
Brukk.
Kennan melempar tas punggungnya sembarangan saat dirinya memasuki kamar di apartemennya. Kemudian melempar tubuhnya asal pada kasur empuk yang masih terlihat tidak rapi sama sekali karena semenjak kepergian Tita, Kennan mengabaikan kondisi apartemennya yang berantakan. Bahkan selimut serta bantal guling terlihat acak acakan.
Kennan mengembuskan nafas panjang. Kemudian Kennan memandang langit langit kamar dengan menumpukan lengan kanannya pada keningnya, tak habis pikir dengan jalan pikiran Tita.
Bagaimana bisa gadis itu menyuruhnya kembali ke apartemen dan melarangnya menginap di rumah keluarganya sendiri. Sedangkan gadis itu meminta hanya dirinya saja yang menginap di sana.
Tak mau tempurung kepalanya semakin pening, Kennan beranjak dari kasur empuknya. Melorot sprei dan atribut sarung bantal guling serta selimutnya untuk diganti dengan yang baru.
Memutuskan membersihkan apartemen yang beberapa hari ini tak tersentuh tangan isterinya.
Kennan mengambil semua pakaian kotor dari dalam kamar mandi dan yang masih menggantung pada walk in closet kamarnya, setelahnya memasukkan semua pakaian kotor tersebut ke dalam mesin cuci.
Kennan memasukkan detergent cair serta pewangi baju yang biasa Tita gunakan untuk mencuci baju, setelahnya Kennan menekan tombol on pada mesin cuci otomatisnya.
Selesai mengeksekusi pakaian kotor, Kennan membersihkan seluruh ruangan apartemen dengan menyapu serta mengepel lantainya.
"Huuffttt....capek juga ternyata, gimana Tita bisa melakukannya tiap hari ya...Gak pegal apa badannya tiap hari mengerjakan semua ini?!" Kennan bergumam sendiri.
Tuh kan jadi ingat sama Tita lagi, bikin rindu waeππ
Heh Kennan membuang nafas pelan.
Kruk...krukkk...bunyi perut Kennan memberi tanda minta diisi. Kennan lalu beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ingin cepat cepat keluar cari makan untuk memberi makan cacing dalam perutnya.
...ππππ...
"Kenn...tunggu....!!", sebuah teriakan memanggil namanya nyaring saat dirinya hendak memasuki apartemen.
Grudak gruduk drukk.....
Suara derap langkah kaki setengah berlari membuat Kennan menoleh ke belakang.
Hek... Kennan sedikit terkejut mendapati Aldi, Arya dan Bima mendekati dirinya.
"Kemana aja seh lo Kenn....ngilang gitu aja kek hantu jeruk purut lo!!!", Aldi menoyor bahu Kennan pelan.
Kennan masih mematung tak berbicara.
"Kenn....lo gak kesambet kan?!", Aldi heran dengan wajah cengo Kennan.
"Ah..eh...enggak. Kaget wae...liat kalian tiba tiba di belakang gue", Kennan menyadarkan dirinya dari keterkejutannya.
"Cihhh...otak lo mikirin apa?! Kek baru sekali liat muka ganteng gue", Aldi pendekatan wajahnya pada Kennan dengan tersenyum jahil.
Kennan mencebik malas, kemudian membuka pintu apartemen tanpa mempersilahkan teman temannya masuk.
"Gak berhati lo Kenn..ngeloyor wae tanpa ngajak kita", Kesal Aldi memasuki apartemen Kennan yang pintunya hampir tertutup, diikuti oleh si kembar Arya dan Bima.
"Wow...harum kali apartemen lo, gak kek biasanya" , Arya mengendus bau harum relaxing yang tercium hidung mancungnya.
Bima mengangguk membenarkan sambil menatap apartemen Kennan yang terlihat rapi.
"Lo darimana Kenn?", Tanya Arya sambil mendudukkan diri pada sofa depan TV. Diikuti dengan Bima yang meraih remote kemudian memencet tombol on pada remote TV tersebut. Sedangkan Arya ngeloyor ke kamar mandi dekat dapur untuk menuntaskan panggilan alam.
"Nih", Kennan mengacungkan bungkusan nasi padang yang dia beli di sekitar apartemen tadi.
"Kenn....kok jemuran lo ada baju sama daleman cewek seh", Aldi bertanya tanpa sungkan saat dirinya selesai dari kamar mandi. Aldi sempat melihat jemuran yang digantung Kennan di ruang laundry yang bersebelahan dengan kamar mandi.
Hek.
Kennan meneguk salivanya kelat, tubuhnya sedikit menegang mendengar pertanyaan Aldi.
"Kenapa Aldi resek banget seh, ngapain juga ngintip jemuran gue", Kennan membatin.
"Punya Naura sama Bunda", Sautnya asal untuk menguasai keadaan yang sempat membuatnya sedikit menegang.
"Oh....mereka tidur sini??", tanyan Aldi kembali.
"Hem", sahut Kennan sambil membuka bungkusan nasi padang nya di atas meja ruang TV.
__ADS_1
"Pantesan apartemen lo bersih terawat", Aldi memindai apartemen Kennan yang berbeda dari biasanya. "Tau gitu gue sering dateng ke sini"
"Ck...elo caper mulu, giliran diiyain ngibrit lo", Arya mencebik.
"Wiihh...bikin pengen wae Kenn", Aldi mengusap perutnya saat memandang nasi padang milik Kennan.
"Beli sono", Bima menyikut Aldi karena posisinya yang berada paling dekat dengan Aldi.
"Males turun....Elo punya mi instant gak Kenn?". Aldi.
"Tau...liat dapur sono", Kennan berucap kemudian menyuapkan nasi padang ke dalam mulutnya.
"Bawain gue minum Al", seru Kennan pada Aldi yang sudah berjalan menuju dapur.
Beberapa saat kemudian Aldi datang dengan mangkuk yang mengepulkan asap serta bau mi instan rebus yang menyeruak, tak lupa segelas air minum diberikannya pada Kennan.
Aldi mendudukkan diri di hadapan Kennan.
"Dapur lo berasa kek lo punya bini wae Kenn", Aldi.
Glek.
Lagi lagi Kennan harus menegang dan menahan salivanya kelat.
"Apaan seh lo Al, mana ada dapur punya bini", Arya menyahut sambil meraih sendok pada mangkuk mi rebus Aldi.
Plak.
Aldi memukul tangan Arya. "Enak wae....bikin dewe sono. Di dapur masih full bahan makan, kulkas Kennan masih penuh sayuran juga ada".
"Anying....pelit banget seh lo", Arya mengumpat sambil mengusap punggung tangannya.
"Emang gue pelit, ngapa.... lo gak terima punya temen pelit"
"Ck....mo ngicip doang jugak", Arya
"Bikin dewe bambang!!", Aldi merengkuh mangkuk mienya, seakan melarang siapapun untuk mencoba mie rebus pakek telornya.
"Tuh, kek adek lo....bisanya cuman nyomot wae lo", Aldi sebal.
"Pedes ya Bim.....", seru Arya pada kembarannya yang sudah berada di dapur.
Kennan merasa sedikit lega, saat Arya dan Aldi sedikit berdebat, seakan mengabaikan pernyataan Aldi tentang dapurnya yang berasa punya bini.
Jangan senang dulu Kenn.....
"Bener omongan lo Al..... di dapur ada mug, mangkuk pasangan juga", Bima datang dengan dua mangkuk yang mengepulkan asap panas, kemudian menaruh di atas meja.
"Maksud lo...?", Arya bingung.
Sedangkan Aldi mengacungkan jempol kanannya karena mulutnya masih sibuk dengan mengunyah mi telor buatannya.
"Betulkan", ucap Aldi setelah menelan mi ke dalam kerongkongannya.
Bima mengangguk kemudian kembali lagi ke dapur, tanpa menjawab kebingungan Arya.
Sedangkan Kennan acuh saja, memilih pura - pura tidak mendengar ucapan teman geng basketnya.
"Nih liat mug sama mangkuk gue, berpasangan kan...?!", Bima berucap setelah menaruh kedua mug berisi air putih di atas meja.
Memang kalau dilihat mangkuk yang dipakai Bima untuk menyajikan mie rebusnya dengan mug yang berisi air putih tersebut terlihat berpasangan.
"Kenn....jangan bilang ini yang menyiapkan Bunda", Aldi menatap Kennan penuh tatapan selidik.
"Bukan", sahut Kennan dengan menunduk sambil memakan nasi padangnya.
"Lalu??", Aldi.
Bima dan Arya ikut menatap Kennan sambil mengangkat mie nya tinggi dengan garpu agar cepat dingin.
Namun yang ditatap tidak merespon dama sekali, padahal jantungnya sudah berdebar keras takut rahasia pernikahannya dengan Tita terbongkar.
__ADS_1
"Kenn...", Aldi meminta jawaban.
"Bukan....Naura yang beli keknya. Gue gak tau", Jawab Kennan asal karena dirinya juga tidak tahu siapa yng membeli itu. Meski kemungkinan besar yang membeli barang - barang itu adalah Tita isterinya, namun Kennan tidak mau berterus terang kepada para sahabatnya tersebut.
Biarkan saja itu tetap menjadi rahasianya, sampai dirinya dan Tita siap untuk memberitahukan statusnya pada para sahabatnya itu. Walaupun Irsyad telah mengetahui rahasianya, Kennan yakin cowok satu itu tidak akan ember meskipun pada para sahabatnya sekalipun.
"Kulkas penuh, bumbu dapur lengkap. Snack juga banyak", lagi Bima berucap penasaran.
"Betulkan apa kata gue", Aldi.
"Udah dibilang Naura sama Bunda habis menginap di sini jugak, wajarlah kalo dapurnya full bahan makanan. Kalian harus nya bersyukur karena kita sekarang ikut menikmatinya hehehe.....Iya kan Kenn", Arya meraih mangkuk mienya terkekeh.
Kennan tak peduli, asyik menghabiskan nasi padang nya yang sekarang berasa hambar menurutnya karena dirinya sedikit tidak nyaman dengan kecurigaan teman temannya.
Padahal badannya sudah sangat lelah buat kurang tidur serta dirinya yang baru saja menyelesaikan bebersih apartemen nya sendirian. Seharusnya dirinya tinggal menikmati makannya kemudian istirahat dengan tenang.
Apalah daya jika geng basketnya itu datang pasti mereka akan bermain game sambil merusuh.
"Kenn....lo kek capek banget seh, kantung mata lo menghitam gitu kek kurang tidur. Elo gak lagi ada masalah kan Kenn?", Bima.
"Lo dapat luka lecet lo darimana?", Aldi bertanya karena baru menyadari wajah Kennan yang sedikit lecet.
"Kirain kalian udah pada gak peduli sama gue", Kennan memandang sinis pada mangkuk mie sahabatnya yang masih mengepulkan uap panas.
"Cek elah....gitu wae ngambek anak perawan. Perut laper mah gak peduli badai....", Aldi terkekeh.
"Lo berkelahi??", Arya.
"Gak. Jatuh dari motor"
"Kok bisa??", Aldi.
"Gue turun balapan kemaren", Ucap Kennan sedikit pelan.
"Hah.... lo balik ke geng lama lo?" Aldi terkaget.
"Cuma iseng Al....itupun malah bikin gue jatoh"
"Mangkenye izin dulu sama kita kalo mo jadi anak nakal hehehe...." Arya terkekeh.
"Gak sengaja ketemu", Kennan.
"Gak parah kan!", Bima memastikan.
"Gak cuma kepleset doang elah". Kennan.
"Kalo lo mau jadi anak nakal, ngajak kita Kenn biar kita ikut sekalian", Arya.
"Gila lo", Bima menoyor kepala Arya pelan.
"Gue capek.....mau tidur. Jangan berantakin apartemen gue", Kennan meninggalkan teman temanya mengunci diri di kamar setelah membuang bungkus nasi padangnya di dapur.
Kennan tak ingin meladeni kekepoan sahabatnya, tubuhnya sudah sangat lelah.
"Eh tu liat sofa bean Kennan juga kek berpasangan", Bima menunjuk sofa bean yang berwarna biru dan hijau yang tertangkap pandangan matanya.
"Beneran gak seh Kennan lagi gak punya masalah, keknya dia lagi nyembunyiin sesuatu deh...", Bima merasakan sesuatu yang aneh pada kapten basketnya tersebut.
Arya hanya mengangkat bahu, melanjutkan makan mienya sembari bermain game.
"Udahlah....gak usah kepo jadi orang. Palingan beneran lelah dia", Aldi.
π¨π¨π¨π¨
Like
Vote
Komen
Tambahkan favoritβ€
__ADS_1
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ