Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Bonus Gamon 3


__ADS_3

"Bang..."


Seru Bunda Vida yang datang dengan langkah kaki tergopoh gopoh di rumah sakit tempat Tita melakukan persalinan.


Mendengar suara wanita yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya, Kennan yang semula menelungkupkan wajah di antara dua kakinya segera mendongakkan kepala.


"Bunda."


Kennan dengan suara serak. Wajahnya terlihat kusut bahkan sembab akibat sisa tangisan.


Bunda Vida segera berjongkok dan memeluk anak lelakinya yang saat ini terlihat sangat menyedihkan.


Anak lelaki kebanggaan keluarga Atmadja yang biasanya berpenampilan gagah perkasa dengan wajah tampan rupawan di usia dewasanya itu terlihat rapuh tak berdaya.


Rambut hitamnya yang terbiasa tertata rapi terlihat acak acakkan. Wajah tampannya tampak sangat kusut dan sembab. Gurat ketakutan tampak nyata di sana.


Baju kemeja kerja yang masih dikenakan saat mengantar Tita ke rumah sakit sudah terlihat kusut. Ujung kemeja itu telah keluar dari celana bahan yang dikenakannya. Lengan tangannya sudah digulung hingga kesiku tak beraturan. Kemeja bagian dada Kennan tampak melekat pada dada bidangnya, meninggalkan jejak basah yang terasa ikut menyentuh tubuh sang bunda saat mereka berpelukan.


Perlahan tangan bunda Vida mengusap lembut punggung Kennan saat merasakan tubuh anak lelakinya bergetar hebat.


"Yang sabar bang... Abang harus kuat." Bunda Vida mengeratkan pelukan pada anak lelakinya, tanpa menghentikan usapan pada punggung Kennan.


"Hiks... abang takut Bun..." Kennan terdengar mengeraskan isak tangisnya. Bahkan tanpa sadar mengeratkan kedua tangan memeluk tubuh bunda Vida seolah meluapkan rasa takut yang kini hinggap di benaknya.


Saat ini Kennan sudah tidak memikirkan tentang harga dirinya sebagai lelaki kuat dan perkasa. Kennan sudah tidak mampu menahan untuk meluruhkan tangis di pelukan sang bunda.


"Abang jangan berhenti berdoa sama Allah. Serahkan semuanya kepadanya. Yakinlah Allah akan memberikan yang terbaik buat abang." Bunda Vida dengan suara bergetar menahan sesak dalam dadanya. Bunda Vida sangat paham kondisi lemah Kennan saat ini.

__ADS_1


Bagaimana Kennan tidak lemah ketika setelah melahirkan bayinya secara normal, tiba tiba Tita mengalami pendarahan hebat yang membuatnya lemas bahkan tak sadarkan diri. Saat ini Tita harus berjuang melawan maut di dalam ruang operasi bersama tim dokter yang menaganinya.


"Abang nggak mau kehilangan Tita untuk yang kedua kalinya Bun. Abang nggak mau..." Kennan dengan tergugu.


Bagaimana dengan dua anak kembarnya yang masih membutuhkan kasih sayang bundanya. Dan juga jagoan kecilnya yang bahkan belum sempat bertemu dengan wajah bundanya. Apalagi jagoan kecilnya itu saat ini masih meringkuk di ruang inkubator karena kondisinya yang prematur. Ternyata Tita melahirkan satu bulan lebih awal dari perkiraan hari lahir yang telah ditentukan. Hal itu membuat bobot bayinya belum memiliki berat minimal syarat untuk lahir.


"Bagaimana kalau Tita pergi ninggalin abang Bun... Bagaimana dengan anak anak..."


Kennan sungguh tak tahu hidupnya nanti jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan dengan kondisi sang istri saat ini.


Persetan dengan harga dirinya, saat ini Kennan tergugu layaknya anak kecil. Seandainya saja ini bukan rumah sakit mungkin dirinya akan meraung sekuatnya. Kennan benar benar berada di titik terlemahnya saat ini.


"Abang... abang jangan berburuk sangka pada Allah. Berdoalah, minta sama Allah agar Tita mampu melewati masa kritisnya." Bunda Vida dengan tetap mengusap lembut punggung Kennan untuk memberikan kekuatan pada anak lelakinya. Meski tanpa sadar dirinya pun tak mampu menahan bulir bening yang merembes membasahi wajah paruhnya yang sedikit memiliki keriputan.


Sebagai seorang dokter, sesungguhnya Bunda Vida sudah terbiasa menghadapi masalah seperti ini. Memberi kekuatan pada keluarga yang berjuang untuk pasien yang sekarat bahkan membesarkan hati mereka di saat benar benar kehilangan orang orang yang mereka sayangi. Adalah hal yang biasa bunda Vida lakukan.


Degup jantung dalam dada bunda Vida pun berdetak tak beraturan membayangkan takdir Allah nantinya.


"Abang..." suara lembut bunda Vida pada Kennan, sengaja menjauhkan tubuh Kennan dati dirinya.


"Abang nggak boleh lemah." Lagi sang bunda memberikan semangat pada Kennan.


"Abang nggak sanggup bun... jika nanti...." Kennan melempar pandangan ke arah pintu ruang operasi Tita yang masih saja tertutup rapat. Padahal hampir dua jam telah terlewat.


Bunda Vida mengikuti arah pandang Kennan. Sungguh hatinya sangat miris saat ini. Terselip sedikit ketakutan tentang kemungkinan yang Kennan bayangkan. Bayangan kedua cucu kembarnya yang selalu nempel dan tertawa riang saat bersama dengan Tita berkelebatan di pelupuk matanya.


******* lirih keluar dari diri bunda Vida saat pintu ruang operasi itu tak juga kunjung terbuka.

__ADS_1


"Bagaimana dengan anak anak juga abang bun...." Kennan kembali tergugu dengan bulir bening yang kembali merosot membasahi wajahnya.


"Sssttt.... abang jangan berfikir begitu. Bunda yakin Tita sayang sama kalian, dia pasti berjuang sekuat tenaga untuk melewati masa kritisnya."


Meski terbersit secuil ketidakyakinan pada sudut hatinya, namun bunda Vida tidak boleh menunjukkannya di depan Kennan.


Hingga suara hentakan sepatu yang beradu dengan lantai rumah sakit membuat sang bunda menoleh ke arah asal suara.


"Ayah." desis bunda Vida saat mendapati sang suami dan juga Naura serta Aldi sahabat Kennan yang telah bergelar menjadi menantu keluarga Atmadja berjalan tergesa ke arahnya.


"Bagaimana perkembangan Tita bun?" tanya ayah dengan raut wajah khawatir saat masih beberapa langkah jaraknya. Sebenarnya bukan hanya ayah, Aldi dan Naura pun begitu. Tampak jelas kecemasan pada wajah mereka.


Bahkan Naura yang sedang hamil besar pun seolah tak peduli dengan kondisi tubuhnya. Adek perempuan Kennan itu terlihat berjalan gegas untuk mendekat pada bunda Vida dan Kennan.


Tidak ada sahutan dari bunda Vida, melainkan pandangan matanya beralih pada pintu ruang operasi yang masih tertutup, seolah menunjukkan kondisi Tita saat ini.


Kennan masih setia dengan pelukannya pada bunda Vida dengan kepala yang menyusup bahu sang bunda.


"Bang..." Ayah mengusap surai hitam Kennan untuk menunjukkan kehadirannya.


Mendengar suara bariton yang sangat dikenalnya Kennan pun mendongak.


"Ayyaah." dengan suara parau. Segera melepaskan tubuhnya dari pelukan sang bunda, segera beralih pada tubuh lelaki paruh baya yang masih tetap tegap di usia senjanya.


"Yang kuat ya bang." Ayah mendekap erat Kennan. Sebagai seorang ayah yang memiliki hubungan dekat dengan sang anak, dia sangat tahu betapa pilunya hati Kennan saat ini.


Tak ada sahutan dari mulut Kennan. Lelaki dewasa itu makin meluruhkan air mata dalam pelukan ayahnya. Menyusupkan wajah makin dalam pada bahu sang ayah seraya mencengkeram kuat punggung ayahnya. Seolah meluapkan pilu hatinya.

__ADS_1


🍨🍨🍨🍨


__ADS_2