
beberapa tahun silam.
"Dita..." panggil Rani kepada sahabatnya, Dita menoleh ke asal suara dan membalas lambaian tangan sahabatnya itu.
Rani dan Dita memang sudah bersahabat sejak kelas satu SMP,mereka merasa cocok dan banyak memiliki kesamaan,dan memutuskan untuk menjadi sahabat.
"kak Abi mana Dit?" tanya Rani sambil celingukan mencari sosok yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali bertemu,tetapi ia tak berani mengutarakannya. dan dirinya sadar kalau ia harus fokus pada sekolahnya dan melanjutkan kuliah nantinya.
"kak Abi kerjalah,Rani lihat jam berapa tuh." Dita menunjuk jam yang melingkar di tanganya.
Rani hanya nyengir mendengar jawaban Dita,meskipun agak kecewa tetapi sekuat tenaga ia tutupi ia tak ingin sahabatnya itu tahu kalau dirinya menyukai kakaknya.
dan jika sampai tahu maka Dita pasti akan memberitahu Abi kalau Rani menaruh hati kepada kakaknya,Rani belum siap untuk di tolak dan pasti sikap Abi bakal tambah menyebalkan dan akan terus mengejeknya.
π·π·π·π·
hari ini adalah hari Minggu dan Rani sengaja pergi ke rumah Dita,berharap bisa bertemu sang pujaan hati.
di perjalanan ia tak sengaja bertemu dengan Abi menaiki motornya sendirian,entah mau kemana.
"kak Abi...kak...." teriak Rani.
Abi yang mendengar namanya di panggil langsung menghentikan motornya dan melihat ke asal suara,seketika senyumnya tersungging kala melihat Rani yang telah berlari ke arahnya.
Hos..hos...
nafas Rani ter-engah,dia berjongkok sebentar dan berusaha menetralkan nafasnya saat sudah berada di dekat Abi.
"ada apa Rani?" tanya Abi lembut.
"kakak mau kemana?mama Dita?"
"oh...kakak mau bertemu teman,Dita ada kok di rumahnya."
"teman?siapa kak?cewek apa cowok?" tanya Rani menyelidik.
__ADS_1
bletak...
Abi menjitak kepala Rani dengan gemas,
"kamu ini kepo,kayak Dita saja. udah ah kakak mau pergi sekarang,orangnya udah nungguin." ucap Abi dan akan menyalakan mesin motornya.
"bentar kak,Rani ikut boleh gak?" bukan apa-apa Rani menawarkan diri,dia hanya ingin meyakinkan kalau Abi tidak bertemu dengan seorang gadis,pacar mungkin. secara Abi kan cowok tampan idaman para cewek - cewek. Rani tidak tahu saja jika sikap Abi tak seramah dan selembut ia bayangkan.
Abi akan bersikap ramah dan lembut hanya kepada orang-orang yang ia sayangi dan kenal saja.
"kamu yakin mau ikut?" tanya Abi meyakinkan.
Rani mengangguk yakin,dan matanya memancarkan penuh harap.
Abi berpikir sejenak dan sejenak kemudian dia mengangguk setuju.
"yey..." Rani terlonjak girang,seperti anak kecil yang baru saja di kasih permen oleh kakaknya.
Abi hanya menggeleng,dan tersenyum sambil menyodorkan helem kepada sahabat adiknya.
jadi dia memutuskan untuk menahan diri untuk tidak memacari gadis imut yang sedang berada di boncengan ya ini.
tak butuh waktu lama mereka sampai di sebuah rumah minimalis dan terasa nyaman.
"kak,ini rumah siapa?" tanya Rani sambil menyodorkan helem kepada Abi.
"oh...ini rumah pak Burhan,orang yang akan membantu Kaka Abi untuk bekerja di luar negri." jelas Abi.
"hah...maksudnya kakak mau bekerja di luar negri gitu?" tanya Rani kaget.
Abi hanya tersenyum dan mengangguk,ia menggandeng tangan Rani,dan mengajaknya untuk masuk ke rumah pak Burhan. memang Abi tak sungkan untuk menggandeng tangan Rani jika mereka sedang berjalan bersama,dan Rani tak merasa keberatan.
"assalamualaikum..." Abi mengucap salam saat sudah sampai di ambang pintu.
"walaikumsalam..." terdengar suara sahutan dari dalam.
__ADS_1
"oh...nak Abi mari silahkan masuk." ibu Sri istri pak Burhan menyuruh mereka masuk untuk duduk dan menunggu sebentar karena pak Burhan berada di dalam kamarnya.
"kak...kakak yakin mau keluar negri?" tanya Rani yang masih tak percaya dengan ucapan Abi.
"ya kak Abi yakin Rani,lagi pula ini demi masa depan kakak dan terutama masa depanya Dita. kakak hanya tak ingin Dita seperti kakak yang tak bisa melanjutkan kuliah akibat tidak adanya dana." ucap Abi sendu.
ekhem...
suara deheman membuat Rani urung untuk menanyakan sesuatu. sebenarnya masih banyak yang ingin dia tanyakan,tetapi sepertinya waktunya tidak tepat.biarlah nanti saja ia tanyakan setelah mereka menyelesaikan urusan Abi terlebih dahulu lalu setelah itu Rani akan menanyakan segalanya yang mengganjal di hatinya.
Rani terdiam,ia sangat serius mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Abi dan pak Burhan. sungguh ia tak menyangka jika ia akan berpisah dari Abi. hatinya sangat sedih jika membayangkan hari dimana akan pergi meninggalkanya dan cinta terpendamnya.
"Rani ayo kita pulang,kakak sudah selesai." ucapan Abi membuyarkan lamunanya.
setelah itu mereka pamit dan segera meninggalkan rumah pak Burhan.
Abi yang melihat Rani yang diam saja sedari tadi,ia memilih untuk menghentikan motornya di sebuah taman kecil dekat perumahan pak Burhan.
"kenapa kita ke sini kak?Rani kira kita akan langsung pulang."
"kakak tahu banyak pertanyaan ada di benak kamu,makanya kakak sengaja berhenti disini dan kita bisa mengobrol dengan tenang tanpa ada gangguan.
"duduklah,mas akan membeli minuman dan beberapa camilan untuk teman kita mengobrol."
Rani mengangguk,dan membiarkan Abi meninggalkanya sendiri. Rani menatap lekat pada punggung lebar milik Abi,sungguh jika Abi pergi ke Korea dia akan sangat merindukan pria itu. tetapi apa dia sanggup menahan rasa rindunya nanti?dan apakah Abi akan selalu memberinya kabar jika Abi sudah ada disana?tapi memang siapa dirinya sehingga Abi akan memberinya kabar? berbagai pikiran buruk menghantuinya,tetapi dia berniat ingin mengutarakan hatinya,tapi dengan perginya Abi Rani menjadi ragu dan takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang mengganggu pikiranya.
"ini minumlah..." Abi menempelkan minuman dingin tepat di pipi mulusnya,hal itu membuat Rani membrengut kesal,Abi ini memang orang yang jahil kepadanya.
"kak...apa Dita tahu kalau kakak akan pergi ke Korea?"tanya Rani saat sudah melepas dahaganya,kini tenggorokanya sudah terasa basah dan siap mengeluarkan suara merdunya.
Abi menggeleng dan tersenyum "kakak masih belum memberitahunya,jika kakak bilang sekarang pasti Dita akan menangis tiada henti. kakak akan membicarakan hal ini kepada Dita saat kakak akan berangkat nanti. jadi kakak mohon kamu jangan kasih tahu Dita ya." mohon Abi lalu menoleh ke arah Rani menatapnya dengan permohonan.
Rani mengangguk paham,ia sangat tahu bagaimana Dita, sahabatnya itu tidak bisa jauh-jauh dari kakaknya,jika Dita tahu kalau Abi akan pergi jauh dalam waktu dekat maka bisa di pastikan Dita tidak akan berhenti menangis,dan hal itu akan membuat Abi merasa tak tega untuk meninggalkan adik tersayangnya itu.
"untuk bab selanjutnya memang akan membahas hubungan Rani dan Abi.
__ADS_1
terima kasih sudah mau baca,dan jangan lupa tinggalkan jejak ya..." πππ