
"Loh ada apa ini sus?" Kennan bertanya dengan sedikit panik karena saat di depan pintu kamar rawat inap sang isteri terlihat banyak dokter masuk ke dalam.
"Maaf pak, pasien sedang dalam penanganan dokter harap jangan masuk dulu." jawab suster yang sedang berjaga di depan pintu kamar Tita yang telah tertutup kembali.
Kening Kennan mengerut.
"Kenapa sus? Ada apa dengan isteri saya?" Kennan dengan raut wajah semakin khawatir pada kondisi isterinya.
"Begini pak... Beberapa saat lalu nyonya Tita menggerakkan jemari tangannya. Jadi sekarang sedang diperiksa kemungkinan isteri anda akan segera siuman." terang suster dengan tenang.
Kennan yang saat ini sedang bersama kedua buah hatinya merasakan sedikit kelegaan dalam hatinya. Dalam hati sangat berharap jika Tita benar benar siuman.
Satu tahun lebih tanpa Tita di sisinya membuat hari Kennan cukup sulit. Hingga dirinya harus memboyong anak anaknya untuk tinggal di rumah besar keluarga Atmadja.
"Mohon bapak tunggu di luar dulu." saran suster itu dengan ramah.
Kennan pun menurut. Berjalan menggandeng Kenina
serta membawa Kennatria dalam gendongannya menuju kursi duduk yang berada tak jauh dari kamar inap Tita.
Kennan sebenarnya juga membawa Keanu serta. Hanya saja anak tengahnya itu memilih bersama sang nenek yang beberapa saat lalu berhenti di ruang informasi. Entah apa yang dilakukan bunda Vida Kennan tidak tahu.
Beberapa saat menunggu.
"Abang... kata dokter Tita..." seru bunda Vida dengan tergopoh mendekat bersama Keanu dalam gandengan tangan sang nenek.
Kennan mengangguk.
"Semoga saja bun." Kennan dengan raut wajah semangat. Dia tahu bunda Vida pasti telah mendengar kabar tentang Tita yang telah menggerakkan jemarinya beberapa saat lalu.
Sebagai salah satu dokter yang kini telah menjabat sebagai petinggi rumah sakit, tidaklah sulit bagi bunda Vida untuk mendapatkan informasi tersebut.
Baru saja Bunda Vida hendak duduk, para dokter keluar dari ruang inap Tita. Bunda pun mengurungkan niatnya untuk duduk. Berjalan mendekat pada dokter yang menangani menantunya, diikuti oleh Kennan.
__ADS_1
"Bagaimana dok kondisi anak saya?" tanya bunda Vida tidak sabar.
Dokter yang berada di barisan terdepan mengulas senyum. Menunduk hormat untuk menyapa.
"Alhamdulillah... Nyonya Tita sudah sadar."
"Alhamdulillah..." Kennan dan Bunda Vida hampir bersamaan. Senyum bahagia nampak jelas dari keduanya.
"Kalau begitu kami boleh masuk kan dok?!" bunda Vida tak sabar. Meski bunda Vida merupakan salah satu petinggi tumah sakit ini, tetap saja bunda Vida mengedepankan etika. Tidak begitu saja nyelonong masuk tanpa meminta izin lebih dulu.
Kennan dan bunda Vida pun memasuki ruang perawatan Tita setelah mendapat anggukan dari dokter. Tak lupa dengan ketiga buah hati Kennan dan Tita.
"Sayang..." Kennan dengan tergesa mendekat pada brankar sang istri.
Dengan sedikit kesusahan Tita menoleh pada asal suara.
"Mmas..." lirih Tita saat mendapati wajah Kennan di sisi kirinya. Berdiri dengan air mata yang meluruh pada kedua pipinya, haru.
"Terima kasih... terima kasih karena kamu masih mau bertemu denganku dan juga anak anak." Kennan dengan mengeratkan tangan pada tangan kan Tita yang terbebas dari selang infus.
Peralatan medis yang semula melekat pada tubuh Tita telah dilepaskan oleh tim medis. Hanya sisa selang infus sebagai pengganti asupan makan Tita selama koma.
"Bunda..."Keanu ganti memeluk tubuh Tita erat. Anak tengahnya itu mendekap erat tubuh Tita seolah meluapkan kerinduan yang sangat dalam.
Tita pun mengusap surai hitam anak lelakinya lembut. Bulir bening meluruh tak bisa dibendung tatkala merasakan getaran tubuh Keanu di atas dadanya.
Tita tau pasti apa yang dirasakan Keanu tanpa dirinya. Jagoan tampannya itu pasti telah melalui hari yang sulit mengingat sejak kecil Kenapa sangat menempel padanya.
Bunda Vida yang sedang menggendong Kenatria pun tak kalah haru. Air mata membasahi kedua pipinya tanpa suara.
Wanita paruh baya itu mendekap erat anak ketiga Kennan serta Kenina yang berurai air mata seraya memeluk pinggang sang nenek. Kenina memilih tidak mendekat pada sang bunda. Gadis kecil itu sengaja memberikan ruang lebih untuk Keanu meluapkan rasa rindunya pada sang bunda.
Masih dengan mengusap surai hitam Keanu, Tita mengalihkan pandangan pada bocah balita yang terlihat menggerakkan kepala aktif dengan celoteh suara tak jelas. Bocah kecil itu memang tidak memahami apa yang telah terjadi saat ini.
__ADS_1
"Mas itu..."
Kennan mengangguk. Dia tahu maksud Tita.
Kennan pun beranjak mendekat pada bunda Vida. Mengambil alih Keanu dalam gendongannya lalu kembali mendekat pada Tita.
"Dia laki kaki. Aku beri nama sesuai dengan keinginanmu."
Tita memang telah menyiapkan alternatif nama untuk bayinya. Baik itu nama laki laki ataupun perempuan, karena saat hamil dulu Tita tidak menanyakan jenis kelamin sang jabang bayi pada dokter kandungannya. Laki laki maupun perempuan, yang penting sehat. Ucap Tita kala itu.
"Oh... dia sudah sebesar itu?"
Kennan mengangguk. Membuat Kenatria menghadap Tita dengan menumpu bokong bocah kecil itu seraya memeluk dadanya untuk memudahkan Tita menatap jagoan kecil mereka.
"Mas pasti kerepotan menjaga mereka." Tita dengan sendu.
Kennan menggeleng.
"Ada bunda, Naura juga kak Vina sesekali datang ke Jogja." Jelas Kennan pada Tita.
"Maafkan Tita telah merepotkan bunda." Pandangan Tita beralih pada bunda Vida.
Bunda pun menggeleng seraya mendekat dengan Kenina yang tetap setia memeluk pinggang sang nenek.
"Bunda ndak repot nduk."
Bunda mertua yang sudah Tita anggap sebagai ibu kandungnya itu berucap lembut dengan kedua mata yang tak mampu menahan tangis haru.
"Terima kasih telah bangun sayang." Tangannya mengusap pelan kaki Tita yang tertutup selimut rumah sakit.
Tangisan haru pun memenuhi ruangan kamar rawat Tita.
π¨π¨π¨π¨
__ADS_1