Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
180. Jebakan Batman


__ADS_3

"Hemmm... enak banget baunya." Kennan menghirup bau masakan Tita sembari berjalan ke arah dapur dimana Tita sedang berkutat dengan masakannya.


"Pagi kesayangan..." sapa Kennan lalu memeluk tubuh ramping Tita dari belakang.


"Pagi bang..." sahut Tita masih dengan mengaduk nasi goreng di atas kompor.


Kennan mengeratkan pelukannya lalu menenggelamkan wajahnya diantara bahu dan leher jenjang isterinya. Menghirup kuat wangi tubuh Tita lalu mengusapkan hidung mancungnya pada kulit bahu serta leher belakang Tita. Kondisi surat hitam Tita yang digelung asal ke atas membuat Kennan leluasa mengusap bahkan sesekali mengecup kulit luar Tita dengan mudah.


Tita menggerakkan bahunya risih. "Abang jangan gitu, Tita lagi masak ini, nanti gosong."


"Pakek api kecil wae, biar gak cepet gosong." saran Kennan mengabaikan perintah Tita yang mengusirnya karena merasa terganggu.


"Tita susah ni masaknya." Tita sedikit kesal karena memang dirinya kesusahan untuk menggerakkan tangannya saat memasak nasi goreng.


Lagi lagi Kennan mengabaikannya.


"Wangi dek... bikin gue laper..." Kennan merapatkan tubuhnya dan tidak berhenti mengendus leher jenjang isterinya.


"Kalau abang udah laper, jangan kek gini. Lepasin dulu pelukannya biar Tita cepet selesai masaknya." Tita berusaha mengusir sang suami dengan mendorong mundur tubuh Kennan dengan sikunya.


"Jangan gerak - gerak." ucap Kennan serak. Bahkan salah satu tangannya kini bergerak menuju gunung kembar milik Tita dan merabanya.


"Abaaanng..."


"Hem." Kennan menderu.


"Jangan gini." seru Tita kesal. Dari nafas hangat Kennan yang menerpa tengkuk leher Tita membuatnya tidak bisa berkonsentrasi saat memasak.


"Tapi gue laper dek... wangi banget seh." Kennan semakin intens mengendus leher jenjang Tita.


Merasa sang suami mengabaikan permintaan dan tangannya malah bergerilnya pada tempat yang tidak semestinya, Tita menghentikan aktivitas memasaknya lalu mematikan kompornya.


Setelahnya membalikkan tubuhnya pada Kennan.


"Abang laper kan?" tanya Tita pada Kennan yang dijawab dengan anggukan oleh sang suami.


"Gak tahan sama wanginya kan... bikin makin laper kan...?"


Lagi lagi Kennan hanya mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan isterinya yang meskipun kesal namun tetap saja terlihat cantik olehnya. Bukan bukan hanya cantik tapi menarik meski wajahnya tidak dipoles dengan make up, hingga membuat si jojo tidak tahan untuk terkurung di dalam sangkarnya.


"Kalau abang gak tahan... jangan ganggu Tita, biar nasi gorengnya cepet mateng. Habis itu bisa segera makan." ucap Tita dengan lebih tenang, tidak sekesal beberapa detik lalu.


"Tapi gue gak pengen makan nasi goreng dek..." ucap Kennan dengan tatapan yang aneh menurut Tita.


"Loh... tadi katanya wangi... bikin laper... piye to?!" Tita bingung setelah mendengar ucapan suaminya.


"Iya... memang wangi, bikin laper sampek gue gak tahan. Tapi bukan nasi gorengnya yang bikin gue gak tahan dek..."


Lah...


Tita membuka lebar matanya. Bingung dan tidak memahami maksud Kennan.

__ADS_1


"Terus yang wangi dan bikin gak tahan apa?"


Kennan kembali merapatkan tubuhnya pada tubuh Tita, bahkan si jojo pun terasa menempel sempurna dengan tubuh bagian bawah sensitif milik isterinya.


"Wangi tubuh lo yang bikin gue gak tahan dan pengen makan." Kennan menatap intens wajah cantik isterinya.


Kedua mata Tita membola, menyadari maksud suaminya.


"Abaaang... semalem kan udah, berapa kali coba... Abang gak capek? Tita wae capek banget." jawab Tita dengan wajah yang bersemu merah karena masih saja merasa malu jika harus membahas malam panjang mereka.


Kennan menggeleng.


"Gue gak pernah merasa capek kalau itu untuk memakan kamu dek... justru gue jadi gampang laper." Kennan tersenyum menggoda.


"Abang ihh..." Tita mendorong dada bidang Kennan dengan kedua tangannya agar menjauh dari tubuhnya, namun tubuh kekar itu sedikitpun tidak bergerak dari tempatnya.


Kennan menahan kedua tangan Tita yang menempel pada dada bidangnya, lalu membawanya ke kanan dan kiri tubuh kekarnya. Lalu memajukan wajahnya pada wajah Tita dengan sedikit miring.


"Abang udah ih..." Tita memalingkan wajahnya menghindari wajah Kennan yang hendak menciumnya.


"Ayolah dek, buat pembuka sarapan nasi goreng." bujuk Kennan.


Sesaat Tita terdiam, sebenarnya dirinya merasa bersalah jika menolak keinginan suaminya.


Akan tetapi semalam keduanya sudah semalaman bertempur saling berbagi keringat. Bagaimana bisa pagi pagi suaminya itu meminta ulang.


"Bukane semalam udah berkali kali bang..." lirih Tita mengingatkan kejadian semalam saat Kennan entah berapa ronde menggempur tubuhnya.


Walaupun awalnya kennan hanya menangih janji ciuman dari Tita namun keduanya berakhir dengan bergumul di atas ranjang hingga hampir pagi.


"Itu kan tadi malem dek, paginya belom..." rayu Kennan dengan memasang wajah memelas.


"Rambut Tita aja masih agak basah, belum kering betul. Mosok udah minta lagi..." Tita menunjukkan rambut hitamnya yang memang masih sedikit lepek karena mencucinya subuh tadi sebelum melakukan kewajiban sholat lima waktunya.


"Itu kan karena elo mengikatnya kek gitu dek, coba lo gerai pasti cepet kering kek punya gue..." sahut Kennan seenaknya.


Tita mencebik, menatap Kennan horor.


"Rambut abang pendek makanya cepet kering, punya Tita panjang Baang... wajar kalau masih basah."


Ck...


Kennan berdecak.


"Kok malah bahas rambut basah sih dek..."


"Abang yang mulai."


"Lo sengaja bahas juga kan untuk mengalihkan perhatian gue..." Kennan menuduh.


"Enggak, ngapain Tita kek gitu. Orang abang itu mesti ingat wae kalau soal mesum mesum kek gitu. Jadi percuma kalau Tita mengalihkan atau menghindar. Abang pasti nagih... terus minta diturutin kemauannya." Tita terlihat manyun.

__ADS_1


"Oh gitu. Jadi gue orangnya kek gitu?!" Kennan manggut manggut, dengan sudut bibir yang terangkat membentuk seringai mesum.


"Iya. Abang emang kek gitu. Kalau hal mesum pasti inget mulu, harus dituruti juga."


"Harus dituruti ya??" Kennan terlihat seperti berfikir.


"Iya... kalau belum dituruti pasti mepet terus."


"Iyakah?" Kennan pura pura bodoh.


"Iya." Tita tidak menyadari jika Kennan menggiringnya ke dalam jebakan batman.


"Berarti keinginan mesum gue harus dituruti ya?" lagi Kennan pura pura bodoh.


"Iya... harus dituruti dengan segera, biar gak mepet terus."


"Harus segera ya dek?"


"Iya. Beneran... kalau enggak pasti bakal maksa."


Kennan membulatkan mata, pura pura terkejut mendengar jawaban Tita.


"Jadi bakalan maksa ya?"


"Iya."


"Sampek dapet."


"Iya lah bang, masak abang gak percaya seh sama omongan Tita."


Kennan tidak menyahut, dengan segera kembali merapatkan tubuhnya pada tubuh Tita. Kedua tangannya memegang paha Tita dan menggendongnya layaknya koala.


"Loh... loh... kok malah gendong Tita seh." Tita bingung saat suaminya tiba tiba menggendongnya.


"Tadi bilangnya gue pemaksa dan harus diturutin kan?" Kennan sedikit menunduk memandang Tita yang menatapnya bingung.


Tita mengerutkan dahi belum memahami maksud suaminya.


"Bakalan maksa sampek dapatkan?" tanya Kennan dengan senyum seringainya.


🍨🍨🍨🍨


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen

__ADS_1


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘


__ADS_2