
Kennan segera turun dari mobil Yuna saat telah sampai di depan kafe miliknya.
Namun baru saja berjalan dua langkah menjauh.
"Kenn..."
Yuna berseru memanggil namanya.
"Apa lagi Yun?" Kennan dengan membalik badan kembali.
"Makasih buat hari ini." ucap Yuna dengan senyum membingkai wajahnya. Yuna sengaja memberikan senyuman semanis mungkin.
Tetap saja Kennan terlihat datar bahkan berkesan dingin.
"Sudahlah Yun, kamu udah bilang makasih berkali kali." Kennan nampak tidak sabar ingin segera beranjak dari sana.
"Ya tetap saja aku udah nyita waktu kamu." Yuna tetap saja berusaha menahan cowok yang telah dicintainya sejak lama tersebut. Meski dirinya sepakat bahwa ini adalah kali terakhirnya untuk dapat bertemu dengan Kennan namun tetap saja hatinya terasa berat untuk melepaskan Kennan.
"Aku nggak papa kok, tapi ini yang terakhir. Aku harap kita nggak usah ketemu lagi." Kennan datar.
Yuna membingkai senyum yang dipaksakan. "Aku tau."
"Kalau gitu aku masuk dulu." Kennan dengan hendak membalik tubuhnya.
"Kenn... bentar." Yuna menahan lengan tangan Kennan saat netranya melihat sosok Tita yang Yuna tahu sebagai isteri Kennan.
Tidak sulit untuk Yuna mencari informasi detil tentang status Kennan yang telah menikah dengan gadis yang tak lain adalah adik perempuan dari cowok yang telah membuatnya tidak bisa memiliki Kennan.
Siapa lagi kalau bukan Satya, cowok yang rela berpura - pura menjadi kekasih Yuna demi adik perempuannya. Bahkan meski Yuna telah membuat Satya meninggal lewat kecelakaan saat balapan liar, gadis itu tetap tidak dapat memiliki Kennan.
Rasa marah itu membuat ambisi Yuna muncul kembali.
Brekk.
Yuna dengan sengaja menubruk Kennan, memeluk cowok itu erat.
"Yun..." Kennan dengan menarik tubuhnya, namun Yuna menahannya kuat.
"Ini yang terakhir Kenn, aku cuma ingin memeluk kamu untuk yang terakhir kalinya."
Yuna yang tubuhnya hanya mencapai bahu Kennan, menampilkan senyum seringai. Dan Kennan tidak tahu itu.
Tita yang telah keluar dari kafe K&Y, memaku tubuhnya saat menyadari jika manik hitamnya mendapati sosok suami memeluk gadis lan di depannya.
"Aku sayang kamu Kenn." Yuna sengaja mengucapkannya cukup keras agar Tita yang berdiri beberapa langkah di belakang Kennan mendengarnya.
Kennan memejamkan kedua matanya sesaat sembari mengambil nafas dalam.
Ingin rasanya mendorong tubuh kecil yang memeluknya itu agar terlepas namun nuraninya melarang.
Masih teringat jelas permohonan kedua orang tua Yuna yang mengiba untuk membantu anak gadisnya sembuh. Dan lagi, hati Kennan merasa bersalah. Sedikit banyak Yuna mengalami semua itu karena obsesi gadis itu kepadanya.
"Elo sayang kan sama aku Kenn..." Yuna dengan mendongak.
"Aku sayang sama kamu Yun, tap..."
__ADS_1
Belum Kennan menyelesaikan kalimatnya, Yuna menutup bibir Kennan dengan jarinya.
"Kamu sayang sama aku, itu udah cukup buat aku." Yuna mendongak tersenyum.
Tinggi keduanya yang tidak seimbang membuat Kennan sedikit menunduk. Sepintas terlihat seperti pasangan yang saling mengungkap rasa.
Tes
Bulir bening menetes membasahi pipi Tita saat manik hitamnya menangkap pemandangan tersebut.
Jantungnya seolah berhenti berdetak, sesak.
Tita memaku tubuhnya sesaat, lalu setelahnya berbalik arah melangkah pergi dari sana dengan hati yang berkecamuk.
Yuna menaikkan sudut bibirnya, dalam hati tersenyum penuh kemenangan.
Tidak ada yang boleh memiliki Kennan selain gue...
"Yun... udah..." Kennan melepaskan diri dari pelukan Yuna.
Mendorong lalu menangkup bahu gadis yang hanya memiliki tinggi sepundaknya tersebut seraya berkata.
"Aku sayang sama kamu sebatas teman, tidak lebih. Kamu tau kan?!" Kennan dengan menatap manik mata Yuna.
"Iya... aku tau Kenn. Dan itu sudah cukup." Yuna dengan wajah pura - pura baik.
"Syukurlah kalau lo udah tau kalau kita nggak bakalan bisa buat jadi pasangan." Kennan berprasangka baik.
"Aku udah sadar kok Kenn, kita nggak bakal mungkin bersama. Aku juga udah tahu kalau kamu udah menikah." Yuna menyendukan wajah. Pura - pura.
Yuna mengangguk kepala.
"Kamu tau siapa orangnya?"
Heh... Yuna dengan pandangan tidak mengerti.
"Gadis yang aku nikahi."
Yuna menghembuskan nafas pendek.
"Enggak." sahutnya tentu saja dengan berbohong.
"Kamu nggak tau?" Kennan dengan menelisik.
"Enggak. Aku juga nggak mau tau siapa gadis itu. Aku nggak mau sakit hati. Hati aku nggak bakal bisa menerima betapapun baiknya gadis itu buat kamu. Hatiku pasti nggak kuat Kenn..." Yuna dengan wajah meyakinkan.
Sesaat Kennan terdiam, mencoba mencari kebohongan di wajah Yuna.
Sepertinya dia jujur... ucap Kennan dalam hati.
"Kamu nggak pengen tahu dia siapa?" tanya Kennan kemudian.
Lagi Yuna menggeleng.
"Enggak. Aku takut bakal nyakitin dia kalau aku sampai tau siapa dia." Yuna dengan memandangi telapak tangan kecilnya.
__ADS_1
Kennan terkekeh.
"Tangan kamu terlalu kecil buat nyakitin dia."
"Hehehe... benarkah?!" Yuna dengan senyum palsunya.
"Iya." Kennan mengangguk masih dengan kekehannya.
"Udah dulu ya gue mau selesain kerjaan gue." pamit Kennan dengan mengacak sebentar rambut Yuna.
"Apaan sih." Yuna menepis tangan Kennan, pura pura kesal.
Kennan terbahak sembari melambaikan tangan, meninggalkan Yuna menuju ke dalam kafenya.
Kennan tidak menyadari jika Yuna telah berbuat licik.
Heh... menyeringai
"Lo nggak bakal jadi milik siapapun Kenn... hanya gue yang boleh..."
πππ
"Assalamualaikum..." Kennan memasuki apartemen dengan wajah lelah.
Kennan memang sungguh lelah seharian ini.
Dari pagi Kennan menemani Yuna menghabiskan hari terakhirnya di Yogyakarta sebelum kembali ke luar negeri untuk melakukan pengobatan kembali.
Dan sesuai dengan janji Kennan pada kedua orang tua serta Yuna, Kennan pun melakukannya. Membawa Yuna jalan - jalan sepuasnya.
Usai menemani Yuna, Kennan mendatangi kafe K&Y yang ternyata sangat ramai sore itu. Mau tak mau Kennan membantu melayani pengunjung kafenya.
Karena saat ini adalah akhir bulan, Kennan harus melakukan pengecekan pembukuan kafe. Pembayaran gaji karyawan, orderan kebutuhan dan juga dokumen dokumen lain yang membutuhkan persetujuan darinya.
"Walaikumsalam Bang..." sahut Tita dengan tetap membingkai senyum di wajahnya. Seolah - olah tidak ada kejadian apa - apa.
"Lagi ngapain dek?" Kennan bertanya dengan langkah kaki mendekati Tita yang sedang memberesi area dapur.
"Ini." Tita mengacungkan kedua tangannya yang membilas piring di wastafel dapur.
Cup
Kennan mengecup kening Tita sesaat.
"Baru makan?" tanya Kennan dengan kedua tangan yang melingkari tubuh Tita.
"Iya." sahut Tita berbohong, karena sesungguhnya dia tidak memiliki nafsu makan hari ini. Piring - piring itu adalah piring bekas makannya tadi pagi.
"Kenapa jam segini baru makan?" Kennan merasa ini sudah larut, dan tidak biasanya Tita makan jam segini.
"Baru sempet Bang. Tadi lupa waktu, PR Tita banyak." Tita memberi alasan, sembari menempatkan piring terakhir pada rak yang tak jauh dari wastafel.
Kennan pun menggeser tubuh, memposisikan dirinya dibelakang tubuh Tita. Tentunya masih dengan memeluk isterinya.
"Abang geli." Tita menggerakkan bahunya saat merasakan bibir Kennan menyusup belakang lehernya.
__ADS_1
π¨π¨π¨π¨