
"mas bagaimana keadaan Stella mas?apa dia baik-baik saja" Dita mengurai pelukanya dan bertanya tentang keadaan Stella,karena ia tak melihat Stella.
"sudahlah dek,tidak usah memikirkannya kita akan pergi ke rumah sakit sekarang." Azka memasang sabuk pengaman dan segera mengitari mobilnya dan segera masuk dan duduk di balik kemudi.
sebelum ia memasuki mobilnya ia terlihat berbincang dengan dua orang polisi dan pamitan kepada Abi,kebetulan Abi sudah sampai di tempat ke jadian dan dia merasa lega karena adiknya terlihat baik-baik saja dan membiarkan Azka membawa Dita kerumah sakit.
"mas,aku baik-baik saja bagaimana dengan Stella?" Dita menahan tangan Azka yang hendak menjalankan mobilnya.
"sudahlah tak perlu mencemaskan Stella,dia sudah berniat jahat terhadapmu dan kita akan kerumah sakit sekarang."
"tapi aku baik-baik saja mas,lebih baik kita pulang saja." Dita masih saja berkeras untuk tidak pergi ke rumah sakit karena memang dirinya merasa baik-baik saja
"kau bilang baik-baik saja?lihat goresan di tangan dan kakimu akibat terkena pecahan kaca dan apa aku tak merasa jika dahimu ber- da rah?aku akan tetap membawamu kerumah sakit, istirahatlah."
Dita menghela nafas pelan,benar kata Azka ternyata keningnya berdarah akibat terbentur dan tangan kakinya juga tak luput dari goresan pecahan kaca. ia lebih memilih memejamkan matanya karena kepalanya tiba-tiba terasa sangat pusing.
sesampainya di rumah sakit Azka menggendong Dita yang ternyata sudah tak sadarkan diri,dia panik saat mendapati sang istri yang pingsan,
"dokter,suster cepat selamatkan istri saya." Azka berteriak kencang dan tak membutuhkan waktu yang lama dokter dan suster datang untuk memeriksa Dita.
Azka memasuki ruangan dimana Dita dirawat,ia sangat bersyukur karena luka yang dialami istrinya tidak terlalu parah,dan tidak ada yang perlu di kawatirkan.
Azka menggenggam tangan Dita dengan erat,ia memandangi wajah istrinya yang terlihat pucat.
"maafkan aku dek,karena sudah lalai menjagamu dan membuatmu seperti ini mas janji ini yang terakhir kalinya kamu merasakan kesakitan ini." gumam Azka sambil mencium punggung tangan Dita.
"bagaimana keadaan Dita?" tanya Abi yang sudah berdiri di belakang Azka.
"dia baik-baik saja,bagaimana apa semuanya sudah beres?aku tak ingin dia masih berkeliaran di luar." ucap Azka datar.
"tenang saja,aku juga tak ingin orang yang sudah berani menyakiti adikku bebas begitu saja. dokter menyatakan kalau dia lumpuh dan dia mengalami depresi berat hingga ia harus di bawa ke rumah sakit jiwa." Abi memberitahukan bagaimana keadaan Stella,dan dita yang sebenarnya sudah sadar sedari tadi namun enggan untuk membuka matanya karena merasakan pening yang luar biasa di kepalanya,langsung membuka matanya saat mendengar kabar dari Stella.
__ADS_1
"apa maksud kakak Stella menjadi gi la?" tanya Dita terkejut, dan itu membuat kedua orang yang tengah berbincang serius lalu menoleh ke arah Dita.
"dek kamu sudah sadar?bagian mana yang sakit?" Azka mendekati Dita dan membantu Dita untuk duduk.
"katakan mas,kalau aku tak salah dengar dengan keadaan Stella?" Dita bertanya sambil menatap Abi dan Azka secara bersamaan.
Azka meraih tangan Dita dan menggenggamnya erat,. "iya dek kamu tidak salah dengar,Stella dia menjadi gi la,dan kedua kakinya lumpuh itulah sebabnya dia menjadi seperti itu."
"aku tak menyangka jika Stella akan berakhir seperti itu mas,aku turut prihatin." ucap Dita sendu,ada rasa bersalah di hatinya karena yang menyebabkan Stella menjadi sepeti itu adalah juga karena dirinya.
"sudahlah dek,mungkin ini sudah menjadi garis takdirnya. yang terpenting kamu selamat dan kita bisa berkumpul lagi bersama dengan Rafa."
"benar itu dek,jangan membuat dirimu merasa bersalah karena ini memang murni kesalahannya.lebih baik kamu memulai hidup barumu bersama keluarga kecilmu dan mudah-mudahan tidak ada lagi cobaan yang datang di antara kalian."
"amienn..." jawab Azka dan Dita serempak.
"Ditaaaa...bagaimana keadaanmu,mana yang sakit?" Rani datang langsung menghambur memeluk sahabatnya itu,setelah mendengar kecelakaan Dita,Rani langsung datang saat jam kampusnya selesai.
"his,aku tuh kawatir sama Dita." ucap Rani mengrucutkan bibirnya.
"aku baik-baik saja Rani,makasih sudah mau datang kesini." Dita segera menjawab ucapan Rani sebelum Abi mengeluarkan segala umpatanya.
"syukurlah kalau kamu baik-baik saja,lalu bagaimana dengan si lampir itu?" tanya Stella yang membuat Dita tertawa karena Rani menyebut Stella sebagai lampir.
"dia sudah mendapatkan balasan yang setimpal." jawab Azka menatap Rani dan Dita secara bergantian.
Rani hanya mengangguk mengerti,pasti sudah terjadi sesuatu terhadap Stella,tetapi Rani tak mau ambil pusing tentang apa yang menimpa Stella,yang terpenting baginya adalah Dita selamat dan mereka bisa hidup tenang tanpa ada gangguan dari Stella.
Rani keluar dari ruangan dimana Dita di rawat,setelah cukup puas mengobrol dengan Dita akhirnya Rani pamit untuk pulang. dia hanya ingin tak ingin mengganggu istirahat Dita.
"tunggu mau kemana kamu?" tanya Abi menghentikan langkah Rani, mendengar suara bariton yang sangat ia kenali membuat Rani menghentikan langkahnya den membalikkan badanya hingga menghadap Abi yang tengah menatapnya tajam.
__ADS_1
sebenarnya Rani malas meladeni Abi,karena dia masih kesal dengan Abi yang marah-marah tak jelas kepadanya.
"tentu saja mau pulang." jawab Rani datar.
"dengan siapa?apa dengan lelaki yang kemarin mengantarmu pulang?"
Rani memutar bola matanya malas,karena Abi mengungkit masalah beberapa hari lalu.
"kalau iya memang kenapa?lagian kenapa sih kak Abi marah kalau aku jalan Sam teman lelaki?lagi pula kita kan gak ada hubungan apa-apa?" tanya Rani jengah.
Abi berjalan mendekati Rani,dia meraih pinggang Rani dan membuat mereka lebih dekat. Abi mendekatkan wajahnya ke telinga Rani dan berbisik.
"kau tanya kenapa?jawabanya adalah kau itu milikku!" bisik Abi lembut.
Rani mengerutkan keningnya,mendengar pengakuan Abi yang menurutnya aneh.
tangan Rani menyentuh dahi Abi,dan membandingkan dengan dirinya.
"suhunya sama gak panas,tapi kenapa kak Abi sepetinya sakit?" gumamnya yang masih terdengar Abi,sementara Abi hanya memperhatikan wajah polos Rani yang kebingungan dengan tingkahnya.
"kak Abi tadi gak salah makankan?" tanya Rani lagi yang masih saja kebingungan dengan tingkah Abi.
jangan ditanya bagaimana ekspresi Abi,dia mukanya merah,dan sepeti orang yang menahan kentut lalu setelah itu ia tertawa terbahak,sungguh sangat lucu gadis yang ada di hadapannya ini. dan Rani masih saja kebingungan melihat Abi yang malah tertawa terbahak.
"kamu itu Rani,kenapa tak sepeti gadis pada umunya saat ada lelaki yang mengucapkan kamu adalah milikku,ekpresimu malah membuatku semakin gemas Rani." ucap Abi sesaat ia sudah bisa meredakan tawanya
"lah...aku terus gimana?kalau kak Abi bercanda itu sama sekali gak lucu,karena apa yang kakak bilang itu mengandung kebaperan dan...mmpptt..." ucapan Rani terpotong karena Abi membungkam mulutnya dengan bibir Abi,dan itu membuat Rani melotot kaget sungguh ia tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Abi.
Abi melepas pagutanya dan menempelkan keningnya dikening Rani,ia tersenyum lembut tangan kanannya mengusap bibir basah milik Rani karena ulahnya.
"aku tak bermaksud untuk membuatmu baper,karena aku hanya ingin kamu menjadi milikku kamu mainkan jadi pacarku?"
__ADS_1