
"Ck... bikin mood gue ancur wae sih..." Kennan berdecak dengan meletakkan ponsel pintarnya asal. Kemudian meletakkan kedua telapak tangan di belakang kepalamya menunduk.
Sepertinya Kennan harus mengakhiri pekerjaannya lebih cepat tanpa harus menyelesaikannya. Percuma saja untuk tetap di bekerja ketika otak dan pikirannya sedang tidak bisa dipaksakan untuk memahami angka angka di layar laptopnya.
Krieett....
Terdengar deritan pintu ruangannya dibuka.
"Abang kenapa? Sakit?" tanya Tita terdengar khawatir sembari berjalan mendekati sang suami yang terlihat menunduk di meja kerjanya.
Kennan pun mendongakkan kepala. Senyum berbinar membingkai wajahnya saat melihat wajah cantik isterinya yang telah menjadi mood boosternya.
"Enggak, cuma capek wae. Sini..." Kennan dengan merentangkan kedua tangan dan memutar kursi hingga menghadap ke arah sang isteri.
"Yakin cuma capek doang?" Tita semakin memperpendek jarak keduanya.
"Iya." Kennan mengangguk dengan tanpa menyurutkan senyum yang membingkai wajah tampannya.
"Abang kalau capek istirahat wae, besok aja dilanjut pekerjaannya." Tita dengan nada yang masih terdengar khawatir.
"Iya ini juga istirahat kok..."
"Tita ambilin makan ya?" tawar Tita pada sang suami dengan menggerakkan tubuhanya hendak kembali ke lantai bawah.
"Enggak usah gue nggak laper dek." Kennan menahan pergelangan tangan Tita dan menariknya hingga Tita terduduk di pangkuannya.
"Bang..."
"Peluk lo bentar ntar juga ilang capeknya." Kennan dengan menyusupkan kepala tepat di ceruk leher Tita yang posisi duduknya di atas pangkuan Kennan dan menghadapnya. Kedua tangannya melingkari tubuh ramping sang isteri.
Tita tersenyum tipis, lalu ikut melingkarkan salah satu tangan pada bahu Kennan serta tangan satunya menyusup surai hitam Kennan. Mengusapnya lembut, sesekali memberikan pijatan kecil seolah merelaksasi kelelahan otak sang suami.
"Pijatan lo enak dek... gak perlu nyalon buat creambath." Kennan dengan memyamankan letak kepalanya.
"Abang bisa wae..." Tita tersipu.
"Tita harap, Tita menjadi tempat abang buat bercerita dan berbagi tentang apapun. Entah itu susah, senang, sedih atau apapun yang mengganggu pikiran abang..."
Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Tita tanpa bermaksud menyindir Kennan karena sesungguhnya Tita juga tidak mengetahui jika saat ini otak dan pikiran Kennan sedang terganggu akibat telfon Yuna beberapa saat lalu.
Tita hanya merasa jika saat ini suaminya sedang dalam posisi lelah itu saja.
"Siap. Gue beneran gak ada papa kok, gue cuma capek wae." Kennan dengan mendongak, tidak lupa membingkai wajah lelahnya dengan senyum agar.Tita tidak mencurigainya.
"Pulang po, istirahat di rumah?" Tita dengan menunjukkan wajah, memandang Lek at kedua man ik mata Kennan.
__ADS_1
"Enggak." Kennan dengan gelengan. "Kita jalan yuk dek..."
Tita melebarkan kedua matanya. "Katanya abang capek?"
"Siapa tau wae dipakek kencan sama lo capek gue ilang." Kennan dengan pandangan mata yang berharap.
Tita tersenyum tipis.
"Abang pengen apa seh?" tanya Tita dengan menautkan kedua alis mata heran, mungkin saja keinginan sang suami tersebut ada udang di balik batu.
"Pengen kencan sama lo, gak mau?"
"Bukan gitu bang, heran aja kenapa tiba tiba kek gini..."
"Ini gak tiba tiba. Gue mau nurutin keinginan ajakan kencan lo yang waktu itu, mumpung gue ada waktu."
"Ntar kalau abang tambah capek gimana?"
"Kan ada lo yang pijitin gue nantinya." Kennan menoel hidung mbangir sang isteri.
"Abang mesti modus ini, jangan bilang kalau nanti lelah minta dipijit terus tambah minta yang lain." Tita waspada.
"Elo tuh nethink mulu sama gue..."
Ck...
Kennan berdecak.
"Ngapalin pelajaran wae bilangnya susah, giliran yang itu malah hafal." Kennan dengan tersenyum menggoda.
Tita mengerucutkan bibir. "Abang yang ngajarin."
Cup...
Kennan dengan segera mengecup bibir Tita sekilas.
"Abang ih..." Tita memberengut. "Tuh kan belum apa apa udah maen serobot wae."
"Udah gue bilang berulang kali kan... jangan suka monyongin bibir sembarangan." Kennan dengan menguncup bibir mungil Tita yang masih mengerucut. "Kek gitu bikin jojo bangun tau nggak."
"Dasar otak omes." Tita menggerutu kesal.
"Otak gue omes gara gara lo, lagian gue omes cuma sama lo doang. Boleh kan? Udah sah kok, iya kan?!" Kennan membela diri.
"Iyain aja deh, biar abang seneng." Tita pura pura tidak rela.
__ADS_1
"Emangnya lo nggak seneng gue omesin? Jadi selama ini cuma gue yang menikmati elo enggak dek?" Kennan dengan memasang wajah kesal.
"Bukan gitu maksud Tita abang, kok abang jadi kesel seh..." Tita jadi bingung.
"Gimana gue enggak kesel coba, gue pikir kita sama sama menikmati ternyata elonya enggak." Kennan dengan memalingkan wajah. Terdengar hembusan nafas kesal dari Kennan.
"Dengerin penjelasan Tita dulu bang, jangan ngambek..." Tita dengan menangkup wajah Kennan untuk kembali berhadapan dengannya.
"Mau jelasin apa lagi?" Kennan jutek, masih terlihat kekesalan pada raut wajahnya.
"Tita cuma godain abang, nggak serius kok."
"Nggak usah pura pura, emang itu kan yang ada di hati lo dek?" Kennan ketus.
"Tita enggak pura pura, beneran Tita cuma godain abang..." Tita kelimpungan membujuk sang suami yang raut wajahnya terlihat sangat kesal. Sepertinya badai petir akan segera hadir, meluapkan kemarahannya.
"Bang..." Tita melembutkan intonasi ucapannya. Membujuk sang suami agar menghilangkan rasa kesalnya.
"Tita juga suka kok diomesin sama abang, beneran... bikin Tita nggak tahan kalau jauh jauh dari abang. Kadang Tita juga pengen nambah terus gak mau berhenti." ucap Tita polos, mengungkapkan isi di hatinya dengan menunduk malu.
Kennan yang sebenarnya pura pura kesal, tertawa dalam hati saat melihat raut wajah malu Tita setelah mengungkapkannya isi hatinya.
"Gue nggak kesel kok, gue juga cuma godain elo doang." Kennan tersenyum puas dengan membawa dagu Tita mendongak agar sejajar dengan wajahnya.
Melihat raut wajah Kennan yang tersenyum, seolah puas telah mengerjainya, Tita memukul pelan bahu sang suami.
"Abang ih... bisa nggak sih sehari wae nggak ngerjai Tita..."
Kennan terkekeh kecil sembari menahan kedua tangan Tita agar berhenti memukulnya. "Udah dek."
"Awas wae kalau abang ngerjain Tita lagi."
"Hari ini kita impas, nggak usah ngambek. Mandi sana gih, habis itu kita jalan jalan."
"Jadi kencannya?" Tita masih betah di atas pangkuan Kennan.
"Jadi dong... buruan mandi gih, badan lo bau asem." Kennan dengan menutup hidungnya pura pura bau.
"Pyeekk... kalau lagi gak butuh wae bilang bau. Awas aja nanti malem kalau abang minta kelon." Tita beranjak dari pangkuan Kennan lalu memasuki kamar mandi dalam ruangan Kennan.
"Kunci pintunya kalau nggak mau gak nyusul ke dalem!" teriak Kennan disertai dengan kekehan.
"Awas wae kalau abang berani masuk..." pekik Tita dari dalam kamar mandi.
βπ»βπ»βπ»βπ»
__ADS_1