
meskipun terasa berat Azka memaksa untuk membuka kedua matanya,ia melihat ruangan serba putih ia sangat mengenal dimana dirinya saat ini berada.
Azka menghembuskan nafas kasar,kerongkongannya terasa kering ia melihat segelas air yang sudah tersedia di atas nakas.
saat ingin mengulurkan tangannya,ia merasa tangannya di genggam erat,sehingga ia tak bisa bergerak. ia melihat siapa yang sudah menggenggam tangannya itu.
"dek..." panggil Azka tercekat karena kerongkongannya terasa kering.
Dita merasakan ada pergerakan dari tangan Azka langsung membuka matanya,ia tersenyum saat melihat suaminya sudah sadar dan berusaha untuk memanggilnya.
"mas mau minum?" tanya Dita lembut.
Azka hanya mengangguk,ada rasa bahagia karena ia telah bertemu dengan istrinya,ingin sekali ia memeluk istrinya itu tetapi tubuhnya masih lemas.
dengan cekatan Dita mengambil air dan meminumkannya untuk Azka yang langsung di minum oleh Azka hingga tandas.
"dek...ini benar kamu?" tanya Azka serasa tak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang ini.
Dita tersenyum dan meletakkan gelas air di atas nakas,lalu ia duduk di sisi ranjang tempat Azka berbaring.
"tentu saja ini Dita mas,siapa lagi?"
Azka langsung memeluknya dengan erat,Dita juga membalas pelukan Azka tak kalah erat.
__ADS_1
"mas rindu dek, akhirnya mas bisa bertemu denganmu dek." ucap Azka lalu melepas pelukannya dan menghadiahi ciuman bertubi-tubi di wajah istrinya.
"mas udah ih, malu nanti ada yang lihat."
"mas gak peduli dek,mas rindu banget sama kamu akhirnya setelah sekian lama mas bisa ketemu dengan kamu dan senyuman ini mas sangat merindukannya." ucap Azka langsung menarik Dita di atas pangkuannya.
"mas...mas lagi sakit loh,jangan kayak gini." ucap Dita berusaha untuk turun.
"siapa bilang?mas udah sembuh kok."
"mas,lepas dulu Dita mau panggil dokter biar mas di periksa..." ucap Dita beralasan.
"gak...mas takkan nglepasin kamu lagi,cukup sekali mas kehilangan kamu tidak untuk kedua kali." ucap Azka sambil mengelus perut buncit Dita dan mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya ke bibir Dita.
Abi langsung menangkap Dita yang hendak terjatuh dari ranjang.
"dek..." teriak bersamaan.
Dita meringis mendengar suara melengking yang keluar secara bersamaan.
"dek kamu gak apa-apa kan?jangan lompat-lompat ingat ada bayi di perut kamu." omel Abi.
"kakak sih,ngagetin..." kesal Dita.
__ADS_1
"dasar pengganggu..." gerutu Azka,meski tadi jantungnya sempat mau copot karena Dita hampir saja terjatuh.
"heh...kami bilang saya pengganggu,mau kami saya larang ketemu sama adik saya untuk selamanya?" ancam Abi
Azka langsung menggeleng kuat,
"jangan bang,gak lagi deh..." ucap Azka nyengir.
"kalian ini tidak tahu tempat,ingat ini masih di tempat umum."
Dita hanya menunduk menahan rasa malu. Abi perlahan mendudukkan Dita di atas kursi di sebelah ranjang.
"dek lain kali jangan lompat-lompat ya,untung jantung Kaka gak ikutan lompat." ucap Abi lembut sambil mengelus kepala sang adik.
"itu juga salah kamu bang,ngagetin mana lagi menghayati lagi." sahut Azka tanpa rasa bersalah.
Abi hanya melotot menatap Azka,
"ingat kita belum membicarakan perihal saya sudah memberikan restu atau belum,jika kamu ingin mendapatkannya kami harus memenuhinya dulu."
"apapun itu bang,kalau saya sanggup pasti saya akan penuhi." ucap Azka yakin.
Dita hanya melihat interaksi kedua lelaki yang ia sayangi,dan ia berharap dengan keputusunya untuk kembali dengan Azka tidak salah.
__ADS_1
"mudah-mudahan setelah mama kembali dengan papamu kita bisa hidup bahagia selamanya sayang." ucap Dita sambil mengelus perut buncitnya.