Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
139. Ngambek On


__ADS_3

"Abaang ... Tita bisa jelasin semuanya!" seru Tita sambil berlari kecil mengikuti langkah kaki lebar Kennan yang berjalan di depannya.


Namun Kennan seakan tidak peduli dengan seruan Tita, hatinya memanas mendapati kenyataan bahwa Tita telah membohonginya.


Dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya dan tak lupa memasang wajah masam, Kennan berjalan cepat meninggalkan Tita yang berusaha mengikutinya di belakang.


Padahal baru beberapa menit lalu senyum tipis menghiasi wajah datar Kennan dan sekarang wajah datar nan dingin itu kembali on lagi.


"Bang ... Abang ... tungguin Tita!" Tita berseru memanggil Kennan, namun Kennan mengabaikannya.


Bahkan saat memasuki lift pun Kennan dengan segera menutup pintunya meski dirinya melihat Tita berusaha mengikutinya dengan berlari kecil sambil ngos - ngosan. Egonya yang tinggi membuat Kennan tidak peduli dengan kondisi Tita, yang tentu saja tidak baik - baik saja.


Rok seragam Tita yang panjang membuatnya kesusahan untuk mendekatkan jaraknya dengan Kennan, dan lagi rasa lelah pada tubuh Tita membuatnya berjalan lambat. Hingga pada saat mencapai lift Tita pun tidak sempat ikut masuk menyusul Kennan.


Tita memencet tombol lift berulang kali namun nihil, lift sudah terlanjur bergerak naik.


Tita pun menunduk lesu di depan pintu lift sembari mengatur ritme nafasnya yang naik turun dengan cepat.


"Pasti bakal marah lagi nanti ...." gumam Tita lirih membayangkan tatapan tajam dengan mata memerah Kennan, sambil menunggu pintu lift kembali terbuka.


Setelah beberapa saat menunggu pintu lift kembali terbuka, Tita pun segera memasukinya dengan tergesa.


Dan kini Tita telah berada di depan pintu kamar tidurnya dengan Kennan.


Ceklek ... klek ...


Tita mencoba membuka pintu kamar namun gagal, sepertinya Kennan menguncinya dari dalam.


Tok ... tok ... tok ...


"Abang ... Bang ...!" Tita berseru memanggil suaminya, namun tidak ada jawaban dari balik pintu kamar yang tertutup tersebut.


Tokk ... tokk ...


Tita kembali mengetuk pintu kamarnya, kali ini dengan lebih keras. Tetapi tetap saja pintu tidak ada tanda - tanda pergerakan pintu kamar akan terbuka.


"Bang ... Tita belum sholat maghrib!" seru Tita memohon agar Kennan mau membukakan pintu kamar mereka.


Setelah beberap saat Tita menunggu, tetap saja pintu kamar tidak terbuka. Tita pun meninggalkan pintu kamar dengan lesu.


Beranjak pergi ke sofa, meletakkan tas punggung sekolahnya dan berlalu menuju kamar mandi dekat dapur untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Dan yang terpenting, Tita harus segera memburu waktu untuk mengerjakan sholat maghrib yang hampir habis waktunya.


Tita selesai mandi dan menggunakan baju seadanya di tempat laundry, beruntung ada mukena yang kemarin dicucinya dan sudah kering. Hingga akhirnya Tita pun bisa mengerjakan sholatnya di area ruang televisi.


Setelah selesai sholat kembali Tita menuju pintu kamarnya, berharap Kennan sudah membuka pintunya.


Ceklek, akhirnya pintu kamar tersebut bisa dibuka juga.


"Alhamdulillah ...," Tita berucap lirih.


Tita memasuki kamar dengan langkah pelan lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar, namun tidak ada sosok suami kulkas dua pintunya di sana.


Kening Tita mengerut. "Abang kemana kok gak ada? Jangan - jangan Abang pergi pas Tita mandi ...," gumam Tita lirih.


Tita menghela nafas pelan.


Melihat ada seonggok baju bekas pakai milik Kennan yang berada di atas ranjang Tita berjalan mendekati ranjang hendak membereskannya.


Langkah kaki Tita berhenti saat merasakan desiran angin malam menerpa lengan tangannya. Tita pun menoleh ke arap pintu balkon, tirai tipis pada pintu tertutup rapat namun sepertinya pintu balkon tersebut terbuka jika dilihat dari adanya gerakan kecil dari tirai.


Tita melangkahkan kaki menuju balkon kamar hendak menutup pintunya.

__ADS_1


"Abang ...." gumam lirih Tita saat melihat tubuh jangkung suami kulkas dua pintunya sedang berdiri dengan bersidekap dada di tepi pagar balkon kamar.


Set,


Kedua lengan Tita menelusup tubuh Kennan dari belakang.


"Tita minta maaf Bang ...." ucap Tita lirih dengan memeluk tubuh suami yang berdiri membelakanginya.


Tidak ada sahutan dari mulut Kennan, namun dirinya membiarkan kedua lengan tangan ramping itu mengunci tubuhnya erat.


"Bang ... maafin Tita." kini suara Tita terdengar serak dan parau karena menahan tangis, namun Kennan tetap bergeming.


"Tita beneran gak sengaja ketemu sama Andra di mol, Tita gak janjian sama dia ... Tita gak bohong Bang hik ... hik ... hiks ...." Tita sudah tidak dapat menahan tangisnya, hingga membuatnya berucap kata dengan terisak.


"Bang ...." Tita semakin mempererat kuncian tangannya pada tubuh kekar Kennan karena suami kulkas dua pintunya tersebut tidak memberi respon sama sekali.


"Abang ngomong, jangan diem wae ...." ucap Tita serak sembari menduselkan wajahnya pada punggung Kennan.


"Emang elo masih mau dengerin omongan gue?!" ucap Kennan datar nan dingin dengan posisi tetap tidak bergeming. Dari nada bicaranya Kennan terdengar sangat menahan emosi.


Tita menganggukkan kepala di balik punggung Kennan dengan terisak.


"Yakin?!!" Kennan berucap sinis.


"Iya ... Tita dengerin omongan Abang ...." sahut Tita di sela isakan tangisnya.


"Dengan elo jalan bareng sama Andra gitu?!" Kennan masih sinis bahkan nadanya terkesan mengejek.


"Tita gak sengaja ketemu Bang ... beneran ...."


"Gak sengaja elo bilang!!! Gak sengaja ketemu terus gak sengaja nganter pulang gitu ... gak usah bohong lo Dek!!" Kennan menghempaskan kedua lengan tangan Tita dari tubuhnya dengan kasar.


Kennan membalikkan tubuhnya menghadap Tita.


Tita hanya menunduk dengan terisak tanpa berani menatap pada suaminya.


"Status kita bukan pacaran, kita udah nikah ... Elo kan yang minta gue buat mencoba dekat sama lo, tapi apa?? nyatanya elo masih saja keluyuran saja cowok lain, di saat gue udah berusaha nerima elo!"


Tita memberanikan diri untuk mendongakkan wajahnya. "Tita gak sengaja ketemu Bang, lagian Tita enggak nempelin Andra seperti Abang bilang. Tita tetep jaga jarak sama dia ...." nadanya terdengar memohon.


"Heh ... Elo bisa kan telfon gue, hubungin gue buat minta dijemput ... bukannya malah minta dianter sama dia. Elo emang sengaja kan, seneng kan jalan sama dia ..." nada bicara Kennan terdengar sangat kecewa.


Tita menggelengkan kepalanya berulang.


"Tita gak ada maksud kek gitu Bang ...." sahutnya lemah.


"Kenapa telfon gue gak lo angkat, kenapa ...?"


Glek.


Tita terdiam, lidahnya kelu. Tidak ada satu katapun yang dapat dia ucapkan dari mulutnya.


Tita menyadari jika dirinya salah karena mengabaikan telfon dari Kennan. Padahal tanpa sengaja Tita mengabaikannya karena mode silent yang belum sempat diubahnya kembali.


Tita kembali menunduk menyadari kesalahannya, dengan sesekali sesenggukan akibat isakan tangisnya yang tak kunjung mereda. Tita tidak berhenti meremas jemarinya yang saling bertautan karena merasa bersalah.


Heh ... Kennan kembali tersengih melihat reaksi Tita.


"Elo seneng kan dapet kesempatan jalan bareng sama si ketos?!" Kennan seolah mengejek.


Tita menggelengkan kepala berulang dengan diiringi isak tangis yang semakin intens, bahkan terlihat nafasnya tersengal menahan suara tangisnya.

__ADS_1


"Pernah lo liat gue deket ataupun jalan sama cewek laen?!" Kennan bertanya dengan sinis.


Tita menggelengkan kepala pelan. Sejauh ini dirinya memang tidak pernah melihat, bahkan mendengar pun tidak pernah sama sekali.


"Itu karena gue jaga perasaan elo, gue gak mau nyakitin perasaan lo!" Kennan membuang nafas kasar.


"Gue udah kasih pengecualian buat elo deket sama Irsyad meskipun gue tau Irsyad suka sama lo. Gue berusaha percaya elo sama dia gak bakalan main di belakang gue, karena Irsyad tahu status kita. Tapi ... si ketos!! Elo juga tau kan kalau dia suka sama elo Dekk?!" Kennan berusaha menahan emosinya dengan kedua tangan yang mengepal kuat.


"Maaf ... Tita gak bakal ngulang lagi Bang." Tita memberanikan diri memeluk erat tubuh kekar Kennan dan menyandarkan wajahnya pada dada bidang suaminya, menumpahkan tangisnya di sana.


Melihat punggung Tita yang bergetar karena isakan tangisnya, Kennan merasa iba. Rasa marah yang sempat membuat kedua tangannya terkepal berangsur mereda.


Dengan perlahan Kennan mengusap punggung ringkih itu untuk memberikan ketenangan, membiarkan Tita menangis sepuasnya.


Setelah beberapa lama, isakan tangis Tita mulai mereda. Tita pun melepaskan pelukan tangannya dari tubuh kekar Kennan kemudian mengusap sisa cairan bening yang membasahi wajahnya.


"Abang maafin Tita kan?!" tanya Tita mendongakkan wajahnya pada Kennan dengan mata yang masih berkabut.


Tidak ada sahutan dari mulut Kennan, dirinya memilih memalingkan wajahnya dari Tita.


"Bang ...," Tita menggoyangkan kedua lengan tangan suaminya.


"Tidurlah Dek ... udah malem." ucap Kennan datar dengan tanpa mau menatap wajah Tita yang sembab akibat menangis.


"Abang belum maafin Tita?!" kembali Tita bertanya dan mengabaikan perintah Kennan untuk tidur. Kedua bola mata Tita kembali berkaca - kaca.


"Tidurlah, udah malem ... kita bahas lagi besok."


"Gak mau, Abang maafin Tita dulu hiks ...."


Kennan menelan ludahnya kelat, kemudian menatap wajah Tita yang masih mendongak menatapnya.


Dengan tanpa aba - aba, Kennan menggendong tubuh ramping Tita dan membawanya ke dalam kamar.


Tita sedikit terkejut, namun akhirnya memilih mengalungkan kedua lengan tangannya pada leher Kennan dan membenamkan wajahnya pada ceruk leher Kennan.


Kennan membaringkan tubuh ramping Tita dengan hati - hati kemudian beranjak untuk menutup pintu balkon.


Setelah menutup pintu balkon Kennan kembali mendekati ranjang, lalu menyelimuti tubuh Tita hingga leher.


"Tidurlah ...." ucap Kennan sembari mencium kening Tita lembut. Kemudian dirinya beranjak meninggalkan ranjang.


"Abang mau kemana?" Tita bertanya dengan sedikit menyibak selimutnya.


"Tidurlah, gue keluar bentar." sahut Kennan berlalu meninggalkan kamar tanpa mau menoleh ke arah Tita.


Tak ayal, tubuh Tita pun kembali bergetar di balik selimutnya.


"Maaf ...." ucapnya lirih di sela isakan tangisnya.


🍨🍨🍨🍨


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen

__ADS_1


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘


__ADS_2