
Tita merasa seluruh tubuhnya pegal setelah siang tadi muter - muter gak jelas tujuannya dengan Kennan.
Kennan yang semula berjanji akan mengajaknya berjalan - jalan untuk mengunjungi tempat wisata di Jogja ternyata hanya omdo alias omongan doang. Ada saja alasan yang Kennan ucapkan saat Tita mengajaknya untuk mengunjungi tempat wisata yang ingin Tita kunjungi.
Setelah menyelesaikan aktivitas bebersih apartemen, lalu mandi sore, Tita duduk bersolonjor kaki dengan menumpukan kaki pada dudukan sofa kecil yang diletakkan di depannya. Punggungnya menyender pada kepala sofa. Karena saat ini dirinya sedang kedatangan tamu bulanannya jadi Tita memilih bersantai sambil menonton televisi.
Flashback On....
"Bang kita ke kebun binatang yuk?!" ucap Tita di dekat telinga suaminya saat mereka melewati jalan menuju kebun binatang Gembira Loka yang merupakan salah satu objek wisata di Jogjakarta.
"Enggak mau." jawab Kennan keras, karena mereka sedang dalam perjalanan dengan mengendarai motor.
"Kenapa ... di sana sejuk keknya." tanya Tita.
"Entar di sana lo ketemu sama mantan, elo balikan sama dia gue yang repot." sahut Kennan bercanda.
"Mana ada ... lagian Tita gak punya mantan Abang." Tita mengernyit bingung.
"Ada mantan lo di sana Dek."
"Abang sok tau ... Tita belum pernah pacaran, mana ada punya mantan. Lagian kalaupun Tita pernah punya pacar belum tentu juga dia ada di sana ...." Tita yang polos menyahut bingung.
"Beneran ada Dek ... gue juga tau kok."
Tita berdecak. "Emang siapa coba, kalau abang tau?"
"Monyet" jawab Kennan dengan tersenyum mengejek, dan itu terlihat jelas oleh Tita pada kaca spion.
Aaaaaa ...
"Sakit Deekk ..." teriak Kennan sembari menggeliatkan tubuhnya karena pinggangnya mendapatkan cubitan kecil dari Tita.
"Rasain ... Abang tega!!"
Kennan terkekeh geli.
"Berarti abang doyan sama bekas monyet." Tita memeletkan lidahnya pada spion motor.
"Doyan banget ... habisnya cantik sih, biar bekas monyet gue rela. Gue bela - belain ganti motor biar dapet pelukan cewek bekas tarzan, hehehehe ..."
Aaaaa ... lagi - lagi kennan berteriak karena mendapatkan cubitan kecil pada pinggangnya.
"Udah Dek ... gue gak ngejek lagi." ucap Kennan sembari mengelus tangan Tita yang menumpu pada perutnya.
"Terus ke mana dong kita Bang?"
"Kek gini aja ... motoran keliling - keliling sambil elo peluk gue."
"Idiih ... enak di Abang kalo kek gitu, Tita rugi dong ...."
"Entar gue kasih ganti ruginya." sahut Kennan tersenyum nakal.
"Ogah ... palingan abang cuma mesumin Tita doang." Tita mencebik.
Kennan terkikik geli. "Tau aja lo."
"Udah tercetak jelas di wajah abang."
"Kalau gitu langsung pulang aja, praktekin mesumnya ya ..."
"Ogaahh ... enak aja, Abang gak nepatin janji. Janji adalah hutang Bang ...."
"Iya tau ... entar hutangnya gue bayar dirumah."
"Emang Abang punya duit?"
"Gue gak bayar pakek duit Dek."
"Terus ... pakek apa coba??"
"Pakek layanan ranjang ...." Kennan tersenyum mesum.
"Adduuh ... duh ... dduh ...." Kennan mengaduh Karena Tita mencubitnya keras dan lama.
__ADS_1
"Bisa gak direm itu mes ...," Belum lagi Tita menyelesaikan ucapannya Kennan menghentikan motornya dengan mengerem mendadak, hingga membuat Tita semakin merapatkan tubuhnya pada punggung Kennan. Dua gunung kembar Tita pun menempel sempurna pada punggung Kennan. Bahkan helm bagian depan Tita terantuk dengan helm belakang Kennan hingga menimbulkan bunyi tumbukan.
Beruntung Kennan menghentikan motornya pada sisi kiri jalan yang beralaskan rerumputan sehingga tidak menganggu kendaraan yang berada di belakang mereka.
"Abang ngapain berhenti mendadak seh?" Tita memukul pelan punggung Kennan.
"Kan elo yang suruh ngerem Dek ..."
"Maksud Tita ... yang direm itu mulut abang yang ngomongin mesum mulu, bukan motornya."
"Hehehe ... sorry Dek, kirain ...," Kennan nyengir.
"Makanya dengerin dulu ... biar Tita selesai ngomong dulu, jangan main potong wae ...." ucap Tita menggerutu.
"Ya udah maaf dech ... jalan lagi ya?" ucap Kennan masih dengan senyum cecengiran.
"Iya ...." Tita mengangguk setuju.
"Kita Taman Pintar yuk Bang?!" ajak Tita sebelum Kennan menyalakan mesin motornya.
"Ogah ... ngapain ke sana, kek anak SD study tour wae." tolak Kennan cepat.
"Kalau gitu ke water park yuk?!" Tita mengganti tujuannya.
"Enggak ... entar kalau udah punya anak baru kita ke sana." lagi - lagi Kennan menolak dengan alasan yang membuat Tita hanya bisa menahan kesal.
Tita menghela nafas panjang.
"Ya udah terserah abang mau kemana, Tita ngikut wae." putus Tita lemah, meskipun darahnya terasa mendidih Tita memilih menuruti suaminya yang saat ini bertingkah konyol.
Kennan pun menyalakan mesin motor matiknya dan kembali membawanya ke jalanan aspal, dengan kedua tangan Tita yang diwajibkan melingkar di atas perut sixpacknya.
Sudah beberapa saat mereka melaju di jalanan aspal, namun sepertinya tidak ada tanda - tanda Kennan akan mengajaknya ke suatu tempat. Sepertinya Kennan hanya melajukan motornya berputar - putar menghabiskan bahan bakar saja.
"Bang ...." Tita dengan sengaja memajukan kepala memanggil suaminya.
"Apa?" Kennan menyahut dengan sedikit menoleh ke samping kiri.
"Ke Prambanan yukk ...?!" ajak Tita pada Kennan saat dirinya melihat papan penunjuk jalan yang menunjukkan arah prambanan di depannya.
"Enggak mau Dek." Untuk yang ketiga kalinya Kennan menolak ajakan Tita.
"Kenapa?" Tita bertanya dengan berusaha menekan rasa kesal di dalam hatinya.
"Gue gak mau nasib gue kek Bandung Bondowoso."
"Emang kenapa dengan Bandung Bondowoso Bang?" Tita mengernyit heran setelah mendengar jawaban suaminya.
"Gak berakhir bahagia sama Roro Jonggrang." sahut Kennan, lagi -lagi dengan jawaban konyol.
Hah ... lagi ... Tita harus mendesah kesal mendengar jawaban Kennan yang gak nyambung menurutnya.
Namun Tita hanya bisa menahan rasa kesalnya.
Awas aja nanti di rumah, ancam Tita di dalam hati sambil mengepalkan tangan Kennan hendak memukul Kennan.
Namun hal itu urung dilakukan karena keburu Kennan melajukan motor matiknya hingga membuat tubuh Tita sedikit tersendal. Mau tak mau Tita pun harus melingkarkan tangannya pada perut Kennan kembali.
Dan setelahnya Kennan membawanya untuk pulang ke apartemen tanpa mengajaknya mampir ke suatu tempat wisata satu pun. Benar - benar hanya membawa Tita berjalan - jalan dengan motor matik barunya. πππ
Flashback Off....
"Dek ...." Kennan berjalan mendekati Tita.
"Apa." sahut Tita malas. Rasa marah efek kegagalan jalan - jalannya siang tadi masih mengendap di dalam hatinya.
"Lo gak masak?"
"Enggak." sahut Tita sedikit ketus. Dirinya marah, efek Kennan tidak memenuhi keinginannya serta efek PMS yang melanda dirinya saat ini.
"Kenapa?" Kennan bertanya seperti tidak menyadari kemarahan isterinya.
"Tita capek, kemeng kakinya." sahut Tita cuek, seolah tidak peduli.
__ADS_1
Kennan mendekat lalu mendudukkan diri di lantai di dekat kaki Tita. "Oh ... capek ya?!"
Hmm ... Tita.
"Gue pijitin ya?!" Kennan langsung mengusap sembari memijit perlahan pada kaki Tita tanpa menunggu persetujuan dari empunya.
Auww ...
Tita sedikit berteriak saat pijitan tangan Kennan terasa kencang.
"Jangan kenceng - kenceng mijitnya, kalau gak ikhlas gak usah." amuk Tita.
Kennan tersenyum kecil. "Maaf ... habisnya tangan gue kegedeaan sih, jadi sakit ya ...."
Kennan pun melanjutkan memijit kaki ramping Tita dengan lembut, sesekali hanya mengusapnya saja agar kaki jenjang itu tidak merasa kesakitan.
"Elo belum makan kan Dek?"
"Abang pikir?!" Tita melirik malas pada suaminya.
"Siapa tau udah bikin mi atau apa gitu." Kennan menyahut datar tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Bukane dari tadi Abang bisa lihat Tita ngapain aja." nada bicara Tita naik satu oktaf lebih tinggi. Mungkin efek PMS nya, emosi Tita tidak dapat dikendalikan.
"Hehehe ... sorry Dek ... gitu wae marah seh." Kennan menggaruk tengkuk lehernya dengan cengengesan.
Tidak ada sahutan dari bibir Tita, hanya dengusan kesal keluar dari mulutnya.
Kennan mengakhiri pijitan tangannya dari kaki Tita.
"Udah ya Dek ... mendingan kan?" Kennan menoleh ke arah Tita.
Tita mengangguk tanpa bersuara.
"Gue beli makan dulu ya, elo pengen apa?" Kennan beranjak berdiri.
"Terserah Abang ... Tita mau apa aja, enggak rewel kek Abang."
"Enak aja ... kapan gue rewel Dek?" Kennan mengacak pucuk kepala Tita.
"Abaang iihhh ... acak - acakan nih rambut Tita." gerutu Tita dengan bibir mengerucut.
Kennan terkekeh.
"Gue berangkat ... Assalamualaikum." pamit Kennan padaTita sembari mencium pucuk kepala bersurai hitam itu dengan singkat.
"Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh." sahut Tita dengan kembali mengalihkan pandangan pada layar datar di depannya.
π¨π¨π¨π¨
Bonus up untuk mengisi libur lebaran buat kaum rebahan yang tidak bisa kemana - mana.
Miss u and tengyu so much untuk dukungan buat Bang_kenn sama Neng Tita.
Terima kasih juga buat para readers yang memberikan like pada karya othor, bahkan sampai marathon buat baca ceritanya so babang Kennan.
Lope ... lope ... lope ... you all ....ππππ
Bang_Kenn dan Neng Tita tidak open house yakk ...
demi memutus mata rantai penyebaran virus covid 19.
Memilih berduaan di kamar apartemen, biar makin mengikat hati mereka ππππ
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ