Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
213. Silent Mode


__ADS_3

Seminggu telah berlalu.


Setelah kejadian tidak menepati janjinya, hubungan Kennan dan Tita kembali merenggang.


Kennan kembali berubah datar dan dingin pada Tita isterinya. Keegoisan bercampur dengan rasa marah membuat Kennan tidak berkaca akan dirinya yang telah melanggar janjinya karena membuat Tita menunggu sangat lama.


Kennan hanya mengedepankan emosinya, yang merasa jika Tita melakukan kesalahan karena telah pulang dengan cowok lain. Dan lagi cowok itu adalah Arga, musuh bebuyutannya.


Bukannya menanyakan pada Tita untuk meminta kejelasan tentang bagaimana keduanya bisa bersama, melainkan Kennan malah mendiamkannya tanpa peduli perasaan Tita.


Sangat egois memang namun itulah yang terjadi saat ini. Jiwa muda yang masih labil membuat Kennan berfikir apa yang ada di depan matanya tanpa peduli pada alur kejadian yang sebenarnya. Mengutamakan rasa marah yang telah membakar hatinya.


Padahal semua kejadian berawal dari kesalahan yang telah Kennan lakukan.


Di sisi lain, Tita yang tidak mengetahui letak kesalahannya pun memilih diam tidak menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Kennan. Tita pun memilih mengikuti Kennan, mendiamkan sang suami.


Apalagi sikap kennan yang seolah tidak merasa bersalah bahkan tidak sekalipun meminta maaf kepadanya atas kejadian yang membuatnya harus menunggu sepanjang hari hingga harus kehujanan dan berskhir pulang bernama Arga, membuat Tita juga merasa kesal.


Sehingga selama seminggu ini hubungan keduanya kembali dingin dan hambar. Meskipun aktivitas ke sekolah dan yang lainnya masih tetap berjalan normal namun mereka berdua terlihat meminimalkan komunikasi.


Tita memilih sibuk dengan aktivitasnya. Mengurung diri di dalam kamar, berkutat dengan buku buku pelajaran sekolahnya jika berada di rumah. Apalagi saat ini sudah mulai banyak uji coba soal soal ujian, otaknya yang paspasan membuatnya harus belajar dengan extra.


Di saat hari luang pun Tita memilih pergi ke kafe untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Karena berada dalam satu ruangan dengan sang suami yang mendiamkannya, membuat Tita merasa harinya bergerak lambat.


...🍭🍭🍭🍭...


"Pulang nanti gue nggak bisa bareng, gue ada acara. Elo pulang naik taxi wae." Kennan menginterupsi saat tangan Tita hendak membuka handel pintu mobil.


Keduanya kini tengah berada di dalam mobil yang telah berhenti di parkiran sekolah.


Tita yang baru saja memegang handel pintu dengan tubuh yang telah membelakangi kennan pun mengurungkan niatnya untuk keluar.


Kembali memutar tubuh, sedikit menghadap Kennan.


"Boleh Tita tanya abang mau kemana?" tanya Tita dengan sangat hati hati.


Kennan yang menatap kurus ke depan dengan tangan yang masih berada di atas kemudi terlihat menghirup nafas kuat.


Memejamkan kedua matanya lalu menghembuskan nafas berat saat membuka kedua matanya.


"Elo gak perlu tau." Kennan datar masih dengan pandangan lurus ke depan, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Tita isterinya.


Tita harus merasakan nyeri dalam sudut hatinya saat Kennan terdengar tidak peduli padanya.


Tita masih belum memahami akan kemarahan Kennan pada dirinya. Cowok bergelar suami sahnya itu hanya kembali mendiamkannya tanpa memberikan alasan ataupun menjelaskan kesalahan yang telah dilakukannya olehnya.


Tita memandang Kennan dengan berbagai macam pertanyaan yang memutari tempurung kepalanya. Tak habis pikir dengan sikap Kennan yang terlihat kembali seperti awal membina rumah tangga.

__ADS_1


Sungguh sikap diam dan sifat egois Kennan membuat Tita tidak mampu berucap kata. Tita hanya mampu memendam semuanya sendiri, membiarkan hatinya tersakiti oleh sesuatu yang dia sendiri tidak tahu penyebabnya.


"Abang tidak ingin kasih tau sama Tita, abang mau ke mana..." Tita memberanikan diri untuk bertanya sembari meremas kedua tangannya erat. Jujur saja Tita takut jika pertanyaannya akan membuat Kennan marah dan meluapkan emosi kepadanya.


"Ada yang perlu gue lakuin. Elo nggak usah mikir negatif, gue gak bakalan aneh aneh." Kennan masih saja datar dan dingin.


"Abang beneran gak mau kasih tau Tita?" Tita masih saja berharap sang suami berubah pikiran dan mau mengatakan yang sesungguhnya dia mau pergi kemana. Toh Tita juga nggak bakalan melarangnya, hanya saja jika Kennan mau mengatakan yang sebenarnya pastinya akan membuat Tita tenang dan tidak perlu khawatir.


"Dek..." Kennan memalingkan wajah ke arah Tita dengan pandangan seolah memohon agar Tita tidak mengusiknya lagi.


Tita menghembuskan nafas pendek.


"Baiklah, Tita pulang sendiri." Tita pun memutuskan memutar tubuhnya kembali dan segera keluar dari dalam mobil sang suami dengan gerakan yang cukup kasar.


Tita ingin menunjukkan pada Kennan jika dirinya sedang marah saat ini. Bahkan untuk menunjukkan kemarahannya, Tita pun menutup pintu mobil dengan keras hingga membuat Kennan terjengit kaget.


...🍭🍭🍭🍭...


"Hai Ta!" Hani dengan menepuk bahu Tita dari belakang, saat melihat sahabatnya berdiri di halte dekat sekolah mereka.


Sontak Tita pun menoleh ke belakang.


"Eh, Incess." Tita dengan ekspresi kaget.


Hani cengengesan melihat wajah terkejut sang sahabat.


"Sedikit." Tita tersenyum hangat.


"Ngapain lo disini?" Hani bertanya dengan heran.


Tidak biasanya sahabatnya itu di halte setelah Kennan mempublikasikan hubungan keduanya sebagai kekasih di sekolah.


"Nunggu tayo." Tita masih dengan tersenyum.


"Kenapa? Kennan gak masuk po?"


"Masuk." jawab Tita pendek.


"Terus ngapain lo nungguin tayo di sini?" Hani mengerutkan kening.


"Emban mau jenguk Bang Satya. Udah lama nggak ziarah makan." Tita terlihat sendu.


"Lah... kenapa nggak lo suruh Kennan nganterin lo?"


"Abang lagi ada keperluan lain yang nggak bisa ditinggalin." Tita tidak berbohong, toh memang itu yang Kennan katakan kepadanya.


"Nggak bisa po Kennan nyempetin walau bentar doang, paling tidak ngedrop lo ke sana gitu...?"

__ADS_1


Tita tersenyum tipis, ada sedikit sesak dalam sudut hatinya saat mendengar pernyataan Hani. Namun Tita memilih tidak mengatakan kondisi hubungannya dengan sang suami yang berada dalam silent mode.


"Nggak bisa Incess.... abang nggak bisa ninggalin pekerjaanya saat ini. Lagian emban juga tadi tiba tiba gitu wae pengen jenguk abang."


Itu memang yang sebenarnya, Tita tidak pernah mengungkapkan keinginannya untuk berziarah ke makam kakaknya kepada sang suami. Karena keinginan itu muncul secara tiba tiba saat Tita hendak pulang sekolah siang tadi.


"Jadi elo sendirian ke sana?" tanya Hani khawatir, karena makam kakak lelaki Tita berada lumayan jauh dari pusat kota.


Tita mengangguk, dengan tetap tersenyum. Sungguh Tita tidak ingin sahabatnya tau jika dirinya sedang sedih saat ini.


Tita memang sudah terbiasa memendam kesedihannya seorang diri. Kesendiriannya tanpa keluarga membuatnya terbiasa menyimpan kepedihannya tanpa mau membuat orang sekelilingnya khawatir.


"Seandainya gue nggak ada acara keluarga sore ini, gue bakalan nemenin elo Ta. Sayang gue ada janji sama keluarga gue buat jenguk eyang." Hani terlihat sedih.


Tita membingkai senyum di wajahnya. Meraih salah satu tangan sahabatnya dan menggenggamnya erat.


"Nggak papa Incess... emban bisa sendiri kok, enggak usah sedih gitu."


"Tapi kan jauh Ta... gimana kalau elo kenapa napa di jalan..." Hani memandangi sahabatnya. Terlihat tidak tega jika Tita pergi ke sana sendirian.


"Huss... jangan berfikir yang enggak enggak. Insyaa Allah emban baik baik saja. Ini bukan pertama kalinya Incess... lagian ada Allah yang menjaga emban."


"Iya... tapi kan...." Hani merasa berat membiarkan sahabatnya itu berangkat sendiri ke sana.


"Incess..." Tita menatap Hani dengan memberikan senyum ceria agar sahabatnya itu berhenti mengkhawatirkan dirinya.


"Hiss... ngapain sih Kennan pakek ada kerjaan segala..." Tita menghentakkan kakinya dengan kesal.


Tita terkekeh kecil saat melihat aksi sahabatnya yang terlihat lucu menurutnya.


"Gak usah ketawa, nggak ada yang lucu." Hani semakin kesal saat Tita terkekeh.


"Incess aneh..." Tita masih dengan kekehannya.


"Naik taxi aja, biar gue nggak khawatir Ta..." Hani membujuk.


"Nanti pulangnya wae. Ini masih siang Incess..."


"Ta..." Hani dengan tatapan khawatir.


"Udah.... Emban gak papa. Emban duluan ya..." Tita buru buru melepaskan tangan Hani karena tayo yang akan membawanya ke tujuan mulai bergerak untuk meninggalkan pelataran sekolahnya.


"Hati hati Ta..." Hani berseru dengan melambaikan tangan ke arah sahabatnya.


Tita pun membalas dengan lambaian serta senyuman sembari berlari kecil memasuki si biru tayo.


🍨🍨🍨🍨

__ADS_1


__ADS_2