
Tebak judul ... Memanas
Kira - kira yang makin panas apanya nih ...
Mungkinkah hubungan Tita dan Kennan semakin menyakitkan ... atau malah semakin menggemaskan ...?!!
Jawabannya ada pada part ini, cek this part ya readers...
Ditunggu komennya yang ter ...
Wajib beri like yang banyak jika suka ... πππ
Tengyu so much my beloved readers ...πππ
ππππ
Kennan menuruni Honda HRV nya dengan tergesa setelah memarkirkan mobilnya di pelataran kafe K&Y.
Keningnya mengernyit saat mendapati Honda Brio berwarna merah menyala berada di samping mobilnya.
"Kek pernah lihat mobil ini ... dimana ya?!" lirih Kennan terdengar seperti gumaman.
"Kenn ... kafe gue tinggal, gue ada urusan bentar!" seruan yang disertai tepukan pelan di bahunya terpaksa membuat Kennan menoleh ke belakang.
"Mau kemana lo?" Kennan bertanya.
Ternyata yang berseru dan menepuk bahunya adalah Doni sepupunya.
"Gue ada janji sama dosen pembimbing gue, mumpung orangnya lagi off." jawab Doni lalu berlalu darinya dan membuka pintu pada Honda Brio merah menyala tersebut.
"Elo ganti mobil Don?" tanya Kennan pada sepupunya.
"Enggak. Ini punya Bang Indra, tukeran sama mobil gue." jawab Doni.
"Udah lama?"
"Udah. Setahun lebih keknya, semenjak Bang Indra punya baby lagi. Udah kesempitan, mau ganti belum ada duit katanya. So tukeran sama pajero gue." terang Doni pada sepupunya yang tetiba kepo sama dirinya.
"Oww ...." Kennan manggut - manggut.
"Udah gue berangkat, di dalem ada Ersa yang gue suruh jagain kafe!" teriak Doni kemudian memasuki mobil Brio lalu dengan kecepatan penuh meninggalkan pelataran kafe K&Y.
Kennan tersenyum sambil memandangi kepergian Doni.
"Berarti yang mengantar Tita waktu itu adalah Doni. Ternyata mereka udah kenal lama ...." ucap hati Kennan lega.
(Readers masih ingat kan bagian Tita diantar pulang oleh pemuda dengan mobil Brio. Kalau lupa baca part 29. Percuma Kennan Pusing 7 Keliling)
Kennan pun memasuki kafe K&Y dengan tersenyum, berharap bisa menemui Tita dan mengajaknya jalan - jalan untuk mengakhiri perang dingin mereka.
"Abaaangg ...!!" seorang gadis manis berambut sebahu, berdiri merentangkan kedua tangannya saat melihat Kennan berjalan mendekati kasir tempatnya duduk.
"Heii bocil ... udah gede aja lo!" Kennan berseru, ikut merentangkan kedua tangannya lalu memeluk gadis yang dipanggilnya bocil tersebut.
"Abang apa kabar?" gadis itu merenggangkan tubuhnya lalu bertanya.
"Baik ... sangat baik malah." jawab Kennan tersenyum senang.
"Cie semangatnya ... Abang katanya udah nikah yak?!"
Kennan mengangguk.
"Mana isterinya? gak diajak ke sini?"
Kennan celingak - celinguk memindai seluruh ruangan kafe namun tidak menemukan sosok yang dicarinya.
"Mungkin dia di belakang." Kennan membatin dalam hati.
Karena sepulang sekolah tadi Kennan tidak menemukan Tita di apartemen, dan pastilah kafe menjadi tempat tujuan Tita jika tidak pulang ke apartemen.
"Bang isteri Abang gak ikut ke sini?" kembali gadis itu bertanya karena Kennan tak kunjung menjawabnya.
"Ah iya ... ntar gue kenalin." Kennan kembali fokus pada gadis di depannya.
"Di sini udah dari tadi?" tanya Kennan pada si gadis bocil.
"Udah ... barusan ditinggal sama Abang buat nemuin dosen pembimbing katanya." jawab si gadis bocil.
Kennan menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Iya ... tadi gue ketemu sama Abang lo di depan."
Ternyata gadis yang dipanggil bocil oleh Kennan tersebut itu adalah adik dari Doni sepupu Kennan yang bernama Ersa.
"Lama gak ketemu Abang makin ganteng wae yak." Ersa si gadis bocil menyibak surai hitam yang sedikit menutupi kening Kennan, membuat empunya terkekeh.
__ADS_1
Dan di waktu yang bersamaan Tita memasuki kafe. Ternyata Tita baru saja hendak berangkat bekerja di kafe setelah sebelumnya mampir ke taman kota untuk menenangkan diri.
"Abaang ...." lirih Tita seakan hanya terdengar sebagai gumaman saat melihat suaminya sedang berhadapan dengan seorang gadis yang tangannya membelai surai hitam suaminya, terlihat senyum merekah dari bibir Kennan.
Dengan cepat Tita membalikkan tubuhnya meninggalkan kafe K&Y.
Dan itu tertangkap oleh kedua bola mata Kennan.
"Sa ... Abang keluar bentar." Kennan menepis tangan gadis bocil lalu setengah berlari keluar untuk mengejar Tita.
"Hufh ... shit." Kennan mengumpat kesal dengan meninju udara kosong karena saat sampai di pelataran kafe, Tita sudah pergi dengan menaiki taxi.
...ππππ...
Ceklek ...
Kennan membuka pintu kamar dengan pelan.
Gelap.
Itu yang didapati Kennan saat memasuki kamarnya malam ini.
Sore tadi Kennan terpaksa harus menunggu kafe karena pengunjungnya membludak, dan si gadis bocil sepupunya itu memintanya tinggal untuk menemaninya.
Kennan pun tidak dapat segera pulang untuk menemui Tita.
Akhirnya Kennan harus menunggu kafe tutup untuk pulang, bagaimana pun dirinya harus bertanggung jawab terhadap usaha yang sudah dirintisnya dengan susah payah tersebut.
Sedangkan Doni yang pamit hanya sebentar, nyatanya tidak menampakkan batang hidungnya hingga kafe tutup. Bahkan Kennan pun harus mengantar Ersa sekalian saat pulang tadi.
Kennan menghela nafas pelan, kemudian berjalan menuju saklar lampu dan menyalakan lampu kamarnya.
Beruntung dirinya tadi sudah mandi dan berganti pakaian di kafe jadi sekarang tinggal mengistirahatkan tubuhnya yang lumayan lelah.
Kennan mendudukkan diri pada tepi ranjang lalu meraih ponselnya untuk mencoba menghubungi Tita, yang entah di mana keberadaannya.
Baru saja hendak menekan tombol calling pada ponsel pintarnya, Kennan mendengar sayup - sayup suara isak tangis dari arah balkon kamar.
Kennan mengernyit, meletakkan ponsel pintarnya pada nakas dan berjalan menuju balkon kamar.
Kennan membuka pintu balkon, dan mendapati gadis yang dicarinya sedang menelungkupkan kepalanya diantara kedua lututnya pada sofa balkon.
Tubuhnya bergetar disertai dengan isakan tangis yang membuat dada Kennan menyesak.
Greb ... Kennan meraih tubuh ramping itu ke dalam pelukannya.
"Stop nangisnya." ucap Kennan sambil mengusap punggung yang masih saja bergetar hebat itu.
Sesaat kemudian Tita mendongak.
"Abang jahat!" lalu berseru di sela isakan tangisnya.
"Kenapa?"
"Tita memang salah ... tapi bukan berarti Abang bisa seenaknya mesra - mesraan sama cewek lain." ucap Tita sedikit terbata pada ceruk leher Kennan.
"Lo tadi lihat gue?" tanya Kennan datar, masih dengan mengusap punggung Tita.
"Iya." Tita menangis sesenggukan.
"Rasanya bagaimana? Elo marah, cemburu ...?" Kennan bertanya dengan senyum tipis tersungging pada bibirnya.
"Tita cuma dianter pulang, gak mesra - mesraan kek Abang!" nada bicara Tita naik satu oktaf lebih tinggi meskipun masih disertai dengan isak tangis sesenggukan.
"Dan gue mesra sama adek gue sendiri, salahnya di mana coba?" Kennan merenggangkan tubuh mereka saat berkata.
Hek ... tetiba tenggorokan Tita kelat dan merasa kesusahan untuk menelan.
"Jawab ... salahnya dimana?" Kennan menaikkan salah satu alis matanya.
"Tadi bukan adek, bukan Naura kan Bang?!"
"Bukan ... dia sepupu gue."
Tita menunduk, meremas jemarinya yang bertautan.
"Maaf ... Tita gak tahu."
"Makanya gue kasih tahu. Tadi cemburu kan ... kan ...." Kennan menggoda isterinya.
"Gak!" Tita memalingkan wajahnya.
"Ck ... gak mau ngaku." Kennan memalingkan wajah Tita ke arahnya dengan telapak tangan besarnya.
"Cemburu kan, ngaku!! Kalo gak mau ngaku gue cium nih." Kennan berucap dengan kedua telapak tangannya menangkup wajah mungil Tita.
__ADS_1
"Iya - iya ngaku ... Tita cemburu." sahut Tita dengan bibir mengerucut.
Cup.
Kennan mendaratkan bibirnya pada bibir Tita sekilas, kemudian tersenyum smirk.
"Kok dicium seh Bang ... kan udah ngaku?!"
"Suka - suka gue lah."
Kennan kembali mendaratkan bibirnya pada bibir pink Tita yang beberapa hari ini sangat dirindukan olehnya.
Kali ini ciuman Kennan lebih menuntut, memaksa Tita untuk membuka bibirnya dan mulai menjelajah setiap inci rongga mulut isterinya.
Kennan mengapit kedua kaki Tita diantara kakinya untuk memudahkan tangan besarnya menelusup di balik piyama tidur isterinya. Sedangkan salah satu tangannya yang lain mendorong punggung ramping Tita untuk semakin mempererat tubuh mereka.
Terdengar desahan serta lenguhan lirih Tita saat tangan kekar Kennan bermain pada kedua gunung kembar milik isterinya.
Tangan kekar itu semakin lancang membuka pengait bra Tita untuk memudahkannya meremas serta memilin pucuk benda kenyal yang mirip squisy itu tanpa mau memberikan gadis di depannya kesempatan untuk bernafas.
Ciuman Kennan semakin menuntut, bukan hanya sekedar ciuman manis melainkan ciuman yang penuh nafsu hingga memancing suhu tubuh kedua pasangan remaja itu memanas.
Kennan melepaskan bibir mungil itu dari tangkupan bibirnya saat merasakan bibir itu tersengal kesusahan untuk bernafas.
Bibir Kennan beralih mengendus setiap jengkal leher jenjang isterinya serta menggigit kecil daun telinganya hingga membuat deru nafas pemiliknya semakin berkembang.
Kennan tersenyum smirk saat isterinya hanya pasrah menerima perlakuan darinya tanpa penolakan. Kennan semakin semangat melancarkan aksinya mengendus sampai ceruk leher jenjang tersebut hingga membuat pemiliknya tidak berhenti mengeluarkan desahan lirih.
Kennan pun semakin gemas mendengarnya hingga bibir itu semakin berpetualang menuju dua benda kenyal milik Tita yang terasa menegang sempurna.
Dengan silih berganti bibir itu mengusap serta mengecup pucuk squisy yang entah sejak kapan sudah terlepas dari penutupnya.
"Dek ... kita lanjut di kamar ya?!" bisik Kennan lirih terdengar seperti desahan di telinga Tita.
Deru nafas Tita masih naik turun, bahkan sesekali masih disertai dengan desisan lirih karena tangan kekar Kennan tidak berhenti mengusap pucuk squisy milik Tita.
"Boleh Tita menolak Bang?!" cicitnya sedikit takut saat melihat pandangan mata Kennan yang sudah sangat berkabut.
"Kenapa?" tanya Kennan dengan suara serak.
"Tita capek banget Bang."
Mata itu terlihat sangat memohon.
"Elo tega Dek ...."
"Tita beneran capek Bang, badan Tita pegel semua." cicit Tita dengan takut.
Kennan menghela nafas kasar.
"Besok ... Tita janji besok malam, ya Bang?!"
Hemm ...
Kennan mengeram, dalam hati sangat kesal. Namun apa daya dirinya tidak mungkin membiarkan tubuh isterinya kelelahan, apalagi besok pagi mereka harus sekolah.
"Besok malam ya Bang ...." Tita mengerjapkan mata memohon.
"Iya." sahut Kennan lemah.
Dengan tanpa aba - aba Kennan pun membopong tubuh ramping Tita ke dalam kamar lalu merebahkannya di atas ranjang dengan hati - hati.
Kennan pun menyusul dengan membaringkan tubuhnya di samping tubuh Tita.
"Dah tidur, udah malem." Kennan memeluk tubuh Tita lalu membenamkan kepala bersurai hitam panjang itu ke dalam dada bidangnya.
"Maaf ya Bang."
Hemm ...
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ
__ADS_1