinya seolah menekannya.
"Kamu mau tapi malu?" Kennan dengan pandangan menggoda karena menyadari akan rasa canggung yang mendera sang isteri.
"Mas. Haruskah kamu mengatakannya?!" Tita melotot disertai dengan semburat merah yang membuat wajah putihnya terlihat merona.
Kennan pun terkekeh.
__ADS_1
"Tidak usah canggung. Luapkan rindumu sayang. Aku akan melakukannya dengan pelan. Boleh kan?" Tatap Kennan dikuasai oleh hasrat yang membara.
Setelah berfikir sesaat Tita menganggukkan kepala perlahan. Sungguh tak tega membuat sang suami kecewa.
Perlahan Tita menutup kelopak matanya.
Kennan pun tersenyum menyeringai.
Dengan tak sabar segera menyes@p kembali bibir sang isteri dengan penuh gairah. Mendorong kuat mulut Tita lalu melesakkan lidah menyusuri rongga mulut sang isteri yang mulai terbuka dan mengimbangi setiap gerakan bibirnya.
Ciuman agresif itu semakin menggebu. Dengan tangan yang semakin bergerilya mencari kepuasan di tempat yang lain.
"Akh...hh... mas." Kedua tangan Tita yang menyusup ke dalam surai hitam Kennan tanpa sadar meremasnya kuat.
Kennan yang tengah asyik bermain di antara dua gundukan kembar sang isteri tersenyum menyeringai. Semakin semangat memberikan cecapan basah serta meninggalkan jejak tanda kepemilikan pada permukaan kulit yang entah sejak kapan telah terbuka sebagian kancing atasnya.
"Dek... balas sentuhanku." Kennan mendongak pada wajah sang isteri yang masih menutup mata dengan terengah.
"Kamu tidak ingin menyentuhnya?" Kennan menarik salah satu tangan Tita, menggiringnya masuk ke dalam celana bahan yang resletingnya telah menurun.
"Mas."Tita membuka mata. Salah satu tangannya yang berada di bawah sana terasa kaku untuk digerakkan.
"Cobalah. Aku merindukan sentuhannya." Kennan terdengar mengiba.
Tita menekan ludahnya kelat.
"Ahh...sshhh." D3sah@n keluar dari mulut Kennan saat jemari tangan sang isteri meremas tuas panjang pabrik kecebongnya.
"Sakit mas? Aku melakukannya terlalu kuat." Tita cemas karena memurutnya sang suami meringis menahan sakit.
"Enggak." Kennan serak.
"Kita tuntaskan ya dek..." Kennan menindih Tita dengan kuat.
Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Tita, melainkan memasrahkan tubuh seraya memejamkan mata.
Bukk...
"Yayah Eyina akal!"
Huuaaa...
π¨π¨π¨π¨
__ADS_1