
"Kak, ntar malem kakak tidurnya bareng aku aja ya?" tanya Sinta setelah mereka berjalan beriringan.
"Loh ... memangnya kita menginap Sin?" Tita bingung.
"Iya. Kak Tita nggak tau?"
Tita menggeleng perlahan.
"Kemarin saat rapat kita memutuskan pagi sampai sore kan?" Tita.
"Iya itu awalnya. Tapi berubah setelah ada yang mengusulkan kita menginap semalam. Kakak keberatan? Ini kan malem minggu, besok kita libur sekolah. Gak papa kan, kita masih bisa istirahat." cerocos Sinta.
"Bukan begitu. Kakak cuma bawa satu baju ganti, terus ..." Tita terlihat bingung dan khawatir.
Bingung karena situasi yang tidak diketahui olehnya terlebih dahulu dan khawatir akan reaksi Kennan padanya nanti.
"Kenapa kak?"
"Kakak pamitnya cuma sampai sore, gak bilang kalau ada acara menginap segala." jelas Tita pada Sinta.
"Tinggal telfon doang sama orang rumah, biar mereka gak khawatir. Mereka pasti ngerti kok. Kakak kan gak bohong, memang kita nginep." Sinta berusaha menghilangkan kekhawatiran Tita.
Ah, kamu gak tahu Sin siapa yang harus aku mintai izin.
Tita menghirup oksigen kuat kemudian menghembuskannya perlahan, terasa sangat berat.
Gimana ngomongnya ke abang? Pasti dia mikir kalau Tita bohong, gak jujur. Belum lagi kalau dia mikir Tita sama Andra ... Haduh gimana ini?? Tita terlihat sangat frustasi.
Sesaat kemudian.
Tira menghentikan langkahnya, mengambil kembali ponselnya lalu menekan nomor kontak suaminya.
Tut ... tut ... tut ...
Tidak ada jawaban dari empunya. Tita pun mencobanya berulang, namun tetap saja nihil. Tidak ada jawaban dari ponsel Kennan.
Sinta yang sejak semula ikut menghentikan langkah kakinya, menoleh dan bertanya pada kakak kelas yang sempat memiliki jabatan yang sama dalam organisasi osis tersebut.
"Kenapa kak?"
"Em ... itu telfon aku gak diangkat."
"Mungkin mereka sedang sibuk. Entar aja telfon lagi, kalau enggak kirim chat dulu wae. Nanti coba buat nelfon lagi kalau acara kita sudah selesai." Sinta menarik tangan Tita untuk segera menuju arena games karena permainan sudah terlihat dimulai kembali.
...ππππ...
"Nou pilihin baju buat Tita." titah Kennan pada Naura setelah dirinya mendekat pada sang adik yang sempat diberinya julukan matre olehnya.
"Baju yang seperti apa Bang?"
"Yang cocok buat dia lah, gitu wae gak tau seh."
"Maksud gue baju yang kek mana, buat keperluan apa?"
"Terserahlah ... yang penting cakep buat dia pakek."
"Mbak Tita kan pakek kerudung Bang, nyarinya di sebelah sono tuh bukan di sini." Naura menunjuk counter baju yang memajang gamis serta baju berlengan panjang.
"Ck, gak yang kek gitu mulu Nou. Yang cocok buat seusianya lah, kek yang elo pakek gini. Biar dia kelihatan remaja gak kek emak - emak. Yang elo pilih itu juga cakep kan?!" Kennan berdecak kesal dengan menunjuk baju Naura dengan ekor matanya.
Naura terkikik kecil.
"Mana mbak Tita mau baju kek gini Bang. Dia pasti gak bakalan mau pakek, orang gak bisa dipadukan sama kerudung."
"Mau lah kalau gue yang nyuruh." keukeuh Kennan.
"Bang, baju ini itu pendek. Lihat nih lengannya pendek, panjangnya juga di atas lutut." Naura menunjukkan beberapa baju yang masih disampirkan pada lengan tangannya.
"Gak papa, cariin sizenya dibawah ukuran lo. Lo kan bongsor, Tita kurus."
"Mau dipakek kemana? Mbak Tita gak bakalan mau pakek dress kek gini Abang."
__ADS_1
"Udah pilihan sono, mau dia pakek kemana itu urusan gue." Kennan ngeyel dengan mendorong bahu adek bungsunya menuju deretan baju yang sempat dipilihnya tadi.
"Yang ini?" Naura bertanya pada kakak lelakinya sembari menunjukkan dress cantik berwarna emerald yang pastinya akan sangat cocok untuk kulit putih kakak iparnya.
Kennan terlihat berfikir.
"Elo gak milih model yang kek gitu kan?"
"Gue pilih warna pink Bang, mbak Tita gue pilihin yang ini."
"Modelnya sama?" Kennan bertanya dengan kedua alis mata yang bertaut.
"Iya lah Bang. Kan tadi abang bilang suruh pilih yang sama kek punya gue, tinggal nurunin size aja. Gue udah baik hati pilihin warna yang lain biar gak kelihatan sama."
"Okelah, cakep juga pilihan lo. Cariin lagi gih, tapi yang ini modelnya jangan sama kek punya lo." Kennan terdengar memerintah.
"Ck, dasar bossy." Kesal Nou.
"Ya udah kalau lo gak mau pilihin gak usah. Elo bayar belanjaan elo sendiri wae." Kennan datar namun terdengar mengancam.
"Hiss ... abang gitu, sukanya ngancem. Ntar gue aduin dama Bunda tau rasa."
"Gak takut." Kennan mengejek.
Naura mencebik.
"Gue bilangin sama mbak Tita kalau gitu, buar dia tau suaminya tukang tindas."
"Dia udah tau kok kalau gue tukang tindas, wlekk." Kennan kembali mengejek dengan memeletkan lidah pada adeknya.
"Kalau gitu nanti gue komporin mbak Tita, gue kasih tau kelakuan jahat lo sama gue. Biar mbak Tita ninggalin elo Bang." Naura kesal.
"Widiihh ... enak wae mulut lo kalau ngomong. Sebelum lo ngomporin bini gue, gue gorok leher lo biar gak buda ngomong."
"Abaang ... abang jadi orang jahat banget sih, tega sama adek sendiri." Naura semakin kesal.
"Nih ambil, pilih sendiri. Tata gak mau bantu abang lagi, mendingan Rara jalan sendiri daripada jalan sama abang makan ati." Naura menyerahkan belanjaannya pada Kennan lalu beranjak meninggalkan kakak lelakinya dengan kesal.
"Loh Nou, kok ngambek seh. Ya udah gue nurut nih." Kennan menahan pergelangan tangan Naura yang berhasil dia pegang olehnya.
"Ya udah lo bisa belanja sepuas lo deh, kuras atm gue." Kennan membujuk.
Terlihat Naura menoleh ke arah Kennan. "Beneran?"
Kennan mengangguk. "Bener."
"Yes." Rara tersenyum berbinar.
Dasar adek matre, Batin Kennan bergumam dengan tersenyum palsu.
Naura pun kembali mengambil baju yang sempat diberikannya pada Kennan.
Beberapa saat berlalu.
"Nou ... cakep gak?" Kennan terlihat memilih kemeja lengan pendek untuk dirinya sendiri.
"Bagus sih. Tapi ... bukane abang punya clothing line sendiri, biasane gak mau kalau beli kek gini." Naura terlihat heran.
"Pengen wae, keknya cakep buat gue."
"Ya udah beli wae kalau abang mau, cakep kok. Beneran." Naura meyakinkan.
Kennan pun memutuskan untuk membelinya.
"Lo udah selesai belum?" tanya Kennan pada Naura yang masih asyik memilah baju.
"Belom." sahut Naura dengan acuh, karena dirinya fokus pada deretan baju new arrival yang menarik pandangnnya.
"Ya udah mana, biar gue bayar sekalian." Kennan meminta belanjaan pada Naura.
"Nih punya mbak Tita dulu aja, Rara masih bingung ini." Naura menyerahkan dua helai dress milik Tita pada kakak lelakinya.
__ADS_1
Kennan pun menerima dengan tidak berhenti menggelengkan kepala.
"Lo nyari baju kek nyari jarum di tumpukan jerami wae. Kaki gue berasa mau copot, elonya masih belum selesai milih.
"Habisnya banyak yang baru Bang, Rara bingung."
"Itu belum cukup?" Kennan menunjuk beberapa helai baju yang menyampir pada bahu adeknya. Setidaknya sudah ada empat potong dress di sana.
"Belum. Dua atau tiga lagi deh bang."
"Gue bayar dulu kalau gitu." Kennan meninggalkan Naura tanpa menunggu jawaban dari adeknya.
Setelah selesai membayar belanjaannya Kennan memilih menunggu Naura di luar counter mall.
Mengambil duduk lalu membuka ponsel pintarnya.
"Ah sial, pakek mati segala lagi." umpat Kennan lirih saat melihat ponselnya tidak bisa menyala.
"Abang!"
Kennan mendongak, kedua matanya mendapati Naura memanggilnya dengan wajah yang memerah marah.
"Apa?" Kennan bingung.
"Kenapa atmnya gak cukup buat bayar?" Naura terlihat menahan emosi. Naura tau tidak mungkin atm kakak lelakinya itu tidak ada isinya, mengingat pendapatan cafe dan clothing linenya yang cukup ramai.
Pasti pundi pundi uang mengalir lancar pada atm pribadinya.
"Emangnya lo beli baju berapa?" tanya Kennan datar.
"Sepuluh." jawab Naura dengan merentangkan sepuluh jari tangannya.
Hah!
Kedua mata Kennan membola.
"Elo mau ngerampok gue?"
"Kan abang tadi bilang sepuasnya, so ..." Naura terlihat menagih.
"Ambil yang elo seneng wae, atm itu milik bunda." Kennan tanpa rasa bersalah.
Naura mengerutkan kedua alus matanya.
Kennan yang melihat reaksi adek bungsunya, tersenyum kecil.
"Atm itu jatah bulanan dari bunda, bukan punya gue."
"Kok itu yang dikasih ke Rara. Mana atm abang?" Naura meminta.
"Gak ada Nou, gue cuma bawa itu."
"Kok bisa!!"
"Bisa lah, atm gue dibawa sama mbakmu." Kennan santai.
Hah.
"Abang jahat, ngerjain gue!"
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ